2 TINJAUAN PUSTAKA
3 KARAKTERISTIK KIMIA EKSTRAK DAUN TORBANGUN
Pendahuluan
Tanaman torbangun banyak digunakan sebagai obat tradisional antara lain untuk obat batuk, lambung, mual, muntah, penyembuh luka, sariawan dan sebagainya. Bagian torbangun yang banyak digunakan untuk obat adalah daun (Soni and Singhai 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak DT dapat berfungsi sebagai antioksidan (Bhatt and Negi 2012), antiinflamasi (Chiu et al.
2012, Devi and Periyanagam 2010), analgesik (Chiu et al. 2012), melindungi kerusakan hati (Shenoy et al. 2012a), penyembuh luka bakar (Shenoy et al.
2012b), menurunkan kadar gula darah penderita diabetes (Koti et al. 2011; Viswanathaswamy et al. 2011), antidiuretik (Perez et al. 2011; Pallani et al.
2010), anti radang lambung (Devi et al. 2010), melindungi kerusakan ginjal (Pallani et al. 2010), antinosiseptif dan antipiretik (Roshan et al. 2010), antelmintik (Wadekar et al. 2010), anti tumor (Gurgel et al. 2009), menanggulangi keluhan sindrom pramenstruasi (Devi 2009), mencegah penyakit rematoid artritis (Chang et al. 2007) dan antimikroba (Bhatt dan Negi 2012; Manjamalai et al. 2012; Sathasivam and Elangovan 2011; Murthy et al. 2009; Oliveira et al. 2007). Khusus pada masyarakat Batak DT dikonsumsi untuk meningkatkan ASI oleh ibu yang baru melahirkan (Damanik et al. 2006). Kemampuan aktifitas biologi dari DT tersebut karena DT mengandung berbagai macam komponen bioaktif.
Jumlah dan jenis komponen bioaktif dari suatu tanaman dipengaruhi oleh tipe varietas, iklim, tempat tumbuh dan proses budidaya yang dilakukan. Identifikasi terhadap tiga jenis klon DT (A, B dan C) menunjukkan bahwa DT klon A memiliki fenotip yang berbeda dengan yang lainnya, sedangkan kandungan fenolik tertinggi dihasilkan oleh klon B (Andarwulan et al. 2014). Komposisi kimia minyak atsiri DT torbangun yang ditanam pada musim semi, gugur, panas dan dingin berbeda. Jumlah minyak atsiri paling banyak dihasilkan oleh DT yang ditanam pada musim panas, sedangkan yang terendah pada musim dingin. Senyawa yang paling banyak ditemukan pada musim gugur adalah karvakrol, sedangkan pada musim semi adalah timol. Disisi lain jumlah monoterpen dan triterpenoid meningkat pada musim dingin dan gugur (Khalid and El-Gohary 2014). Pemberian fungi mikoriza arbuskula dalam budidaya tanaman torbangun meningkatkan kandungan fenol, flavonoid, tanin, alkaloid dan saponin dari DT (Rajeshkumar et al. 2008).
Berdasarkan hal diatas dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengarakterisasi sifat kimia ektsrak DT secara kualitatif dan kuantitatif.
Bahan dan Metode Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah DT yang berasal dari Kebun Percobaan Leuwikoppo Dramaga IPB Bogor. Pelarut organik metanol, n-heksana, etil asetat,
26
kloroform, HCl, H2SO4 (Merck), dan kertas saring whatman 42. Standar asam
galat dan quersetin (Sigma). Sampel Tanaman Torbangun
DT berasal dari Kebun Percobaan Leuwikoppo IPB Dramaga Bogor. Tanaman torbangun diidentifikasi oleh ahli botani dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor. DT yang dipanen berasal dari tanaman torbangun umur 10 – 14 minggu. Tanaman dipanen 10 – 15 cm dari
pucuk, semua daun yang sehat diambil. Kemudian daun disimpan pada suhu -20 °C selama 24 jam dan dikeringkan dengan pengering beku selama 48 jam.
