Karakteristik kualitatif merpati tinggi lokal adalah suatu ukuran ciri khas dari merpati tinggi lokal yang menyangkut perbedaan dari bentuk tubuh, warna bulu, bentuk kepala, bentuk paruh, bentuk mata, bentuk hidung, bentuk leher, bentuk sayap, bentuk ekor, yang mencakup nilai ekstrinsik keseluruhan dari merpati tinggi lokal (Yahya, 2004).
1. Bentuk kepala
Burung merpati tinggi lokal memiliki bentuk kepala besar dengan batok kepala yang lebih tinggi dari pada batok kepala belakang yang memiliki derajat kemiringan antara pangkal hidung dengan atas batok kepala sebesar 45–60 derajat (Sutejo, 1989).
Menurut Sutejo (1989), merpati tinggi lokal mampu memiliki derajat kemiringan hingga 90 derajat, namun bentuk kepala seperti ini jarang dimiliki oleh pecinta merpati tinggi lokal karena kontrol merpati tinggi lokal kurang baik saat akan melalukan pendaratan dari ketinggian di atas permukaan udara. Merpati lokal yang memiliki kemiringan bentuk kepala 45–60 drajat dapat mendarat dengan baik saat merpati akan turun dari ketinggian, selain itu merpati dengan bentuk
11
kepala seperti ini mempunyai tingkat kecerdasan untuk mengingat yang lebih baik (Grizmek, 1972).
Menurut Yonatan (2003), terdapat jenis–jenis bentuk kepala merpati tinggi lokal diantaranya :
a. bentuk kepala jenong ; b. bentuk kepala perkutut ; c. bentuk kepala kotak ; d. bentuk kepala bulat .
Gambar 1. Merpati kepala jenong Gambar 2. Merpati kepala perkutut Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
Gambar 3. Merpati kepala kotak Gambar 4. Merpati kepala bulat Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
12
Terdapat perbedaan karakteristik bentuk kepala pada merpati jantan dan betina tinggi lokal yaitu pada merpati jantan permukaan kepalanya terlihat kasar dan terlihat lebih maskulin sedangkan merpati tinggi betina permukaan kepalanya terlihat rata dan halus (Tanudimandja, 1978).
2. Warna iris mata
Mata adalah senjata utama bagi merpati tinggi lokal untuk menentukan
penglihatan jarak jauh maupun dekat. Ketajaman penglihatan merpati sangat di pengaruhi oleh warna iris mata yang nantinya akan memengaruhi pada kecepatan terbang (Noor, 2000).
Iris adalah diafragma muscular yang terletak di depan lensa yang berfungsi mengontrol jumlah cahaya yang masuk mata (Wikipedia, 2013).
Pupil terletak di tengah iris mata yang terbuka dan berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya kedalam rongga mata. Bentuk pupil yang sempurrna akan memengaruhi kemampuan pupil membesar dan mengecil untuk mengukur jarak dan melihat tujuan dari pendaratan terbang merpati tinggi (Sutejo, 1998).
Menurut Sutejo (1998), burung merpati tinggi lokal memiliki berbagai macam warna mata diantaranya berwarna merah, berwarna kuning berpaduan dengan oren, berwarna putih berpaduan dengan merah, berwarna hitam, berwarna hijau berpaduan dengan merah dan berwarna selewah (mata kiri dan mata kanan berbeda warna). Burung merpati tinggi lokal mempunyai cincin lingkar mata yang menempel pada kedua bola mata dengan warna kehijauan (Rasyaf, 1982).
13
Gambar 5. Merpati iris mata hitam Gambar 6. Merpati iris mata kuning Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
Gambar 7. Merpati iris mata merah Gambar 8. Merpati iris mata putih Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
14
Gambar 9. Merpati iris mata hijau Gambar 10. Merpati iris mata selewah Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
3. Bentuk paruh
Berbagai bentuk paruh merpati tinggi lokal mempunyai kelebihan dan kelemahan, Noor (1991) menyatakan paruh berperan untuk menentukan jalan pulang merpati. Menurut Yonathan (2003), ada beberapa macam jenis paruh pada merpati yaitu sebagai berikut :
a. Paruh rambon
Paruh merpati tinggi yang berukuran besar, panjang, dan menggembung. Paruh tersebut dapat dikatakan paruh jenis rambon (turunan dari merpati pos), paruh yang berbentuk seperti ini mempunyai warna kapur pekat dan pangkal paruh bagian bawah menjorok kebagian belakang.
