• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Tujuan Jalan Bypass

2. Karakteristik Jalan Bypass

1. Fisik Lingkungan 2. Kualitas Hidup - RTRW Kabupten Kolaka

Utara Tahun 2012-2032 - Undang-Undang No 38

Tahun 2004

- Indikator perkembangan wilayah adalah setiap kondisi yang dicerminkan oleh aspek pembangunan wilayah yaitu aspek ekonomi, aspek sosial demografi dan aspek fisik lingkungan, Raharjo Adisasmita (2010). Morlok

dalam Abdul wahab (2009) bahwa

perkembangan wilayah meliputi adanya perkembangan ekonomi, sosial dan fisik lingkungan dari wilayah tersebut

- Menurut Poernomosidi (1980), keberhasilan perkembangan wilayah terjadi ketika kesejahteraan hidup baik kualitas maupun kuantitas bertambah. Seperti peningkatan pendapatan, pertambahan penduduk, pertambahan luas bangunan, serta penambahan sarana dan prasarana.

Analisis

- Analisis Deskriptif - Rumus Indeks Alpha - Analisis Uji T Dua Sampel

Berpasangan - Analisis Deskriptif

Perkembangan Wialayah

PENGARUH JALAN BYPASS TERHADAP PERKEMBANGAN

WILAYAH LASUSUA KATOI DAN SEKITARNYA - Meningkatkan

Aksesibilitas - Kapasitas Jalan - Kualitas Jalan

- Penggunaan Lahan - Jumlah Sarana

Perdagangan Dan Jasa - Jumlah Destinasi Wisata - Pendapatan Masyarakat

32 BAB III

METODE PENELITIAN

33 B. Jenis dan Sumber Data

1. Jensi Data a. Data Primer

Data primer adalah jenis data yang tidak berupa angka tetapi berupa kondisi kualitatif objek dalam ruang lingkup penelitian baik dalam bentuk uraian kalimat ataupun penjelasan terkait keberadaan Jalan Bypass Tobaku-Lasusua Kab.Kolaka Utara, yang meliputi karakteristik Jlan Bypass dan kondisi jalan Bypass, Penggunaan lahan, jumlah pendapatan, jumlah sarana ekonomi, jumlah destinasi wisata serta dokumentasi berupa visualiasi kondisi masyarakat yang berada pada wilayah penelitian.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah jenis data yang berupa angka atau numerik yang bisa diolah dengan menggunakan metode perhitungan yang menggunakan analisis uji t dua sample berpasangan. Data ini meliputi jumlah luas penggunaan lahan, tingkat pendapatan masyarakat, jumlah saranan ekonomi, jumlah destinasi wisataserta data-data pendukung lainnya seperti Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW.

34 2. Sumber Data

Sumber data yang di peroleh dapat di golongkan kedalam dua jenis yaitu :

a. Data Pimer

Data primer di kumpulkan atau di peroleh melalui opservasi lapangan dan wawancara dengan pihak yang terkait dengan penelitian. Data primer yang di maksud adalah kondisi sarana dan prasarana jalan dan observasi lapangan mengenai aksesibilitas terkait jarak, waktu dan biaya, serta data-data penunjang lainnya yang berkaitan dengan penelitian

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi pemerintahan atau swasta yang berhubungan dengan judul penelitian yakni dari instansi Dinas Perdagangan, Dinas Pariwisata, Dinas perhubungan, Dinas Perumahan Dan Pertanahan, Dinas Pekerjaan Umum , BAPPEDA, BPS Kabupaten Kolaka Utara.

Adapun data-data yang di harapkan yang diperoleh dari instansi tersebut terkait aspek fisik wilayah diantaranya jumlah Perumahan/Permukiman, Penggunaan Lahan, RDTR, Jumlah

35 Destinasi Wisata, Jumlah Sarana Pedagangan dan jasa, Jumlah Perdagangan Dan Jasa.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 80:2013). Dalam penelitian ini dibedakan antara populasi secara umum dengan populasi target (target population). Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran keberlakuan kesimpulan penelitian (Sukmadinata, 2007).

Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di wilayah sekitar Jalan Bypass. Lokasi penelitian tersebut berada di empat kecamatan yaitu Kecamatan Lasusua, Katoi, Kodeoha dan Lambai.

