4.2.1 Kondisi jalan lingkungan di Kecamatan Babussalam, Desa Kota Kutacane, Desa Pulo Latong dan Desa Pulonas
Sistem jaringan jalan di Kecamatan Babussalam menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara. Sama halnya dengan wilayah lain di Indonesia, jaringan jalan di Kabupaten Aceh Tenggara terbagi menjadi jalan Nasional yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, jalan provinsi (kewenangan pemerintah provinsi) dan jalan kabupaten/kota yang merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten. Kondisi mantap jalan kabupaten mengalami peningkatan sebesar 43,33 km dalam kurun waktu 2012-2016. Sedangkan kondisi mantap jalan provinsi juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sepanjang 70,84 km. Panjang
jalan menurut status dan kondisi jalan di Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2012 – 2016 dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Panjang Jalan Menurut Status dan Kondisi Jalan di Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012-2016
Tahun
Jalan Kabupaten Jalan Provinsi Jalan Nasional Kondisi
Baik
Total Kondisi Baik
Total Kondisi Baik
Total
2012 325,65 748,25 85,50 135,67 0,00 0,00
2013 332,50 763,46 120,22 147,58 0,00 0,00
2014 350,50 704,49 148,55 167,30 0,00 0,00
2015 368,47 741,41 156,34 176,07 0,00 0,00
2016 368,87 741,41 156,34 176,07 0,00 0,00
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tenggara, 2018
Kondisi jalan di Kabupaten Aceh Tenggara cenderung mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari jalan provinsi dalam keadaan baik dan sedang (> 40 km/jam) pada tahun 2012 sebesar 43,52 persen meningkat menjadi 49,69 persen pada tahun 2016. Persentase kondisi jalan kabupaten tahun 2012-2016 dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Jalan Kabupaten Dengan Kondisi Baik Dan Sedang di Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012-2016 (Persen)
Keterangan
Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 Jalan kabupaten dalam kondisi baik
dan sedang (> 40 km/jam)
43,52 43,55 49,75 49,69 49,69
Dari Tabel diatas dapat dilihat kondisi jalan di Kabupaten Aceh Tengara dari tahun ke tahun semakin membaik.
Untuk jalan lingkungan pada masing-masing kawasan pemukiman kumuh di Kecamatan Babussalam adalah sebagai berikut:
1. Desa Kota Kutacane
Untuk kondisi jaringan jalan di Desa Kota Kutacane secara visual masih memadai, kondisi jaringan jalan pada kawasan pemukiman terlihat baik dengan kualitas hampir setiap permukaan jalan yang diperkeras dengan lebar jalan 1.50 m. Adapun panjang jalan lingkungan yang ada di Desa Kota Kutacane dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Kondisi Jaringan Jalan Lingkungan di Desa Kota Kutacane
Nama
1594,28 1071,65 1071,65 1071,65 1385,71 Pasbel 3566,30 3566,30 3566,30 1698,87 1012,12 Placway 4281,03 4281,03 4281,03 4281,03 4281,03 Teranda
Kondisi jaringan jalan di Desa Kota Kutacane secara visual dapat dilihat dari Gambar 4.6.
Gambar 4.6 Kondisi Jalan di Pemukiman Kumuh di Desa Kota Kutacane Sumber : Dokumentasi Pribadi
2. Desa Pulo Latong
Untuk kondisi jaringan jalan di Desa Pulo Latong secara visual masih memadai, kondisi jaringan jalan pada kawasan pemukiman terlihat baik dengan kualitas hampir setiap permukaan jalan yang diperkeras dengan lebar jalan 1.50 m. Adapun panjang jalan lingkungan yang ada di Desa Pulo Latong dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Jalan lingkungan dengan lebar yang kurang dan tanpa pengerasan
Jalan lingkungan langsung berada di dinding rumah
Jalan lingkungan dengan permukaan yang rusak
Jalan lingkungan dengan permukaan yang rusak
Tabel 4.8 Kondisi Jaringan Jalan Lingkungan di Desa Pulo Latong
Gambar 4.7 Kondisi Jalan di Pemukiman Kumuh di Desa Pulo Latong Sumber : Dokumentasi Pribadi
Jalan lingkungan tanpa drainase di kiri dan kanan jalan
Jalan lingkungan tanpa drainase di kiri dan kanan
jalan
Jalan lingkungan dengan permukaan jalan rusak
Jalan lingkungan dengan permukaan jalan rusak
3. Desa Pulonas
Desa Pulonas memiliki aksesibilitas yang cukup baik dengan adanya pembangunan jaringan jalan yang memadai walau pembangunan jalan belum semuanya teraspal namun untuk beberapa ruas jalan telah dilakukan pengerasan baik dalam bentuk penimbunan. Beberapa Jalan telah dilengkapi dengan jaringan drainase namum kebanyakan jalan belum memiliki jaringan drainase. Aksesibilitas lingkungan untuk beberapa kawasan masih kurang terutama di kawasan perumahan warga masih ada jalan-jalan setapak dengan lebar kurang dari 1,5 Meter dan jalan dengan kondisi yang buruk (becek ketika hujan dan berlubang). Adapun panjang jalan lingkungan yang ada di Desa Pulonas dapat dilihat pada Tabel 4.9 dan Gambar 4.8.
