• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Karakteristik Anak Autis

Karakteristik merupakan suatu identitas khusus yang melekat pada sesuatu atau individu, sehingga sesuatu tersebut dapat dikenali secara umum dan menjadi dasar seorang pendidik dalam memberikan layanan yang tepat bagi peserta didik. Begitu pula dengan anak autis yang memiliki karakteristik gangguan autisme pada sebagian individu yang muncul sejak bayi. Ciri yang sangat menonjol

16

adalah tidak ada kontak mata dan reaksi yang sangat minim terhadap ibunya atau pengasuhnya, ciri ini semakin jelas dengan bertambahnya umur.

Pada sebagian kecil lainnya dari individu penyandang autisme, perkembangannya sudah terjadi secara “relatif normal”. Pada saat bayi sudah menatap, mengoceh, dan cukup menunjukkan reaksi pada orang lain, tetapi kemudian pada suatu saat sebelum usia 3 tahun ia berhenti berkembang dan terjadi kemunduran. Ia mulai menolak tatap mata, berhenti mengoceh, dan tidak bereaksi terhdap orang lain.

Karakteristik anak autis menurut Baihaqi (dalam Gusdi Sastra, 2011:137) menyatakan bahwa penyandang autisme pada umumnya mengalami empat bidang kesulitan yang utama. Keempat bidang hambatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Komunikasi

Hambatan bahasa melalui segala cara komunikasi, seperti berbicara, intonasi gerakan tangan, ekspresi wajah.

b. Imajinasi

Kelakuan dan infleksibilitas proses berpikir, seperti penolakan terhadap perubahan, perilaku, obsesi, dan ritualistik.

c. Sosialisasi

Kesulitan dengan hubungan sosial, waktu sosial yang kurang, kurangnya empati, penolakan kontak badan yang normal, dan kontak mata yang tidak benar.

Beberapa permasalahan atau gangguan yang dialami oleh anak autis dijelaskan Siegel (dalam Gusdi Sastra, 2011:137) sebagai berikut:

17

a. Masalah atau gangguan di bidang komunikasi, dengan karakteristik yang tampak berupa:

1)Perkembangan bahasa anak lambat atau sama sekali tidak ada. Anak tampak tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara lalu kemudian hilang kemampuan berbicara

2)Kadang-kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.

3)Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

4)Bicara tidak dipakai untuk berkomunikasi dan senang meniru atau membeo (echolalia).

5)Bila senang meniru, dapat menghafal kata-kata atau nyayian yang didengar tanpa mengerti artinya.

6)Sebagian dari anak tidak bicara (bukan kata-kata) atau sedikit bicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.

7)Senang menarik tangan orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.

b. Masalah atau gangguan di bidang interaksi sosial, dengan karakteristik berupa:

1)Anak lebih suka menyendiri

2)Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau menghindari tatapan muka atau mata dengan orang lain.

3)Tidak tertarik utnutk bermain bersama dengan teman, baik yang sebaya maupun yang lebih tua dari umurnya.

18

c. Masalah atau gangguan di bidang sensoris, dengan karakteristik berupa: 1)Anak tidak peka terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk. 2)Anak apabila mendengar suara keras langsung menutup telinga.

3)Anak senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda yang ada disekitarnya.

4)Tidak peka terhadap rasa sakit dan takut.

d. Masalah atau gangguan di bidang pola bermain, dengan karakteristik berupa: 1)Anak tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.

2)Anak tidak suka bermain dengan anak atau teman sebayanya. 3)Anak tidak memiliki kreatifitas dan tidak memiliki imajinasi.

4)Anak bermain tidak sesuai dengan fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar.

5) Anak senang terhadap benda-benda yang berputar seperti kipas angin dan roda sepeda.

6) Anak sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa ke mana-mana.

e. Masalah atau gangguan di bidang emosi, dengan karakteristik berupa:

1) Anak sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa dan menangis tanpa alasan.