Maka sesuai dengan judul dalam penelitian ini, yang menjadi populasi dari penelitian adalah penduduk yang masuk dalam batasan wilayah penelitian, sedangkan Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti, Karena tidak semua data dan informasi akan di proses dan tidak semua orang atau benda akan di teliti melainkan cukup dengan menggunakan sampel yang mewakilinya.

36 2. Sampel

Dalam pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi yang dipilih sebagai anggota sampel. Dengan demikian sampel yang diperoleh merupakan sampel yang representatif. Cara pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dikatakan simple atau sederhana karena pengambilan anggota sampel dari populasinya dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata (tingkat) yang ada dalam populasi ini. Sampel adalah bagian dari populasi yang mewakili seluruh karakteristik dari populasi. Secara matematis besarnya sampel dari suatu populasi menggunkan rumus slovin, yaitu sebagai berikut:

Keterangan :

n : Jumlah Sampel N : Jumlah Populasi

37 e : Koefisien kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan

pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan (10 %).

Berdasarkan rumus tersebut, maka pengambilan sampel di wilayah sekitar jalan bypass yaitu Kecamatan Lasusua, Katoi, Kodeoha, Lambai yang populasinya berjumlah 53.994 jiwa adalah sebagai berikut:

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala fisik dengan cara pengamatan dan pencatatan langsung. (Waluya, 2007). Dengan melakukan metode observasi dalam pengumpulan data, akan diperoleh data yang lebih akurat, valid dan terbaru. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan dengan cara mengamati kondisi Jalan Bypass dan wilayah di sekitarnya. Untuk mendapatkan data terkait kondisi Jalan Bypass, observasi dilakukan dengan melengkapi data berupa foto-foto terkait kondisi jalan dan kondisi prasarana transportasi umum

38 pada wilayah penelitian yang akan dijadikan sebagai input dalam analisis karakteristik Jalan Bypass. Selain itu, metode ini juga digunakan untuk mengupdate data sekunder berupa penggunaan lahan pada wilayah di sekitar Jalan Bypass. Observasi dilakukan dengan menandai peta observasi yang kemudian dilakukan digitasi ke dalam peta yang sudah ada.

2. Wawancara

Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan dan dilakukan dalam keadaan saling berhadapan (Nasution:1982). Wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pihak terkait yang dianggap kompeten dan mengetahui seluk-beluk wilayah penelitian. Dalam metode ini, wawancara dilakukan dengan beberapa sumber seperti dinas-dinas serta perangkat Kecamatan untuk mengetahui karakteristik wilayah penelitian serta karakteristik jalan Bypass.

3. Kunjungan pada Instansi Terkait

yaitu salah satu teknik pengambilan data melalui instansi terkait dengan mempersiapkan list data yang di butuhkan (data sekunder).

39 4. Kepustakaan (library Reserch)

Cara pengumpulan data dan informasi dengan membaca atau mengambil literature , laporan, karya tulis ilmiah, buku.

5. Kuesioner

Salah satu alat pengumpul data dalam penelitian. Kuesioner digunakan dengan mengedarkan atau membagikan form kuesioner yang berisi pertanyaan kepada beberapa subjek atau responden untuk mendapatkan tanggapan secara tertulis (Waluya, 2007).

Kuesioner dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada warga pada wilayah penelitian secara acak untuk memperoleh data yang dibutuhkan.

E. Variabel Penelitian

Variabel dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang ada atau exist dan keberadaannya memiliki lebih dari satu label atau lebih dari satu nilai (Waluya,2007). Menurut Direktorat Pendidikan Tinggi dalam Narbuko dan Achmadi (1999) variabel penelitian adalah segala sesuatu yang menjadi objek pengamatan dalam penelitian.

Dijelaskan bahwa variabel penelitian meliputi faktor-faktor penting yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Dalam penelitian ini terdapat dua aspek penting yang akan dibahas yaitu terkait Jalan Bypass (X) dan Perkembangan Wilayah (Y).