Tabel 4.9 Kondisi Jaringan Jalan Lingkungan di Desa Pulonas
Gambar 4.8 Kondisi Jalan di Pemukiman Kumuh di Desa Pulonas Sumber : Dokumentasi Pribadi
4.2.2 Kondisi drainase di Kecamatan Babussalam, Desa Kota Kutacane, Desa Pulo Latong dan Desa Pulonas
Pada RTRW Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012-2032, rencana pengembangan sistem drainase perkotaan diarahkan kepada rehabilitasi/ perbaikan dan normalisasi/pengerukan saluran eksisting.
Kondisi saluran drainase pada 3 pemukiman kumuh di Kecamatan Babussalam adalah sebagai berikut:
1. Desa Kota Kutacane
Pada saat ini kondisi dan situasi jaringan drainase pada Kelurahan Kota Kutacane pada areal sangat baik karena tidak terlihat genangan air.
Adapun kondisi jaringan drainase yang ada di Desa Kota Kutacane dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Jalan lingkungan tanpa drainase
di kiri dan kanan jalan Jalan lingkungan dengan permukaan jalan rusak
Tabel 4.10 Kondisi Drainase di Desa Kota Kutacane
Nama Dusun
Drainase Lingkungan Luas Area
permukiman tidak terjadi genangan air/banjir
Panjang Total Drainase
Panjang Kondisi jaringan drainase pada lokasi permukiman memiliki kualitas tidak rusak/berfungsi baik Pajak Inpres 7,29 Ha 1506,08 m 1385,71 m
Pasbel 8,09 Ha 1371,45 m 1326,87 m
Placway 1,01 Ha 3600,7 m 3600,7 m
Terandam 4,49 Ha 866,2 m 613,68 m
Trak Pisang 3,13 Ha 1246,3 m 806,33 m
Kondisi saluran drainase di Desa Kota Kutacane dapat dilihat dari Gambar 4.9.
Gambar 4.9 Kondisi drainase di Desa Kota Kutacane Sumber : Dokumentasi Pribadi
Tidak terdapat drainase di pinggir jalan lingkungan
Tidak terdapat drainase di pinggir jalan lingkungan
Drainase tidak dipelihara sehingga terjadi pencampuran
limbah cair dan limbah padat
Drainase tidak terhubung dengan drainase perkotaan
2. Desa Pulolatong
Pada saat ini kondisi dan situasi jaringan drainase pada Kelurahan Kota Kutacane pada areal sangat baik karena tidak terlihat genangan air.
Adapun kondisi jaringan drainase yang ada di Desa Pulo Latong dapat dilihat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Kondisi Drainase di Desa Pulo Latong
No Nama Dusun
Drainase Lingkungan Luas Area
permukiman tidak terjadi genangan
air/banjir
Panjang Total Drainase
Panjang Kondisi jaringan drainase pada lokasi permukiman memiliki
kualitas tidak rusak/berfungsi baik
1. Pembangunan 0.91 378 378.24
2. Perjuangan 1.05 285 284.98
3. Rahmat 2.63 909 592.7
4. Sipirok 1.45 490 490.41
Kondisi saluran drainase di Desa Pulo Latong dapat dilihat dari Gambar 4.10.