2) Anak dapat mengamuk tak terkendali jika dilarang atau tidak dituruti keinginannya.

3) Anak kadang agresif dan merusak.

4) Anak kadang-kadang menyakiti dirinya sendiri.

5) Anak tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada di sekitarnya atau di dekatnya.

19

Raymond Marcel Semaun (2004:5), juga menyebutkan bahwa beberapa gejala yang ditunjukkan oleh penyandang autis sebagai berikut:

a. Ketidakmampuan beradaptasi/menolak perubahan (iflessibillity)

b. Kesulitan mengekspresikan keinginan, menggunakan gerak tubuh/gesture atau menunjuk sebagai ganti ungkapan bahasa

c. Mengulang-ulang kata atau kalimat

d. Tiba-tiba tertawa/menangis atau kesal tanpa sebab yang jelas e. Senang menyendiri

f. Mengamuk/tantrum

g. Sulit berbaur dengan orang lain

h. Tidak suka/mau dipeluk atau memeluk

i. Kontak mata minim bahkan mungkin tidak ada sama sekali j. Tidak responsive pada metode pengajaran normal

k. Mampu berlama-lama bermain sesuatu yang tidak wajar l. Senang memutar benda-benda

m. Adanya kelekatan pada benda yang kuat n. Menunjukkan ambang sakit yang tidak wajar o. Tidak terlihat mengenal bahaya

p. Secara fisik mampu menunjukkan hiperaktivitas atau hypoaktivitas q. Hambatan pada kemampuan motorik kasar-halus

r. Tidak responsive pada instruksi verbal/seolah-olah tuli

Karakteritik anak autis menurut Endang Supartini (2005:4), adapun karakteristik anak autistik dapat dilihat dari perilaku anak antara lain:

20

a. Pada tahun pertama, menunjukkan gangguan interaksi sosial yang ditunjukkan dengan tidak adanya kontak mata, kurangnya hubungan sosial dengan teman sebaya.

b. Kemampuan komunikasinya terhambat yang ditunjukkan adanya ketidakmampuan anak menyampaikan informasi baik secara verbal maupun nonverbal.

c. Adanya gangguan sensoris yang ditunjukkan adanya ketidaksukaan anak terhadap rangsangan dari luar baik itu suara, ataupun bau-bauan.

d. Pola bermain tidak seperti anak sebaya yang ditunjukkan dengan anak lebih suka bermain sendiri, dan lekat dengan benda yang disukainya.

e. Perilaku dapat berlebihan (hiperaktif) dan hipoaktif yang ditunjukkan dengan perilaku mengerakk-gerakan salah satu tubuh, dan mengepak-kepakan tangannya (handflaping).

f. Emosinya labil yang ditunjukkan dengan perilaku anak sering marah, menangis dan tertawa tanpa sebab yang jelas. Hal ini yang lebih ekstrem ditunjukan anak yaitu agresif ataupu anak mudah tantrum.

g. Minat anak terbatas dan sering aneh dan diulang-ulang yang ditunjukkan dengan anak menyukai benda-benda yang bergerak seperti roda ataupun kipas angin.

h. Gangguan kognitif, yang ditunujukkan hampir 70-80% anak autis mengalami retardasi mental.

Untuk menegakkan diagnosis Gangguan Autisme tidak selalu mudah karena sesungguhnya setiap anak yang autistik mempunyai gambaran klinis yang khas, tidak semua gejala dapat ditemukan pada seorang anak yang autistik. Berdasarkan pendapat mengenai karakteristik anak autis diatas maka dapat

21

ditegaskan bahwa karakteristik anak autis yang utama pada anak autis yakni: keterlambatan dan deviasi dalam hubungan sosial, gangguan komunikasi, perilaku stereotipik dan mannerismyaitu mengulang-ulang suatu perilaku, minat atau aktivitas, serta terjadi sebelum usia 36 bulan.

B. Tinjauan tentang Pelaksanaan Pembelajaran Menulis

Dokumen terkait