• Tidak ada hasil yang ditemukan

dengan I adalah intensitas. Intensitas sinar yang melewati sel sampel juga dihitung untuk panjang gelombang tersebut dan disimbolkan I

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Karakterisasi Kulit Pisang Menggunakan FTIR

Karakterisasi polisakarida yang terkandung dalam kulit pisang dilakukan untuk mengetahui gugus fungsi yang terdapat pada polisakarida tersebut . Salah satu polisakarida yang terdapat dapat dalam kulit pisang adalah pati dan selulosa.

Tujuan dilakukan karakterisasi dari polisakarida pati murni adalah untuk mengetahui perbandingan gugus fungsi terdapat pada polisakarida kulit pisang dengan polisakarida pati dan selulosa murni sehingga dapat diketahui perbedaan gugus fungsi yang terkandung didalamnya.

57 Gambar 21. Spektrum FTIR pati murni

Gambar 22. Spektrum FTIR Selulosa Murni

58 Gambar 21 merupakan spektum pati murni dan gambar 22 merupakan spektrum selulosa murni. Dapat diamati bahwa terhadap serapan pada bilangan gelombang 3352 cm-1 yang menunjukkan adanya gugus fungsi –OH dari unit glukosa penyusun pati, sedangkan selulosa pada bilangan gelombang 3328 cm-1. Serapan uluran –CH alifatik pati pada bilangan gelombang 2928 dan 2896 cm-1, sedangkan selulosa pada bilangan gelombang 2884 cm-1, serta serapan tekuk –CH asimetri pati pada bilangan gelombang 1457, 1416 dan 1359 cm-1 sedangkan selulosa pada bilangan gelombang 1421 dan 1373 cm-1. Serapan C=O dari aldehid unit glukosa pati pada bilangan gelombang 1644 cm-1, sedangkan selulosa pada bilangan gelombang 1628 cm-1. Terdapat juga serapan uluran C-O dari eter unit glukosa (C-O-C) pati pada bilangan gelombang 1151, 1078, dan 1016 cm-1, sedangkan pada selulosa pada bilangan gelombang 1167 cm-1.

Hasil karakterisasi pati dan selulosa murni yang merupakan penyusun dari polisakarida kulit pisang dibandingkan dengan polisakarida dari BKP sebelum proses grafting dan BKP setelah proses grafting yang memiliki penyerapan paling tinggi (konsentrasi asam akrilat 8734,32 ppm dengan dosis radiasi 30 kGy). Hal ini diharapkan dapat memberikan interpretasi yang dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa proses grafting antara kulit pisang dengan monomer asam akrilat dapat diketahui.

59 Gambar 23. Spektrum FTIR pada kulit pisang murni sebelum proses grafting

Gambar 23 merupakan spektrum FTIR BKP murni sebelum dilakukan proses grafting. Gugus fungsi yang khas yang terdapat pada BKP adalah gugus fungsi –OH, -CH, C-O dan CN. Terlihat bahwa adanya perbedaan gugus fungsi yang ada pada BKP dengan pati murni. Ini menunjukkan bahwa BKP tidak hanya mengandung polisakarida, melainkan terdapat juga kandungan protein yang dibuktikan dengan adanya gugus fungsi CN, yang diperkirakan berasal dari protein kulit pisang. Diperolehnya gugus fungsi CN pada karakterisasi BKP dikarenakan tidak dilakukan isolasi polisakarida pada BKP, sehingga tidak hanya diperoleh gugus fungsi dari polisakarida tetapi juga gugus fungsi dari protein.

Serapan pada BKP murni terlihat dengan adanya puncak serapan yang lebar pada bilangan gelombang 3301,31 cm-1, pita serapan ini merupakan serapan yang khas dari vibrasi ulur –OH (3500-3000 cm-1) yang merupakan posisi gugus

60 hidroksil yang akan mengalami proses grafting pada kedudukan C2 dan C3 dalam unit glukosa pada polisakarida BKP. Pita serapan khas vibrasi ulur –CH alifatik (3000-2800 cm-1) muncul pada bilangan gelombang 2920,36 cm-1 dan 2855,73 cm-1 sedangkan vibrasi tekuk dari –CH asimetri (1475-1300 cm-1) muncul pada bilangan gelombang 1323,22 cm-1. Pita serapan vibrasi ulur –C-C (900-1100 cm-1) teramati pada bilangan gelombang 993,38 cm-1, sedangkan vibrasi ulur –C-O (1300-1000 cm-1) muncul pada bilangan gelombang 1156,37 cm-1. Dan pita tajam serapan vibrasi –C=O (1750-1640 cm-1) teramati pada bilangan gelombang 1732,16 cm-1. Pada spektrum tersebut juga terdapat bilangan gelombang yang menunjukkan adanya vibrasi ulur pada gugus fungsi C=N (2500-2000 cm-1) yang diperkirakan berasal dari protein kulit pisang (0,32%) yaitu pada bilangan gelombang 2335,90 dan 2138,18 cm-1.