Gambar 4.10 Kondisi drainase di Desa Pulo Latong Sumber : Dokumentasi Pribadi
Tidak terdapat drainase di pinggir jalan lingkungan sehingga terjadi
genangan di jalan
Drainase buruk dan tidak terhubung dengan drainase
perkotaan
3. Desa Pulonas
Desa Pulonas belum memiliki drainase yang memadai hanya terdapat di beberapa ruas jalan saja dengan kondisi pemeliharaan drainase yang kurang baik dibeberapa titik terlihat dengan adanya tumbuhan-tumbuhan liar dan sampah yang menutupi drainase sehingga tidak dapat mengaliri dengan baik. Begitu juga kondisi drainase jalan lingkungan yang kebanyakan kualitas drainase yang belum sesuai persyaratan teknis sudah tidak berfungsi dengan baik, sehingga sering terjadi genangan air saat musim hujan walau hanya untuk beberapa jam namun itu dapat mengganggu kenyamanan warga melintasi area tersebut dan juga menimbulkan bau. Adapun kondisi jaringan drainase yang ada di Desa Pulonas dapat dilihat pada Tabel 4.12 dan Gambar 4.11.
Tabel 4.12 Kondisi Drainase di Desa Pulonas
Dusun
Drainase Lingkungan Luas area
permukiman tidak terjadi genangan air/banjir (ha)
Panjang Total Drainase
(meter)
Panjang Kondisi jaringan drainase pada
lokasi permukiman memiliki kualitas minimum memadai
(meter)
Ban Ban 5 60 60
Manunggal 5,75 350 350
Pulonas Kute 8,81 380 335
Kondisi saluran drainase di Desa Pulonas dapat dilihat dari Gambar 4.11.
Gambar 4.11 Kondisi drainase di Desa Pulonas Sumber : Dokumentasi Pribadi
4.2.3 Sistem jaringan air bersih
Berdasarkan RTRW Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012-2032, rencana pengembangan sistem jaringan air baku untuk air bersih di Kabupaten Aceh Tenggara sebagai salah satu upaya meningkatkan kapasitas produksi air bersih sampai tahun 2032 adalah dengan melaksanakan pembangunan/peningkatan kapasitas produksi air mencapai 500 ltr/dtk dan unit distribusi dengan rincian perencanaan sebagai berikut :
a. Pembangunan/penambahan kolam intake dengan kapasitas 500 ltr/dtk;
b. Penambahan pipa transmisi diameter 600 mm;
c. Pembangunan 5 unit instalasi pengolahan dengan total kapasitas 500 ltr/dtk;
d. Pembangunan 5 unit reservoir dengan total kapasitas 4.000 m³;
e. Pembangunan/pengadaan bangunan atau alat penunjang produksi;
f. Pengadaan pipa induk distribusi diameter 800 mm.
Kondisi drainase buruk dan tidak terhubung dengan drainase
perkotaan
Kondisi drainase yang rusak
Adapun rencana pengembangan pengolahan air baku menjadi air bersih dan peningkatan sistem jaringan perpipaannya di Kecamatan Babussalam meliputi:
instalasi pengolahan air di Kute Mbarung Datuk Sedane bersumber dari Lawe Sikap di Kecamatan Lawe Alas, dengan potensi sumber 120 lt/dt, kapasitas intake 60 lt/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah permukiman di Kecamatan Babussalam.
1. Desa Kota Kutacane
Pada saat ini kondisi masyarakat terlayani sarana air bersih, mandi dan cuci memiliki kondisi baik. Adapun kondisi pelayanan air bersih yang ada di Desa Kota Kutacane dapat dilihat pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 Kondisi Pelayanan Air di Desa Kota Kutacane
Nama Dusun
Kondisi Pelayanan Air Jumlah Masyarakat terlayani
Sarana Air bersih untuk minum, mandi, dan cuci (perpipaan atau non perpipaan
terlindungi yang layak) (Unit rumah tangga)
Jumlah Masyarakat terpenuhi kebutuhanair bersih, mandi, cuci
(minimal 60liter/org/hari)
(Unit rumah tangga)
Pajak Inpres 15 13
Pasbel 251 226
Placway 59 43
Terandam 221 185
Trak Pisang 144 49
2. Desa Pulo Latong
Pada saat ini kondisi masyarakat terlayani sarana air bersih, mandi dan cuci memiliki kondisi baik. Adapun kondisi pelayanan air bersih yang ada di Desa Pulo Latong dapat dilihat pada Tabel 4.14.