Selanjutnya dihancurkan menjadi bubuk dengan blender, sehingga didapat bubuk DT. Bubuk DT disimpan dalam suhu -20 °C ditempat gelap sampai dilakukan ekstraksi.
Ekstraksi dan Fraksinasi Bubuk Daun Torbangun
Ekstraksi bubuk DT dilakukan dengan cara sonikasi. Bubuk DT 100 g ditambah metanol 80 % dengan perbandingan 1:20, kemudian diaduk dengan
shaker selama 20 menit dengan kecepatan 125 rpm. Setelah itu diekstraksi dengan sonikator (Branson) selama 50 menit, kemudian disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit, setelah itu disaring dengan kertas whatman no 42 menggunakan pompa vakum. Ampas yang diperoleh diekstraksi kembali dengan metanol 80 %, kemudian filtrat hasil ekstraksi digabungkan. Selanjutnya filtrat diuapkan dengan rotary evaporator (Buchi) pada suhu 40 - 50 °C sampai pekat. Setelah itu ekstrak dikeringkan dengan gas nitrogen, diperoleh ekstrak metanol DT. Ekstrak metanol DT selanjutnya dibagi menjadi dua bagian, sebagian untuk pengujian sifat kimia dan aktivitas biologi ekstrak metanol DT dan sebagian lagi untuk difraksinasi. Ekstrak metanol DT untuk fraksinasi dilarutkan kembali dengan aquades (1:30) kemudian dilakukan fraksinasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, kloroform dan etil asetat menggunakan corong pisah. Fraksi yang didapat diuapkan dengan rotary evaporator suhu suhu 40 - 50 °C sampai pekat. Selanjutnya dikeringkan dengan gas nitrogen. Proses ekstraksi dan fraksinasi DT disajikan pada Gambar 3.1. Proses ekstraksi dan fraksinasi DT diulang sebanyak tiga kali.
Uji Komponen Bioaktif Secara Kualitatif
Pengujian komponen bioaktif (fitokimia) ekstrak dan fraksi DT secara kualitatif dilakukan menurut Harborne (1984). Pengujian dilakukan terhadap alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, triterpenoid dan hidroquinon.
Uji Alkaloid
Ekstrak dan fraksi DT ditambahkan NH3 beberapa tetes, kemudian
dihaluskan. Selanjutnya ditambahkan 5 ml CHCl3, setelah itu disaring dengan
kertas saring. Filtrat yang dihasilkan ditambah dengan beberapa tetes H2SO4 2 M,
kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Masing-masing ditambah reagen Dragendrof, Mayer, dan Wagner. Jika terbentuk endapan berwarna jingga (Dragendrof), putih (Mayer), dan coklat (Wagner) berarti ekstrak mengandung alkaloid.
Uji Flavonoid, Tanin dan Saponin
Ekstrak dan fraksi DT dilarutkan dengan aquades, dipanaskan selama 5 menit, kemudian disaring dengan kertas saring. Filtrat dibagi tiga untuk uji flavonoid, tanin dan saponin. Filtrat pertama ditambah serbuk Mg, 10 tetes larutan HCl:etanol (1:1) dan 10 tetes amil alkohol. Jika lapisan amil alkohol berwarna jingga berarti terdapat flavonoid. Filtrat kedua ditambahkan 3 tetes FeCl3. Jika
warna larutan berubah menjadi hitam kehijauan berarti mengandung tanin. Filtrat ketiga dipanaskan selama 5 menit. Selanjutnya dikocok kuat. Jika terbentuk buih yang stabil berarti mengandung saponin.
Bubuk daun torbangun
- penambahan metanol 80 % (1:20) - pengadukan dengan shaker
- sonikasi 50 menit;
- sentrifus 2000 rpm, 5 menit
- penyaringan dengan kertas whatman 42 - evaporasi
Ekstrak metanol Ampas
Ekstrak metanol Ekstrak metanol
+ H2O dan n-heksana
Fraksi Polar 1 Fraksi n-heksana
+ kloroform evaporasi
Fraksi Polar 2 Fraksi kloroforom Fraksi n-heksana pekat + etil asetat evaporasi
Fraksi kloroform pekat
Fraksi Air Fraksi Etil asetat evaporasi evaporasi Fraksi air pekat Fraksi etil asetat pekat
Gambar 3.1 Diagram alir ekstraksi dan fraksinasi ekstrak daun torbangun Uji Steroid dan Triterpenoid.
