• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik dan kondisi mangrove

Hutan mangrove di Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten tumbuh secara semi buatan yang menempati areal seluas 40 ha. Jenis mangrove yang ditemukan pada daerah penelitian yaitu Avicennia marina

dan Rhizophora sp. Daerah pantai didominasi oleh Avicennia marina sedangkan

di daerah darat atau dekat tambak banyak dijumpai Rhizophora sp. Secara keseluruhan, jenis yang paling dominan di daerah penelitian adalah Avicennia

marina. Sebelum dibuat daerah tambak, pohon mangrove di lokasi tersebar rata

dan luas hutan mangrove sekarang menjadi menipis dan tidak tersebar rata. Pohon mangrove berumur sekitar 5-15 tahun (komunikasi pribadi dengan petambak) dengan keliling batang sekitar 78 cm. Hutan mangrove di lokasi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk mencegah abrasi supaya tambak-tambak tidak hancur atau terlindungi. Selain itu, kayu mangrove dimanfaatkan untuk kayu bakar dan membangun rumah.

Lokasi penelitian terdiri dari 3 stasiun dengan karakteristik yang berbeda. Karakteristik stasiun I adalah daerah sedimentasi yang dekat dengan aliran air (sungai buatan) yang berfungsi untuk memberikan asupan air laut bagi tambak- tambak yang ada disekitarnya. Karakteristik pada stasiun II adalah daerah sedimentasi dan dipenuhi banyak sampah yang terbawa oleh arus pasang surut. Stasiun III memiliki ciri yaitu sebagai daerah abrasi yang dekat dengan muara sungai dan dipenuhi banyak sampah.

Kerapatan pohon mangrove di Desa Lontar Kecamatan Kemiri Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten disajikan pada Gambar 9 dan data mentah dapat dilihat pada Lampiran 3.

16 19 21 0 5 10 15 20 25

Stasiun I Stasiun II Stasiun III

K e r a pa ta n po ho n pe r m 2

Gambar 9. Tingkat kerapatan pohon mangrove pada masing-masing stasiun pengamatan

Kerapatan pohon mangrove di Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten memperlihatkan hasil yang berbeda. Stasiun yang mempunyai kerapatan tertinggi adalah stasiun III dengan nilai kerapatan 21 pohon per 100 m2 sedangkan kerapatan terendah dijumpai di stasiun I dengan kerapatan 16 pohon per 100 m2. Hal ini diakibatkan karena penyebaran dari biji tidak merata dan letak penanaman mangrove tidak teratur.

4.2 Karakteristik fisika- kimia perairan dan sedimen

Parameter fisika-kimia perairan yang diukur adalah pH, temperatur, salinitas dan bahan anorganik (nitrat dan ortofosfat). Hasil pengukuran parameter fisika- kimia disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil pengukuran parameter fisika-kimia perairan Bahan Anorganik (ppm) Stasiun pH Temperatur (°C) Salinitas (°/oo) Nitrat Ortofosfat I 8 33 30 0,085 Tak terdeteksi II 8 33 30 0,193 0,071 III 9 33 25 0,502 0,021

Derajat keasaman (pH) adalah jumlah ion hidrogen yang terdapat pada larutan. Nilai pH di daerah penelitian berkisar antara 8-9, nilai tersebut menunjukkan nilai basa yang normal untuk permukaan perairan Indonesia yang pada umumnya berkisar antara 6,0-8,5 (Aksornkoae, 1993). Nilai pH tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 9 sedangkan nilai pH terendah terdapat pada stasiun I dan II yaitu 8. Nilai pH yang tinggi di stasiun III menyebabkan mikroorganisme yang ada pada stasiun III berkembang secara optimal dan sangat produktif. Stasiun III merupakan daerah yang masih terpengaruh oleh daratan.

Temperatur perairan yang tergolong tinggi sebesar 33 °C ditemukan hampir di setiap stasiun. Hal ini disebabkan oleh pengukuran temperatur yang dilakukan pada siang hari. Penyebab lainnya adalah wilayah pengambilan data merupakan daerah yang terbuka, sehingga intensitas cahaya yang diterima tinggi.