Tabel 4.14 Kondisi Pelayanan Air di Desa Pulo Latong
Nama Dusun
Kondisi Pelayanan Air Jumlah Masyarakat terlayani
Sarana Air bersih untuk minum, mandi, dan cuci
(perpipaan atau non perpipaan terlindungi yang layak) (Unit rumah tangga)
Jumlah Masyarakat terpenuhi kebutuhanair bersih, mandi, cuci (minimal
60liter/org/hari) (Unit rumah tangga)
Pembangunan 46 20
Perjuangan 69 6
Rahmat 101 83
Sipirok 78 45
3. Desa Pulonas
Pemenuhan kebutuhan Air bersih untuk warga desa Pulonas diperoleh dari mata air yang ada disekitar pemukiman namun ada juga beberapa warga yang menggali sumur cincin tetapi kualitas air yang berbau dan keruh sehingga tidak layak untuk dikonsumsi maka warga harus membeli air bersih isi ulang dari depot-depot air minum isi ulang atau membeli air bersih dari truk penjual air bersih. Air Bersih merupakan masalah besar bagi warga desa Pulonas. Adapun kondisi pelayanan air bersih yang ada di Desa Pulo Latong dapat dilihat pada Tabel 4.15.
Tabel 4.15 Kondisi Pelayanan Air Bersih di Desa Pulonas
Dusun
Pelayanan Air bersih Jumlah Masyarakat terlayani
Sarana Air bersih untuk minum, mandi, dan cuci (perpipaan atau non perpipaan
terlindungi yang layak) (Unit rumah tangga)
Jumlah Masyarakat terpenuhi kebutuhan air
bersih, mandi, cuci (minimal 60liter/org/hari)
(Unit rumah tangga)
Ban Ban 74 74
Manunggal 34 100
Pulonas
Kute 53 73
4.2.4 Sistem pengelolaan limbah di Kecamatan Babussalam
Berdasarkan RTRW Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012-2032, pengelolaan air limbah rumah tangga atau limbah faikal direncanakan dengan sistem septictank invidual. Sistem tanki septic atau komunal berpeluang diterapkan di permukiman perkotaan yang terencana, guna mengantisipasi perlunya penye
dotan dan pengolahan limbah rumah tangga tersebut dan perlu dikaji pula serta direncanakan pengembangan sebuah instalasi pengolahan limbah terpadu (IPLT) dan sistem pengangkutan dengan mobil tangki khusus dengan penyedotan sebanyak 16 (enam) unit atau 1 (satu) unit per kecamatan. Rencana pengembangan IPLT berada pada lokasi yang sama dengan lokasi TPA yaitu di Kute Lawe Serke Kecamatan Lawe Sigala-Gala.
Kondisi pengolahan limbah di 3 Desa pemukiman kumuh Kecamatan Babussalam adalah sebagai berikut:
1. Desa Kota Kutacane
Pada saat ini pemukiman kumuh di Desa Kota Kutacane memiliki pengelolaan air limbah tidak begitu baik. Masih terdapat hunian yang tidak memiliki jamban yang memiliki kloset yang terhubung dengan septictank dan saluran air pembuangan masih tidak terhubung dengan drainase lingkungan. Adapun kondisi limbah di Desa Kota Kutacane dapat dilihat pada Tabel 4.16.
Tabel 4.16 Kondisi Air Limbah di Desa Kota Kutacane Nama
Dusun
Kondisi Limbah Jumlah Masyarakat
memiliki akses jamban keluarga / jamban bersama (5 KK/jamban)
Jumlah Jamban
keluarga/jamban bersama sesuai persyaratan teknis (memiliki kloset leher angsa yang terhubung dengan septic-tank)
Pajak Inpres 15 15
Pasbel 269 244
Placway 59 59
Terandam 179 221
Trak Pisang 174 77
2. Desa Pulo Latong
Seperti pada pemukiman kumuh di 2 desa sebelumnya, pada saat ini pemukiman kumuh di Desa Pulo Latong memiliki pengelolaan air limbah tidak begitu baik. Masih terdapat hunian yang tidak memiliki jamban yang memiliki kloset yang terhubung dengan septictank dan saluran air pembuangan masih tidak terhubung dengan drainase lingkungan. Adapun kondisi limbah di Desa Pulo Latong dapat dilihat pada Tabel 4.17.
