• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

4.2.1 Karakteristik Individu, Pengetahuan, Sikap, dan

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa kepala keluarga yang menjadi responden rata-rata berusia 42,7 tahun. Sebagian besar responden yang menjadi kepala keluarga merupakan laki-laki. Hal ini menunjukkan laki-laki memiliki peranan penting sebagai pemimpin dalam keluarga dan dalam melakukan suatu tindakan karena memiliki peran sebagai kepala keluarga. Kepemimpinan kepala keluarga adalah suatu tindakan atau kemampuan yang dimiliki seorang kepala keluarga atau suami untuk memimpin anggota keluarga yang terdiri dari istri dan anak yang saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah keluarga (Setyaningrum, 2013). Kepala keluarga merupakan

pengambil keputusan untuk pemecahan masalah dalam mengatasi masalah kesehatan yang terjadi didalam keluarga (Setyowati, 2008).

Kepala keluarga yang mempunyai tingkat pendidikan SD sederajat memiliki proporsi yang sangat besar dibandingkan tingkat pendidikan yang lain. Proporsi kepala keluarga akan menurun seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Kepala keluarga yang memiliki tingkat pendidikan tidak tamat SD memiliki proporsi yang sangat kecil. Hal ini sesuai dengan proporsi tingkat pendidikan di Indonesia yang paling banyak terdapat pada tingkat pendidikan tamat SD dan semakin menurun pada tingkat pendidikan SMP, SMA, dan tamat PT/Akademi (BKKBN, 2015). Gambaran yang sama juga didapatkan dalam proporsi tingkat pendidikan di Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Wongsorejo (BPS, 2014).

Sebagian besar kepala keluarga dalam penelitian ini memiliki pendapatan yang tinggi yaitu di atas UMK. Tingginya kepala keluarga yang memiliki pendapatan diatas UMK tersebut dikarenakan Desa Bangsring memiliki industri yang banyak bergerak terutama di bidang wisata dan perikanan (BPS, 2014). Hal ini sesuai dengan data BPS (2013) yang mengungkapkan bahwa persentase penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi memiliki persentase kecil yaitu 9,97% (BPS, 2013). BKKBN (2015) menyatakan di Indonesia dan di Kabupaten Banyuwangi jumlah keluarga sejahtera tingkat III memiliki jumlah yang paling besar dibandingkan keluarga pra sejahtera, keluarga sejahtera tingkat I, II, dan III plus.

Proporsi kepala keluarga yang memiliki riwayat penyakit malaria dalam keluarga memiliki proporsi yang kecil dari pada yang tidak memiliki. Hal tersebut menunjukkan bahwa meski pernah terjadi KLB, namun jumlah penderita malaria memiliki rasio yang lebih sedikit dibandingkan total penduduk. Proporsi yang sama juga disampaikan oleh Andriyani et al. (2013) dalam penelitiannya di Purbalingga.

Sebagian besar kepala keluarga di Desa Bangsring memiliki hewan ternak besar. Hal tersebut sesuai dengan proporsi kepemilikan hewan ternak besar di Kabupaten Banyuwangi yang didominasi oleh Kecamatan Wongsorejo (BPS,

2014). Lokasi kandang ternak umumnya ditempatkan terpisah dengan jarak kandang ternak dan rumah kurang dari 10 meter. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hadi et al. (2006), Sitohang et al. (2013), dan Sibala et al. (2013) yang menunjukkan sebagian besar responden menempatkan kandang ternak kurang dari 10 meter dengan rumah.

Perkembangan vektor malaria sangat erat hubungannya dengan lingkungan dimana kandang ternak yang ditempatkan satu atap dengan rumah penduduk. Beberapa jenis Anopheles lebih menyukai menggigit orang tetapi beberapa spesies yang lain dijumpai lebih menyukai menggigit binatang peliharaan seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi (Gunawan dalam Harijanto, 2000). Anopheles vagus

dilaporkan sebagai parasit malaria yang antropofilik di beberapa daerah, meskipun berbagai penelitian sebelumnya menyatakan Anopheles vagus merupakan zoofilik. Lebih dari separuh responden memiliki pengetahuan tentang malaria yang rendah. Hal tersebut berselisih jauh dengan responden yang memiliki pengetahuan tentang malaria kategori tinggi dan juga sedang. Pengetahuan yang tinggi memiliki proporsi yang paling kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kepala keluarga di Desa Bangsring yang memiliki pengetahuan tentang malaria yang tinggi masih sangat rendah dibandingkan dengan kepala keluarga yang memiliki pengetahuan tentang malaria yang rendah dan sedang. Dalimunthe (2008) dan Hasibuan et al.

