HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Karakteristik Aliran Sungai
Setelah mengetahui karakteristik geomorfologi dari suatu daerah aliran sungai, berikut analisis distribusi aliran hidrologi yang menggambarkan respon hidrologi akibat adanya hubungan karakteristik morfometri. Berikut ini grafik aliran hidrologi yang disajikan dalam bentuk grafik analisis aliran hidrologi (hidrograf), data-data yang digunakan merupakan hasil dari pencatatan secara kontinu pada masing-masing Stasiun Pengamatan Aliran Sungai (SPAS) selama
empat tahun atau sama dengan 48 bulan, oleh petugas monitoring dan evaluasi tata air SPAS BP DAS Citarum-Ciliwung, data yang digunakan untuk menggambarkan hidrograf ini merupakan data rerataan curah hujan bulanan dan debit bulanan di masing-masing Stasiun Pengamatan Aliran Sungai yang menjadi fokus dari daerah penelitian, yakni SPAS DAS Ciliwung Hulu-Ciliwung, Bogor; SPAS DAS Cipopohkol-Cisadane, Bogor; SPAS DAS Cicangkeudan-Cidanau, Serang dan SPAS DAS Ciawitail-Cipunagara, Subang, semenjak tahun 2005-2008 atau sama dengan 48 bulan pengamatan yang disajikan dalam grafik hubungan curah hujan bulanan dengan debit bulanannya. Gambar 12 menyatakan grafik hubungan curah hujan dengan debit bulanan dari keempat DAS yang menjadi daerah pengamatan dalam penelitian ini.
grafik curah hujan dan debit bulanan DAS Cipopohkol-Cisadane
bulan
bulan ke- vs Curah Hujan bulan ke- vs Debit Air
grafik curah hujan dan debit bulanan DAS Cicangkeudan-Cidanau
bulan
bulan ke- vs Curah Hujan bulan ke- vs Debit Air
(a) (b)
grafik curah hujan dan debit bulanan DAS Ciawitali-Cipunagara
bulan
bulan ke- vs Curah Hujan bulan ke- vs Debit Air
grafik curah hujan dan debit bulanan DAS Ciliwung-Ciliwung Hulu
bulan
bulan ke- vs Curah Hujan bulan ke- vs Debit Air
s
(c) (d)
Gambar 12. Grafik Curah Hujan dan Debit Bulanan DAS Cipopohkol-Cisadane (a), DAS Cicangkeudan-Cidanau (b), DAS Ciawitali-Cipunagara (c) dan DAS Ciliwung-Ciliwung Hulu (d)
Pada gambar grafik-grafik tersebut tampak perbedaan intensitas curah hujan yang jatuh ke daerah pengaliran aliran sungai dan perbedaan bentuk hidrograf. Dari keempat gambar grafik tersebut respon hidrograf dinyatakan dalam kurva hubungan debit aliran dengan waktu. Debit aliran yang digunakan pada analisis hidrograf ini merupakan debit rataan tiap bulan untuk tempo waktu empat tahun begitu pula curah hujan yang digunakan merupakan curah hujan rataan bulanan. Pada keempat gambar grafik hubungan curah hujan dan debit bulanan ini bentuk kurva tampak fluktuatif. Besarnya curah hujan yang masuk ke daerah pengaliran sungai ini tergantung pada luasan DAS dan batas antar DAS. Untuk DAS yang memiliki luasan besar tentu akan menghasilkan debit puncak yang lebih besar dibandingkan dengan DAS yang memiliki luasan lebih kecil (sebutkan DAS yg mana aja?).
