D. Upaya-Upaya Memajukan Seni Arsitektur
2. Karakteristik Bangunan Masjid Ibnu Thulun
Masjid Ibnu Thulun adalah bangunan masjid yang dibangun oleh Ahmad Ibnu Thulun pada tahun 876-879 M. Masjid yang memiliki gaya bangunan seperti Samarra ini memiliki bentuk bangunan hypostyle atau gaya bangunan dengan halaman luas terbuka (shahn) di bagian tengah masjid dan dikelilingi oleh dinding yang menjadi bagian bangunan beratap (Sumalyo, 2000: 31).
Gambar 3. Rancangan masjid Ibnu Thulun dengan gaya hypostyle (Al-Faruqi, 2013 : 458)
Karakteristik bangunan ini menjadi ciri khas tersendiri pada bangunan masjid Ibnu Thulun merupakan hasil inovasi dari pendirinya. Bentuk-bentuk karakteristik yang terdapat dalam masjid tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mihrab
Menurut KBBI, mihrab adalah ruang kecil di langgar atau masjid, tempat imam memimpin sholat berjamaah (KBBI, 2008: 912). Pada bangunan masjid Ibnu Thulun, mihrab memiliki perbedaan dari masjid lainnya. Perbedaan tersebut terdapat pada orientasi mihrab yang tidak menghadap ke Mekkah. Arah antara Mesir dengan Ka‟bah di Mekkah yang tepat adalah 141, 5 derajat menghadap ke tenggara, sedangkan pada mihrab masjid tersebut berada pada 136, 5 derajat. Hal tersebut menjadikan ketidaksepakatan antara insinyur dan arsitektur saat membangun masjid (Swelim, 2015: 92).
Keputusan Ahmad Ibnu Thulun dalam membangun mihrab yang tidak menghadap ke arah Mekkah bukanlah tanpa alasan, akan tetapi bentuk mihrab yang demikian berdasarkan pada kehadiran Rasulullah pada mimpi Ibnu Thulun sewaktu membangun masjid. Mimpi tersebut berisi perintah Rasulullah kepada Ibnu Thulun untuk membangun mihrab pada lantai yang telah ditunjukkan kepadanya. Mimpi tersebut ternyata meninggalkan jejak setelah ia melihat langsung keesokan harinya. Latar belakang itulah yang menyebabkan ia membangun mihrab masjid yang berorientasi tidak menghadap ke Mekkah. “Ibnu Thulun explained that the
Prophet Muhammad appeared to him in a dream and ordered him to build the mosque this way, then the Prophet drew the design of the mihrab on the floor and ordered Ibnu Thulun to trace it exactly” (Swelim, 2015: 92).
Bentuk mihrab yang demikian awalnya menimbulkan kontroversi bagi penduduk Mesir. Banyak warga menolak untuk melaksanakan sholat di masjid tersebut. Akan tetapi permasalahan tersebut dapat diatasi oleh Ibnu Thulun, terlebih orientasi mihrab yang demikian di Mesir tidak hanya terjadi pada masjid Ibnu Thulun akan tetapi ada pula beberapa masjid yang memiliki bentuk mihrab serupa.
Gambar 4. Detail bentuk mihrab masjid Ibnu Thulun (Swelim, 2015: 81)
b. Bangunan tanpa Penggunaan Kolom Tiang Balok Kayu yang Berlajur
Bangunan masjid di Mesir pada umumnya menggunakan kolom berlajur. Seperti halnya pada masjid Al-Azhar dan masjid Amr bin Ash.
Akan tetapi hal tersebut tidak terjadi pada pembangunan masjid Ibnu Thulun di Mesir oleh dinasti Thulun. Kolom adalah tiang yang digunakan untuk menyangga bagian dari bangunan gedung dan berdiri tegak (Praptiningrum, 2009: 43). Pembangunan masjid tanpa menggunakan kolom berlajur bukanlah tanpa alasan, akan tetapi hal ini berdasarkan pada saran dari arsitektur masjid Al-Nashrani.