Menurut Soenardjo (1999) temperatur optimum untuk bakteri berkisar 27 °C- 36 °C. Kisaran temperatur tersebut sangat baik untuk proses penguraian dengan asumsi daun mangrove sebagai dasar metabolisme. Berdasarkan hasil penelitian, temperatur yang diperoleh masih berada dalam kisaran yang baik untuk proses dekomposisi.

Salinitas merupakan faktor lingkungan yang sangat menentukan

zonasi spesies mangrove (Aksornkoae, 1993). Hasil nilai kisaran salinitas antar stasiun adalah 25-30 °/oo. Salinitas terbesar terdapat pada stasiun I dan stasiun II

sedangkan salinitas terkecil terdapat pada stasiun III. Nilai salinitas yang bervariasi di duga karena daerah pada stasiun I dan II jauh dari muara sungai sedangkan daerah pada stasiun III berdekatan dengan muara sungai Cimanceri dan masukkan air tawarnya masih tinggi.

Nutrien utama yang dibutuhkan oleh tumbuhan mangrove yang

mempengaruhi produksi dan laju dekomposisi serasah adalah nitrat dan fosfat dalam bentuk ortofosfat.

Menurut Effendi (2003) nitrat adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Nilai nitrat di perairan berkisar antara 0,085-0,502 ppm. Kandungan nitrat tertinggi terdapat pada stasiun III sebesar 0,502 ppm, dan terendah terdapat pada stasiun I sebesar 0,085 ppm. Kandungan nitrat yang tinggi pada stasiun III disebabkan adanya pengaruh daratan yang tinggi berupa suplai dari kegiatan rumah tangga, resapan air tanah dan masukan air dari muara sungai. Menurut klasifikasi tingkat

kesuburan perairan, kandungan nitrat di daerah penelitian termasuk dalam kriteria subur (Vollenweider, 1968 in Effendi, 2003) disajikan pada Tabel 1.

Hasil kisaran kandungan ortofosfat yang didapat adalah tak terdeteksi sampai 0,071 ppm, kandungan ortofosfat yang tertinggi terdapat pada stasiun II dengan nilai 0,071 ppm sedangkan kandungan terendah terdapat pada stasiun I yaitu nilainya tak terdefinisi. Hal ini disebabkan nilai ortofosfat tak terdeteksi oleh alat yang digunakan (spektrofotometer). Kandungan ortofosfat tinggi seperti halnya nitrat disebabkan pengaruh daratan yang tinggi berupa masukan air dari muara

sungai dan suplai dari kegiatan rumah tangga. Menurut klasifikasi tingkat kesuburan perairan kandungan ortofosfat di stasiun penelitian termasuk dalam kriteria subur(Vollenweider, 1968 in Effendi, 2003) disajikan pada Tabel 2.

Parameter fisik sedimen yang diambil adalah tekstur substrat sedangkan parameter kimia sedimen yang diambil adalah nitrogen total dan ortofosfat. Hasilnya di sajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Ukuran fraksi dan bahan anorganik tanah

Tekstur substrat (%) Stasiun

Pasir Debu Liat

Nitrogen total (ppm) Ortofosfat (ppm) I 12 51 37 90 3,4 II 0 58 42 110 9,2 III 1 51 48 170 8,7

Klasifikasi tekstur substrat menggunakan diagram segitiga tekstur tanah dan sebaran butir (Gambar 2), klasifikasi tekstur substrat pada stasiun I yaitu lempung liat berdebu sedangkan stasiun II dan III adalah liat berdebu. Persentase pasir, debu, dan liat masing-masing berkisar 0-12 %, 51-58 %, dan 37-48 %.

Pembentukan tekstur substrat mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor fisik yaitu gerakan arus pasang (Soenardjo, 1999). Di lokasi penelitian didominasi oleh fraksi halus dan berwarna hitam dan kandungan unsur haranya tinggi.

Tabel 5 menunjukan kandungan nitrogen total dan ortofosfat pada tanah. Kandungan nitrogen total untuk setiap stasiunnya mempunyai nilai kisaran 90-170 ppm. Nitrogen total tanah yang tertinggi berada pada stasiun III yaitu 170 ppm dan nilai terendah didapat pada stasiun I yaitu 90 ppm. Kisaran kandungan

ortofosfat tanah antara 3,4-9,2 ppm. Ortofosfat tanah yang tertinggi pada stasiun II dan kandungan ortofosfat tanah terendah terdapat di stasiun I. Kandungan ortofosfat tanah sangat rendah karena ortofosfat di tanah bersifat tidak statis sehingga konsentrasinya akan mudah menurun.

