BAB II LANDASAN TEOR
5. Karakteristik konselor sebaya
Dalam hal pemilihan calon konselor sebaya, Tindall dan Gray menyatakan bahwa keefektifan program layanan konseling sebaya tergantung pada proses pemilihan calon konselor sebaya. Dalam proses pemilihan calon konselor sebaya harus memperhatikan kriteria khusus diantaranya :(1) kualitas kondisi humanistik seperti karakteristik hangat; (2) memiliki minat pada kegiatan layanan bantuan; (3) dapat diterima orang lain; (4) toleran terhadap perbedaan system nilai; dan(5) energik.40
Selain Tindall dan Gray, Suwarjo juga memandang bahwa calon konselor sebaya memiliki kriteria berikut : secara sukarela bersedia membantu orang lain,
39
Hunainah. Bimbingan Teknis Implementasi Model Layanan konseling sebaya. (Rizki Pres: Serang. 2012) h. 8
40
memiliki emosi yang stabil, dan memiliki prestasi belajar yang cukup baik atau minimal rerata, serta mampu menjaga rahasia, merupakan kriteria lain yang perlu dijadikan dasar pemilihan calon konselor sebaya.41
Selain karakteristik, Lalu Abdurrachman Wahid mengatakan bahwa syarat menjadi konselor sebaya adalah sebagai berikut: (1) berpengalaman sebagai pendidik sebaya (tidak mutlak); (2) memiliki minat, kemauan, dan perhatian untuk membantu klien; (3) terbuka untuk pendapat orang lain; (4) menghargai dan menghormati klien; (5) peka terhadap perasaan orang dan mampu berempati; (6) dapat dipercaya dan mampu memegang rahasia; (7) pendidikan minimal setingkat SLTA (lebih diutamakan).42
Setelah pemilihan calon konselor sebaya berdasarkan syarat dan karakteristik tersebut,peserta didik calon konselor sebaya akan mendapatkan pelatihan dasar, untuk memiliki keterampilan-keterampilan pokok. Agar terciptanya layanan konseling sebaya yang baik, para konselor sebaya non profesional harus memiliki keterampilan-keterampilan pokok. Ivey menjelaskan, keterampilan-keterampilan pokok tersebut ialah:
a. attending yaitu perilaku yang secara langsung berhubungan dengan respek,
yang ditunjukan ketika konselor memberikan perhatian penuh pada konseli, melalui komunikasi verbal maupun non verbal, sebagai komitmen untuk fokus pada konseli. Konselor menjadi pendengar aktif yang akan berpengaruh pada efektivitas bantuan. Termasuk pada komunikasi verbal dan non verbal adalah Empati;
b. merangkum, yaitu menyimpulkan berbagai pernyataan konseli menjadi satu pernyataan. Ini berpengaruh pada kesadaran untuk mencari solusi masalah;
41
Suwarjo. Op.Cit. h. 12
42
c. bertanya, yaitu proses mencari apa yang ada di balik diskusi, dan seringkali berkaitan dengan kenyataan yang dihadapi konseli. Pertanyaan yang efektif dari konselor adalah yang tepat, bersifat mendalam untuk mengidentifikasi, untuk memperjelas masalah, dan untuk mempertimbangkan alternatif;
d. keaslian adalah mengkomunikasikan secara jujur perasaan sebagai cara meningkatkan hubungan dengan dua atau lebih individu;
e. asertif, termasuk kemampuan untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan secara jujur, yang ditunjukkan dengan cara berterus terang, dan respek pada orang lain;
f. konfrontasi adalah komunikasi yang ditandai dengan ketidak sesuaian/ketidak cocokan perilaku seseorang dengan yang lain;
g. pemecahan masalah adalah proses perubahan seseorang dari fase mengeksplorasi satu masalah, memahami sebab-sebab masalah, dan mengevaluasi tingkah laku yang mempengaruhi penyelesaian masalah itu.43 Dalam pelatihan konselor sebaya, para professional dalam hal ini guru pembimbing bertanggung jawab untuk memberikan pelatihan kepada para peserta didik dengan baik, penjelasan tentang standar etik, dan suport atau dukungan pada orang yang dilatih dan dapat berkontribusi pada tersedianya tenaga yang potensial. Dalam penelitian ini, layanan layanan konseling sebaya diharapkan dapat meningkatkan resiliensi peserta didik di sekolah SMA 12 Bandar Lampung.