Ekstrak dan fraksi DT dilarutkan dengan 5 ml etanol panas, kemudian disaring dengan kertas saring. Filtrat dipanaskan hingga kering, kemudian
28
ditambahkan 1 ml dietil eter dan dihomogenisasi. Selanjutnya ditambahkan 1 tetes H2SO4 pekat dan 1 tetes CH3COOH anhidrat. Jika warna larutan berubah
menjadi warna hijau/biru berarti terdapat steroid, sedangkan jika berubah menjadi warna merah/ungu berarti mengandung triterpenoid.
Uji Hidroquinon
Ekstrak dan fraksi DT dilarutkan dengan 5 ml metanol, kemudian dipanaskan, setelah itu disaring dengan kertas saring. Selanjutnya filtrat ditambah 3 tetes NaOH 10 %. Jika warna larutan berubah menjadi merah berarti mengandung hidroquinon.
Pengujian Total Fenol
Total Fenol dalam ekstrak dan fraksi DT diukur dengan metode kolometrik Folin–Ciocalteu menurut Majd et al. (2014). Sebanyak 200 μl larutan ekstrak DT dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 1 ml larutan Folin–Ciocalteu 10 % dan dibiarkan selama 1 menit, kemudian ditambahkan 3 ml Na2CO3 dan divortex. Selanjutnya disimpan dalam ruang gelap pada suhu ruang
selama 2 jam. Kemudian diukur absorbannya dengan UV-Vis spektofotometer (UV-2450, Shimadzu) pada panjang gelombang 760 nm. Total fenol ditentukan berdasarkan kurva standar asam galat dan dinyatakan sebagai mg asam galat ekivalen per gram ekstrak (mg AGE/g ekstrak). Konsentrasi asam galat yang digunakan adalah 50, 100, 150, 200 dan 250 µg/ml. Dari kurva persamaan garis linearnya didapat nilai R2 = 0.98 (Lampiran 1)
Pengujian Total Flavonoid
Total flavonoid dalam ekstrak dan fraksi DT diukur dengan metode kolometrik menurut Shah and Hossain (2014). Sebanyak 500 μl larutan ekstrak DT dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 100 μl AlCl3
10 %, selanjutnya ditambahkan 100 μl CH3COOK 1 M dan 4.3 ml aquades.
Setelah itu divortex dan disimpan pada suhu ruang selama 30 menit. Kemudian diukur absorbannya dengan UV-Vis spektrofotometer (UV-2450, Shimadzu) pada panjang gelombang 415 nm. Total flavonoid ditentukan berdasarkan kurva standar quersetin dan dinyatakan sebagai mg quersetin ekivalen per gram ekstrak (mg QE/g ekstrak). Konsentrasi quersetin yang digunakan adalah 25, 50, 75, 100, 125, dan 150 µg/ml. Dari kurva persamaan garis linearnya didapat nilai R2 = 0.99 (Lampirran 1).
Analisis Profil Senyawa Volatil Ekstrak Metanol Daun Torbangun dengan Kromatografi Gas
Komponen volatil dalam ekstrak metanol DT dianalisis dengan kromatografi gas pirolisis (Py-GC-MS, Shimadzu GC-MS QP 2010). Kolom yang digunakan
adalah Capiler Type Phase Rtx-5MS dengan panjang 60 m dan diameter 0.25 mm. Gas pembawa adalah helium dengan kecepatan alir adalah 0.85 ml/min.
Kondisi operasional adalah suhu awal kolom 50 ºC, suhu SP 280 ºC, MS interface 280 ºC, sumber ion 200 ºC dan suhu pirolisis 400 ºC. Identifikasi komponen kimia dilakukan dengan membandingkan hasil spektra massa hasil GC-MS dengan data base spektra massa pada pustaka wiley. Data yang diperoleh juga dibandingkan dengan studi pustaka yang ada.