Menurut Balawi, arsitek Ibnu Thulun Al-Nashrani memperkirakan akan membutuhkan 300 lajur tiang dalam pembangunan masjid. Al-Nashrani menganggap hal tersebut tidak mungkin terjadi untuk mendapatkan tiang sebanyak itu. Salah satu jalan untuk mewujudkan keinginan Ibnu Thulun adalah mengambil tiang dari bangunan gereja-gereja di pedesaan sehingga akan memakan waktu lebih lama dan biaya yang besar (Swelim, 2015: 93).
Pernyataan arsitek Al-Nashrani tidak disetujui oleh Ibnu Thulun.
Menurutnya masjid di Mesir harus mengikuti gaya bangunan secara umum yang menggunakan kolom. Masjid di Mesir memiliki tiang yang berlajur seperti halnya pada masjid al-Azhar dan Amr bin Ash. Tidak hanya itu, tiang yang berlajur juga telah digunakan Mesir sejak zaman Mesir kuno oleh kerajaan. Selain itu, keinginan Ahmad Ibnu Thulun untuk
membangun tiang yang berlajur di masjidnya akan memperkuat kesamaan tipe struktur dengan masjid al-Mutawakkil di Samarra, Irak. Akan tetapi hal tersebut tidak dapat dilakukan untuk pembangunan masjid Ibnu Thulun dikarenakan tidak terpenuhinya balok kayu yang dibutuhkan sehingga bangunan masjid tersebut tanpa menggunakan kolom tiang balok kayu seperti yang bangunan masjid pada umumnya (Swelim, 2015: 97).
Gambar 5. Lengkungan-lengkungan pada riwaq masjid tanpa penggunaan kolom (Swelim, 2015: 24).
c. Penggunaan Struktur Lengkungan Lancip
Pada umumnya, masjid di Timur Tengah memiliki bentuk teknik lengkungan. Akan tetapi masjid Ibnu Thulun memiliki kekhususan dalam lengkungannya. Struktur lengkungan dalam masjid Ibnu Thulun tidak menggunakan bentuk tapal kuda, akan tetapi menggunakan struktur lancip.
Menurut Robert William lengkungan dengan struktur lancip telah digunakan pada arsitektur Arab dua ratus tahun sebelum digunakan di Eropa. Masjid Ibnu Thulun merupakan masjid yang pertama kali di Mesir menggunakan stuktur lengkungan lancip (Swelim, 2015: 94).
Lengkungan-lengkungan lancip pada masjid Ibnu Thulun dirancang sesuai dengan prinsip arsitektural yang proporsional. Bentuk lengkungan lancip yang saling menyambung pada bangunan masjid memberikan nilai ekonomis karena mengurangi jumlah pada material dalam pembangunan dinding, selain nilai ekonomis bentuk lengkungan yang lancip juga memberikan manfaat yakni membantu penerangan pada ruangan masjid dan membuat sirkulasi udara pada bangunan menjadi bagus sehingga membuat masjid nyaman digunakan dalam keadaan musim panas maupun dingin (Swelim, 2015: 95).
Gambar 6. Detail bentuk lengkungan pada masjid Ibnu Thulun (Swelim, 2015: 88).
d. Ziyada
Masjid Ibnu Thulun adalah masjid yang terhitung luas di Mesir, akan tetapi daya tampung masjid tersebut masih terbilang kurang dari cukup karena banyaknya jamaah. Akhirnya banyak jamaah yang mengusulkan kepada Ibnu Thulun untuk memperluas masjid. Perluasan yang dilakukan tanpa mengubah bentuk masjid sehingga menggunakan teknik ziyada. Ziyada adalah ruang tambahan yang mengelilingi masjid sehingga memberikan kesan yang luas pada bangunan (Swelim, 2015: 67).
Gambar 7. Detail ziyada yang mengelilingi bangunan masjid (Swelim, 2015: 71).
Ziyada memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah: melindungi masjid maupun temboknya dari pelanggaran batas pembaharuan populasi kota karena hal tersebut sering terjadi pada bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Mesir. Selain itu, juga membuat sekeliling masjid menjadi terasa lapang atau luas sehingga memberikan rasa nyaman terhadap para jamaah masjid. Ziyada juga menjadi ruang para jamaah untuk dapat bertemu dan berkumpul. Fungsi lainnya adalah bertindak sebagai area transisi yakni memisahkan interior dengan eksterior masjid. Jamaah yang datang ke masjid untuk beribadah membutuhkan tempat seperti ini untuk memisahkan mereka dari kegiatan sehari-hari dengan kegiatan yang akan dilakukan di dalam masjid. Ziyada dapat menambah kesucian masjid dan juga menyediakan tempat untuk menyendiri/ mengasingkan diri dari kegiatan dan kesibukan kota ataupun pasar. Secara psikologi masjid ini
dapat menyiapkan seseorang untuk patuh terhadap agama dan berserah diri kepada sang pencipta (Swelim, 2015: 97).