B. Resiliensi
1. Definisi Resiliensi
Secara bahasa, resiliensi merupakan istilah yang berasal dari bahasa inggris dari kata resilience yang artinya daya pegas, daya kenyal atau kegembiraan. Istilah resiliensi diformulasikan pertama kali oleh Block dngan namaego-
resillience yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan
43
kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal.44
Menurtu Rinaldi resiliensi adalah keberhasilan menyesuaikan diri terhadap tekanan yang terjadi. Penyesuaian diri menggambarkan kapasitas untuk membangun hasil positif dalam peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Penyesuaian diri adalah mem-bangun daya tahan dan mempertahankan batas antara tingkat emosi positif dan negatif yang menggambarkan kekuatan yang mendasari individu dalam kelen-turan menyesuaikan diri.45
Lebih lanjut menurut Cefai mengaju pada luthar menyebutkan definisi resiliensi adalah kompetensi dan keberhasilan, meskipun menghadai kesulitan yang berkepanjangan dan merugikan. Schoon berpendapat bahwa resiliensi umumnya tidak langsung diukur, tetapi diidentifikasi dengan berdasarkan pada dua pertimbangan mendasar: (1) ketika seseorang dalam kondisi baik; dan (2) pada saat sekarang, ketika seseorang belum pernah menghadapi kejadian yang berisiko secara signifikan atau adany kesulitan yang harus diatasi.46
Hamid patilima juga memberi definisi mengenai resiliensi, yaitu sebagai proses pendampingan oleh pendidik untuk mempersiapkan anak usia dini agar
44
Desmita. Op.Cit. h. 3
45 Rinaldi. Resiliensi Pada Masyarakat Kota Padang Ditinjau Dari Jenis Kelamin. Jurnal Psikologi Volume 3, No. 2, Juni 2010 h. 100
46
mampu menghadapi kerentanan dan tantangan, terhindar dari kemunduran, sehinga sukses dalam segala bidang kehidupan di masa kini dan masa depan.47
Resiliensi secara umum Reivich dan Shatte mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan beradaptasi terhadap situasi-situasi yang sulit dalam kehidupan.48 Individu dianggap sebagai seseorang yang memiliki resiliensi jika mereka mampu untuk secara cepat kembali kepada kondisi sebelum trauma dan terlihat kebal dari berbagai peristiwa-peristiwa kehidupan yang negatif. Di dalam penelitian ini, kami berasumsi bahwa tingkat fleksibilitas yang membuat peserta didik berhasil dalam akademis walaupun mereka berada pada kondisi yang sulit, sehingga ia mampu untuk bertahan, bangkit dan menyesuaikan dengan kondisi sulit, ini yang disebut dengan resiliensi.
Dari beberapa defenisi tersebut dapat dipahami bahwa resiliensi (daya lentur, ketahanan) adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak- dampak yang merugikan dari kondisi yang tidak menyenangkan, atau mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Bagi mereka yang resilien, resiliensi membuat hidupnya menjadi lebih kuat. Artinya, resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan, serta dapat
47
Ibid. h. 54
48
mengembangkan kompetensi sosial, dan akademis sekalipun berada di tengah kondisi stress hebat dalam kehidupan.
2. Faktor-Faktor Resiliensi
a. Sumber Resiliensi
Menurut Grotberg ada beberapa sumber dari resiliensi adalah sebagai berikut49 :
1) I Have (sumber dukungan eksternal)
I Have merupakan dukungan dari lingkungan di sekitar individu. Dukungan
ini berupa hubungan yang baik dengan keluarga, lingkungan sekolah yang menyenangkan, ataupun hubungan dengan orang lain diluar keluarga. Melalui I Have, seseorang merasa memiliki hubungan yang penuh kepercayaan. Hubungan seperti ini diperoleh dari orang tua, anggota keluarga lain, guru, dan teman-teman yang mencintai dan menerima diri anak tersebut.