Analisis Data
Data total fenol dan flavonoid diuji dengan ANOVA, jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf nyata 5 %. Pengolahan data menggunakan software SPSS 21.
Hasil Komponen Bioaktif Daun Torbangun
Kandungan komponen bioaktif ekstrak dan fraksi DT disajikan pada Tabel 3.1. Ekstrak metanol DT mengandung flavonoid, tanin, saponin, steroid, tetapi tidak mengandung alkaloid, triterpenoid dan quinon. Setelah difraksinasi kandungan komponen bioaktif dalam ekstrak DT menjadi bervariasi. Fraksi n-heksana bersifat non polar, komponen utamanya adalah steroid dan tidak mengandung tanin. Fraksi kloroform bersifat semipolar, kandungan flavonoid dan steroidnya sedang dan tidak mengandung saponin. Fraksi etil asetat bersifat semipolar, komponen utamanya adalah flavonoid dan tanin, mengandung sedikit saponin dan steroid. Khusus pada fraksi etil asetat ditemukan senyawa triterpenoid, senyawa ini tidak ditemukan pada fraksi lain. Fraksi air bersifat polar, komponen utamanya adalah flavonoid dan tanin, sedangkan kandungan steroidnya sedikit.
Tabel 3.1 Komponen bioaktif ekstrak dan fraksi daun torbangun
No Fitokimia Ekstrak Metanol Fraksi n-Heksana Fraksi Kloroform Fraksi Etil asetat Fraksi Air 1 Alkaloid - - - - - 2 Flavonoid +++ + ++ +++ +++ 3 Tanin +++ - + +++ +++ 4 Saponin +++ + - + ++ 5 Steroid +++ +++ ++ + + 6 Triterpenoid - - - + - 7 Hidroquinon - - - - -
Ket: +++ = banyak; ++ =sedang; + = sedikit ;- = tidak ada Total Fenolik dan Flavonoid
Total fenol dalam ekstrak metanol DT adalah 265.83 mg AGE/g ekstrak dan flavonoid 59.32 mg QE/g ekstrak. Setelah difraksinasi komponen fenolik dan flavonoid dalam fraksi DT bervariasi (Tabel 3.2). Kandungan total fenol fraksi etil asetat dan air lebih tinggi dibandingkan dengan total fenol ekstrak metanol, sedangkan pada fraksi kloroform dan n-heksana kandungan total fenolnya lebih rendah dibandingkan dengan ekstrak metanol. Total fenol tertinggi terdapat pada fraksi etil asetat (429.81 mg AGE/g ekstrak) dan terendah fraksi n-heksana (44.97 mg AGE/g ekstrak). Kandungan total fenol dari yang tertinggi ke rendah secara berurutan adalah fraksi etil asetat> fraksi air> ekstrak metanol> fraksi kloroform> fraksi n-heksana. Hasil ini menunjukkan bahwa komponen fenolik yang ada dalam DT banyak larut dalam pelarut semi polar (fraksi etil asetat) dan sangat sedikit yang larut dalam pelarut non polar (fraksi n-heksana). Kandungan fenolik dalam fraksi etil asetat delapan kali lebih banyak dibandingkan dalam fraksi n-heksana.
30
Setelah difraksinasi komponen flavonoid tertinggi ditemukan pada fraksi etil asetat (89.85 mg QE/g ekstrak), sedangkan yang terendah pada fraksi air (48.82 mg QE/g ekstrak). Kandungan flavonoid dalam ekstrak dan fraksi DT dari yang tertinggi sampai ke terendah secara berurutan adalah fraksi etil asetat> fraksi n-heksana> ekstrak metanol> fraksi kloroform> fraksi air. Jumlah flavonoid dalam fraksi etil asetat dua kali lebih banyak dibandingkan dengan fraksi air. Hasil ini menunjukkan bahwa komponen flavonoid dalam DT larut baik dalam pelarut etil asetat.
