• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL

E. Karakteristik Berdasarkan Kejadian Anemia

Anemia selama kehamilan dibedakan menjadi anemia ringan, sedang, dan berat. Anemia ringan menunjukkan Hb 10-12 g / dL, anemia sedang menunjukkan Hb 8-10 g / dL), dan anemia berat menunjukkan anemia berat (Hb <8 g / dL). Tabel 5.5 menyajikan distribusi frekuensi karakteristik ibu bersalin dengan kejadian retensio plasenta di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Makassar tahun 2017-2020 berdasarkan kejadian anemia.

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Retensio Plasenta Berdasarkan Kejadian Anemia

No Kejadian Anemia frekuensi Presentase (%)

1 Normal 14 36,8

2 Anemia ringan 3 7,9

3 Anemia sedang 15 39,4

4 Anemia berat 6 15,8

jumlah 38 100%

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami anemia sedang sebanyak 15 orang (39,4%). Sedangkan sebagian kecil atau 3 orang (7,9%) responden mengalami anemia ringan.

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Karakteristik berdasarkan umur

Sebagian besar wanita doktoral dengan retensi plasenta. Wahidin Sudirohusodo di Kota Makassar yang berusia di atas 35 tahun mencapai 39,4%

pada 2017-2020. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang dilakukan oleh Owolabi et al., Yang menyatakan bahwa orang yang berusia di atas 35 tahun berisiko 7,10 kali mengalami retensi plasenta. Sebuah studi serupa yang dilakukan oleh Khotijah menemukan bahwa orang berusia 35 tahun terlibat dan risiko tertahannya plasenta menjadi dua kali lipat

Usia 35 tahun ke atas merupakan faktor risiko bagi ibu yang dapat meningkatkan risiko kematian perinatal dan ibu. Hal ini sesuai dengan teori bahwa ibu yang berusia di bawah 19 tahun ke atas 35 tahun memiliki faktor risiko yang lebih tinggi. Usia merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu. Hal ini karena usia wanita hamil dikaitkan dengan kualitas plasenta yang tertinggal atau perbedaan angiogenesis yang meningkatkan risiko retensi plasenta. 4,1 kali.

Penelitian Yaumil Indah mengemukakan bahwa faktor usia pada ibu yang berisiko tinggi, lansia dapat menyebabkan regulasi kontraksi otot rahim dan mengganggu proses pelepasan plasenta dari dinding rahim. Selain itu, seiring

bertambahnya usia ibu, terjadi pembusukan progresif pada endometrium sehingga membutuhkan plasenta yang lebih lebar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi foetasi, plasenta melebar implantasi, dan vili korionik menjadi rahim serta menembus dinding lebih dalam sehingga terjadi plasenta perekat untuk pelatihan.

B. Karakteristik Berdasaran Paritas

Wanita doktoral terutama dengan retensi plasenta. Paritas> 1 (multipara) di kota Wahidin Sudirohusodo di Makassar tahun 2017-2020, atau 60,5%. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RSUD Yogyakarta dari tahun 2013 hingga 2017 hingga ibu dengan retensi plasenta melahirkan lebih dari satu.

Studi tersebut juga menyatakan bahwa paritas ditempatkan pada kejadian retensi plasenta, dan ibu dengan paritas 2 atau lebih tinggi adalah 78,4% lebih mungkin mengalami retensi plasenta.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Tarigan tahun 2019 bahwa RSUDHAMS Kisaran memiliki hubungan positif antara persalinan dengan kejadian retensi plasenta, dengan angka kelahiran yang lebih tinggi pada ibu yang melahirkan. Hubungan antara usia plasenta, persalinan, dan retensi di Jawa Barat ditemukan bahwa usia ibu di atas 35 tahun berhubungan dengan kejadian retensi plasenta.

Kerusakan dan defek endometrium menyebabkan paritas tinggi, dan pekerjaan sebelumnya menyebabkan fibrosis pada tanda implantasi plasenta dan mengurangi distribusi vaskular. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi janin,

implantasi plasenta meluas, vili semakin menembus dinding rahim, memungkinkan plasenta akreta berkembang ke percletter. Setiap kali rahim hamil, otot-otot rahim tumbuh selama 9 bulan kehamilan. Ketegangan ini mengakibatkan penurunan elastisitas otot dan tidak dapat kembali ke keadaan sebelum hamil. Semakin banyak wanita hamil melahirkan, semakin kurang elastisnya rahim dan semakin besar pula rahim yang tidak dapat berkontraksi sepenuhnya26.