4.3 Produksi serasah

Produksi serasah adalah guguran struktur vegetatif dan reproduktif yang disebabkan oleh faktor ketuaan, stress oleh faktor mekanik (misalnya angin), ataupun kombinasi dari keduanya, kematian, serta kerusakan dari keseluruhan tumbuhan oleh iklim (hujan dan angin) (Brown, 1984 in Soenardjo, 1999). Produksi serasah selama 6 minggu disajikan pada Tabel 6 dan data mentahnya dapat dilihat pada Lampiran 1.

Tabel 6. Hasil produksi serasah (daun, ranting, dan buah/bunga) mangrove

Avicennia marina (g/m2/minggu) di Desa Lontar, Kecamatan Kemiri,

Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten

Minggu ke- Stasiun Komponen 1 2 3 4 5 6 Daun 29,601 31,567 18,282 23,257 55,171 22,867 Ranting 1,928 1,005 3,270 2,052 7,980 0,876 I Buah/Bunga 1,614 0,510 0,657 1,216 1,766 0,956 Total 33,142 33,083 22,209 26.524 64,917 24,699 Daun 30,869 48,643 25,871 24,528 31,002 23,572 Ranting 2,087 2,441 2,190 1,811 7,269 2,088 II Buah/Bunga 0,390 1,297 0,322 1,786 0,650 0,352 Total 33,346 52,381 28,383 28,125 38,921 26,011 Daun 33,340 37,989 21,952 24,103 49,236 23,262 Ranting 1,638 2,570 2,059 1,637 4,744 1,408 III Buah/Bunga 0,040 0,000 0,000 0,087 0,000 0,076 Total 35,018 40,559 24,011 25,826 53,980 24,746

Total produksi serasah mangrove di stasiun I memiliki nilai terbesar pada minggu ke-5 yaitu 64,917 gr/m2/minggu yang terdiri atas serasah daun sebesar

55,171 gr/m2/minggu, serasah ranting sebesar 7,980 gr/m2/minggu dan serasah buah/bunga sebesar 1,766 gr/m2/minggu. Produksi serasah pada minggu ke-5 tinggi, hal ini disebabkan oleh faktor cuaca. Saat pengambilan serasah minggu ke-5 yaitu pada tanggal 14 Mei 2007 terjadi hujan. Berdasarkan data dari BMG, pada tanggal tersebut nilai curah hujan sebesar 3 mm (Lampiran 5). Hal ini sejalan dengan pendapat Khairijon, 1991 in Wibisana, 2004 menyatakan bahwa produksi serasah tertinggi terjadi pada saat musim hujan/ pada saat curah hujan mencapai tinggi.

Pada stasiun II total produksi serasah mangrove memiliki nilai terbesar pada minggu ke-2 yaitu 52,381 gr/m2/minggu. Total hasil produksi serasah mangrove terdiri dari serasah daun sebesar 48,643 gr/m2/minggu, serasah ranting sebesar 2,441 gr/m2/minggu dan serasah buah/bunga sebesar 1,297 gr/m2/minggu.

Produksi serasah di minggu ke-2 tinggi disebabkan oleh faktor angin. Minggu ke- 2 adalah tanggal 17- 23 April 2007 dan berdasarkan data dari BMG (Lampiran 6), pada tanggal tersebut kecepatan angin lebih besar dibandingkan dengan kecepatan angin pada minggu lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Cuevas dan Sajise, 1978 in Wibisana, 2004 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kecepatan angin dengan produksi serasah. Bila kecepatan angin tinggi maka produksi yang dihasilkan tinggi pula.

Total produksi serasah mangrove di stasiun III nilai terbesar pada minggu ke-5 yaitu 53,980 gr/m2/minggu, terdiri atas serasah daun sebesar 49,236 gr/m2/minggu dan serasah ranting sebesar 4,744 gr/m2/minggu. Produksi serasah pada minggu ke-5 tinggi ini disebabkan oleh faktor cuaca, hal ini sama seperti pada stasiun I.