(2012) menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan malaria yang kurang dan responden dengan pengetahuan malaria yang tinggi berjumlah lebih kecil.

Sebagian besar responden memiliki sikap pencegahan malaria netral. Responden yang memiliki sikap pencegahan malaria positif dan negatif memiliki proporsi yang kecil. Hal ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil kepala keluarga di Desa Bangsring memiliki sikap pencegahan malaria positif. Hal yang sama disampaikan Dalimunthe (2008) dan Dharampal et al. (2012) bahwa proporsi responden dengan sikap yang baik memiliki proporsi yang rendah. Hasibuan et al. (2012) turut mengutarakan bahwa proporsi paling besar yaitu responden dengan sikap dalam kategori cukup, lalu responden dengan sikap yang baik, dan responden dengan sikap yang kurang.

Proporsi responden yang memiliki tindakan pencegahan malaria yang cukup memiliki jumlah yang mendominasi. Responden yang memiliki tindakan pencegahan malaria yang kurang dan kategori baik memiliki frekuensi yang sama. Hal ini menunjukkan jumlah kepala keluarga di Desa Bangsring sebagian besar melakukan tindakan pencegahan malaria yang cukup, namun kepala keluarga yang melakukan tindakan pencegahan malaria yang baik dan kurang juga setara. Hal ini sesuai dengan penelitian Dalimunthe (2008) dan Hasibuan et al. (2012) yang menyatakan bahwa proporsi responden yang memiliki tindakan yang baik lebih rendah dibandingkan kategori lainnya.

4.2.2 Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Tindakan Pencegahan Malaria Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi tindakan pencegahan malaria, orang dengan tingkat pendidikan minimal SMP sederajat memiliki kecenderungan 4,40 kali lebih besar untuk melakukan tindakan pencegahan malaria yang baik daripada orang dengan tingkat pendidikan maksimal SD sederajat atau tidak sekolah. Hal senada diungkapkan oleh Dalimunthe (2008), Macintyre et al. (2002), Njama et al. (2003), dan Hasibuan et al. (2012). Sesuai dengan penelitian sebelumnya, penelitian yang dilakukan Moore et al. (2008) menyatakan hubungan antara individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi lebih sering melakukan tindakan pencegahan malaria dengan menggunakan kelambu berinsektisida, repellent, dan melakukan pemberantasan nyamuk.

Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru termasuk menentukan pola perencanaan keluarga serta peningkatan kesejahteraan keluarga (Manuaba, 2009). Priyoto (2014:249) mengungkapkan bahwa orang berpendidikan tinggi akan memiliki pekerjaan layak dan juga pendapatan yang cukup dalam hal ekonomi. Hal tersebut akan mempermudah seseorang dalam mendapatkan perawatan, pemeliharaan kesehatan dan termasuk pencegahan terhadap penyakit karena memiliki pemahaman tentang kesehatan yang baik. Semakin rendah

tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin rendah juga pola pikir dalam melakukan sesuatu hal serta merasa enggan untuk mendapatkan informasi tentang penyakit malaria.

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa tingkat pendapatan keluarga tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tindakan pencegahan malaria. Artinya semakin tinggi pendapatan yang dimiliki suatu keluarga belum tentu tindakan pencegahan malaria yang dilakukan akan semakin baik dan juga semakin rendah pendapatan yang dimiliki suatu keluarga belum tentu tindakan pencegahan malaria yang dilakukan semakin kurang. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Macintyre et al. (2002), Dalimunthe (2008) dan Moore et al. (2008).

Hal yang sejalan disampaikan oleh Mukono (2006) yang mengungkapkan hal yang sama dengan hasil penelitian ini. Faktor ekonomi tidak selalu memberikan pengaruh yang sama kepada semua orang terhadap respons terhadap penyakit dan pencegahan yang dilakukan. Terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi tindakan yaitu faktor lingkungan sosial, budaya masyarakat, keyakinan normatif, keyakinan perilaku, dan juga niat dalam melakukan tindakan. Hasil penelitian menunjukkan riwayat penyakit malaria tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tindakan pencegahan malaria. Hal yang bertolak belakang disampaikan Keating et al. (2008). Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian oleh Andriyani et al. (2013) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara adanya pengalaman seseorang baik berupa riwayat penyakit malaria ataupun kunjungan ke daerah endemis dengan kejadian malaria.