Individu yang resilien juga memperoleh dukungan untuk mandiri dan dapat mengambil keputusan berdasarkan pemikiran serta inisiatifnya sendiri. Dukungan yang diberikan oleh orangtua ataupun anggota keluarga lainnya akan sangat membantu dalam membentuk sikap mandiri dalam diri seseorang. Sehingga hal ini akan membantu mereka untuk mengembangkan rasa percaya diri dalam diri anak.
2) I Am (kemampuan individu)
I am, merupakan kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang, kekuatan
tersebut meliputi perasaan, tingkah laku, dan kepercayaan yang ada dalam dirinya.
Individu yang resilien merasa bahwa mereka mempunyai karakteristik yang menarik dan penyayang sessama. Hal tersebut ditandai dengan usaha mereka
49Myta Devi Nurdian Dan Zainul Anwar. Konseling Kelompok Untuk
Meningkatkan Resiliensi Pada Remaja Penyandang Cacat Fisik (Difable). Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Vol. 02, No.01, 2014. h. 39
untuk selalu dicintai dan mencintai orang lain. Mereka juga sensitif terhadap perasaan orang lain dan mengerti yang diharapkan orang lain terhadap dirinya. Mereka juga merasa bahwa mereka memiliki empati dan sikap kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Mereka bangga terhadap apa yang telah mereka capai. Ketika merekamendapatkan masalah atau kesulitan, rasa percaya dan harga diri yang tinggi akan membantu mereka dalam mengatasi kesulitan tersebut. Mereka merasa mandiri dan cukup bertanggungjawab. Mereka dapat melakukan banyak hal dengan kemampuan mereka sendiri.
3) I Can (kemampuan sosial dan interpersonal)
I Can merupakan kemampuan anak untuk melakukan hubungan sosial dan
interpersonal. Mereka dapat belajar kemampuan ini melalui interaksinya dengan semua orang yang ada disekitar mereka. Individu tersebut juga memiliki kemampuan untuk berkomunikasi serta memecahkan masalah dengan baik. Mereka mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dengan baik.
Seperti yang dijelaskan dijelaskan dalam Al-Qur‟an suratAr-Rum ayat 22:
Artinya:Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
mengetahui.50
50
Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia tidaklah lepas dari interaksi sosial meski memiliki perbedaan setiap individunya. Intetaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu yang saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan antara individu yang satu individu lainnya.
Kemampuan untuk mengendalikan perasaan dan dorongan dalam hati juga dimiliki oleh individu yang resilien. Mereka mampu menyadari perasaan mereka dan mengekspresikannya dalam kata-kata dan perilaku yang tidak mengancam perasaan dan hak orang lain. Mereka juga dapat memahami karakteristik dirinya sendiri dan orang lain. Ini membantu individu untuk mengetahui seberapa banyak waktu yang diperlukan untuk berkomunikasi, dan seberapa banyak ia dapat menangani berbagai macam situasi. Selain itu, individu yang resilien juga dapat menemukan seseorang untuk meminta bantuan, untuk menceritakan perasaan dan masalah, serta mencari cara untuk menyelesaikan masalah pribadi dan interpersonal.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Resiliensi
Dalam membangun resiliensi, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seperti individu, keluarga, lingkungan, dan lembaga. Faktor-faktor ini saling mempengaruhi satu sama lain.51
1) Karakteristik individu
Schoon mendefinisikan bahwa individu yang mampu membangun resiliensi adalah individu yang mengenal kompetensinya, individu yang mempu
51
merumuskan ambisi, aspirasi, rencana hidup yang lebih terarah dari sekarang untuk masa depan. Sifat individu yang meningkatkan resiliensi adalah individu yang memiliki hubungan baik dengan sesame, humoris, kemampuan menilai orang, independen, mampu mengontrol diri, optimis, fleksibel, mempunyai keingintahuan yang tinggi, kepercayaan diri, tekun, dan kreatif.
2) Lingkungan sekitar
Menurut Schoon, lingkungan dapat diaggap sebagai tempat lahirnya resiko yang membentuk kehidupan anak, keluarga, dan masyarakat. Menurut pendekatan ini, resiliensi didasarkan pada transaksi yang kompleks dan langsung antara individu dan konteks.
