BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakterisasi Biosurfaktan
4.1.6 Karakterisasi Biosurfaktan pada Sumber Tanah Tercemar (T)
Sampel tanah terkontaminasi minyak bumi yang digunakan sebagai sumber biosurfaktan diambil dari pertambangan minyak bumi rakyat Desa Wonocolo yang mempunyai jenis tanah liat pasir lanau. Tanah tercemar yang diperlakukan sebagai kontrol composting mengalami karakteristik biosurfaktan yang bervariasi seiring dengan lamanya waktu composting. Pada proses composting variasi sumber biosurfaktan tanah tercemar mempunyai karakteristik biosurfaktan berupa
0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 H-0 H-20 H-40 H-60 Aktifitas Emulsifikasi (%) AE (%) RS0 RS2 RS02
64
kemampuan penurunan tegangan permukaan dan aktivitas emulsifikasi sebagai pada Gambar 4.10 dan Gambar 4.11.
A. Hasil Pengukuran Tegangan Permukaan
Hasil analisis tegangan permukaan pada variasi sumber biosurfaktan tanah tercemar mengalami penurunan tegangan permukaan pada hari ke 0, 20, 40, dan 60 yaitu sebesar 8,4 dyne/cm – 35,6 dyne/cm (Gambar 4.10). Penurunan tegangan permukaan paling tinggi terdapat pada media ekstrak sampah hari ke-20 (T0)20 yaitu sebesar 35,6 dyne/cm. Pada hari ke-40 dan hari ke-60 tidak terjadi peningkatan penurunan tegangan permukaan dimana penurunan nilai tegangan permukan pada hari ke-40 dan hari ke-60 sebesar 32,45 dyne/cm dan 8,75 dyne/cm. Sedangkan pada media minyak bumi (T2) dan media campuran minyak bumi dan ekstrak sampah (T02) mengalami penurunan tegangan permukaan paling tinggi dihari ke-40 yaitu sebesar 16,5 dyne/cm dan 32,0 dyne/cm. Data hasil pengukuran penurunan tegangan permukaan biosurfaktan sampel T selengkapnya terdapat pada Lampiran B.
Gambar 4.10 Kurva penurunan tegangan permukaan sampel T
Tingginya nilai penurunan tegangan permukaan pada biosurfaktan dari sumber tanah tercemar dipengaruhi oleh karakteristik tanah tercemar yang memiliki
0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 H-0 H-20 H-40 H-60 ∆T P (d yn e /c m) T0 T2 T02
65
kadar hidrokarbon yang cukup tinggi yaitu sebesar 6,05% (Barakwan, 2017). Kandungan hidrokarbon yang cukup tinggi ini menyebabkan bakteri hidrokarbonoklastik yang terdapat pada tanah tercemar mengalami stimulasi sehingga produksi biosurfaktan yang dihasilkan juga cukup tinggi. Hal ini juga menandakan bahwa bakteri indigenus mampu beradaptasi dengan adanya kandungan hidrokarbon (Wang et al., 2011). Menurut Desai dan Vyas (2006), bakteri pendegradasi hidrokarbon secara alami terdapat dimana-mana dan relatif lebih tinggi jumlahnya pada tanah tercemar minyak bumi. Gofar et al. (2011) menemukan 3 isolat kapang hidrokarbonoklastik indigen di Sumatera Selatan yang tercemar minyak bumi dan terbukti mampu mendegradasi minyak bumi. Kondisi ini menyebabkan tingginya penurunan tegangan permukaan pada sampel T02 dan T2
karena bakteri hidrokarbonoklastik yang terdapat dalam tanah tercemar minyak bumi mengalami adaptasi dan pertumbuhan yang lebih cepat dalam media yang mengandung minyak dibandingkan dengan ketiga sumber isolat bakteri lainnya yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan kemampuannya dalam menurunkan tegangan permukaan, biosurfaktan dari sumber tanah tercemar minyak bumi dapat diklasifikasikan sebagai surfaktan dengan berat molekul rendah yang bersifat aktif permukaan.
B. Hasil Pengukuran Aktivitas Emulsifikasi
Sampel tanah tercemar memiliki hasil AE yaitu pada rentang 3,4% - 17%. (Gambar 4.12). Kemampuan emulsifikasi optimum pada media campuran minyak bumi dan ekstrak sampah (T02) terdapat pada hari ke-40 yaitu sebesar 17%, namun kemudian menurun pada hari ke-60 menjadi 7,5%. Sedangkan pada media ekstrak sampah (T0) kemampuan emulsifikasi sangat rendah yaitu hanya berkisar antara 3,5% - 6%, dan pada media minyak bumi (T2) tidak terdapat aktivitas emulsifikasi pada semua waktu composting. Hal ini menunjukkan ketidak stabilan emulsifikasi yang dihasilkan oleh biosurfaktan dari sumber tanah tercemar, maka dari itu kemampuan emulsifikasi biosurfaktan dari sumber tanah tercemar masih tergolong rendah. Data hasil pengukuran aktivitas emulsifikasi biosurfaktan sampel T selengkapnya terdapat pada Lampiran B.