Riwayat penyakit malaria yang pernah terjadi dalam sebuah keluarga akan mengakibatkan keluarga tersebut lebih bertindak waspada terhadap penyakit malaria. Adanya perbedaan pada hasil penelitian ini dapat disebabkan karena responden yang memiliki riwayat malaria penyakit malaria terlalu sedikit.

4.2.3 Pengaruh Pengetahuan tentang Malaria terhadap Tindakan Pencegahan Malaria

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang malaria mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap tindakan pencegahan malaria. Orang yang mempunyai pengetahuan tentang malaria yang tinggi memiliki kecenderungan 22,75 kali lebih besar untuk melakukan tindakan pencegahan malaria yang baik daripada orang yang mempunyai pengetahuan tentang malaria yang rendah. Mendukung hal tersebut, Dalimunthe (2008) dan Hasibuan et al. (2012) juga mengungkapkan hal yang sama. Individu dengan pengetahuan kategori baik lebih berpartisipasi aktif dalam pencegahan malaria dibandingkan individu dengan pengetahuan yang kurang.

Pengetahuan dan peningkatan wawasan serta cara berfikir akan memberikan dampak terhadap persepsi, nilai-nilai dan sikap yang akan menentukan seseorang mengambil keputusan melakukan suatu tindakan. Hal ini juga berkaitan dengan kemudahan seseorang mendapatkan pengetahuan baik melalui televisi, radio, surat kabar, majalah, buku, dan juga internet. Lingkungan sosial dapat memberikan suatu bentuk informasi yang dapat meningkatkan pemahaman seseorang. Informasi yang didapatkan baik dari lingkungan keluarga, tetangga, kerabat, media cetak maupun petugas kesehatan dapat memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang (Marini, 2009).

4.2.4 Pengaruh Sikap Pencegahan Malaria terhadap Tindakan Pencegahan Malaria

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa sikap pencegahan malaria memiliki pengaruh yang bermakna dengan tindakan pencegahan malaria. Orang yang mempunyai sikap pencegahan malaria positif memiliki kecenderungan 6,095 kali lebih besar untuk melakukan tindakan pencegahan malaria yang baik daripada orang yang mempunyai sikap pencegahan malaria negatif. Hal ini selaras dengan hal yang diungkapkan Hasibuan et al. (2012) dan Dharampal et al. (2012).

Sikap berkaitan erat dengan pandangan seseorang terhadap tindakan. Sikap yang positif terhadap suatu obyek akan lebih memungkinkan seseorang melakukan sebuah tindakan, karena dalam pembentukan sikap terdapat faktor emosional yang mempengaruhi. Menurut Purwanto (1998), sikap adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai objek tertentu. Sikap dipengaruhi oleh faktor pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosional (Wawan dan Dewi, 2011:35). Adanya pengalaman pribadi akan memudahkan sebuah sikap untuk terbentuk.

4.2.5 Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Tindakan Pencegahan Malaria Hasil analisis multivariat didapatkan bahwa variabel bebas yang signifikan mempengaruhi tindakan pencegahan malaria adalah pengetahuan. Seseorang yang mempunyai pengetahuan tentang malaria yang tinggi memiliki kecenderungan 22,75 kali lebih besar untuk melakukan tindakan pencegahan malaria yang baik daripada orang yang mempunyai pengetahuan tentang malaria yang rendah. Hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang tentang malaria, maka kecenderungan melakukan tindakan pencegahan malaria yang baik juga semakin besar.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya suatu tindakan (overt behavior). Suatu tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada suatu tindakan yang tidak didasari oleh pengetahuan (Wawan dan Dewi, 2011:12). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Dharampal et al. (2012) menunjukkan individu dengan pengetahuan yang baik memiliki probabilitas yang lebih tinggi dalam melakukan pencegahan malaria dibandingkan individu dengan pengetahuan yang kurang. Faktor pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pendidikan, pekerjaan, umur, lingkungan, dan lingkungan sosial budaya juga ekonomi. Faktor lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi proses belajar (Wawan dan Dewi, 2011:18).

Pengetahuan juga dipengaruhi oleh pendidikan baik berupa formal ataupun nonformal (Wawan dan Dewi, 2011:16). Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi. Pendidikan yang baik dapat meningkatkan kematangan intelektual seseorang dan merupakan faktor penting dalam proses penyerapan informasi. Peningkatan wawasan dan cara berfikir akan memberikan dampak terhadap pengetahuan, persepsi, nilai-nilai dan sikap yang akan menentukan seseorang mengambil keputusan melakukan suatu tindakan.

Dokumen terkait