HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Jamur Endofit
Hasil isolasi yang diperoleh dari tanaman Vaccinium varingiaefolium adalah sebanyak 11 taksa berbeda (Lampiran 1). Dari bagian akar, diperoleh sebanyak 10 taksa jamur endofit. Sedangkan pada bagian daun, diperoleh sebanyak 3 taksa jamur endofit. Diantara 11 taksa tersebut, terdapat dua taksa yang tidak berhasil diidentifikasi sampai pada tingkat genera atau jenis. Taksa tersebut adalah yeast dan sp1.
Dari semua sampel pada bagian akar, ada 8 taksa yang hanya ditemukan pada bagian tersebut. Sebanyak 2 taksa yaitu Dematophora sp1 dan Aspergillus sp2 ditemukan juga pada bagian daun tanaman Vaccinium varingiaefolium, sedangkan dari 3 taksa pada bagian daun tanaman Vaccinium varingiaefolium, sebanyak 1 sampel yaitu sp1 hanya ditemukan pada bagian daun. Dua taksa lainnya yaitu Dematophora sp1 dan Aspergillus sp2 juga ditemukan pada bagian akar tanaman. Yeast merupakan satu-satunya taksa yang tidak menunjukkan ciri berupa jamur berfilamen, melainkan memperlihatkan ciri yeast atau ragi. Identifikasi jamur endofit tersebut didasarkan pada ciri makroskopik koloni dan
ciri mikroskopik berupa struktur hifa, konidiofor, serta konidia. Berikut ini karakteristik isolat jamur endofit yang diisolasi dari akar Vaccinium varingiaefolium
Sebagai bahan perbandingan, penelitian Khan et al. (2007) berhasil mengisolasi 8 spesies dari 118 bagian sampel daun dan 355 bagian sampel batang dari 9 individu tanaman Calotropis procera. Isolat tersebut meliputi Candida albicans, Aspergillus flavus, Aspergillus niger, Aspergillus sp., Penicillium sublateritium, Phoma chrysanthemicola, Phoma hedericola, Phoma sp. Dari delapan spesies tersebut, ditemukan juga satu spesies yeast (Kelas Ascomycetes) yaitu Candida albicans, sedangkan 7 isolat lainnya berasal dari Kelas Deuteromycetes, karena hanya menghasilkan miselia steril.
1. Dematophora sp1.
Miselium dalam kultur berwarna dasar putih dan pink, warna pink memudar selama proses subkultur. Hifa mengalami pembengkakan pada bagian ujungnya. Sporulasi terjadi pada bagian yang berpigmen pada kultur tua. Konidiofor tegak, berwarna cokelat, bercabang satu atau dua, bantalan konidia terdiri ari 2 baris pada bagian ujung yang menghasilkan spora (fertil). Konidia simpodulosporus, hialin, elips memanjang, bersel 1, mudah terlepas dari konidiofor. Dimensi: Konidiofor dengan tinggi 500µm, bagian fertil 30-65 x 7-8 µm. konidia 3,5-5,5 x 1,6-2,3 µm, sklerotium berdiameter 50 µm. Hifa dengan bagian ujung membengkak memiliki lebar 7,5-10 µm (Gambar 1)
2. Dematophora sp2.
Miselium dalam kultur berwarna dasar putih dan pink, warna pink memudar selama proses subkultur. Hifa tidak mengalami pembengkakan pada bagian ujungnya. Sporulasi terjadi pada bagian yang berpigmen pada kultur tua. Konidiofor tegak, berwarna cokelat, bercabang satu atau dua, bantalan konidia terdiri ari 2 baris pada bagian ujung yang fertil. Konidia simpodulosporus, hialin, elips memanjang, bersel 1, mudah terlepas dari konidiofor. Dimensi: Konidiofor dengan tinggi 500µm, bagian fertil 30-65 x 7-8 µm. konidia 3,5-5,5 x 1,6-2,3 µm. sklerotium berdiameter 50 µm. hifa dengan bagian ujung membengkak memiliki lebar 7,5-10 µm (Gambar 2).
Gambar 2. Foto jamur taksa Dematophora sp2.: (a) koloni (b) hifa
3. Aspergillus sp1.
Konidiofor cokelat pucat, tegak, sederhana, halus pada bagian permukaannya, bantalan massa spora bulat berwarna cokelat abu-abu yang tersusun atas konidia dengan berbentuk catenulate yang terbentuk dari uniseriate phialid yang berkembang pada vesicle berwarna cokelat pucat. Konidia phialosporous, cokelat kekuningan, bulat atau elips, dan permukaannya kasar.
Dimensi: Ukuran konidiofor 365x5µm, diameter vesikel 12,5x20µm, phialid 6-6,5x2 µm, diameter konidia 3,6-5,1 µm (Gambar 3).