66
Gambar 4.11 Kurva aktivitas emulsifikasi sampel T
Secara keseluruhan, karakteristik biosurfaktan yang meliputi penurunan
tegangan permukaan (∆TP) dan aktivitas emulsifikasi (AE) dari setiap sumber dan
waktu composting menunjukkan nilai yang bervariasi. Hal ini disebabkan oleh karakteristik bakteri campuran dan kondisi media yang digunakan (Sakthipriya et al., 2015). Cameotra dan Makkar (2004) menyatakan bahwa kemampuan dan karakteristik biosurfaktan sangat dipengaruhi oleh sumber karbon yang digunakan sebagai substrat.
Hasil pengukuran ∆TP dan AE menunjukkan bahwa nilai terendah dari
setiap sumber terdapat pada media minyak bumi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh jumlah populasi bakteri campuran yang dihasilkan selama proses inkubasi yang juga rendah (Gambar 4.3). Produksi biosurfaktan deipengaruhi oleh jumlah dan karakteristik bakteri yang menghasilkannya. Selain itu, pH biakan yang cukup rendah (2,0 – 6,0) pada media minyak bumi juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan biosurfaktan. Sakthiparya et al. (2015) menjelaskan bahwa pada kondisi asam biosurfaktan tidak dapat terlarut sehingga terjadi presipitasi yang dapat menyebabkan perubahan struktur sehingga kemampuannya
0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 H-0 H-20 H-40 H-60 AE (% ) T0 T2 T02
67
dalam menurunkan tegangan permukaan dan aktivitas emulsifikasi menjadi berkurang atau hilang.
Apabila dihubungkan dengan jumlah bakteri, nilai ∆TP dan AE
biosurfaktan dari setiap sumber yang dihasilkan tidak memiliki korelasi yang linier.
Pada kondisi jumlah bakteri yang terus meningkat (Gambar 4.3), ∆TP dan AE
menunjukkan nilai yang fluktuatif (Gambar 4.4-Gambar 4.11). Penurunan nilai
∆TP dan AE biosurfaktan pada setiap sumber rata-rata terjadi pada hari ke-60. Hal
ini kemungkinan dipengaruhi oleh jenis bakteri campuran dalam biakan. Biakan bakteri campuran terdiri atas bakteri hidrokarbonoklastik dan lignuselulotik dari tanah terkontaminasi minyak bumi dan dari sampah organik berupa sampah kebun dan rumen sapi. Akan tetapi, bakteri-bakteri yang terdapat dalam biakan tidak hanya terdiri dari bakteri hidrokarbonoklastik dan lignuselulotik yang merupakan penghasil biosurfaktan, tetapi juga terdiri atas bakteri non hidrokarbonoklastik.
Keberadaan bakteri non hidrokarbonoklastik kemungkinan menjadi salah satu penyebab terjadinya biodegradasi biosurfaktan. Mengingat pada periode
composting hari ke-60 dengan jumlah bakteri yang meningkat sedangkan ketersediaan karbon telah berkurang. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Barakwan (2017) yang melaporkan bahwa kadar C-Organik selama proses
composting sampah organik dengan tanah terkontaminasi minyak bumi pada semua sampel kompos yang digunakan sebagai sumber bakteri campuran penghasil biosurfaktan pada hari ke-0 sampai hari ke-60 mengalami penurunan sebesar 60,42 - 92,15%. Dengan nilai C-organik berkisar antara 2,76 – 5,54%. Hanafi et al. 2014 menjelaskan, sumber karbon (C) yang terdapat dalam bahan organik akan digunakan bakteri sebagai sumber energi untuk melakukan proses metabolisme. Bakteri akan terus menerus menggunakan karbon sebagai sumber energinya sehingga jumlah karbon yang terkandung dalam bahan yang dikomposkan akan terus berkurang. Jumlah karbon yang terus berkurang tersebut mengakibatkan rasio C/N juga akan semakin kecil. Kondisi ini menyebabkan bakteri non hidrokarbonklastik mengkonsumsi komponen-komponen yang terkandung dalam biosurfaktan (glikolipida, fosfolipida, lipopeptida, lipoprotein, dan asam lemak) untuk proses metabolismenya. (Mohan et al., 2006).
68
Untuk mengoptimalkan proses composting dan kemampuan biosurfaktan yang dihasilkan, maka dalam aplikasinya dapat dilakukan penambahan bahan kompos berupa sampah organik (sampah kebun dan rumen sapi) pada hari ke-60 proses composting. Hal ini untuk untuk mencukupi kandungan karbon (C) yang dibutuhkan oleh bakteri-bakteri yang bersifat non hidrokarbonoklastik agar tidak terjadi biodegradasi biosurfaktan. Selain memiliki kandungan C yang cukup tinggi sehingga dapat berperan sebagai substrat biodegradable untuk menstimulasi metabolisme bakteri yang bersifat non hidrokarbonoklastik (Sayara, 2010), dalam sampah kebun juga terdeteksi terdapat kandungan hidrokarbon karena adanya lapisan lilin epikutikular pada permukaan daun sehingga juga dapat menstimulasi bakteri hidrokarbonoklastik untuk memproduksi biosurfaktan (Samanta et al.,
2013).