Tabel 4.17 Kondisi Air Limbah di Desa Pulo Latong
Nama Dusun
Kondisi Limbah Jumlah Masyarakat
memiliki akses jamban keluarga / jamban bersama (5 KK/jamban)
Jumlah Jamban keluarga/jamban bersama sesuai persyaratan teknis (memiliki kloset leher angsa yang
Permasalahan utama sanitasi di desa Pulonas adalah beberapa warga yang tinggal di dekat saluran drainase membuang limbah langsung ke saluran induk. Untuk hunian yang tidak dekat dengan saluran membuang limbah rumah tangga langsung ke lahan kosong sehingga muncul genangan-genangan limbah rumah tangga yang menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu kesehatan. Sementara untuk kepemilikan jamban masih terdapat warga yang tidak memiliki sarana sanitasi Jamban, dan terdapat Jamban yang belum terhubung dengan septitank. Adapun kondisi limbah di Desa Pulonas dapat dilihat pada Tabel 4.18.
Tabel 4.18 Kondisi Air Limbah di Desa Pulonas Nama sesuai persyaratan teknis (memiliki kloset leher angsa yang terhubung dengan septic-tank)
Ban Ban 68 69
Manunggal 56 5
Pulonas Kute 94 90
4.2.5 Sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Babussalam
Berdasarkan RTRW Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012-2032, konsep dasar pengembangan sistem persampahan diarahkan kepada :
a. Mengupayakan agar sampah yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan di perkotaan dapat ditampung dan dikelola secara efisien dalam rangka menciptakan kebersihan lingkungan;
b. Penanganan sampah diupayakan untuk mencegah pencemaran lingkungan;
c. Penanganan sampah diarahkan dengan sistem perorangan dan komunal yang selanjutnya diolah pada TPS dan TPA;
d. Merubah citra tempat sampah sehingga tidak menurunkan kualitas visual kawasan;
e. Pemisahan jenis sampah dengan menyediakan tempat sampah yang berbeda.
Rencana pengembangan sistem persampahan Kabupaten Aceh Tenggara adalah sebagai berikut :
a. Pola pelayanan persampahan terdiri dari :
1. Individu/komunal langsung (door to door) dengan truk; dilaksanakan di daerah komersial/perkantoran (jalan poros utama Kab. Aceh Tenggara) dan permukiman dengan volume sampah lebih besar dari 1 m³;
2. Individu/komunal tidak langsung dengan truk atau gerobak namun dikumpulkan melalui bin-bin sampah selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan sementara dan kemudian ke tempat pembuangan akhir.
b. Penyapuan jalan dilaksanakan dengan jadwal tetap pada seluruh ruas jalan koridor.
1. Penyediaan tempat sampah yang dapat langsung menampung sampah dari sumbernya, terutama pada jalur pedestrian dengan intensitas pejalan kaki yang tinggi dan di tempat-tempat konsentrasi pejalan kaki seperti kawasan perdagangan kawasan kaki lima dan taman kota,
2. Tempat sampah diletakkan di lokasi yang mudah terlihat mudah terjangkau dengan interval jarak 50-100 meter. Tempat sampah dan TPS didesain sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu dari segi visual dan estetika,
3. Tempat sampah yang disediakan terdiri dari tempat untuk sampah organik dan tempat untuk sampah non organik dengan warna yang berbeda.
Diproyeksikan jumlah sampah yang dihasilkan di Kabupaten Aceh Tenggara hingga tahun 2029 sebanyak 584 m3/hari. Pola penanganan sampah yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan mulai dari TPS hingga TPA, melalui incinerator, sanitary landfill maupun metode komposting. Sistem pengolahan sampah di lokasi TPA ini
akan dioperasikan dengan sistem sanitary landfill, dilengkapi dengan IPLT dan saluran licik (saluran untuk air sampah). Namun permasalahan yang banyak terjadi adalah ketidakteraturan pembuangan sampah mulai dari rumah tangga sampai ke TPS yang menimbulkan pencemaran estetika dan pencemaran udara/bau. Solusi yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan cara :
a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang citra sampah sebagai beban lingkungan menjadi sampah sebagai sumber daya ekonomi dengan cara melakukan teknik daur ulang sistem pengomposan terhadap sampah hayati,
b. Pada daerah-daerah yang padat dan tidak teratur permukimannya, sehingga tidak terjangkau oleh kendaraan pengangkut sampah, dilakukan penambahan TPS di permukiman tersebut di lokasi yang terjangkau oleh kendaraan pengangkut sampah dan memberikan bantuan gerobak sampah kepada RT untuk mengumpulkan sampah dari tempat-tempat permukiman ke TPS terdekat.
Sistem pengumpulan sampah yang direncanakan dalam RTRW Kabupaten Aceh Tenggara dapat dilihat pada Tabel 4.19.