Rahim, yang melahirkan banyak anak, cenderung bekerja tidak efisien sepanjang waktu persalinan. Paritas yang tinggi merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi foetasi, implantasi plasenta melebar dan vili menembus dinding rahim. Kejadian plasenta akreta juga berhubungan dengan Grande Multi dengan plasenta akreta, plasenta akreta, plasenta akreta dan plasenta akreta berupa plasenta akreta, segera bila terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang. Diperlukan pengobatan plasenta manual.

Upaya pencegahan stagnasi plasenta pada ibu hamil dengan paritas tinggi dapat memberikan perawatan nutrisi yang seimbang dan berkalori tinggi untuk mencegah komplikasi kehamilan terutama CED dan anemia. Selain itu, ibu hamil ANC juga perlu mendapatkan penyuluhan secara rutin jika mengalami anemia atau KEK minimal empat kali. dua puluh tiga.

C. Karakteristik Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Dalam variabel ini, peneliti menemukan bahwa sebagian besar wanita yang melahirkan dengan kejadian retensi plasenta memiliki pendidikan akhir di bawah SMA. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang menemukan hubungan yang signifikan antara pendidikan dan kejadian retensi plasenta. Studi tersebut menemukan bahwa responden yang berpendidikan rendah berisiko 6,5 kali lebih besar mengalami retensi plasenta dibandingkan responden yang berpendidikan tinggi. Hasil yang sama didapatkan oleh Dr. Lubis. Pirngadi Medan dengan p-value 0,001. Dalam studinya, ibu yang berpendidikan rendah berisiko enam kali lebih besar dibandingkan ibu yang berpendidikan lebih tinggi.

Secara teoritis, tingkat pendidikan seseorang menentukan tingkat pengetahuan yang dimilikinya. Ibu yang berpendidikan lebih tinggi lebih aktif dalam menentukan sikap dan lebih mandiri dalam menjaga perilaku. Pendidikan ibu yang buruk berdampak pada kurangnya pengetahuan mereka tentang menerima layanan medis. Semakin sedikit pengetahuan yang dimiliki seorang ibu, semakin sedikit keinginannya untuk menggunakan layanan medis. dua puluh lima.

D. Karakteristik Berdasarkan Jarak Antar Kelahiran

Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar responden berukuran kecil, dengan 16 (42,1%) jarak lahir antara usia 2 dan 5 dan 8 (21,05) jarak lahir di bawah usia 2 tahun. Proporsinya adalah 2 (5,26%), dengan jarak kelahiran

melebihi 5 tahun. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang ada. Secara teoritis, jarak kehamilan yang pendek atau selang waktu kurang dari 2 tahun merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan plasenta akreta.

Ini karena kontraksi melemah sehingga plasenta tetap berada di rongga rahim.

Risiko plasenta akreta juga terjadi pada persalinan yang berjarak lebih dari 10 tahun. Dalam kondisi ini, otot polos rahim menjadi kaku, kontraksi rahim memburuk seperti saat menghadapi nyeri persalinan awal lainnya, dan plasenta yang tertahan lebih mungkin terjadi.25

Penelitian Ummiati et al (2013) tentang karakteristik perkembangan retensi plasenta pada ibu yang melahirkan di RSUD Syekh Yusuf Kab. Sebanyak 97 orang sejak Januari 2010 hingga November 2012. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin dekat anak lahir maka semakin tinggi risiko tertahannya plasenta pada ibu (63,9%).

Pada jarak kelahiran ibu hingga anak bungsu di bawah usia dua tahun, kesehatan fisik dan kandungan ibu masih membutuhkan istirahat yang cukup.

Karena ibu masih lemah, perdarahan seperti retensi plasenta dan komplikasi persalinan bisa terjadi. Sedangkan dalam jarak lebih dari 10 tahun, sang ibu seolah-olah menghadapi kehamilan atau persalinan pertama lagi. Seorang ibu yang melahirkan terlalu pendek tidak baik untuk dirinya dan bayinya. Hal ini dikarenakan bentuk dan fungsi alat kelamin yang belum kembali normal sehingga mengakibatkan gangguan fungsi saat hamil dan melahirkan.

