• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Data Inflasi Enam Lokasi di Kalimantan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik Data Inflasi Enam Lokasi di Kalimantan

Dalam penelitian ini menggunakan data inflasi pada periode bulan Januari 2001 – Desember 2015 pada 6 kota di wilayah Kalimantan yaitu Pontianak, Sampit, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikapapan dan Samarinda. Pada periode Januari 2001 – Desember 2014 digunakan sebagai data in-sample sedangkan data pada peride Januari – Desember 2015 digunakan sebagai data

out-sample. Inflasi yang dimaksud dalam penulisan ini adalah inflasi umum.

Summary dari data inflasi enam kota di Kalimantan bisa dilihat pada

Tabel 4.1. Berdasarkan pada tabel tersebut memperlihatkan bahwa rata-rata inflasi selama periode Januari 2001 – Desember 2014 di enam lokasi tersebut relatif

74

tidak jauh berbeda. Rata-rata inflasi tertinggi di Samarinda yang tercatat sebesar 0,683 persen diikuti Balikpapan dengan tingkat rata-rata sebesar 0,673 persen. Tabel 4.1. Statistik Deskriptif Data Inflasi Pada Enam Kota di Kalimantan

Lokasi Mean Standar Deviasi Minimum Maksimum

Pontianak 0,668 0,946 -1,66 7,17 Sampit 0,598 1,050 -1,89 6,78 Palangkaraya 0,645 1,003 -1,30 6,83 Banjarmasin 0,647 0,980 -1,23 8,05 Balikpapan 0,673 0,917 -1,33 6,38 Samarinda 0,683 0,953 -1,27 7,38

Adapun rata-rata inflasi terkecil terjadi di Sampit sebesar 0,598 persen. Sementara rata-rata inflasi di lokasi lain yaitu Pontianak sebesar 0,668 persen, Palangkaraya sebesar 0,645 persen dan Banjarmasin sebesar 0,647 persen. Tingkat rata-rata inflasi yang tidak jauh berbeda pada enam wilayah tersebut mengindikasikan bahwa pengendalian inflasi oleh pihak terkait di masing-masing wilayah telah berjalan dengan baik.

Berdasarkan Gambar 4.1 menunjukkan tingkat persebaran data inflasi di masing-masing lokasi relatif tidak berbeda jauh. Namun demikian terdapat sebaran inflasi yang cenderung bersifat pencilan atau outlier. Pada boxplot di atas menunjukkan bahwa setiap lokasi memiliki data outlier yang beragam pada waktu terjadinya. Namun demikian, pada semua lokasi terdapat tingkat inflasi yang dianggap outlier dan terjadi pada bulan yang sama yaitu pada bulan Oktober 2005, dimana pada bulan ini untuk seluruh wilayah merupakan tingkat inflasi tertinggi selama kurun waktu tersebut. Tingginya tingkat inflasi pada bulan tersebut sebagai akibat dari adanya kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diberlakukan mulai tanggal 01 Oktober 2005.

75

a) b)

c) d)

e) f)

Gambar 4.1. Boxplot Inflasi Enam Wilayah di Kalimantan

(a) Pontianak (b) Sampit (c) Palangkaraya (d) Banjarmasin (e) Balikpapan (f) Samarinda Pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1 juga memberikan gambaran bahwa inflasi terendah terjadi pada wilayah Sampit yang mengalami deflasi sebesar 1,89 pada bulan Juni 2005, sedangkan tingkat inflasi tertinggi terjadi di Banjarmasin sebesar 7,38 persen pada bulan Oktober 2005. Berdasarkan pola persebarannya, fluktuasi inflasi yang tertinggi ada di Sampit, dimana persebaran data terhadap rata-rata inflasi atau tingkat deviasinya sebesar 1,050 sedangkan fluktuasi yang terendah terjadi di Balikpapan dengan tingkat deviasi sebesar 0,917.

76

a) b)

c) d)

e) f)

Gambar 4.2. Plot Time Series Inflasi Enam Wilayah di Kalimantan

(a) Pontianak (b) Sampit (c) Palangkaraya (d) Banjarmasin (e) Balikpapan (f) Samarinda Berdasarkan pada Gambar 4.2 memperlihatkan pergerakan inflasi secara fluktuatif dan memiliki pola perubahan yang relatif sama pada enam lokasi tersebut. Kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005 sebagai dampak dari pengurangan subsidi BBM oleh pemerintah, memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perubahan inflasi. Kenaikan BBM pada Oktober 2005 dirasa cukup besar dimana untuk jenis premium mengalami kenaikan lebih dari 85 persen dan jenis solar lebih dari 100 persen. Perubahan inflasi pada enam wilayah di Kalimantan juga memiliki kecenderungan pola musiman, dimana pada bulan-bulan tertentu besaran inflasi berada pada nilai tertinggi seperti pada bulan-bulan Juli khususnya di bidang pendidikan karena memasuki tahun ajaran baru sekolah serta

77

pada bulan Desember yang disebabkan meningkatnya permintaan karena libur natal dan tahun baru.