Di dalam ziyada ini terdapat menara spiral yang menjadi ikon dari masjid Ibnu Thulun, selain itu penambahan bangunan berupa tempat wudhu serta tempat penyimpanan obat untuk klinik mayarakat pada masa dinasti Thulun juga diletakkan di ruang ziyada. Sehingga penambahan bentuk masjid berupa ziyada memiliki banyak kemaslahatan bagi para jamaah (Swelim, 2015: 70).
e. Mayda’a (Tempat Wudhu dan Khizānah A’sy-Ayarab (Penyimpanan Obat).
Pembangunan masjid Ibnu Thulun pada awalnya tanpa menggunakan tempat wudhu. Akan tetapi hal ini membuat Maqrizi protes terhadap Ibnu Thulun bahwasanya masjid tidak memiliki tempat untuk berwudhu (mayda‟a). Dia pun merespon dengan jawaban bahwasanya ia tidak ingin masjidnya terkontaminasi dengan tambahan bangunan-bangunan lain. Akan tetapi orang-orang menyuruh untuk membangun tempat wudhu di area ziyada. Mayda‟a dibangun di dekat menara dan masih dapat dilihat sampai saat ini bukan berada di tengah-tengah masjid seperti anggapan banyak orang karena bangunan yang berada di tengah-tengah adalah sebuah pancuran yang berada di dalam kubah dan bukanlah sebuah tempat untuk berwudhu (Swelim, 2015: 97).
Ibnu Duqmaq dan Maqrizi menjelaskan bahwa di ziyada juga terdapat ruangan yang digunakan sebagai area penyimpanan cairan
obat-obatan atau yang disebut dengan khizānah a‟sy-syarab. Ini seperti halnya klinik sekaligus apotek yang berfungsi untuk penyimpanan obat-obatan.
Obat-obatan inilah yang digunakan para tabib untuk mengadakan pengobatan gratis di masjid setiap hari Jum‟at. Di Mesir, sistem bangunan yang memiliki struktur seperti itu hanya terdapat di masjid Ibnu Thulun (Swelim, 2015: 97). Hal ini dilakukan oleh Ahmad Ibnu Thulun untuk menciptakan kesejahteraan warganya.
f. Menara Spiral
Ibnu Thulun memiliki referensi masjid agung Samarra dalam pembangunan masjidnya. Referensi darinya inilah yang membentuk adanya akulturasi budaya antara Samarra dan Mesir. Ia meminta kepada arsitekturnya untuk membangun menara spiral layaknya menara masjid di Samarra. Menurut Ibnu Duqmaq, menara spiral merupakan menara yang memiliki keunikan dengan tangga eksternal yang luas dan besar mengitari menara sampai atas (Swelim, 2015: 98).
Nasiri Khusraw, orang yang telah mengunjungi Mesir pada abad kesebelas menyatakan bahwa menara masjid Ibnu Thulun memiliki struktur yang bebas. Bentuk menara yang memiliki tangga mengitari dari arah luar berbentuk spiral menjadi menara yang unik di Mesir. Pada ujung menara juga terdapat dekorasi berupa replika kapal dalam ukuran kecil.
Maqrizi mengatakan bahwa kebanyakan orang percaya bahwasanya bentuk seperti kapal yang menghadap ke arah matahari pada ujung menara digunakan sebagai pembatas, akan tetapi selanjutnya dikatakan bahwa
pergeseran benda ini dikarenakan adanya angin. Pada abad ketujuhbelas seorang sejarawan bernama Evliya Celebi mengartikan fungsi bentuk kapal itu adalah sebagai talismanic atau jimat perlindungan (Swelim, 2015: 98).