Gambar 24. Spektrum FTIR pada kulit pisang sesudah proses grafting

61 Gambar 24 merupakan spektrum BKP sesudah grafting dengan monomer asam akrilat secara keseluruhan berdasarkan serapan gugus fungsi tidak ada perbedaan yang signifikan. Hal tersebut disebabkan karena antara monomer asam akrilat dengan polisakarida memiliki satuan gugus fungsi yang relatif hampir sama. Akan tetapi, adanya pembentukan reaksi kopolimerisasi grafting oleh monomer asam akrilat pada substrat kulit pisang akan menambah serapan pada gugus fungsi antara lain –OH, -CH, -CO dan –CN yang ditandai dengan adanya perubahan atau pergeseran bilangan gelombang pada masing-masing gugus fungsi. Perubahan serapan yang lebih lebar vibrasi ulur –OH pada bilangan gelombang 3301,31 cm-1 dengan terjadinya penambahan tiga puncak serapan bilangan gelombang yaitu 3427,65; 3299,38; dan 3162,43 cm-1 (-OH dari polisakarida dan asam akrilat). Hal ini tejadi karena adanya penambahan gugus fungsi dari monomer asam akrilat yang tergrafting pada polisakarida kulit pisang.

Hal serupa terjadi juga pada serapan vibrasi ulur gugus –CH alifatik yang mengalami perubahan/pergeseran bilangan gelombang dari 2920,35 dan 2855,73 cm-1 menjadi 2919,39 dan 2854,77 cm-1 setelah grafting sedangkan vibrasi tekuk pada –CH asimetri terjadi pergeseran dan penambahan puncak serapan bilangan gelombang serta bertambahnya intensitas penyerapan dari bilangan gelombang 1323,22 cm-1 menjadi 1370,48 dan 1324,19 cm-1(-CH dari polisakarida dan asam akrilat). Serapan vibrasi ulur –C-C yang mengalami pergeseran bilangan gelombang dari 993,38cm-1 menjadi 1080,18cm-1, sedangkan vibrasi ulur –C-O mengalami perubahan dan penambahan puncak serapan bilangan gelombang dari

62 bilangan gelombang 1156,37 cm-1 menjadi 1249,93 (-C-O dari asam karboksilat pada monomer asam akrilat) dan 1153,48 cm-1 (-C-O dari eter unit glukosa).

Demikian halnya dengan dengan pita serapan vibrasi ulur gugus fungi C=O, setelah dilakukan grafting monomer asam akrilat pada polisakarida kulit pisang, terjadi pergeseran serapan vibrasi ulur bilangan gelombang dari 1728,29 cm-1 menjadi 1732,15 cm-1. Gugus fungsi C=O diperoleh dari aldehid unit glukosa pada polisakarida kulit pisang yang mengalami pemutusan ikatan pada kedudukan C2 dan C3 pada proses grafting serta penambahan gugus C=O yang terdapat pada asam akrilat yang telah tergrafting pada polisakarida.

Vibrasi ulur C=N terjadi pergeseran bilangan gelombang dan pengurangan puncak serapan bilangan gelombang serta penurunan intensitas serapan gugus fungsi yang cukup tinggi yaitu dari bilangan gelomabnag 2335,39 dan 2138,18 cm-1 menjadi 2336,86 cm-1. Hal ini diperkirakan karena gugus fungsi C=N merupakan protein sehingga pada saat diradiasi terjadi denaturasi yang menyebabkan gugus fungsi berkurang dan intensitas penyerapannya pun akan berkurang (Stuart, 2004).

Penambahan atau pengurangan puncak serapan bilangan gelombang dan pergeseran/perubahan energi vibrasi gugus fungsi molekul yang ditandai dengan terjadinya pergeseran bilangan gelombang walaupun pergeserannya hanya sedikit serta intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah dari sebelumnya (Kurniadi, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa adanya interaksi antara polisakarida kulit pisang dengan monomer asam akrilat membentuk grafting yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkat energi molekul secara keseluruhan, sehingga

63 menyebabkan terjadinya perubahan pada bilangan gelombang. Perubahan bilangan gelombang tersebut menandakan telah terjadi kopolimerisasi grafting pada polisakarida kulit pisang dengan monomer asam akrilat berhasil dilakukan.

64 BAB V KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Penyerapan zat warna Maxilon Yellow

a. Aktivasi dengan KOH diperoleh hasil penyerapan yang lebih baik pada waktu perendaman 3 jam.

b. Penyerapan zat warna testil Maxilon Yellow sebelum proses grafting yaitu sebesar 73,29 % dan penyerapan optimum sesudah proses grafting adalah 91,77%

c. Penyerapan optimum diperoleh pada konsentrasi asam akrilat 8734,32 ppm dan dosis radiasi 30 kGy.

2. Degradasi pada BKP mengalami penurunan setelah dilakukan grafting, dengan presen degradasi pada BKP murni selama 5, 10 dan 15 hari diperoleh berturut-turut sebesar 35,07%; 36,90% dan 40,21%. Sedangkan BKP sesudah proses grafting diperoleh sebesar 29,25%; 35,62% dan 37,87%.

3. Gugus fungsi yang diperoleh pada karakterisasi menggunakan FTIR tidak ada perbedaan yang sigifikan. Namun, adanya pergeseran bilangan gelombang sebelum dan sesudah grafting menandakan telah terjadi kopolimerisasi grafting pada polisakarida kulit pisang yaitu pada gugus fungsi –OH, CH, -CO.

65 5.2. Saran

Dalam penelitian lebih lanjut perlu dilakukkan hal-hal berikut:

1. Meningkatkan konsentrasi monomer asam akrilat dalam jumlah yang lebih besar pada proses kopolimerisasi grafting.

2. Analisis karakterisasi polisakarida kulit pisang sebelum dan sesudah grafting dilakukakn dengan metode yang lainnya seperti SEM (Scanning Electron Microscopy) dan DSC (Differential Scanning Calorimetri).

66

Dokumen terkait