40 Tabel 3.1 Variabel dan Indikator Penelitian

Aspek Variabel Devenisi

Oprasional Sub Variabel Indikator

1 2 3 4 5

Jalan Bypass Sebagai

Sistem Transportasi

Wilayah

 Tujuan Jalan Bypass

Tujuan Pembangunan Jalan Bypass dilihat dari Arahan Kebijakan

Untuk Mengetahui Seberapa Besar Pencapaian Jalan Bypass Terhadap Tujuan Tersebut

Meningkatkan Aksesibilitas

Jarak

Waktu

Biaya

Sebelum dan Sesudah Pembangunan Jalan Bypass

 Karakteristik Jalan Bypass

Merupakan hal yang di Jadikan Ciri Untuk

Mengidentifikasi Kualitas Jalan Bypass

Kapsitas Jalan

Lajur

Persimpangan

Lebar Jalan

Kualitas Jalan Kondisi Jalan Bypass

Perkembangan Wilayah

 Fisik Indicator

Perkembangan Wilayah dari Segi Fisik

Perdagangan dan jasa

Jumlah Saran Perdagangan dan Jasa

Wisata Jumlah Destinasi Wisata

Penggunaan Lahan

Penggunaan Lahan Wilayah Sekitar

 Kualitas Hidup

Indokator Perkembangan Wilayah dari segi

Kualitas Hidup

Pendapatan Pendapatan Masyarakat Sumber: Hasil analisis 2018

F. Kebutuhan Data

Kebutuhan data berisi data-data yang dibutuhkan dalam penelitian untuk melakukan analisis. Data sendiri menurut Arikunto (2010) merupakan hasil pencatatan penelitian baik dalam bentuk angka maupun fakta. Disebutkan juga bahwa data adalah segala fakta dan agnka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi yang diperoleh dari pengolahan data. Kebutuhan data

41 dirumuskan berdasarkan variabel yang telah ditentukan sebelumnya.

Tabel 3.2 Kebutuhan Data

Aspek Variabel Sub Variabel Kebutuhan Data Tahun

Teknik Pengumpulan

Data

1 2 3 4 5 6

Jalan Bypass

 Tujuan Jalan Bypass

 Meningkatkan Aksesibilitas

Jarak

Waktu

Biaya

Sebelum dan Sesudah Adanya Jalan Bypass

2011-2018 Observasi dan Wawancara

 Karakte ristik Jalan Bypass

 Kapsitas Jalan

Jumlah Lajur

Jalan Bypass 2018 Observasi dan Studi Literatur

Jumlah Persimpangan pada Jalan Bypass

2018 Observasi dan Studi Literatur

Lebar Jalan

Bypass 2018 Observasi dan

Studi Literatur

 Kualitas Jalan Kondisi Jalan

Bypass 2018 Observasi

Lapangan

Perkembangan Wilayah

 Fisik

 Perdagangan dan Jasa

Jumlah sarana Perdagangan dan Jasa

2011-2018 Studi Literatur

 Wisata Jumlah Destinasi

Wisata 2011-2018 Observasi dan Studi Literatur

 Penggunaan Lahan

Luas Penggunan

Lahan 2011-2018 Studi Literatur

 Kualitas

Hidup  Pendapatan Pendapatan

Masyarakat 2011-2018 Kuesioner Sumber: Hasil analisis 2018

G. Teknik Analisis Data

Analisis data menurut Singarimbun (1987) bertujuan untuk menyederhanakan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Teknik analisis data pada bab ini akan membahas tentang teknik atau cara menganalisis data yang telah di peroleh.

Dalam penelitian ini, terdapat 3 analisis yang akan digunakan yaitu

42 analisis deskriptif, analisis Komparasi (Uji T Dua Sampel Berpasangan) dan kemudian di lanjutkan dengan Analisis deskriptif Naratif serta menggunakan rumus Index Alpha, dengan Membandingkan dua data yaitu sebelum dan sesudah adanya jalan Bypass.

Analisis deskriptif karakteristik jalan Bypass bertujuan untuk menggambarkan kondisi dan karakteristik Jalan Bypass yang telah di identifikasi dan di hitung tingkat aksesibilitasnya menggunakan rumus Index Alpha dan hasil dari analisis Uji T Dua Sampel Berpasangan.

sedangkan analisis Komparasi (Uji T Dua Sampel Berpasangan) bertujuan untuk mengidentifikasi serta membandingkan perkembangan wilayah sebelum dan sesudah adanya Jalan Bypass kemudian di lanjutkan dengan analisisi deskriptif naratif.

