• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

METODE PENELITIAN

1. Strategi Kota Serang

4.3. Deskripsi Hasil Penelitian

4.3.3. Karakteriistik Agen Pelaksana 1. Organisasi

Pusat perhatian agen pelaksana meliputi organisasi formal maupun informal, karena kinerja implementasi kebijakan (publik) akan sangat banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan para agen pelaksananya. Sebuah organisasi bisa saja dalam hal ini instansi terdapat berbagai macam karakter para agen pelaksana dari berbagai macam karakter ini akan membuat atmosfir lingkungan yang berbeda beda pula. Ini juga akan mempengaruhi bagaimana para agen pelaksana membuat sikap dalam mengambil keputusan

menyelesaikan masalah yang ada di lapangan. (I1)berpendapat bahwa :

”Untuk sementara kita tersendatpada kewenangan, karena ruas jalan yang ada di bagi-bagi ada jalanKota, Kabupaten, dengan Provinsi. Jadi

setiap Kementerian kewenangannya berbeda-beda, terkadang

kewenangan Provinsi kita yang mengerjakan”. (Wawancara/ Rabu, 30 September 2015/ Pukul 10:38 WIB/ dilakukan di kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Serang).

Dari keterangan diatas menjelaskan bahwa Adelin Sofyan (I1) menghadapi

kendala pada bagian kewenangan, karena setiap wilayah yang ada di Kota Serang tidak sepenuhnya dipegang oleh Dinas PU Kota Serang, sebagian ada kewenangannya Kabupaten, Provinsi, dan juga Pusat. Kemudian selain kendala pada bagian kewenangan, masalah lainnya yang menghambat pelaksanaan belum bisa maksimal yakni terkait bagian pendanaan seperti yang sudah di jelaskan pada

bagian sumberdaya finansial. Jika menurut Syamsurizal (I2)dalam memecahkan masalah tersebut ialah mematang perencanaan pada bagian anggaran seperti yang dipetik pada wawancara berikut :

”Kendala secara teknis tidak ada, jika dana kita ada masalah, karena anggaran yang ada saat ini hasil perencanaan tahun sebelumnya. Di buat DED dulu kemudian setelah DED, oleh konsultan muncul angkanya.dari situ kita dapat mengetahuiberapa yang dibutuhkan untuk di ruas jalan ini,. (Wawancara/ Selasa 29 September 2015/ Pukul 14:55 WIB/ dilakukan di kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Serang).

Kutipan wawancara diatas dengan (I2), terlihat secara teori penyelesaiian permasalahan terkait anggaran sudah dapat dipecahkan, namun pada kenyataannya, perencanaan yang sudah dibuat untuk menyelesaikan permasalahan

terkait penyediaannya di lapangan tidak terlihat pada kondisi drain inlet yang

baik. Narasumber juga menambahkan (I2): “kita potong panjangnya jika dana

yang keluar lebih sedikit dari anggaran yang diajukan. Jadi sesuaikan dengan jumlah anggaran jadi dikitakan sudah ada SSH (Standar Satuan Harga). Jadi

misalnya permeter kubik itu berapa rupiah nah kita bagi.” (Wawancara/ Selasa, 29 September 2015/ Pukul 14:55 WIB/ dilakukan di kantor dinas Pekerjaan Umum Kota Serang). Melakukan pemotongan cangkupan wilayah pengerjaan jika pendanaannya tidak mencukupi. Peneliti melihat beberapa pengerjaan perbaikan saluran drainase yang dilakukan dinas pekerjaan umum beberapa waktu yang lalu, seperti di Lopang, Perempatan Lampu Merah Ciceri, dan juga perbaikan saluran drainase dan bahu jalan di lingkungan Lebak Gempol. Panjang pengerjaan yang peneliti lihat terlalu pendek. Tidak sampai 20 meter yang ada di Lopang, peneliti merasa itu terlalu jauh dari pengerjaan yang diharapkan dari Peraturan daerah Kota Serang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota

Serang 2010-2030 pada pasal 17 sistem prasarana drainasenya. memberikan tindakan langsung jika adanya kerusakan saluran tanpa harus menunngu keluhan yang masuk mencirikan bahwa para agen pelaksana sudah benar-benar paham akan tupoksinya, akan tetapi yang peneliti lihat saat ini para agen pelaksana tidak memiliki karakter yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan drainase di Kota Serang. Mengenai hal ini N.P. Rahardian Direktur Eksekutif LSM Rekonvasi

Bhumi (I10)berpendapat bahwa :

“Jadi untuk saat ini, mengapa harus menunggu ada keluhan, karena mereka juga melihat. Rumahnya di lewati. Jika hujan turun kemudian ada air genangan dan menyebakan banjir,yang menjadi persoalannya bukan pada keluhan. Jika drainase itubukan hanya persoalan Kota melainkan persoalan semua pihak, yang harus bertanggungjawab, pemerintah kota harus merespon baik ada atau tidak adanya keluhan”. (Wawancara/ Rabu, 4 November 2015/ Pukul 10:48 WIB/ dilakukan dikantor LSM Rekonvasi Bhumi Ciceri Bunderan).