Dengan skala debit yang digunakan berkisar antara 0-100 m3/dtk/bln sedangkan skala curah hujan berkisar antara 0-1400 mm/bln, respon hidrograf yang tampak relatif konstan terjadi pada DAS Cidanau yakni dengan debit aliran berada pada interval 0-10 m3/dtk/bln sedangkan curah hujannya tampak fluktuatif berada pada interval 0-600 mm/bln. Curah hujan rata-rata dari setiap DAS selama periode empat tahun tersebut secara berturut-turut adalah 199,4771 mm/bln, 122,0083 mm/bln, 166,55 mm/bln dan 212,0563 mm/bln sedangkan debit rata-ratanya adalah 28,50461 m3/dtk/bln, 21,52481 m3/dtk/bln, 3,896875 m3/dtk/bln dan 12,09163 m3/dtk/bln untuk DAS Ciliwung, DAS Cisadane, DAS Cidanau dan DAS Cipunagara. Respon hidrograf tertinggi terjadi pada DAS Cipunagara dengan debit rataan bulanan sebesar 85 m3/dtk/bln yang terjadi pada bulan ke-39 sedangkan curah hujan tertinggi yang terjadi pada saat itu adalah 464 mm/bln. Namun, respon hidrograf DAS Ciliwung pada bulan ke-36 mendapatkan curah hujan rata-rata bulanan maksimum sebesar 1241 mm/bln dengan debit rataannya sebesar 50.62 m3/dtk/bln. Seperti yang tampak pada Gambar 12 DAS
Cicangkeudan-Cidanau memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan dengan DAS lainnya. Variasi curah hujan ini terjadi akibat adanya perbedaan intensitas dan distribusi hujan menurut ruang dan waktu hal ini terjadi tentu dikarenakan adanya pengaruh dari faktor meteorologi (iklim). Meskipun memiliki curah hujan yang tinggi DAS Cicangkeudan-Cidanau ini memiliki debit aliran yang relatif konstan dibandingkan DAS lainnya, hal ini merupakan pengaruh dari faktor fisiografi (morfologi) yang dimiliki DAS tersebut yakni kemiringan sungai (slope) yang lebih landai (1.73%) dibandingkan DAS Ciliwung-Ciliwung Hulu sebesar 11.68%. Selain faktor kemiringan hal lainnya yang mempengaruhi bentuk aliran hidrograf ini adalah panjang sub-sub DAS atau anak sungai yang dimiliki oleh DAS Cicangkeudan-Cidanau ini. Besarnya bentuk dengan slope aliran sungai utama yang lebih rendah seperti yang dimiliki oleh DAS Cicangkeudan-Cidanau menghasilkan bentuk hidrograf yang relatif konstan atau lebih rendah dibandingkan DAS yang memiliki bentuk luasan sama namun beda elevasi (slope) aliran sungai utama yang lebih curam.
Ketika variasi hujan tersebut diasumsikan merata untuk keempat DAS tersebut maka bentuk dan ukuran hidrograf yang akan terjadi adalah tampak seperti pada Gambar 13 berikut :
Gambar 13 Grafik hidrograf daerah aliran sungai
Pada grafik aliran hidrologi yang tampak pada Gambar 13, grafik tersebut menggunakan asumsi bahwa intensitas curah hujan rataan bulanan yang terjadi merata selama empat tahun atau sama dengan 48 bulan pada setiap daerah pengamatan sehingga dapat dilihat bahwa respon hidrograf dari setiap daerah pengaliran sungai yang lebih ideal. Dengan mengansumsikan intensitas curah hujan ini maka dari grafik tersebut tampak adanya respon hidrologi yang relatif sama seperti yang terjadi pada DAS Cidanau dan DAS Cisadane.
Respon hidrograf suatu daerah aliran sungai dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor morfometri dan faktor meteorologi. Secara teori hidrograf, bahwa suatu DAS yang mendapat masukan curah hujan tertentu akan menghasilkan suatu aliran hidrograf yang bentuk dan ukuran tertentu. Dengan kata lain masukan dengan curah hujan tertentu akan menghasilkan respon aliran hidrograf tertentu pula, hal ini didasarkan pada faktor meteorologi. Sedangkan jika didasarkan pada faktor fisiografi atau morfometri, respon aliran hidrologi ini cenderung dipengaruhi oleh bentuk, kerapatan DAS, nisbah percabangan, faktor topografi, kemiringan sungai utama dan panjang aliran sungai yang
ditunjukkan dengan tinggi rendahnya debit puncak aliran hidrologi pada grafik aliran hidrograf.
Respon hidrograf sebagaimana yang tampak pada Gambar 13, perbandingan antara nisbah percabangan dari keempat DAS dilihat debit puncak aliran suatu hidrograf, untuk daerah aliran sungai yang memiliki bentuk daerah pengaliran sungai radial memiliki debit puncak yang lebih tinggi dimana titik maksimum berada pada 140 m3/dtk/bln dibandingan dengan bentuk pengaliran sungai seperti bulu burung maupun paralel. Seperti yang telah dijelaskan pada subbab (???) karakteristik geomorfologi DAS, bentuk aliran sungai Cipunagara memiliki bentuk radial, sedangkan untuk bentuk pengaliran sungai Ciliwung dan Cisadane adalah bentuk aliran paralel serta sungai Cidanau berbentuk seperti bulu burung.