34.701 34.528 34.023 0.000 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000 I II III S tasiun P r o d u k si s era sa h ( g r a m/ m 2 /h a r i)

Gambar 10. Perbandingan produksi serasah antar stasiun

Produksi serasah terbanyak terdapat pada stasiun I dengan jumlah 34,701 g/m2/minggu sedangkan produksi serasah terendah terdapat pada stasiun III yaitu 34,023 g/m2/minggu. Perbedaan yang didapatkan untuk tiap stasiun diakibatkan adanya perbedaan kerapatan, umur dari tumbuhan, dan kesuburan yang dapat mempengaruhi secara tidak langsung. Menurut Soenardjo (1999) semakin tua tumbuhan maka produksi serasahnya semakin menurun, begitu pula sebaliknya. Selain faktor-faktor tersebut morfologi daun juga mempengaruhi produksi serasah.

Salinitas merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi serasah. Salinitas tertinggi didapat pada stasiun I dan II yaitu 30 °/oo. Kondisi tersebut

menunjukkan bahwa stasiun ini sering terkena genangan pasang air laut yang memberikan pengaruh sangat besar dengan produksi serasah (34,701 dan 34,528

g/m2/minggu). Salinitas terendah terdapat pada stasiun III sebesar 25°/oo.

Produksi serasah yang dihasilkan 34,023 g/m2/minggu.

Selain itu, temperatur udara juga mempengaruhi produksi serasah dimana pada suhu rendah produksi serasah meningkat. Pada setiap stasiun temperatur udara 30 °C, maka produksi serasah yang dihasilkan tinggi.

Gambar 11. Persentase serasah daun, ranting, dan bunga/buah

Setiap jenis mangrove mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menghasilkan jatuhan serasah. Dilihat pada Gambar 11, jatuhan serasah yang paling banyak adalah daun. Stasiun I mempunyai jumlah serasah daun sebanyak 86,97 %, stasiun II sebanyak 88,14 %, dan pada stasiun III jumlah serasah daun

sebanyak 92,56 %. Nilai persentase serasah daun pada tiap stasiun tidak jauh berbeda.

Serasah ranting dan buah/bunga mempunyai nilai persentase lebih kecil dari nilai persentase serasah daun. Persentase serasah ranting terbesar terdapat pada stasiun II dengan nilai 8,55 % dan nilai terendah pada stsiun III yaitu 6,85%. Untuk serasah dari bunga/ buah, jumlah terbesar terdapat pada stasiun I dengan nilai 4,78 % dan nilai terendah pada stasiun III sebesar 1,18 %.

Perbedaan yang sangat jauh antara serasah daun dengan serasah ranting maupun buah/bunga. Diduga erat karena kondisi lingkungan serta ciri biologis. Kondisi lingkungan antara lain temperatur udara dan musim. Ciri biologis diantaranya ukuran dan jumlah masing-masing komponen yang dihasilkan, sifat perbungaan dan sifat fisik dari setiap komponen. Jenis Avicennia marina

mempunyai ukuran daun yang kecil dan buah yang berbentuk bulat.

Produksi serasah daun sebagian kecil terbawa arus dan sebagian besar tetap di daratan atau di hutan. Serasah daun yang tertinggal di daratan menjadi makanan binatang dan sebagian besar akan mengalami penguraian sebagian atau

sepenuhnya yang dilakukan oleh jasad-jasad renik maupun bakteri. Semakin tinggi produksi serasah maka semakin tinggi pula produktivitas di hutan mangrove.