Tabel 3.2 Total fenol dan flavonoid ekstrak dan fraksi daun torbangun No Ekstrak/Fraksi Total Fenol
(mg AGE/g ekstrak) Total Flavonoid (mg QE/g ekstrak) 1 Ekstrak Metanol 265.83 ± 11.22 b 59.32 ± 1.93 ab 2 Fraksi n-Heksana 44.97 ± 1.15 a 63.39 ± 5.10 b 3 Fraksi Kloroform 65.95 ± 9.86 a 56.62 ± 4.19 ab 4 Fraksi Etil asetat 429.81 ± 18.94 d 89.85 ± 3.55 c 5 Fraksi Air 319.62 ± 4.10 c 48.82 ± 1.66 a Ket: Angka yang diikuti huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut uji
Duncan (p<0.05). Nilai adalah rata-rata ± SEM (Standart Error of Mean) (n=3)
Komponen Volatil Ekstrak Daun Torbangun
Analisis komponen volatil dari ekstrak metanol DT dilakukan dengan Py- GC-MS. Hasil analisis didapat 45 peak pada kromatogram GCMS (Gambar 3.2). Identifikasi jenis senyawa pada setiap peak dilakukan dengan cara membandingkan spektra massa setiap peak dari ekstrak metanol DT dengan spektra massa pada data base pustaka wiley dan studi pustaka terhadap senyawa yang diidentifikasi. Hasil analisis dapat diidentifikasi 11 jenis senyawa dari 45 peak yang ada (Tabel 3.3). Peak pada waktu retensi 14.458 menit, merupakan peak dengan luas terbesar (17.75 %), jenis senyawanya belum dapat diidentifikasi. Peak nomor dua terluas adalah peak pada waktu retensi 19.685 menit dengan luas area 9.75 %, peak ini diidentifikasi sebagai asam linolenat. Peak ketiga paling luas adalah peak pada waktu retensi 12.681 menit (9.64 %), peak ini juga belum dapat diidentifikasi senyawanya. Hasil analisis GC-MS menunjukkan terdapat dua jenis tokoferol (vitamin E) dalam ekstrak metanol DT. Selain itu juga diidentifikasi dua jenis asam lemak.
Waktu Retensi (menit)
Gambar 3.2 Kromatogram GC-MS ekstrak metanol daun torbangun (1 s/d 11, senyawa yang berhasil diidentifikasi)
Tabel 3.3 Senyawa hasil analisis GC-MS ekstrak metanol daun torbangun yang berhasil diidentifikasi No Waktu Retensi (Menit) Peak Area (%) Rumus Molekul Berat Molekul Senyawa 1 2.833 4.26 C 2H4O2 60 asam asetat 2 7.292 0.22 C8H10 106 p-xilene 3 9.576 1.68 C10H140 150 chrysanthenone 4 11.117 1.74 C 7H8O2 124 mequinol 5 17.541 1.82 C20H40O 296 phytol 6 18.489 4.37 C16H32O2 256 asam palmitat 7 19.292 3.28 C 18H32O 264 9,12,15-octadecatrien-1-ol 8 19.685 9.75 C19H32O2 292 asam linolenat 9 25.179 0.38 C23H48 324 11-n-decyltetracosane 10 26.466 0.26 C 2H46O2 402 delta-tokoferol 11 29.938 0.82 C31H52O3 342 α-tokoferol asetat 2 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11 R esp o n Dete k to r
32
Pembahasan
Uji komponen bioaktif secara kualitatif memberikan gambaran golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak DT. Kandungan komponen bioaktif pada ekstrak DT dalam penelitian ini sama dengan kandungan bioaktif ekstrak metanol hasil penelitian Pillai et al. (2011), kecuali untuk kandungan alkaloid. Pada penelitian ini tidak ditemukan komponen alkaloid, tetapi hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian El-Hawary et al. (2012b) yang menyatakan bahwa daun, batang dan akar tanaman torbangun tidak mengandung alkaloid dan Asiimwe et al. (2014) yang menyatakan ekstrak air DT tidak mengandung alkaloid. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komponen flavonoid, tanin, steroid, saponin dan triterpenoid memiliki berbagai aktifitas biologi. Flavonoid dan tanin telah dikenal sebagai komponen yang bertanggung jawab sebagai antioksidan pada berbagai macam tanaman (Zhao et al. 2011). Komponen triterpenoid merupakan salah satu senyawa yang bertanggung jawab sebagai antioksidan pada tanaman Lamiaceae (Topcu et al. 2007). Flavonoid, tanin, saponin dan steroid banyak ditemukan pada tanaman yang bersifat galaktogogum (Gupta and Shaw 2011; Bako et al. 2013).