Pada grafik analisis aliran hidrologi (Gambar 13), DAS Cidanau dan DAS Cisadane menunjukan respon yang relatif sama sejak tahun pertama pengamatan sampai tiga setengah tahun pengamatan grafik aliran hidrograf pada interval 0-110 m3/dtk/bln dari bulan ke-1 hingga bulan ke-37 dibandingkan dengan DAS Ciliwung yang memberikan respon maksimum lebih rendah yakni 50 m3/dtk/bln dan DAS Cipunagara yang memberikan respon hidrograf maksimum yang tinggi yakni 140 m3/dtk/bln dari kedua DAS tersebut. Hal ini tentu dikarenakan oleh dua faktor utama yakni faktor morfometri dan faktor meteorologi. Pada analisis grafik aliran hidrograf yang ditampilkan dalam Gambar 13 dengan asumsi intensitas curah hujan bulanan yang jatuh di daerah pengailiran sungai adalah merata namun memiliki faktor fisiografis yang unik pada setiap daerah pengaliran sungai. Misalnya, DAS Cidanau meskipun memiliki bentuk aliran sungai paralel dengan panjang sungai utamanya 5.1 km, namun memiliki luas yang cukup besar yakni sekitar 485.4 ha dan beda elevasi yg kecil yakni 87.5 m dpl atau sama dengan 1.73% (tergolong landai) dengan kerapatan sekitar 3.45 km-1 ini menghasilkan debit aliran limpasan di daerah SPAS yang cukup besar dan berpotensi menghasilkan banjir yang cukup besar. Hal ini didukung dengan jumlah anak sungai yg cukup banyak dengan orde 3 dengan panjang seluruh anak sungai sebesar 16.729 km.
Sedangkan DAS Cisadane pada grafik analisis hidrograf memberikan respon yang relatif sama dengan DAS Cidanau ini memiliki karakter morfometri sebagai berikut, bentuk daerah pengaliran sungai tampak seperti bulu burung dengan percabangan yang kecil (orde 2) dengan panjang seluruh anakan sungai sekitar 4.817 km dan panjang sungai utama yang kecil yakni hanya sekitar 2.49 km, jika dilihat dari karakter morfometrinya DAS ini semestinya tidak bisa memberikan respon seperti yang dihasilkan oleh DAS Cidanau namun dengan beda elevasi yang besar yakni 225 m dpl atau sama dengan 9.03% kemiringan sungainya dan dengan panjang aliran sungai yang tergolong kecil, 0.151 km, inilah yang menyebabkan DAS Cisadane ini mampu memberikan respon yang relatif sama.
Respon hidrograf yang dihasilkan oleh DAS Cipunagara maupun DAS Ciliwung, pada DAS Cipunagara dengan karakter morfologi berbentuk jejaringan sub DAS radial dan panjang sungai utama yang relatif kecil, 3.48 km.
Namun memiliki beda elevasi yang besar yakni sekitar 400 m dpl atau sama dengan 11.49% kemiringan sungainya dan panjang aliran anak sungai sekitar 12.149 km menyebabkab respon aliran hidrograf dengan debit aliran yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan DAS-DAS lainnya yang menjadi daerah pengamatan ini. Sedangkan DAS Ciliwung dengan karakter morfometri berbentuk memanjang dan jejaringan sub DAS paralel dengan panjang sungai utama relatif kecil sekitar 3.32 km dan beda tinggi yang cukup besar sekitar 387.5 m dpl atau sama dengan 11.86%, namun memiliki nisbah percabangan yang kecil (orde 2) dan panjang seluruh anakan sungai yang relatif besar untuk nisbah percabangan seperti DAS Ciliwung, 4.143 km ini menyebabkan lambatnya debit aliran sungai.
Kerapatan sungai juga berpengaruh terhadap pola distribusi aliran sungai. Kerapatan sungai yang tinggi dengan nilai kerapatan yang relatif kecil seperti yang dimiliki oleh DAS Cipunagara, 2.19 km-1, akan menyebabkan distribusi aliran permukaan bergerak secara cepat, sehingga waktu tenggang (lag time) menjadi singkat dan debit puncak aliran hidrologi menjadi bertambah besar. Dengan kata lain kemungkinan terjadinya banjir besar pada DAS ini sangat mungkin sering terjadi. Sedangkan DAS Ciliwung dengan kerapatan
2.67 km-1 tidak memberikan respon yang sesuai dengan teori yang ada. Hal ini dikarena faktor morfometrinya yang berbeda dengan DAS Cipunagara, yakni bentuk alirannya yang berupa paralel dan panjang aliran sungai yang tergolong panjang dan nisbah percabangan yang relatif kecil yang telah menyebabkan penyimpangan dari teori.
Dari hasil analisis ini nampak bahwa pola distribusi aliran sungai merupakan proyeksi dari respon hidrologi terhadap faktor fisiografi dan faktor meteorologi. Bentuk hidrograf yang dimiliki oleh suatu DAS relatif berbeda sebab suatu daerah pengaliran aliran sungai yang mendapatkan masukan curah hujan tertentu akan menghasilkan suatu hirograf aliran yang bentuk dan ukuran tertentu pula menurut ruang dan waktu. Hal ini terjadi akibat adanya variasi curah hujan dan kodisi DAS saat terjadinya hujan tersebut.
BAB V