4.4 Laju dekomposisi

Dekomposisi dapat didefinisikan sebagai penghancuran bahan organik mati secara gradual yang dilakukan oleh agen biologi maupun fisika (Sunarto, 2003). Hasil penyusutan berat kering serasah daun mangrove yang terurai per 15 hari. Hasilnya disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Penyusutan bobot kering serasah daun Avicennia marina (gram) Hari ke- Stasiun Bobot awal (gram) / Persentase 15 30 45 I (100 %) 10 (57, 91 %) 5, 791 (41, 81 %) 4, 181 (28, 39 %) 2, 839 II (100 %) 10 (69,70 %) 6,970 (59, 88 %) 5, 988 - III (100 %) 10 (59, 94 %) 5, 994 (46, 51 %) 4, 651 - Keterangan: - : Data hilang

Perubahan bobot kering serasah daun Avicennia marina mengalami penurunan dengan lamanya penguraian per 15 hari. Penurunan bobot kering daun terbesar terlihat pada stasiun I yaitu pada daerah dekat dengan aliran air laut yang berfungsi untuk memberikan asupan air laut bagi tambak-tambak di sekitarnya. Nilai penyusutan adalah 4,181 gram dalam waktu 30 hari dengan bobot yang hilang/terdekomposisi adalah 58,19 %. Penyusutan bobot kering serasah daun terendah terdapat pada stasiun II sebesar 5,988 gram dalam waktu 30 hari dengan persentase bobot yang hilang adalah 40,12 %. Untuk hari ke 45 haya terdapat pada stasiun I dengan penyusutan bobot kering daun mencapai 2,839 gram dengan persentase bobot yang terurai adalah 71,61 %. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperatur dan salinitas.

2.81 2.02 2.67 1.94 1.34 1.78 1.59 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3

St asiun I St asiun II St asiun III

Pe r se n ta se Hari ke-15 Hari ke-30 Hari ke-45

Gambar 12. Persentase laju dekomposisi serasah daun mangrove

Pada Gambar 12 dapat dilihat persentase laju dekomposisi serasah daun mangrove dengan kisaran persentase untuk stasiun I adalah 1,59-2,81% per hari, kisaran pada stasiun II adalah 1,34-2,02 % per hari, dan kisaran pada stasiun III adalah 1,78-2,67 % per hari.

Proses laju dekomposisi melalui beberapa tahap diantaranya proses

pelindihan, penghawaan dan aktivitas biologi (Mason,1977 in Anas, 2004). Laju dekomposisi tertinggi terjadi pada tahap awal, hal ini diduga berhubungan erat dengan kehilangan bahan organik dan organik yang mudah larut (pelindihan) dan juga hadirnya mikroorganisme yang berperan dalam perombakan beberapa zat yang terkandung dalam serasah daun mangrove.

Penguraian erat kaitannya dengan kerapatan, stasiun III mempunyai kerapatan tertinggi diantara stasiun I dan stasiun II, yaitu 21 pohon per 100 m2. Kerapatan pohon terendah terdapat pada stasiun I yaitu 16 per 100 m2. Hal itu dapat mempengaruhi persentase laju dekomposisi. Kerapatan pohon pada stasiun III

relatif tinggi dan mengakibatkan cahaya yang masuk ke lantai hutan relatif rendah sehingga proses penguraian akan berlangsung lambat. Kerapatan pohon pada stasiun I relatif rendah mengakibatkan cahaya yang masuk ke lantai hutan relatif tinggi sehingga proses penguraiannya cepat.

Selain faktor kerapatan, faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi adalah faktor lingkungan perairan (temperatur, salinitas dan pH) dan faktor lingkungan substrat (fraksi substrat dan mikroorganisme substrat/dekomposer).

Di lokasi penelitian kisaran temperatur perairan berkisar 33 °C, hal ini menunjukan bahwa laju dekomposisi disetiap stasiun tinggi. Menurut Soenardjo (1999) batasan temperatur optimum untuk bakteri berkisar 27° -36 °C, yang sangat berpengaruh bagi penguraian serasah mangrove dengan asumsi daun mangrove sebagai dasar metabolisme. Faktor lain yang mempengaruhi laju dekomposisi adalah jenis serasah daun dan pengaruh arus pasang.

4.5 Kandungan unsur hara nitrogen total dan ortofosfat pada daun Kandungan nitrogen total dan ortofosfat merupakan unsur hara yang disumbangkan dari laju dekomposisi secara langsung maupun tidak langsung untuk pertumbuhan mangrove serta perkembangan mangrove.

Serasah daun Avicennia marina pada proses laju dekomposisi selama 45 hari mengandung unsur hara nitrogen total yang cukup tinggi dibandingkan ortofosfat. Nilai nitrogen total dan ortofosfat daun dapat dilihat pada Gambar 13 dan 14.