Gambar 3.2 Kerangka Analisis Penelitian

 Karakteristik Jalan

 Tujuan Jalan

 Fisik

 Kualitas Hidup

Identifikasi karakteristik Jalan Bypass (PKJI 2014)

Rumus Indeks Alpha

Analisis Komparasi (Uji T

Dua Sampel Berpasangan)

Analisis Deskriptif Perkembangan Wilayah

Analisis Deskriptif Pengaruh Pembangunan Jalan Bypass terhadap Perkembangan Wilayah di Kabupaten Kolaka

Karakteristik Baik/Buruk

Aksesibilitas Tinggi/Rendah

Perkembangan Wilayah di Kabupaten Kolaka Utara Khususnya Wilayah di Sekitar

Jalan Bypass

Pengaruh Jalan Bypass terhadap Perkembangan Wilayah di Kabupaten Kolaka

Utara

INPUT PROSES OUTPUT

43 Analisis deskriptif pengaruh pembangunan Jalan Bypass terhadapa perkembangan wilayah di empat kecamatan yaitu Kecamatan Lasusua, Katoi, Lambai, Kodeoha . Merupakan analisis yang inputnya berasal dari kedua analisis sebelumnya yaitu analisis deskriptif karakteristik jalan Bypass dan Index Alpha serta analisis Komparasi (Uji T Dua Sampel Berpasangan) yaitu perbandingan sebelum dan sesudah adanya jalan Bypass. Berikut ini merupakan uraian rinci dari masing-masing analisis tersebut:

1. Analisis Karakteristik Jalan Bypass

Identifikasi karakteristik dan kondisi jalan Bypass bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja jalan Bypass.

Selain itu juga akan dilihat bagaimana peran Jalan Bypass dalam pemenuhan tujuan pembangunannya yaitu untuk meningkatkan aksesibilitas guna menunjang perkembangan wilayah di Kabupaten Kolaka Utara dengan rumus Indeks Alpha, kondisi jalan Bypass harus baik sehingga akan memudahkan mobilitas atau pergerakan penduduk di wilayah tersebut. Begitu juga dengan karakteristik jalan Bypass. Dimana jalan Bypass harus memenuhi karakteristik jalan yang telah ditentukan sesuai dengan pedoman.

Analisis karakteristik Jalan Bypass menggunakan rumus Indeks Alpha dan perhitungan kapasitas Jalan dengan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia 2014, serta deskriptif naratif dimana

Identifikasi perkembangan wilayah dapat dilakukan dengan melihat indikator dari aspek fisik yang meliputi. penggunaan lahan

45 yang ada di wilayah penelitian serta jumlah sarana ekonomi (perdagangan dan jasa) dan jumlah destinasi wisata serta tingkat pendapatan masyarakat. Identifikasi adanya perkembangan ini dilakukan dengan mengetahui perubahan aspek-aspek indikator dari 2 waktu yang berbeda yaitu sebelum dan sesudah pembangunan Jalan Bypass.

Selanjutnya akan dilakukan analisis Uji T Dua Sampel Berpasangan

.

Dimana analisis ini merupakan analisis yang membandingkan rata-rata dari beberapa indikator dalam satu aspek data yaitu aspek perkembangan wilayah. Analisis ini melibatkan dua pengukuran pada subjek yang sama terhadap suatu pengaruh atau perlakuan tertentu. Adapun dasar penggunaan uji T Sampel Berpasangan ialah observasi atau penelitian untuk masing-masing pasangan harus dalam kondisi yang sama. Dalam penelitian ini, interval waktu yang dipilih adalah sebelum dan sesudah pembangunan Jalan Bypass Tobaku-Lasusua yaitu menggunakan data tahun 2011 dan 2018.

Dalam analisi Uji T Dua Sampel Berpasangan ini terdapat pengujian hipotesis. Dimana hipotesis yang digunakan dalam Uji T Dua Sampel Berpasangan ini adalah sebagai berikut :

 H0 : Stagnan atau Berkembang Kurang Signifikan

 H1 : Berkembang signifikan

46 Nilai α : 5 % = 0,05

Dasar pengambilan keputusan dari hipotesis diatas dapat dilakukan dengan membandingkan T hitung T tabel.