Komponen fenolik dan flavonoid merupakan komponen bioaktif yang banyak ditemukan pada tanaman torbangun (Soni and Singhai 2012). Pada penelitian ini, komponen fenolik dan flavonoid tertinggi dihasilkan oleh fraksi etil asetat. Hasil ini sejalan dengan penelitian Bhatt and Negi (2012) yang menyatakan komponen fenolik dalam DT lebih tinggi jika diekstrak dengan pelarut etil asetat dibandingkan dengan pelarut n-heksana, aseton dan hidroalkohol. Jumlah komponen fenolik yang diekstraksi dari suatu tanaman dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan dalam mengekstraksinya. Komponen fenolik dalam ekstrak etil asetat DT adalah asam kafeat, asam kumarat dan asam galat (Gupta et al. 2013). Komponen fenolik dalam ekstrak metanol batang torbangun adalah asam galat, asam kafeat, asam p-kumarat dan asam rosmarinat (Bhatt et al. 2013). Komponen flavonoid dalam DT adalah quersetin, myricetin, apigenin, luteolin dan kaemferol. Pada DT jumlah luteolin> myrisetin> kaemferol> quersetin> apigenin (Andarwulan et al. 2014). Komponen fenolik dan flavonoid dalam fraksi etil asetat dari ekstrak etanol DT adalah 5,4’- dihidroksi-3,7-dimetoksi flavon (3-metoksi genkwanin), 5,4’-dihidroksi-6,7- dimetoksi flavon (crisimaritin), asam p-kumarat, asam kafeat, 3,5,7,3’,4’ pentahidroksi flavon (taxifolin), asam rosmarinat, apigenin dan 5-O-metil-luteolin (El-Hawary et al. 2012b). Komponen fenolik dan flavonoid telah diketahui sebagai komponen metabolit sekunder tanaman yang memiliki berbagai macam aktifitas biologi seperti antioksidan, antiinflamasi, antikanker, antidiabetes dan sebagainya.
Kandungan komponen fenolik tertinggi kedua pada penelitian ini dihasilkan oleh fraksi air. Komponen kimia dalam ekstrak air DT adalah linalool (50.3 %), nerol asetat (11.6 %), geranil asetat (11.7 %) dan karvakrol (14.34 %) (Asiimwe et al. 2014). Sedangkan menurut Chiu et al. (2012) komponen utama ekstrak air DT adalah karvakrol, dimana kandungan karvakrol dalam ekstrak air DT adalah 0.53 mg/g ekstrak.
Kandungan fenolik dan flavonoid yang dihasilkan dalam penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan kandungan fenolik dan flavonoid ekstrak etanol DT hasil penelitian Wadekar et al. (2010) yang masing-masing adalah 216
mg AGE /g ekstrak dan 35 mg QE /g ekstrak. Perbedaan komponen fenolik dan flavonoid ini disebabkan oleh perbedaan tempat tumbuh torbangun dan metode ekstraksi yang dilakukan. Pada penelitian ini ekstraksi dilakukan dengan cara sonikasi menggunakan pelarut metanol 80 %. Kandungan fenolik dari kacang polong lebih tinggi jika diekstrak menggunakan metanol 80 % dibandingkan dengan etanol 80 % (Chavan et al. 2013). Komponen fenolik dalam ekstrak daun
Phlomidoschema parviflorum lebih tinggi jika diekstrak dengan metode sonikasi dibandingkan dengan maserasi (Majd et al. 2014).