Talismanic digunakan kota untuk melawan bencana banjir yang besar dari sungai Nil. Ia juga menambahkan bahwasanya Amir Ottoman menggunakan bentuk kapal ini untuk pijakan sebelum menaiki kudanya (Swelim, 2015: 98). Akan tetapi saat ini benda tersebut sudah tidak nampak lagi di atas menara.
Gambar 8. Detail menara masjid Ibnu Thulun yang berbentuk spiral (tangga mengelilingi menara dari luar)
Gambar diambil oleh Fathna Sa‟adati Choliliyah, 23 Januari 2016.
g. Fawwara (pancuran air)
Fawwara (pancuran air) terletak di bagian tengah ruangan terbuka masjid yang digunakan untuk meyuplai air bagi para jamaah. Bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk penyaluran air ini memiliki atap berbentuk kubah. Atap fawwara terbuat dari kayu jati dilapisi dengan plester semen dan emas. Dibawah kubah tersebut terdapat cekungan marmer dengan diameter empat hasta. Fawarra tersebut memiliki pancuran air dengan beralaskan lantai marmer.
Kubah ini disokong dengan tiang yang berjumlah dua untuk menyangga, serta kolom yang terdiri dari 10 tiang yang terbuat dari marmer dan 16 tiang lainnya yang mengelilingi bangunan fawwara. Tiang yang digunakan pada fawwara berasal dari daur ulang bangunan-bangunan sebelum munculnya Islam. Di sisi lain ada pula yang mengasumsikan bahwa tiang-tiang tersebut berasal dari bangunan-bangunan gereja yang sudah tidak digunakan kemudian didaur ulang kembali pada pembangunan fawwara masjid Ibnu Thulun (Swelim, 2015: 107).
Dalam bangunan fawwara terdapat sundial atau penunjuk waktu yang menggunakan bantuan bayangan sinar matahari. Benda ini terbuat dari kayu jati dan digantungkan pada salah satu sisi kubah. Jam tersebut digunakan oleh mu‟adzin untuk mengetahui waktu sholat. Adanya bukti adanya sundial serta tangga dalam bangunan tengah masjid ini menjadi salah satu bukti bahwasanya pada masa tersebut adzan dilakukan di atas kubah masjid (Swelim, 2015: 109).
Jamaah yang melaksanakan sholat di masjid Ibnu Thulun dengan membawa anak-anaknya, maka akan ditempatkan di fawwara. Begitu pula pada hari Jum‟at anak-anak akan bersama para budak di fawwara saat ayah mereka mendengarkan khutbah di masjid. Setelah sholat Jum‟at anak-anak akan mendapatkan pelajaran keagamaan dari Ar-Rabi‟ Ibn Sulayman.
Pembelajaran keagamaan pada masa itu sudah menggunakan kertas dan menjadi rekor penggunaan kertas pertama kali di Mesir. Pada masa tersebut mayoritas pembelajaran masih menggunakan papirus atau alas dari kulit binatang. Penggunaan kertas pada masa itu masih sangat berharga sehingga hanya orang spesial yang dapat membawa kertas (Swelim, 2015: 110).
Gambar 9. Pancuran air yang berada di dalam kubah yang terdapat di tengah-tengah shahn (Swelim, 2015: 78).
h. Prasasti a. Prasasti Inti
Masjid Ibnu Thulun memiliki dua prasasti inti. Ali Pasha Mubarak menyebutkan bahwasanya terdapat balok marmer yang berisi prasasti berupa tulisan kufi ditemukan dalam pintu masjid yang menghadap ke tempat wudhu (mayda‟a). Prasasti itu berisi tentang tulisan tanggal pembangunan masjid yakni pada bulan Ramadhan (April-Mei) tahun 876 M. Dalam prasasti ini, istilah yang digunakan adalah jami‟ Ibnu Thulun, karena pada abad pertengahan penyebutan masjid menggunakan istilah jami‟ (Swelim, 2015: 110).
Menurut Creswell, pada tahun 1833 – 1860 M dibuat lukisan yang memperlihatkan bahwasanya kedua prasasti terletak di tengah tiang pada riwaq (lorong ruang yang beratap) yang menghadap ke shahn atau halaman terbuka di dalam masjid. Pendapatnya ditegaskan kembali oleh Karl Baedeker bahwa di tengah tiang terdapat marmer yang berisi tulisan kufi yang berisi tanggal saat pembangunan masjid akan tetapi prasasti tersebut saat ini telah mengalami kerusakan (Swelim, 2015: 110).