Semakin dekat ibu hamil, semakin mempengaruhi kejadian retensi

plasenta. Interval kehamilan yang pendek secara langsung mempengaruhi kesehatan janin yang dibawanya. Jika kehamilan terlalu dekat, ibu cenderung mengalami kerusakan fisiologis dan patologis pada sistem reproduksi. 26

Dalam penelitian yang dilakukan di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri, ibu dengan jarak lahir kurang dari 2 tahun dan lebih dari 10 tahun berpengaruh terhadap kejadian retensi plasenta. Ini dari proporsi perempuan yang mengalami retensi plasenta dibandingkan perempuan yang melahirkan kurang dari 2 tahun 10 tahun atau lebih dan tidak mengalami retensi plasenta, yaitu dari 25 dari 63 perempuan dan 39 dari 168 perempuan yang melahirkan. Anda bisa lihat. Seorang ibu yang melahirkan.

E. Karakteristik Berdasarkan Kejadian Anemia

Anemia selama kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar Hb <11 g / dL atau Ht <0,33 pada trimester I dan III, namun pada trimester kedua menurun sebesar 0,5 g / dL untuk mengatur peningkatan volume plasma. Nilai yang digunakan adalah 10.5g / dL. Anemia selama kehamilan dibedakan menjadi anemia ringan, sedang, dan berat. Anemia ringan menunjukkan Hb 10-12g / dL, anemia sedang menunjukkan Hb 8-10g / dL), dan anemia berat menunjukkan anemia berat (Hb <8g / dL). dua puluh dua. Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar wanita yang melahirkan dengan kejadian retensi plasenta mengalami anemia sedang, atau 39,4%. Penelitian ini mendukung penelitian Oktasia RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang (OR: 6.889 CI: 95% 5.000

-8.750) menunjukkan hubungan antara anemia dan retensi plasenta. Temuan Ramadhani dan Sukarya di RS Aluizan Bandon dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2010 menunjukkan bahwa ada hubungan antara kadar hemoglobin (anemia) dengan kejadian retensi plasenta pada ibu bekerja. Hasil analisis ini ditunjukkan (hal. = 0,001, OR = 2,100), yang dilakukan oleh Ruthsuyata Siagian dkk pada tahun 2017 di RS Hajima Cassal dimana anemia pada masa kehamilan terutama anemia berat sangat penting bagi kehidupan ibu dan janin serta mendukung penelitian yang menyatakan bahwa hal tersebut berbahaya. Jika seorang wanita hamil kekurangan zat besi, hal itu juga mengurangi oksigen dalam darah, terutama di dalam rahim, yang dapat mempengaruhi kemampuan rahim untuk berkontraksi setelah melahirkan dan meningkatkan pendarahan pascapartum.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Fraser & Coper Risanto.

Artinya, anemia pada ibu hamil dan melahirkan dapat menyebabkan anemia di sekitar pembuluh darah yang mensuplai darah ke miometrium, terutama tempat plasenta menempel. Karena miometrium tidak dapat berkontraksi, miometrium menjadi lebih lemah dan berisiko tinggi. Retensi plasenta. Ibu dengan anemia dapat menyebabkan gangguan uretra setelah stagnasi plasenta dan perdarahan pascapartum. Ibu yang memasuki persalinan dengan kadar hemoglobin rendah (kurang dari 10 gr%) dapat turun lebih cepat dengan perdarahan apapun. Anemia dikaitkan dengan kelemahan, yang merupakan penyebab langsung retensi plasenta. dua puluh satu

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi terjadinya retensi plasenta adalah dengan memberikan tablet zat besi ibu hamil selama ANC dengan mengkonsumsinya secara teratur dan memberikan penyuluhan tentang penanganan anemia. Selain itu, ibu hamil dengan anemia memberikan penyuluhan tentang pentingnya gizi seimbang pada ibu hamil, mencegah berkembangnya anemia pada ibu hamil, dan mencegah pengobatan lebih lanjut untuk mencegah tertahannya plasenta selama kehamilan, petugas rumah sakit dicegah saat merujuk ke Puskesmas. dua puluh tiga

BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai karakteristik pasien retensio plasenta di RSUP Dr.Wahidin sudirohusodo Makassar tahun 2017-2020 dapat disimpulkan sebagai berikut :

Sebagian besar ibu bersalin yang mengalami retensio plasenta di RSUP DR.Wahidin sudirohusodo Kota Makassar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, multipara, pendidikan terakhir, jarak antar kelahiran, dan kejadian anemia.