Gambar 3. Foto jamur taksa Aspergillus sp1. : (a) hifa (b) koloni
4. Aspergillus sp2.
Konidiofor tegak, sederhana, permukaan kasar, dengan sel kaki pada bagian basal, bagian ujung menggembung menghasilkan vesikel bulat, bantalan konidia melingkar menghasilkan konidia catenulate yang muncul pada phialid uniseriate atau biseriate. Kepala konidia cokelat kekuningan, menyebar, berbentuk kolumnar. Konidia phialosporous, pucat, bulat dan echinulate Dimensi: Ukuran konidiofor lebih dari 400x10,5-13,5 µm, diameter vesikel 24-40 µm, phialid 6,2-16,3 x 3,5-4,3 µm, diameter kepala konidia 160-250 µm, konidia 3,7-5,5 µm (Gambar 4).
Gambar 4. Foto jamur taksa Aspergillus sp2. : (a) hifa (b) koloni
5. Aspergillus sp3.
Koloni berbulu, berwarna cokelat dengan filamen berwarna putih. Konidiofor tegak, sederhana, permukaan kasar, dengan sel kaki pada bagian basal, bagian ujung menggembung menghasilkan vesikel speris, bantalan konidia melingkar menghasilkan konidia catenulate yang muncul pada phialid uniseriate atau biseriate. Sterigmata primer dan sekunder. Kepala konidia cokelat kekuningan, menyebar, berbentuk kolumnar. Konidia phialosporous, pucat, bulat dan echinulate (Gambar 5).
Gambar 5. Foto jamur taksa Aspergillus sp3. : (a) hifa (b) koloni
6. Aspergillus sp4.
Koloni berwarna putih-cokelat dengan permukaan kasar. Massa spora berwarna putih dan menyebar tidak merata. Konidiofor tegak, sederhana, permukaan kasar, dengan sel kaki pada bagian basal, bagian ujung menggembung menghasilkan vesikel speris, bantalan konidia melingkar menghasilkan konidia catenulate yang muncul pada phialid uniseriate atau biseriate. Sterigmata primer dan sekunder. Kepala konidia cokelat kekuningan, menyebar, berbentuk kolumnar. Konidia phialosporous, pucat, bulat dan echinulate (Gambar 6).
Gambar 6. Foto jamur taksa Aspergillus sp4. : (a) hifa (b) koloni
7. Penicillium sp1.
Koloni berwarna hijau gelap, permukaan koloni kasar, tepi tidak rata. Konidiofor hialin, tegak, bercabang penicillate pada ujung dengan 2-3 metula, phialid verticillate pada metula masing-masing, agak menyatu, padat, kepala konidia terdiri dari konidia catenulate pada tiap phialid. Phialid meruncing bertahap atau silinder dengan ujung meruncing. Konidia phialosporus, hialin, berwarna cokelat, bentuk elips atau bulat telur, bersel 1, kasar dan echinulate pada permukaan. Dimensi: Panjang konidiofor 120-200 µm, percabangan utama 10-12,5x 2,5 µm, phialid 10-12,5 µm, konidia 2,7-3,5x2,2-2,3 µm (Gambar 7).
Gambar 7. Foto jamur taksa Penicillium sp1. : (a) hifa (b) koloni
8. Penicillium sp2.
Konidiofor hialin, tegak, bercabang penicillate pada ujung dengan 2-3 metula, phialid verticillate pada metula masing-masing, agak menyatu, padat, kepala konidia terdiri dari konidia catenulate pada tiap phialid. Phialid meruncing bertahap atau silinder dengan ujung meruncing. Konidia phialosporus, hialin, berwarna cokelat, bentuk elips atau bulat telur, bersel 1, kasar dan echinulate pada permukaan. Dimensi: Panjang konidiofor 120-200 µm, percabangan utama 10-12,5x 2,5 µm, phialid 10-12,5 µm, konidia 2,7-3,5x2,2-2,3 µm (Gambar 8).
Gambar 8. Foto hifa jamur taksa Penicillium sp2.
9. Yeast
Permukaan koloni berwarna putih, tekstur halus mirip koloni bakteri. Pertumbuhan diameter koloni sangat lambat dalam media PDA yang dipakai sebagai media pertumbuhan. Permukaan bawah berwarna cokelat kemerahan. Pada permukaaan koloni ditemukan adanya alur membujur pada permukaan koloni. Pengamatan mikroskopik menunjukkan bentuk sel mirip sel ragi pada umumnya (Gambar 9).
Gambar 9. Foto penampang koloni jamur taksa Yeast. : (a) koloni atas, (b) koloni bawah
10. Verticiliastrum sp.
Koloni berwarna hijau gelap, tepi berwarna putih. Permukaan koloni kasar, konidiofor tegak, halus, bercabang tiga atau dua. Percabangan yang fertile memiliki fialid yang membentuk konidia pada bagian ujung. Konidia berbentuk globose, hialin. Ukuran diameter konidia 3-4 µm (Gambar 10).
11. Sp1.
Koloni kering berwarna kehijauan. Tepi koloni bergerigi dan tidak rata. Koloni dalam media PDA tipis, pertumbuhan lambat. Hifa bersekat, konidiofor tegak, bercabang dua. Bentuk konidia bulat sampai oval (Gambar 11).
Gambar 11. Foto jamur taksa Sp1.: (a) hifa (b) koloni