 T Hitung < dari T Tabel, maka H0 di teriman (Berkembang Kurang Signifikan)

 T Hitung > dari T Tabel, maka H1 di teriman (Berkembang Signifikan)

Dalam analisis ini nanti, akan diketahui bagaimana perkembangan wilayah yang terjadi di wilayah Penelitian.

Perkembangan wilayah yang terjadi akan dibagi menjadi 2 yaitu stagnan/berkembang kurang signifikan dan berkembang signifikan. Perkembangan wilayah yang stagnan/berkembang tidak signifikan berarti semua indikator dalam kelompok variabel perkembangan wilayah tidak terdapat perubahan atau wilayah di lokasi penelitian berkembang namun perkembanganyang terjadi hanya pada beberapa indikator saja atau perkembangannya yang terjadi tidak begitu besar.

Sedangkan berkembang signifikan berarti wilayah penelitian berkembang dan setiap indikatornya menunjukkan adanya perkembangan yang besar. Sedangkan untuk indikator yang tidak dapat di analisis dengan menggunakan Uji T Dua Sampel Berpasangan, maka akan dilakukan analisis deskriptif.

47 Tabel 3.4 Penilaian Perkembangan Wilayah yang Terjadi

di Wilayah Penelitian

Sumber : Analisis 2018

3. Analisis Pengaruh Pembangunan Jalan Bypass terhadap

48 bagaimana pengaruh Jalan Bypass terhadap wilayah di Kabupaten Kolaka Utara khususnya di lokasi penelitian. Dalam mengetahui hubungan antara kedua hal tersebut, dilakukan dengan melihat tabel dibawah ini.

Tabel 3.5

Hubungan Jalan Bypass dengan Perkembangan Wialayah Perkembangan

Wilayah (Aksesibilitas)

Perkembangan Wilayah

(Karakteristik Jalan)

Stagnan/

Berkembang Kurang Signifikan

Berkembang Signifikan

Tinggi Baik Hubungan A Hubungan B

Rendah Buruk Hubungan C Hubungan D

Sumber : Analisis Penulis 2018

Setelah mengatahui hubungan pengaruh jalan Bypass dengan perkembangan wilayah, berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing tipe hubungan diatas :

a. Hubungan A :

Jalan Bypass Tobaku-Lasusua memiliki aksesibilitas tinggi dan karakteristik baik, namun wilayah berkembang kurang signifikan. Hal ini menandakan bahwa pembangunan Jalan Bypass Tobaku-Lasusua berpengaruh namun kurang signifikan terhadap wilayah sekitarnya.

b. Hubungan B :

Jalan Bypass Tobaku-Lasusua memiliki aksesibilitas yang tinggi dan karakteristik baik, serta wilayah berkembang signifikan. Hal ini menandakan bahwa pembangunan Jalan

Konsep dasar dan istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala

bagian area darat, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah

50 permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.

2. Jalan elak atau dikenal juga sebagai bypass adalah jalan yang

dibuat untuk mengelak dari kawasan yang padat, kota, kampung atau desa tertentu sehingga lalu lintas terusan dapat melewati kawasan tersebut dengan gangguan samping yang minimal sehingga dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas.

3. Wilayah adalah unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu

dimana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti, tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah mencakup komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta bentuk-bentuk kelembagaan. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusi adengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis tertentu.

4. Pengembangan wilayah (Regional Development) adalah upaya

untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan wilayah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

5. Kawasan adalah daerah yang memiliki ciri khas tertentu atau berdasarkan pengelompokan fungsional kegiatan tertentu.

51 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

GAMBARAN JALAN BYPASS TOBAKU-LASUSUA DAN PERKEMBANGAN WILAYAH SEKITARNYA

A. Jalan Bypass Tobaku-Lasusua

Jalan Bypass Tobaku-Lasusua dibangun pada awal tahun 2012 dan baru dapat dioperasikan pada pertengahan tahun 2013.

Jalan yang dibangun dengan panjang ruas ± 9 Km ini menghubungkan jalan arteri primer di Kabupaten Kolaka Utara yaitu di bagian utara yaitu Jalan Poros Sulawesi yang melintasi Kecamatan Katoi dan di bagian selatan Jalan Bypass berhubungan dengn Jalan Poros Sulawesi yang melintasi Kecamatan Lasusua serta beberapa jalan lokal, berikut peta lokasi penelitian.