3) Kelembagaan
Lingkungan sekolah secara umum adalah pembentuk yang kuat dalam perkembangan potensi individu. Pendidik dan sekolah dapat memainkan peran khusus dengan memberikan dukungan emosional dalam berbagai cara, termasuk memahami perasaan peserta didik yang mungkin sedan diliputi rasa marah, takut, bersalah, dan mendorong mereka untuk mengekspresikan diri, juga memahami masalah konsentrasi mereka.52
52
3. Karakteristik Resiliensi
Seperti yang telah dikatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan bangkit dari situasi sulit dan tekanan, tentu terdapat kemampuan dasar yang dimiliki individu yang resilien. Revich dan Shatte memaparkan tujuh kemampuan yang membentuk resiliensi, yaitu sebagai berikut53 :
a. Emotion Regulation
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan. Reivich dan Shatte mengungkapkan dua buah keterampilan yang dapat memudahkan individu untuk melakukan regulasi emosi, yaitu yaitu tenang (calming) dan fokus (focusing). Dua buah keterampilan ini akan membantu individu untuk mengontrol emosi yang tidak terkendali, menjaga fokus pikiran individu ketika banyak hal-hal yang mengganggu, serta mengurangi stres yang dialami oleh individu.
b. Impulse Control
Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri. Individu yang memiliki kemampuan pengendalian impuls yang rendah, cepat mengalami perubahan emosi yang pada akhirnya mengendalikan pikiran dan perilaku mereka.
Individu dapat mengendalikan impulsivitas dengan mencegah terjadinya kesalahan pemikiran, sehingga dapat memberikan respon yang tepat pada permasalahan yang ada. Menurut Reivich dan Shatte, pencegahan dapat dilakukan dengan dengan menguji keyakinan individu dan mengevaluasi kebermanfaatan terhadap pemecahan masalah. Kemampuan individu untuk mengendalikan impuls sangat terkait dengan kemampuan regulasi emosi yang ia miliki.
c. Optimisme
Optimisme yang dimaksud Reivich dan Shatte adalah optimisme yang realistis (realistic optimism), yaitu sebuah kepercayaan akan terwujudnya
53 Riezky Vieramadhani Poetry Dkk. Resiliensi PadaMahasiswa Baru
masa depan yang lebih baik dengan diiringi segala usaha untuk mewujudkan hal tersebut. Berbeda dengan unrealistic optimism dimana kepercayaan akan masa depan yang cerah tidak dibarengi dengan usaha yang signifikan untuk mewujudkannya. Perpaduan antara optimisme yang realistis dan self-efficacy adalah kunci resiliensi dan kesuksesan.
d. Analisis Penyebab Masalah
Causal analysis merujuk pada kemampuan individu untuk
mengidentifikasikan secara akurat penyebab dari permasalahan yang mereka hadapi. Individu yang tidak mampu mengidentifikasikan penyebab dari permasalahan yang mereka hadapi secara tepat, akan terus menerus berbuat kesalahan yang sama.
e. Empati
Empati sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif. Menurut Reivich dan Shatte ketidakmampuan berempati berpotensi menimbulkan kesulitan dalam hubungan.
f. Efikasi Diri
Self-efficacy adalah hasil dari pemecahan masalah yang berhasil. Self-
efficacy merepresentasikan sebuah keyakinan bahwa kita mampu
memecahkan masalah yang kita alami dan mencapai kesuksesan. Self-
efficacy merupakan hal yang sangat penting untuk mencapi resiliensi.
g. Reaching out
Banyak individu yang tidak mampu melakukan reaching out, hal ini dikarenakan mereka telah diajarkan sejak kecil untuk sedapat mungkin menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan. Mereka adalah individu- individu yang lebih memilih memiliki kehidupan standar dibandingkan harus meraih kesuksesan namun harus berhadapan dengan resiko kegagalan hidup dan hinaan masyarakat. Hal ini menunjukkan kecenderungan individu untuk berlebih-lebihan (overestimate) dalam memandang kemungkinan hal-hal buruk yang dapat terjadi di masa mendatang.54
Dapat disimpulkan bahwa individu yang resilien memiliki karakteristik yaitu individu yang optimis, mampu beradaptasi dengan baik, memiliki motivasi diri,
54
memiliki kompetensi personal, memiliki internal locus of control, self-esteem dan rasa percaya diri yang tinggi, mandiri, sosiabilitas, serta mampu berempati.