Inflasi di wilayah Kalimantan juga tidak lepas karena faktor adanya kejadian atau event tertentu seperti perayaan hari besar agama. Dalam penelitian ini akan dibahas pengaruh dari perayaan hari besar agama yaitu hari raya Idul Fitri atau pada bulan menjelang perayaan Idul Fitri. Dalam analisis time series fenomena ini lebih dikenal dengan faktor variasi kalender. Hal yang lazim dan menjadi fenomena ekonomi secara nasional bahwa setiap menjelang perayaan Idul Fitri berbagai kebutuhan barang dan jasa meningkat. Hal ini memicu adanya kenaikan harga suatu barang dan jasa khususnya harga sembilan bahan pokok. Selain itu pada waktu-waktu menjelang perayaan Idul Fitri, permintaan terhadap layanan jasa transportasi juga mengalami peningkatan khususnya karena adanya suatu

tradisi mudik lebaran. Adanya kenaikan harga di sektor layanan jasa transportasi

khusunya darat dan laut pada setiap tahunnya menjelang perayaan lebaran berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa pada sektor lain karena berhubungan dengan adanya arus distribusi barang atau jasa. Hal ini yang menyebabkan terjadinya inflasi pada bulan dimana terjadinya perayaan idul fitri atau satu bulan menjelang perayaan Idul Fitri.

78

Berdasarkan plot data pada Gambar 4.3 di atas memperlihatkan bahwa setiap menjelang perayaan hari raya Idul Fitri atau pada saat bulan terjadinya Idul Fitri cenderung terjadi inflasi. Umumnya inflasi terjadi pada satu bulan sebelum bulan perayaan hari raya Idul Fitri atau juga bisa terjadi pada bulan dimana terjadi hari raya Idul Fitri.

Hal lain yang menyebabkan terjadinya inflasi diduga karena faktor cuaca dalam hal ini tingginya curah hujan. Curah hujan yang tinggi kerap kali menyebabkan terrjadinya banjir di sejumlah daerah, dan tidak sedikit lahan pertanian banyak yang rusak karena banjir. Hal ini berdampak pada produksi pertanian yang gagal panen seperti padi, sayur-sayuran dan komoditas lainnya yang rentan rusak banjir. Ketika produksi menurun, maka secara ekonomi persediann barang di pasar juga berkurang, sedangkan di sisi lain permintaan akan barang tetap bahkan cenderung meningkat. Kondisi ini bisa memberikan efek terhadap kenaikan harga barang meningkat.

Tabel 4.2. Statistik Deskriptif Curah Hujan (mm) Pada Enam Kota di Kalimantan Lokasi Mean Standar Deviasi Minimum Maksimum

Pontianak 262.58 124.63 16 688 Sampit 214.40 215.3 0 1778 Palangkaraya 252.70 152.6 3 729.1 Banjarmasin 230.69 128.91 0 505 Balikpapan 234.55 113.94 10.8 705.1 Samarinda 199.41 97.07 0 501

Berdasarkan Tabel 4.2 memperlihatkan rata-rata curah hujan per bulan untuk enam lokasi di Kalimantan relatif tidak jauh berbeda. Rata—rata curah hujan tertinggi terjadi di Pontianak yang mencapai 262.58 mm per bulan. Sedangkan rata-rata curah hujan terendah berada pada wilayah Samarinda dengan rata-rata sebesar 199.41 mm per bulan. Data deskripsi di atas menunjukkan selama periode 2001-2014 tingkat curah hujan yang tinggi terjadi di Sampit yang mencapai 1.778

79

mm. Adapun untuk tingkat curah hujan terendah (nilai minimum) terjadi di Sampit, Banjarmasin dan Samarinda.

Curah hujan yang tinggi juga kerap kali mengganggu distribusi barang dan jasa antar wilayah, terlebih ketika kondisi jalan menjadi rusak akibat banyaknya genangan air sebagai dampak dari tingginya curah hujan di suatu wilayah. Adanya distribusi barang yang terganggu, menyebabkan pasokan atau ketersediaan barang dan jasa di pasar menjadi terbatas sehingga seringkali berdampak pada harga barang menjadi naik. Barang dan jasa yang tersedia di wilayah Kalimantan, tidak semuanya merupakan produksi lokal. Sebagian masih tergantung pada wilayah lain khususnya produksi dari pulau jawa atau antar wilayah lain di Kalimantan. Ketika suatu barang dan jasa didistribusikan melalui transportasi air, maka tingginya curah hujan sangat mengganggu dalam distribusi barang dan jasa, hal ini berakibat ketersediaan barang dan jasa menjadi langka karena keterlambatan pasokan yang berasal dari luar daerah atau pulau. Untuk itu dalam penelitian ini akan mencoba menyertakan variabel curah hujan sebagai prediktor dalam pemodelan Inflasi pada enam wilayah di Kalimantan.

Dokumen terkait