Gambar 4.1 Peta Letak Jalan Lama dan Jalan Bypass

52

53 menggunakan jalan yang lama sekitar 17 Km, namun setelah adanya Jalan Bypass jarak yang di tempuh menjadi 9 Km.

b. Waktu

Waktu tempuh perjalan yang diperlukan tidak sama, apabila membandingkan jalan yang lama dengan Jalan Bypass memperlihatkan hasil yang sangat berbeda dimana dengan menggunakan jalan yang lama, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pusat kota sekitar 50-70 Menit dan apabila menggunakan Jalan Bypass menuju pusat kota ataupun sebaliknya hanya membutuhkan waktu 10-15 Menit.

c. Biaya

Unutuk perbandingan biaya dengan menggunakan jalan lama dan Jalan Bypass. Biaya yang di kelurkan apabila menggunakan jalan lama dengan jarak 17 Km dan waktu tempuh 50-70 Menit, apabila menggunakan kendaraan roda dua membutuhkan bensin 1 liter dengan harga Rp 8.000 hanya untuk 1 kali perjalanan, untuk kendaraan roda 4 membutuhkan bensin sekitar 2-2,5 liter dengan harga Rp16.000-20.000 hanya untuk sekali jalan, tergantung kecepatan kendaraan. Sedangkan menggunakan Jalan Bypass dengan jarak 9 Km dan waktu tempuh 10-15 Menit.

Apabila menggunakan kendaraan roda dua membutuhkan bensin sekitar setengah liter dengan harga Rp 4.000, dan untuk

54 kendaraan roda 4 membutuhkan bensin sekitar 1-1,5 liter dengan harga Rp 8.000-12.000 untuk satu kali perjalanan.

Untuk memperjelas terkait perbandingan antara kedua jalan yaitu Jalan Poros Sulawesi (Jalan Lama) dan Jalan Bypass (Jalan Baru). Apabila menggunakan jalan lama dan Jalan Bypass dengan menggunakan indicator jarak, waktu serta biaya pulang-pergi atau (PP) dapat di lihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Perbandingan Jarak,Waktu dan Biaya Menggunakan Jalan Lama dan Jalan Bypass

No Indikator Perbandingan

Sekali Jalan Pulang-Pergi (PP) Jalan Lama Jalan

Bypass

Jalan Lama Jalan Bypass

1 2 3 4 5 6

1 Jarak 17 Km 9 Km 34 Km 18 Km

2 Waktu 50 - 70 Menit 10 - 15 Menit 100 - 140 Menit

20 - 30 Menit

3 Biaya

Rp 8.000 Motor

Rp 16 - 20.000 Mobil

Rp 4.000 Rp 8 -12.000

Rp 16.000 Motor

Rp 32 - 40.000 Mobil

Rp 8.000 Rp 16 -24.000

Sumber : Observasi Lapangan 2018

Berdasarkan dari tabel di atas dapat di lihat perbandingan antara jalan lama (Jalan Trans Sulawesi) dan jalan baru (Jalan Bypass) dengan menggunakan indikator perbandingan jarak, waktu dan biaya, menunjukkan perbedaan dari segi jarak, waktu dan biaya dengan selisih yang cukup jauh. Diketahui dari segi jarak antara jalan lama dan jalan baru berbeda 8 Km, sedangkan apabila di lihat dari waktu tempuh yang di perlukan untuk mencapai ibukota

55 juga menjadi berkurang yaitu 35-55 Menit dan untuk biaya yang di keluarkan juga memperlihatkan pengurangan yaitu sekitar Rp 4000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 8000 untuk kendaraan roda empat untuk sekali jalan, sedangkan untuk perjalanan pulang pergi yaitu Rp 8000 untuk roda dua dan Rp 16 000 untuk roda empat, berikut peta perbandingan jarak waktu dan biaya .