Pendapat lain dijelaskan bahwasanya kedua inti prasasti masjid Ibnu Thulun diletakkan oleh Ahmad Ibnu Thulun pada mihrab masjid, akan tetapi hancur bersama runtuhnya dinasti Thulun. Ada pula yang berpendapat pada saat penyerangan kota Al-Qatha‟i, semua prasasti dihilangkan untuk menghapus semua jejak dinasti Thulun maupun identitas penguasa dinasti.
b. Prasasti Kayu di Bawah Plafon Masjid
Salah satu hal yang menarik dari masjid Ibnu Thulun adalah prasasti yang terbuat dari kayu dan terletak di bawah plafon masjid.
Prasasti tersebut berisi tulisan ayat al-Qur‟an yang memenuhi kayu di bawah plafon masjid. Sepertujuh belas ayat al-Qur‟an tertulis dalam prasasti tersebut. Pada saat awal pembangunan masjid, Ahmad Ibnu Thulun menginginkan prasasti yang berisi seluruh ayat al-Qur‟an akan tetapi hal tersebut hanya dapat terlaksana sepertujuh belas bagian ayat.
Sehingga masih terdapat bagian yang kosong di bawah plafon masjid tersebut. Prasasti yang berisi tulisan ayat al-Qur‟an ini menjadi fitur yang menarik karena pada bangunan masjid sebelumnya belum ada yang membuat fitur seperti halnya prasasti berisi ayat al-Qur‟an (Swelim, 2015:
117).
Terdapat kekosongan sebelum tulisan basmalla pada prasasti masjid. Hal tersebut dikarenakan pada saat khalifah Abbasiyah menyerang kota Al-Qatha‟i, mereka ingin menghapus jejak dinasti atau nama Ibnu Thulun di dalam masjid. Hal tersebut sudah wajar terjadi pada masa kekhalifahan jika terjadi penggulingan kekuasaan, secara umum bagian yang telah dirusak akan diganti dengan nama penguasa yang baru. Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada masjid Ibnu Thulun dan masih dibiarkan kosong sampai saat ini.
Gambar 10. Detail pada tulisan arab kufi prasasti masjid Ibnu Thulun (Swelim, 2015: 73).
i. Dikka
Dikka adalah sebuah panggung tinggi yang berada di antara tiang dekat mihrab yang digunakan untuk meneruskan bacaan imam kepada para jamaah. Panggung tinggi ini memiliki susunan tangga yang terbuat dari kayu. Empat tiang terbuat dari marmer dengan gaya muqarnas. Muqarnas yaitu hiasan geometris menyerupai stalaktit (Sumalyo, 2000: 73). Pada saat sholat Jum‟at dikka akan digunakan oleh seorang muballigh untuk mengulangi lafal imam agar dapat didengarkan oleh para jamaah. Hal ini sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad, yakni seseorang yang telah ditugaskan pada saat sholat berada di tempat yang lebih tinggi dan mengikuti lafal imam supaya para jamaah dapat mengikuti gerakan imam dengan baik pada saat sholat. Hal tersebut menjadi sebuah tradisi pada
bangunan masjid sehingga menjadi sebuah elemen yang penting pada arsitektur masjid (Swelim, 2015: 118).
Di atas bangunan dikka, qadi (petugas) mengulangi ucapan imam dan ditransmisikan kepada para jamaah. Dikka dilengkapi dengan kursi yang digunakan untuk meletakkan al-Qur‟an yang akan dibaca oleh qadi.