B. Saran

a. Bagi masyarakat

Masyarakat terutama keluarga untuk memberikan arahan pola pencegahan retensio plasenta agar mencegah untuk terjadinya kejadian retensio plasenta.

b. Bagi tenaga kesehatan

Meningkatkan promosi kesehatan secara berkala mengenai kehamilan dan persalinan.

c. Bagi peneliti selanjutnya

Disarankan untuk peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian untuk menilai hubungan antara karakteristik yang ada dengan kejadian retensio plasenta.

DAFTAR PUSTAKA

1. hardiana. (2019). hubungan umur ibu dengan kejadian retensio plasenta di rsud raden mattaher jambi tahun 2019.170.

2. Anggrita Sari, F. W. (2019). hubungan umur, paritas dan manajemen aktif kala iii dengan kejadian retensio plasenta. 11,12,15,17.

3. Nirmala, L. C. (n.d.). penerapan pendidikan seks anak usia dini menurut prespektif islam. 28.

4. Darmayanti. (2014). faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian retensio plasenta di rsud dr.h.moch.ansari saleh. 79.

5. Khotijah, T. A. (2014). hubungan usia dan paritas dengan kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin. 4.

6. Nikolajsen S, Løkkegaard ECL, Bergholt T. Reoccurrence of retained placenta at vaginal delivery: An observational study. Acta Obstet GynecolScand 2013; 92:4 1–42. (skripsi)

7. Kejadian Retensio Plasenta Berdasarkan Umur Dan Paritas Di Rsud Dr. H.

Moch Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2016 (kejadian)

8. Varney, Helen, Jan M.Kriebs. Carolyn L.Gegor. 2015. Varney’s Midwifery:

EGC (SKRIPSI)10

9. Saifuddin Abdul Bari, Trijatmo Rachimhadhi, Gulardi H.

Wiknjosastro.2016.Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo.Jakarta:PT Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Hal 526-527

10. Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBGF. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB: EGC.

11. Kristen E Gray, Erin R Wallace, Kailey R Nelson, Susan D Reed, Melissa A Schiff. Population-based Study of Risk Factors for Severe Maternal Morbidity.

Paediatr Perinat Epidemiol. 2012 November;26(6):506-514

12. . A T Owolabi, Dare FO, Fasubaa O B, Ogunlola I O, Kuti O, Bisiriyu L A.

2008. Risk Factors for Retained Placenta in Southwestern Nigeria.Nigeria.

Singapore Med J 2008; 49(7):532.

13. Kusumastuti, S. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Retensio Plasenta Di Rsud Kota Yogyakarta Tahun 2013-2017 . Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta.

14. Fiona Urner, Roland Zimmermann, Alexander Krafft. Manual Removal of the Placental after Vaginal Delivery: An Unsolved Problem in Obstetrics. Journal of Pregnancy. Volume 2014, Article ID 274651, 5 pages

15. Khotijah, Tri Anasari, Amik Khosidah. 2014. Hubungan Usia dan Paritas dengan Kejadian Retensio Plasenta. Purwokerto. Jurnal Ilmiah Kebidanan, Vol 5 No. 1 Edisi Juni 2014, hlm. 27-32

16. Yulianus Sudarman, Olkaimen J.Longulo. Factors Related to the Retensio Placenta in Emergency Installation at Hospital Regional Midwifery Madanai

Palu. Journal of Health,Medicine and Nursing. Vol 41,2017

17. Naushaba Rizwan, Razia Mustafa Abbasi, Nasreen Jatoi. Retained Placenta still a continuing cause of maternal morbidity and mortality. J Pak Med Assoc, Vol 59, No.12, Desember 2009

18. Hirokazu Naoi, Keiichi Kumasawa, Hitomi Nakamura, Aiko Nishikawa, Tadashi Kimura, Kazuhide Oggita. Investigation of the Prognosis of 28 Patients with Retained Placenta After Delivery.Journal of Gynecology and Obstetrics 2016;4(2):7-11

19. tafsirweb.com/3971-quran-surat-ar-rad-ayat-11.html

20. berampu, l. (2018). faktor yang berhubungan dengan retensio plasenta pada ibu bersalin di rsud sidikalang kabupaten dairi tahun 2018 . 14.

21. Umur H. Jurnal Obstretika Scientia. 5(2):98–113.

22. Siagian R, Sari RDP, N PR. Hubungan Tingkat Paritas dan Tingkat Anemia terhadap Kejadian Perdarahan Postpartum pada Ibu Bersalin. J Major [Internet].2017;6(3):45–50.Availablefrom:

http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/1107/954 23. Di B, Bob RH, Kalianda SKM. 168-510-1-Sm. 2015;VIII(1).