4. Fungsi Resiliensi
Rutter mengemukakan ada empat fungsi resliensi, yaitu :
a. untuk mengurangi resiko mengalami konsekuensi-konsekuensi negatif setelah adanya kejadian hidup yang menekan;
b. mengurangi kemungkinan munculnya rantai reaksi yang negatif setalah peristiwa hidup yang menekan;
c. membantu menjaga harga diri dan rasa mampu diri; d. meningkatkan kesempatan untuk berkembang.55
Resiliensi bukanlah karakteristik kepribadian atau trait, tetapi lebih sebagai proses dinamis dengan disertainya sejumlah faktor yang membantu mengurangi resiko individu dalam menghadapi tekanan hidup.
Sesuai dengan kemampuannya, konselor sebaya diharapkan mampu menjadi sahabat yang baik, yaitu minimal mampu menjadi pendengar aktif bagi teman sebayanya yang membutuhkan perhatian. Pendengar aktif adalah pendengar yang dengan penuh perhatian memperhatikan isi ungkapan hati teman yang sedang curhat, mampu menangkap ungkapan pikiran dan emosi di balik ekspresi verbal maupun non verbal, mampu mengekspresikan pemahaman dan penerimaan secara tulus dan empatik kepada teman sebayanya, serta mampu memantulkan kembali ekspresi emosi dan pikiran konselor sebaya kepada konseli. Jika memungkinkan
konselor sebaya juga dapat membantu pemecahan masalah sederhana. Meskipun dilatihkan dalam pelatihan, kemampuan ini tidak begitu dituntutkan.56 Untuk pemecahan masalah dimana konselor sebaya merasa kurang kompeten, dia diharapkan merujuk konseli kepada konselor ahli. Tentu saja hal tersebut dilakukan atas persetujuan konseli. Konselor sebaya dapat berperan sebagai agen yang mendorong konseli untuk bersedia secara langsung memperoleh layanan dari konselor ahli. Jika konseli sebaya tetap tidak menghendaki bertemu langsung dengan konselor, konselor sebaya dapat berkonsultasi kepada konselor ahli tentang masalah yang dihadapi konseli tanpa menyebutkan identitas konseli.
Melalui interaksi dan komunikasi interpersonal yang terjadi antara konselor teman sebaya dengan konseli teman sebaya, baik melalui interaksi-interaksi spontan tidak terstruktur, maupun melalui interaksi-interaksi terprogram yang dirancang oleh konselor ahli, keterampilan-keterampilan resiliensi dapat ditularkan. Melalui proses modeling misalnya, konseli teman sebaya dapat meniru dan menginternalisasi sikap, keterampilan, dan berbagai strategi tertentu yang tampak dari konselor sebaya pada saat-saat menghadapi masalah atau situasi- situasi adversif.57 Konselor sebaya juga dapat secara langsung mengajarkan keterampilan-keterampilan resiliensi kepada teman sebaya pada saat mereka curhat tentang suatu masalah. Melalui wahana dan cara-cara yang demikian, resiliensi teman-teman sebaya akan meningkat.
56
Suwarjo. Op.Cit. h. 13
57
Winfield mengingatkan bahwa resiliensi tidak cukup hanya semata-mata diajarkan, tetapi lebih dipelajari melalui interaksi sosial yang positif.58 Oleh karena itu semua komponen yang berada di lingkungan remaja hendaknya memberikan pelayanan secara hangat, respek, penuh perhatian dan penerimaan, serta empatik. Dengan cara demikian remaja akan memodeling tingkah laku positif orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang pada akhirnya akan meningkatkan resiliensi mereka. Interaksi personal yang positif di antara remaja (antar teman sebaya) ditambah dengan dukungan positif dari keluarga dan sekolah, serta lingkungan sosialnya diharapkan dapat meningkatkan resiliensi remaja. Resiliensi individu tergambarkan dari tujuh faktor resiliensi yaitu: pengendalian emosi, pengendalian dorongan, optimisme, kemampuan melakukan analisis penyebab, empati, efikasi diri, serta kemampuan membuka diri. Kemampuan resiliensi adalah kemampuan yang lebih bersifat dipelajari, bukan sekedar diturunkan. Diharapkan melalui konseling teman sebaya, resiliensi remaja dapat ditingkatkan.