Komponen volatil dalam ekstrak metanol DT dianalisis menggunakan Py- GC-MS. Pyrolisis adalah salah satu teknik penyiapan sampel, untuk sampel yang tidak bisa langsung disuntikkan kedalam GC-MS. Sampel dipanaskan secara langsung, sehingga pecah menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Molekul yang lebih kecil ini kemudian dianalisa dengan GC-MS. Komponen yang dapat diidentifikasi oleh Py-GC-MS antara lain senyawa alifatik, asam lemak, sterol, karbohidrat, lignin, senyawa aromatik, polisiklik aromatik hidrokarbon, dan senyawa yang mengandung unsur N (Mehrabanian 2013). Penggunaan Py-GC- MS untuk produk herbal masih terbatas, tetapi berpotensi dikembangkan (Oliveira
et al. 2008). Keuntungan dari Py-GC-MS ini adalah efisien dan lebih mudah dalam proses pengerjaan dan dapat mengidentifikasi komponen non volatil.
Hasil analisa Py-GC-MS menunjukkan senyawa phytol, asam palmitat, asam linolenat, 9,12,15-octadecatrien-1-ol, dan α-tokoferol yang ditemukan dalam ekstrak metanol DT pada penelitian ini, juga ditemukan pada komponen volatil ekstrak etanol DT hasil penelitian Uma et al. (2011). Komponen utama yang ditemukan pada ekstrak etanol tersebut adalah adalah 3-metil-4- isopropil fenol (37.7 %), sedangkan pada penelitian ini belum teridentifikasi senyawa yang paling banyak dalam ekstrak metanol DT. Senyawa chryshantenone ditemukan pada daun P. glandulosus. Senyawa phytol adalah komponen utama pada ekstrak etanol P. barbatus dan Rosmarinus officinalis (Lamiaceae) yang dianalisa dengan GC-MS (Araujo et al. 2014). Phytol diketahui dapat berfungsi sebagai antioksidan dan antinosepsitif (Santos et al. 2013).
Hasil analisis ditemukan asam lemak asam palmitat dan asam linolenat dalam ekstrak metanol DT. Asam lemak linolenat termasuk ke dalam asam lemak essensial yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh. Vitamin E yang ditemukan dalam ekstrak DT adalah delta tokoferol dan α-tokoferol asetat. Jumlah vitamin E dalam DT adalah 2.93 µg/ml, jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan di dalam batang dan akar tanaman torbangun yang masing-masing adalah 1.26 dan 0.33 µg/ml (El-Hawary et al. 2012b).
Pada penelitian ini tidak teridentifikasi senyawa karvakrol dan timol yang banyak ditemukan di dalam minyak atsiri DT. Perbedaan komponen volatil dalam ekstrak metanol DT yang dihasilkan di duga karena perbedaan proses ekstraksi DT yang dilakukan, cara budidaya, iklim dan tempat tumbuh tanaman torbangun. Iklim pada saat pertumbuhan akan mempengaruhi kandungan minyak atsiri dan komposisi kimia dari tanaman torbangun. Konsentrasi karvakarol minyak atsiri DT yang ditanam pada musim dingin dan gugur lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditanam pada musim panas dan semi (Khalid and El- Gohary 2014).
34
Simpulan
Ekstrak metanol DT mengandung komponen flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Setelah difraksinasi komponen flavonoid dan tanin paling banyak terdapat pada fraksi etil asetat dan air, komponen steroid pada fraksi n-heksana, sedangkan komponen saponin pada fraksi air. Kandungan total fenol ekstrak DT berkisar antara 44.97–429.81 mg AGE/g ekstrak, sedangkan kandungan flavonoid berkisar antara 48.82–89.85 mg QE/g ekstrak. Fraksi etil asetat memiliki komponen fenolik dan flavonoid tertinggi dibandingkan fraksi lainnya. Analisis ekstrak metanol DT dengan Py-GC-MS berhasil diidentiifikasi 11 senyawa, dimana teridentifikasi 2 jenis asam lemak dan dua jenis vitamin E (tokoferol).