b. Paruhtrypes
Paruh merpati tinggi yang berukuran besar dan pendek. Paruh tersebut dapat dikatakan paruh jenistrypes, hidung merpati jenis ini memiliki warna kapur yang
15
pekat akan tetapi terlihat garis–garis samar sejajar berwarna kemerah–merahan diseluruh bagian hidungnya, dan pangkal hidung bagian bawah menjorok
kebelakang. c. Paruh runcing
Paruh merpati tinggi yang berukuran kecil, runcing dan lancip. Paruh tersebut dapat dikatakan sebagai jenis paruh runcing, paruh berbentuk ini bila mempunyai warna kapur pekat dan pangkal hidung bagian bawah menjorok kebelakang. Apabila pada pangkal hidung berbentuk lurus, burung merpati ini hanya dapat melewati jarak terbang yang pendek. Dari ketiga jenis–jenis paruh merpati tinggi lokal dapat dikatakan bahwa paruh yang berukuran kecil, runcing dan lancip merupakan jenis paruh unggulan yang baik.
Gambar 11. Paruh jenis rambon Gambar 12. Paruh jenis trypes Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
16
Gambar 13. Paruh jenis runcing Sumber : Koleksi pribadi, 2015
Terdapat perbedaan karakteristik bentuk paruh pada merpati jantan dan betina tinggi lokal yaitu pada merpati jantan permukaan paruh lebih terlihat kering dan lancip sedangkan paruh pada merpati tinggi betina lebih tipis dan panjang serta ujung paruh lebih melengkung kebawah (Sutejo, 1998).
4. Bentuk sayap merpati tinggi lokal
Sayap merupakan sarana gerak untuk merpati terbang (Sutejo, 1989). Menurut Elien (2001), bentuk melengkung pada sayap merpati menghasilkan permukaan atas lebih cembung dan permukaan bawah sedikit cekung atau malah sama sekali rata.
Perbedaan kecepatan angin di bawah dan di atas permukaan udara menghasilkan perbedaan pada tekanan udara. Tekanan udara pada permukaan atas lebih kecil sehingga terjadi daya dorong dari bawah permukaan ke atas permukaan sayap
17
sehingga badan merpati mengalami daya angkat melawan gravitasi bumi (Soeseno 2003).
Menurut Noor (2002), terdapat jenis–jenis sayap yang baik pada merpati lokal. a. Bahu sayap pada merpati harus kuat dan lentur (jangan kaku) hal ini
diharapkan sayap dapat bervariasi saat melakukan penerbangan.
b. Bulu sayap pada merpati tebal dan kencang tidak bergelombang dan memiliki jarak antar bulu sayap satu ke bulu sayap lainnya disertakan bulu ujung yang meruncing.
c. Tulang bulu sayap besar, kuat dan lentur pada ujung permukaan bulu hal ini dapat mempengaruhi kualitas merpati saat proses pendaratan.
Suara kepakan sayap, bila di perhatikan suara kepakan sayap merpati tentunya berbeda. Suara kepakan merpati yang sudah terbang akan terdengar lebih ringan dibandingkan dengan merpati yang sudah terbang tinggi, sedangkan sayap merpati yang jarang terbang akan terdengar lebih berat (Yonathan, 2003).
Gambar 14. Bentuk sayap merpati tinggi lokal Sumber : Koleksi pribadi, 2015
18
Terdapat perbedaan karakteristik bentuk sayap pada merpati jantan dan betina tinggi lokal yaitu pada merpati jantan permukaan sayap lebih tebal dengan bagian bulu syap yang lebih lebar dan panjang, berbeda dengan merpati tinggi betina permukaan sayap lebih tipis dan bagian bulu sayap lebih kecil hal ini
membedakan bahwa kecepatan terbang merpati jantan lebih unggul di bandingkan merpati tinggi betina.
5. Bentuk dada merpati tinggi lokal
Menurut Mosca (2000), bentuk dada merpati lokal terdapat berbagai macam bentuk yaitu berbentuk huruf V (kalau dilihat dari depan), dan yang berbentuk O, serta berbentuk elips mendatar.
Bentuk dada merpati tinggi yang berhuruf O biasanya akan turun kencang dari arah manapun, berbeda dengan merpati yang berbentuk dada huruf V biasanya kecepatan turun merpati sedikit melambat.
Gambar 15. Bentuk dada O Gambar 16. Bentuk dada V Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
19
Terdapat perbedaan karakteristik bentuk dada pada merpati jantan dan betina tinggi lokal yaitu pada merpati jantan permukaan dada lebih lebar dan bulat sedangkan merpati tinggi betina memiliki bentuk dada yang lebih pipih dan kecil. 6. Bentuk ekor
Ketebalan dan bentuk ekor merpati sangat memengaruhi ketajaman saat
melakukan pedaratan. Bulu ekor merpati mempunyai 12 helai atau lembar yang berfungsi mengatur saat merpati berjalan atau terbang saat merpati akan turun, hal ini sangat perlu diperhatikan agar merpati dapat terbang dengan jarak yang jauh (Sutejo 1998).