739.291 739.291 739.291 746.934 752.822 752.224 762.818 763.244 776.336 779.274 710 720 730 740 750 760 770 780 790

Stasiun I Stasiun II Stasiun III

N itr o g e n to ta l ( p p m ) Hari ke-0 Hari ke-15 Hari ke-30 Hari ke-45

Gambar 13. Kandungan nitrogen total pada daun

Gambar 13 menunjukkan kandungan nitrogen total pada daun mempunyai kisaran antara 739,291-779, 274 ppm. Terlihat dari setiap stasiun, nilai

kandungan nitrogen total dari hari ke-0 sampai hari ke-45 semakin meningkat. Hal itu diakibatkan oleh proses dekomposisi yang semakin cepat. Jadi dapat disimpulkan semakin lama proses laju dekomposisi maka nilai nitrogen total semakin tinggi. Nilai nitrogen total pada hari ke-0 mempunyai nilai yang sama untuk semua stasiun dengan nilai 739,291 ppm. Pada hari ke-15 nilai nitrogen total yang tertinggi terdapat pada stasiun II yaitu 752,822 ppm dan terendah terdapat di stasiun I yaitu 746,934 ppm. Pada hari ke-30 nilai nitrogen total yang tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 776,336 ppm dan nilai terendah pada stasiun I yaitu 762,818 ppm.

Menurut Hardjowigeno (2003) menyatakan faktor yang mempengaruhi penguraian (dekomposisi) bahan organik adalah temperatur, kelembaban, tata udara tanah, pengolahan, dan pH tanah. Faktor-faktor tersebut juga dapat mempengaruhi kandungan nitrogen total dalam laju dekomposisi.

Produksi serasah yang mengalami penguraian atau dekomposisi, kandungan nitrogen total yang dilepaskan sebagian akan diserap kembali oleh pohon mangrove dan sebagian lagi akan terbawa oleh air surut ke perairan sekitar serta sebagian lagi akan hilang dalam bentuk N2.

114.227 114.227 114.227 126.124 139.204 145.357 193.722 170.927 216.715 311.079 0 50 100 150 200 250 300 350

Stasiun I Stasiun II Stasiun III

Or to fo sf a t ( p p m ) Hari ke-0 Hari ke-15 Hari ke-30 Hari ke-45

Gambar 14. Kandungan ortofosfat pada daun

Gambar 14 menunjukkan kandungan ortofosfat daun mempunyai kisaran 114,227-311,079 ppm, nilai ortofosfat daun juga dilihat dari setiap stasiun

mempunyai kandungan yang meningkat setiap harinya sama seperti nitrogen total. Pada hari ke-0 nilai ortofosfat daun sama untuk setiap stasiunnya dengan nilai 114,227 ppm. Hari ke-15 nilai ortofosfat daun yang tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 145,357 ppm dan nilai terendahnya pada stasiun I yaitu 126,124 ppm. Pada hari ke-30 nilai tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 216,715 ppm dan nilai terendah terdapat pada stasiun II yaitu 170,927 ppm. Pada hari ke-45 kandungan nitrogen total dan ortofosfat daun hanya ada pada stasiun I, dengan

kandungan nitrogen total adalah 779,274 ppm dan kandungan ortofosfatnya adalah 311,079 ppm.

Kandungan ortofosfat dalam serasah relatif rendah dibandingkan dengan nilai nitrogen total. Hal ini disebabkan oleh sifat ortofosfat bersifat tidak statis

sehingga konsentrasinya akan mudah menurun. Bila terjadi kekurangan ortofosfat pada suatu tanaman, maka ortofosfat yang ada pada jaringan tanaman akan

dialokasikan ke jaringan yang masih aktif sehingga jaringan yang lebih tua akan mengandung orofosfat relatif kecil dibandingkan jaringan yang masih aktif.

Kandungan unsur hara yang dihasilkan oleh serasah daun Avicennia marina

sangat bervariasi berdasarkan jenis unsur hara dan kondisi substrat hutan

mangrove. Dengan adanya perbedaan tersebut maka mempengaruhi sumbangan unsur hara (nitrogen total dan ortofosfat) terhadap ekosistem mangrove dan perairan sekitarnya.

Dokumen terkait