24. Vitriani O, Lailiyana, Aulya Nadya Citra Sartono Putri. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Retensio Plasenta Di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2017. J Ibu dan Anak. 2019;7(1):10–6.

25. Permatasari, Handayani R. Faktor - Faktor yang Berhubungan dengan Kejadiann Perlengketan Plasenta (Retensio Placenta) di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih:Sebuah Studi Kasus Kontrol. ARKESMAS, Vol 2, Nomor 1, Januari-Juni 2017 [Internet]. 2017;2(1):102–8. Available from:

https://journal.uhamka.ac.id/index.php/arkesmas/article/view/512

26. Yang AF, Dengan B. Analysis Factors Correlated With the Incidence of Retained Placenta. 2020;9:97–107.

27. Pesantren P, Sampurnan Q, Gresik B, Huda Q, Ma D, East K, et al. No Title No Title. NASPA J [Internet]. 2017;42(1):1. Available from:

http://ijims.iainsalatiga.ac.id/index.php/ijims/article/view/259/212%0Ahttps://ejo urnal.inzah.ac.id/index.php/attalim/article/view/108

Lampiran

Lampiran 1 (data responden)

No Nama Umur Paritas Ratio Plasenta pendidikan terakhir HB Jarak Persalinan

1 M 20 1 0 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 kelahiran pertama 1

2 S 38 4 7 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 2 anemia berat 4 <2tahun 2

3 A 41 4 4 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 2 anemia ringan 2 2-5tahun 3

4 R 28 2 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 2 normal 1 2-5tahun 3

5 E 34 3 4 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 2 normal 1 <2tahun 2

6 S 42 4 2 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 >5tahun 4

7 DY 25 2 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 6 anemia sedang 3 kelahiran pertama 1

8 RH 40 4 5 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 5 anemia sedang 3 2-5tahun 3

9 F 21 2 0 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 1 anemia berat 4 kelahiran pertama 1

10 NH 23 2 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 kelahiran pertama 1

11 M 34 3 2 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 2-5tahun 3

12 J 43 4 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 2-5tahun 3

13 K 39 4 5 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 3 anemia sedang 3 2-5tahun 3

14 A 30 3 0 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 7 normal 1 kelahiran pertama 1

15 J 31 3 2 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 2-5tahun 3

16 H 35 4 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 2-5tahun 3

17 AS 43 4 6 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 3 anemia berat 4 2-5tahun 3

18 S 26 2 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 5 anemia berat 4 <2tahun 2

19 R 22 2 2 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 2 anemia berat 4 <2tahun 2

20 M 37 4 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 2-5tahun 3

21 RH 40 4 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 6 anemia sedang 3 2-5tahun 3

22 N 34 3 5 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 3 normal 1 2-5tahun 3

23 H 42 4 9 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 2 anemia sedang 3 2-5tahun 3

24 NI 18 1 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 kelahiran pertama 1

25 M 39 4 2 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 2-5tahun 3

26 AH 21 2 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 kelahiran pertama 1

27 AR 26 2 0 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 kelahiran pertama 1

28 S 17 1 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 kelahiran pertama 1

29 IE 23 2 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 6 anemia berat 4 2-5 tahun 3

30 IY 22 2 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia ringan 2 kelahiran pertama 1

31 YR 34 3 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 6 normal 1 5 tahun 4

32 K 27 2 0 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 5 normal 1 kelahiran pertama 1

33 S 36 3 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 <2tahun 2

34 I 41 4 9 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 3 anemia sedang 3 <2tahun 2

35 H 21 2 0 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 anemia sedang 3 kelahiran pertama 1

36 S 35 4 2 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 2-5tahun 3

37 M 31 3 1 1 Terjadi Ratio Plasenta 1 4 normal 1 <2tahun 2

38 HE 36 4 3 2 Terjadi Ratio Plasenta 1 5 anemia ringan 2 <2tahun 2

Lampiran 2 (hasil)

Pendidikan terakhir n persentase

Tidak sekolah 1 2,6

Kejadian anemia n persentase

normal 14 36,8

kelahiran n persentase

lahir pertama 12 31,6

kurang 2 tahun 8 21,05

2-5 tahun 16 42,1

lebih 5 tahun 2 5,26

total 38 100

Lampiran 3 (dokumentasi pengambilan sampel)