Gambar 11. Detail dikka pada masjid Ibnu Thulun (Swelim, 2015:
82).
j. Jendela dan Jalan yang Terdapat di Dalam Masjid
Salah satu bagian pada dinding masjid Ibnu Thulun adalah bentuk lengkungan jendela masjid. Jendela yang terdapat pada masjid tersebut memiliki plesteran semen bentuk bunga yang berbeda-beda. Jendela yang berjajar di masjid tersebut mejadikan cahaya matahari dapat memasuki masjid dengan baik. Pada pagi hari, sinar matahari akan mengarah ke
riwaq bagian kiblat dan pada saat sinar matahari bergeser, akan mengarah menuju tiang-tiang, lengkungan dan lantai riwaq. Hal tersebut terlihat seperti ada irama gerakan cahaya pada bangunan masjid sehingga menambah kesan keindahan pada arsitektur masjid (Swelim, 2015: 120).
k. Maqsura
Maqsura adalah ruang tertutup yang digunakan oleh penguasa atau pemimpin dan pasukan untuk berkumpul. Pembangunan maqsura oleh para penguasa ditujukan untuk pengamanan agar penguasa atau pejabat dinasti terhindar dari ancaman bahaya sewaktu berada di dalam masjid (Rochym, 1983: 64). Maqsura masjid Ibnu Thulun terletak di belakang mihrab dan terbuat dari kayu. Ahmad Ibnu Thulun menggunakan ruangan tersebut saat datang dari dar al-imara (istana kediaman Ibnu Thulun) untuk mengganti pakaian, menyiapkan wudhu dan memakai wangi-wangian sebelum memasuki masjid (Swelim 2015: 127).
Ruangan maqsura digunakan Ahmad Ibnu Thulun untuk singgah sebelum persiapan sholat melewati pintu sebelah kiri mihrab dan mimbar.
Pada sisi kanan mihrab dan mimbar terdapat pintu lain yang digunakan oleh khatib untuk masuk ke masjid dan langsung menuju ke mimbar untuk menyampaikan khutbahnya. Pintu ini terletak di bawah jendela kesepuluh pada dinding kiblat yakni tempat dimulainya penulisan prasasti arab kufi.
Di belakang pintu ini terdapat kantor para khatib yang digunakan untuk menyimpan buku-buku dan mempersiapkan khutbah yang akan disampaikan di depan para jamaah (Swelim, 2015: 127).
Karakteristik bangunan yang terdapat pada masjid Ibnu Thulun menjadi bukti bahwasanya pada masa dinasti Thulun, Mesir mengalami kemajuan peradaban. Salah satu bentuk kemajuan peradabannya adalah melalui bidang pembangunan. Dinasti Thulun telah mengubah keadaan Mesir yang telah lama vakum sejak zaman Fir‟aun. Kemajuan tersebut juga membuktikan bahwasanya Mesir telah maju dalam hal kebudayaan.
Hal tersebut terlihat dari adanya proses difusi kebudayaan Samarra di Mesir.
Penerapan seni arsitektur yang dilakukan oleh Ahmad Ibnu Thulun dalam pembangunan masjid Ibnu Thulun memiliki tiga aspek yakni secara ideologis, teknik dan sosial. Secara ideologis, Ahmad Ibnu Thulun telah menyumbangkan pemikiran berupa akulturasi budaya Samarra dengan Mesir. Secara teknis, pembangunan masjid Ibnu Thulun telah menggunakan beberapa inovasi yang menjadi ciri khas pada bangunan masjid. Hal tersebut terlihat pada penggunaan bahan material berupa batu bata dan lengkungan lancip pada masjid. Sedangkan secara sosial, pembangunan masjid Ibnu Thulun oleh Ahmad Ibnu Thulun banyak mengikuti kehendak masyarakat. Terbukti pada penambahan ziyada karena usulan masyarakat untuk menambah luas masjid, penambahan tempat wudhu, dan penambahan klinik ataupun tempat penyimpanan obat yang berada di dalam ziyada.
Tambahan-tambahan bangunan tersebut dilakukan oleh Ahmad Ibnu Thulun untuk kepentingan higinitas masyarakat di Mesir. Seperti tempat wudhu maupun klinik, selain itu juga fawwara di tengah shahn
yang digunakan untuk berkumpulnya anak-anak pada saat orang tua mereka melaksanakn sholat Jum‟at. Pada bangunan shahn juga terkadang digunakan oleh masyarakat untuk belajar bersama para ulama di Mesir.
Biasanya kegiatan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat akan dilakukan pada hari Jum‟at di masjid ini. Seperti kegiatan pemeriksaan kesehatan, belajar bersama dengan seorang guru, dan pagelaran pasar yang dilakukan di sekeliling masjid setelah menunaikan sholat Jum‟at.