Gambar 4.2 Peta perbandingan jalan lama (Jalan Trans Sulawesi) dan jalan baru (Jalan Bypass)

Aksesibilitas pada Jalan Bypass Tobaku-Lasusua juga di lihat dari aktivitas masyarakat di lokasi penelitian yang menggunakan trasnportasi pribadi, berdasarkan dari hasil kuesioner yang di bagikan di dinas-dinas terkait serta masyarakat yang ada di wilayah penelitian. Semua responden menyatakan

56 bahwa setelah adanya Jalan Bypass Tobaku-Lasusua, aksesibilitas di wilayah tersebut menjadi semakin baik, yaitu dari segi Jarak, Waktu dan Biaya.

Tabel 4.2 Klasifikasi Tingkat Aksesibilitas

Jarak Jauh Aksesibilitas Rendah Aksesibilitas Menengah Dekat Aksesibilitas Menengah Aksesibilitas Tinggi Kondisi Prasarana Sangat Jelek Sangat Baik

Waktu Lama Aksesibilitas Rendah Aksesibilitas Menengah Singkat Aksesibilitas Menengah Aksesibilitas Tinggi Kondisi Prasarana Sangat Jelek Sangat Baik

Biaya Mahal Aksesibilitas Rendah Aksesibilitas Menengah Murah Aksesibilitas Menengah Aksesibilitas Tinggi Kondisi Prasarana Sangat Jelek Sangat Baik

Sumber : (Black 1981)

Berdasarkan hasil klasifikasi tingkat aksesibilitas yang dikemukakan oleh (Black 1981), dapat di jelaskan sebagai berikut semakin dekat jarak tempuh, singkkat waktu perjalanan dan biaya yang diluarkan semakin sedikit dalam melakukan perjalanan serta di dukung oleh kondisi sarana dan prasaran sangat baik, maka dapat dikatakan bahwa aksesibilitas di wilayah tersebut tinggi. Hal tersebut sejalan dengan keadaan Jalan Bypass yang menunjukkan jarak semakin dekat, waktu semakin singkat dan biaya semakin murah serta kondisi jalan bypass yang baik sehingga dapat dikatakan, dengan adanya Jalan Bypass mampu meningkatkan aksesibilitas. Pernyataan tersebut di dukung oleh hasil Kuesioner.

57

Sumber : Observasi 2018

Gambar 4.3 Penampakan saat Pembagian Angket

Berdasarkan dari hasil kuesioner yang di bagikan di beberapa dinas pemerintahan serta masyarakat wilayah sekitar sehingga menghasilkan dua pendapat yaitu sangat berpengaruh dan hanya berpengaruh. Berdasarkan dari hasil responden yang berasal dari dinas-dinas terkait serta masyarakat 86 responden menjawab sangat berpengaruh sedangkan 6 responden lainnya menjawab hanya berpengaruh, karena menurut mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari mereka jarang melewati Jalan Bypass tersebeut.

Gambar 4.4 Diagram Hasil Kuesioner

Berikut hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Indeks Alpha terkait perbandingan tingkat aksesibilitas Jalan Bypass dan jalan ama. Setelah dilakukan perhitungan tingkat aksesibilitas Jalan Bypass menunjukkan angka 0,75 dan untuk

94

6

Hasil Kuesioner

Sangat Berpengaruh Berpengaruh

58 Jalan Lama atau Jalan Trans Sulawesi menunjukkan angka 0,42 . Dengan perbandingan tersebut dapat dilihat bahwa tingkat aksesibilitas Jalan Bypass lebih tinggi di bandingkan dengan Jalan Lama ( Jalan Trans Sulawesi).

2. Karakteristik Jalan Bypass

Karakteristik Jalan Bypass dapat dilihat berdasarkan beberapa hal yaitu, kapasitas jalan dankualitasjalan.

a. Kapasitas Jalan

Jalan Bypass Tobaku-Lasusua terdiri dari 2 jalur serta memiliki 2 arus berlawanan. Masing-masing arus memiliki 2 lajur dengan pembatas jalan atau median jalan. Jalan Bypass Tobaku-Lasusua mampu menampung kendaraan-kendaraan berat yang lewat dengan kapasitas satu lajur terdapat 1 kendaraan berat. Dengan memiliki 2 lajur maka Jalan Bypass Tobaku-Lasusua dapat dilewati kurang lebih 2 kendaraan roda empat, untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambr 4.5 berikut.

Sumber : Observasi 2018

Gambar 4.5 Jalan Bypass Tobaku-Lasusua

Dokumen terkait