Berdasarkan petikan wawancara diatas dengan (I10), bapak N.P. Rahardian

perwakilan dari LSM yang juga masyarakat yang menjadi target dari adanya Perda Kota Serang no.6 tahun 2011 tentang RTRW Kota Serang 2010-2030 terkait Pasal 17 tentang sistem prasarana drainase, beliau menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah dengan kurang sigapnya menanggapi masalah banjir yang melanda Kota Serang ketika hujan datang. Karena memang banyak masyarakat yang merasakan dampak yang negatif bila permasalahan banjir di Kota Serang tidak bisa segera ditangani.

Dari hasil wawancara diatas, pihak pelaksana kebijakan dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum mengeluhkan masalah kewenangan daerah yang terbagi bagi dan pendanaan yang tidak mampu memenuhi rencana pemeliharaan maupun pembangunan drainase dari Dinas Pekerjaan Umum. Hal ini yang menyebabkan

masyarakat merasakan ketidaksigapan dari pemerintah dalam menanggapi luapan air atau banjir di jalan jalan protokol sehingga mobilitas masayarakat menjadi terganggu.

4.3.3.2. Luas Wilayah Implementasi Kebijakan

Ketika hendak menentukan agen pelaksana yang akan dilibatkan, terlebih dahulu kita harus memperhitungkan dengan luas wilayah yang akan ditangani para agen pelaksana sebab semakin luas wilayah cangkupan dari implementasi kebijakannya, maka semakin besar pula agen pelaksana yang akan dilibatkan. Karena diharapkan dengan pelaksanaan kebijakan dapat berjalan optimal.

Mengenai hal tersebut Adelin Sofyan (I1)mengatakan :

“Ada PPK,Kabid, dari Kabid turun ke Pejabat teknis kegiatan, PPK ini ada bawahan tapi pembantu pelaksaan teknis saja, ada pengawasannya jadi kita melibatkan konsultan”.(Wawancara/ Rabu, 30 September 2015/ Pukul 10:38 WIB/ dilakukan di kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Serang).

Dari keterangan yang diberikan oleh(I1), beliau menjelaskan adanya PPK yang membantu dalam pelaksanaan dari isi kebijakan, diatas juga di jelaskan bahwa PPK memiliki bawahan lagi untuk membantu meringankan tugasnya, dan juga melibatkan seorang konsultan agar pelaksanaan kebijakan bisa di kerjakan tepat waktu dan tepat sasaran. Senada dengan jawaban yang di berikan Adelin Sofyan (I1), Syamsurizal (I2)juga menyampaikan bahwa : ”biasanya itu pihak

ketiga, karena tidak ditangani langsung oleh PU. Kalau tidak salah 10 orang dari

pihak ketiga (kontaktor/pemborong). 10 orang itu pekerja dengan

kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Serang). Iphan Fuad, Kasi pembangunan dan pengendalian perumahan dan pemukiman Dari Dinas Tata Kota (DTK) Kota

Serang (I3)juga menambahkan :

“Point penting pada permasalahan dari semua SKPD di Kota yaitu,kitasatu seksi, Saya di bidang perumahan dan pemukiman hanya terdapat 2 PNS, yang lainnya PKL hanya 2 orangsaja. Jadi untuk saat ini kita juga di bidangPerkim (Perumahan dan Pemukiman) tidak hanya menangani drainase saja, ada drainase, jalan setapak, kita nanganin jalan lingkungan, kita menangani air bersih, jadi kesulitan kita adapada bagian SDM”. (Wawancara/ jumat, 28 Agustus 2015/ Pukul 10:33 WIB/ dilakukan di kantor Dinas Tata Kota Kota Serang).

Dari keterangan yang diberikan oleh Iphan Fuad (I3), dapat dilihat bahwa

agen pelaksana yang dilibatkan sangat tidak memadai, jumlah agen pelaksana dengan luas wilayah Kota Serang serta yang ditangani oleh dinas tata kota bukan hanya drainase saja menjadi masalah tersendiri di Dinas Tata Kota untuk dapan membantu dalam penyedian prasarana drainase di Kota Serang. Seberapa banyak jumlah agen pelaksana yang dilibatkan dalam penyediaan sistem prasarana drainase diharapkan itu menjadi jumlah yang cukup untuk dapat menyediakan prasarana drainase yang akan mampu menampung jumlah debit air yang datang ketika hujan datang, sehingga masyarakat merasa nyaman hidup di Kota Serang.

4.3.4. Indikator yang mempengaruhi Sikap/Kecenderungan (Disposition)