Menurut Cartmill (1991), bulu ekor merpati terdiri dari bulu ekor penutup bagian atas, bulu ekor utama dan bulu ekor bagian bawah. Bulu ekor mempunyai peran yang penting ketika merpati terbang, bulu ekor digunakan ketika merpati akan meluncur dan berhenti.
Ekor merpati saat mengembang digunakan untuk mengerem ketika sayapnya tidak lagi dikepakan. Ekor merpati juga dapat digunakan untuk mementukan arah terbang merpati (Ellien, 2001).
Gerak bulu ekor
a. Ekor merpati saat bekur yang mempunyai kecepatan atau bulu ekornya merapat dengan cepat biasanya dimiliki oleh merpati yang memiliki pinggang rapat, dan ini sangat memengaruhi kemampuan turun pada merpati tinggi.
b. Ekor merpati yang selalu megar atau terlihat jarak–jatrak dari bulu ekornya, akan mempunyai kemampuan turun yang kalah baik bila dibandingkan dengan tipe yang pertama (Mosca, 2000).
20
Gambar 17. Bentuk ekor merpati tinggi lokal Sumber : Koleksi pribadi, 2015
7. Warna bulu pada merpati
Merpati memiliki bulu halus yang tampak mengkilat seperti sutra, bila dipegang akan terasa licin dan halus seperti kapas. Apabila merpati dilihat sepintas bulu merpati berminyak dan apabila di siram air sulit menempel (Sutejo, 1998).
Noor (1996) menyatakan bahwa bulu burung merpati terdiri atas dasar warna hitam, coklat, dan merah. Ketiga warna tersebut akan membentuk variasi warna lain yaitu warna megan, prumpung, blantong, blorok, tritis, hitam, dan gambir (Salis, 2002).
21
Soesono (2003) menyatakan merpati pada umumnya memiliki berbagai macam warna dan sebutan bagi merpati, berikut ini nama–nama serta penjelasan mengenai warna dan sebutan pada merpati tinggi lokal.
a. Tritis
Tritis adalah sebutan untuk merpati berwarna hitam didominasi dengan warna abu–abu dan di bagian sayap terdapat warna kecoklatan yang menyerupai garis. b. Gambir
Gambir adalah sebutan untuk merpati berwarna coklat muda, bulu–bulu merpati dipenuhi dengan warna coklat muda diseluruh permukaan tubuh.
c. Megan
Megan adalah sebutan untuk merpati berwarna biru dengan didominasi warna hitam di bagian ekor dan sayap.
d. Perumpung
Perumpung adalah sebutan untuk merpati berwarna coklat tua, hampir di setiap permukaan tubuhnya di dominasii dengan warna coklat tua.
e. Blorok
Blorok adalah sebutan untuk merpati yang didominasi dengan 2 sampai 3 warna pada seluruh permukaan tubuh merpati. Warna ini dihiasi oleh warna yang tidak menyeluruh melaikan hanya campuran totol–totol dibagian tubuh merpati. f. Belantong
Blantong adalah sebutan untuk merpati berwarna putih didominasi oleh warna lainnya yaitu, megan, gambir, prumpung, atau hitam.
22
g. Lampik
Lampik adalah sebutan untuk merpati yang memiliki warna bulu sayap putih dengan didominasi warna lain yaitu, megan, perumpung, gambir, atau hitam. h. Combres
Combresadalah sebutan warna merpati yang memiliki corak putih di bagian kepala dan sekitar mata dengan didominasi warna lain seperti gambir.
Gambar 18. Warna bulu tritis Gambar 19. Warna bulu gambir Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
Gambar 20. Warna bulu prumpung Gambar 21. Warna bulu megan Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
23
Gambar 22. Warna bulu blorok Gambar 23. Warna bulu blantong Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
Gambar 24. Warna bulu lampik Gambar 25. Warna bulu comres Sumber : Koleksi pribadi, 2015 Sumber : Koleksi pribadi, 2015
24
8. Warna kulit pada merpati tinggi lokal
Menurut Yahya (2004), merpati memiliki bentuk kerangka yang berongga dengan tulang yang berbobot sangat ringan. Menurut Sutejo (1998), merpati tinggi lokal memiliki daging yang gembur dengan dibungkus kulit ari yang tipis dan bersih namun memiliki warna yang berbeda.
C. Indikator Perbedaan Karakteristik Merpati Tinggi Lokal Jantan dan