Tabel 4.19 Sistem Pengumpulan Sampah dan Pengangkutan
Sumber Sampah
Perwadahan Pengumpulan Pemindahan Pengangkutan Pengolahan Perumahan
<1m
Adapun Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah yang diarahkan untuk melayani seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, direncanakan meliputi :
a. TPA Batu Mberong di Kute Batu Mberong Kecamatan Badar seluas 2 Ha; dan
b. TPA Lawe Serke di Kute Lawe Serke Kecamatan Lawe Sigala-Gala seluas 10 Ha. Selain itu akan dikembangkan pula Tempat Penampungan Sampah
Sementara (TPS), yang tersebar di pusat-pusat permukiman perkotaan, pasar regional dan fasilitas sosial skala regional.
Kondisi pengolahan sampah di 3 Desa pemukiman kumuh Kecamatan Babussalam adalah sebagai berikut:
1. Desa Kota Kuta Cane
Situasi dan kondisi persampahan pada Kelurahan Kota Kutacane pada saat ini memiliki moda transportasi pengangkutan sampah domestik rumah tangga di kawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA dalam waktu 2 kali seminggu dan sebahagianya lagi Sampah domestik rumah tangga pada kawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA dalam waktu kurang dari 2 kali seminggu, berikut tabel kondisi persampahan
perdusunya secara menyeluruh. Adapun kondisi persampahan di Desa Kota Kutacane dapat dilihat pada Tabel 4.20.
Tabel 4.20 Kondisi Persampahan di Desa Kota Kutacane No. Nama Dusun Jumlah Sampah domestik rumah tangga di kawasan
permukiman terangkut ke TPS/TPA min. dua kali seminggu
1. Pajak Inpres 15
2. Pasbel 186
3. Placway 52
4. Terandam 161
5. Trak Pisang 42
2. Desa Pulo Latong
Situasi dan kondisi pengelolaan persampahan pada desa Pulo Latong pada saat ini memiliki moda transportasi pengangkutan sampah domestik rumah tangga di kawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA dalam waktu 2 kali seminggu,dan sebahagianya lagi Sampah domestik rumah tangga pada kawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA dalam waktu kurang dari 2 kali seminggu. Adapun kondisi persampahan di Desa Pulo Latong dapat dilihat pada Tabel 4.21.
Tabel 4.21 Kondisi Persampahan di Desa Pulo Latong No. Nama Dusun
Jumlah Sampah domestik rumah tangga di kawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA
min. dua kali seminggu
1. Pembangunan 50
2. Perjuangan 10
3. Rahmat 8
4. Sipirok 15
3. Desa Pulonas
Permasalahan utama sanitasi di desa Pulonas adalah beberapa warga yang tinggal di dekat saluran drainase membuang limbah langsung ke saluran induk. Untuk hunian yang tidak dekat dengan saluran membuang limbah rumah tangga langsung ke lahan kosong sehingga muncul genangan-genangan limbah rumah tangga yang menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu kesehatan. Sementara untuk kepemilikan jamban masih terdapat Warga yang tidak memiliki sarana sanitasi Jamban, dan terdapat Jamban yang belum terhubung dengan septitank. Adapun kondisi persampahan di Desa Pulonas dapat dilihat pada Tabel 4.22.
Tabel 4.22 Kondisi Persampahan di Desa Pulonas No. Nama Dusun Jumlah Sampah domestik rumah tangga di kawasan
permukiman terangkut ke TPS/TPA min. dua kali seminggu
1. Ban Ban 6
2. Manunggal 0
3. Pulonas Kute 59
4.2.6 Sistem proteksi kebakaran di Kecamatan Babussalam
Dalam RTRW Kabupaten Aceh tenggara Tahun 2012-2032, Sistem pengelolaan kebakaran di Kabupaten Aceh Tenggara direncanakan dalan system penyediaan perpipaan air bersih dengan meletakkan pipa hidran kebakaran dan mengatur jarak valve di pusat ekonomi, pusat pemukiman dengan kepadatan tinggi, sedang dan rendah. Namun di Kecamatan Babussalam khususnya di 3 pemukiman kumuh yaitu Desa Kota Kutacane, Desa Pulo Latong dan Desa Pulonas belum
tersedia sarana dan prasarana proteksi kebakaran yang memadai, disebagian jalan lingkungan belum terakses sirkulasi untuk mobil kebakaran begitu juga dengan alat pemadam kebakaran dan sumber air.
BAB V