BAB II : LANDASAN TEORI
7. Karakteristik IPA
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis, tersusun secara teratur, berlaku secara umum, berupa kumpulan hasil observasi dan eksperimen. Ilmu pengetahuan alam tidak hanya sebagai kumpulan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi juga tentang cara kerja, cara berfikir dan cara memecahkan masalah.26
Salah satu metode observasi yang dilakukan dapat menggunakan media visual berupa gambar. Penggunaan gambar-gambar yang sesuai dan menarik tersebut akan
25
Dony Sugianto, dkk. Modul Virtual: Multimedia Flipbook Dasar
Teknik Digital, hlm. 102
mengurangi dominasi guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip penggunaan model Example Non Examples. Model ini juga melibatkan keaktifan dan kerjasama siswa dalam pembelajaran yaitu dengan melakukan diskusi kelompok dan menyampaikan hasil diskusinya.27
Tujuan penggunaan model pembelajaran Example Non Examples pada mata pelajaran IPA materi Ekosistem dalam penelitian yang penulis lakukan ialah agar siswa dapat menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah bentuk deskripsi singkat mengenai apa yang ada di dalam gambar yang dalam hal ini siswa dapat menganalisis gambar-gambar tersebut menjadi studi terkait dengan materi pokok ekosistem. 8. Ekosistem
a. Pengertian Ekosistem
Makhluk hidup dengan lingkungan merupakan satu kesatuan fungsional yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya disebut ekosistem. Suatu ekosistem dapat mencakup area yang luas, misalnya hutan, atau mikrokosmos (microcosm), seperti ruang di bawah
27
Ni Nyoman Purna Dewi dkk, “Model Pembelajaran Examples
Non-Examples Berbasis Lingkungan Berpengaruh Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sd Negeri Gugus Kapten Japa”, e-Journal MIMBAR PGSD Universitas Pendidikan Ganesha (Vol. 2, No. 1, 2014), hlm. 3
batang kayu yang tumbang atau kolam kecil.28 Al-Qur’an memaparkan penjelasan tentang ekosistem yang terdapat dalam surat Al-Hijr ayat 19-20:
“Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan kami Telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.” (Q.S Al-Hijr ayat 19-20)29
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT menumbuhkembangkan aneka ragam tanaman di bumi ini untuk kelangsungan hidup dan menetapkan bagi tiap-tiap tanaman itu masa pertumbuhan dan penuaian tertentu, sesuai dengan kuantitas dan kebutuhan makhluk hidup. Demikian juga Allah SWT menentukan bentuknya sesuai dengan penciptaan dan habitat alamnya. Dan Allah memberi rezki kepada mereka, bukan mereka yang memberikan rezki itu.30
28
Neil A. Campbell dan Jane B. Reece, Biologi Edisi 8 Jilid 3, terj. Damaring Tyas Wuladari, Jakarta:Erlangga, 2004, hlm. 406
29
Tim Penyusun, Al Qur’an Al Karim dan Terjemah Bahasa
Indonesia, hlm. 154
30
Ahmad Musthafa Al Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, hlm.17-22
b. Komponen Ekosistem
Suatu kawasan alam yang di dalamnya tercakup unsur-unsur hayati (organisme) dan unsur-unsur non-hayati (zat-zat tak hidup). Unsur-unsur tersebut terjadi hubungan timbal balik disebut sistem ekologi atau sering disebut ekosistem. Berdasarkan fungsinya, suatu ekosistem terdiri atas dua komponen, yaitu:
1) Komponen autotrofik (autos = sendiri; trophikos = menyediakan makanan), yaitu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri yang berupa bahan-bahan organik dari bahan-bahan anorganik dengan bantuan energi matahari atau klorofil sehingga semua organisme yang mengandung klorofil disebut organisme autrotofik.
2) Komponen heterotrofik (hetero = berbeda, trophikos = menyediakan makanan) yaitu organisme yang mampu memanfaatkan hanya bahan-bahan organik sebagai bahan makanannya dan bahan tersebut disintesis dan disediakan oleh organisme lain. Hewan, jamur, dan jasad renik (mikroorganisme) termasuk dalam kelompok ini. 31
Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang
31
Soedjiran Resosoedarmo, dkk., Pengantar Ekologi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993), hlm. 7-8
teratur, misalnya pada suatu ekosistem yang kecil, akuarium, ekosistemnya terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung dan melayang dalam air sebagai komponen hidup, sedangkan komponen tak hidupnya terdiri dari pasir, air, mineral, dan oksigen yang terlarut dalam air.32
c. Tingkat Organisasi dalam Ekosistem
Ekosistem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas, atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya sehingga terjadi antar hubungan.33 Organisasi terkecil dalam ekosistem disebut individu. Individu-individu sejenis berkumpul dan berinteraksi membentuk organisasi yang lebih besar yang disebut populasi. Populasi makhluk hidup dalam suatu lingkungan berinteraksi membentuk komunitas. Komunitas dan lingkungannya selalu berhubungan timbal balik membentuk ekosistem. Ekosistem membentuk bioma dan keseluruhan ekosistem yang ada di bumi merupakan biosfer.
32Philip Kristanto, Ekologi Industri, (Yogyakarta: Andi, 2004), hlm. 13
33Zoer’aini Djamal Irwan, Prinsip-Prinsip Ekologi dan Organisasi
Ekosistem, Komunitas, dan Lingkungan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003),
d. Hubungan Saling Ketergantungan
Saling ketergantungan antar komponen biotik ini terjadi antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lain dalam suatu ekosistem. Saling ketergantungan antar komponen biotik ini dibagi lagi menjadi saling ketergantungan antara makhluk hidup yang sejenis dan saling ketergantungan antara makhluk hidup yang tidak sejenis..34
1) Rantai Makanan
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan yang digambarkan secara skematis dalam bentuk garis lurus searah dan tidak bercabang. Semua rantai makanan mulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau. Organisme ini disebut produsen karena hanya mereka yang dapat membuat makanan dari bahan mentah anorganik. Tingkatan konsumen dalam suatu rantai makanan disebut tingkatan trofik.35 Berikut contoh rantai makanan:
34Zoer’aini Djamal Irwan, Prinsip-Prinsip Ekologi dan Organisasi
Ekosistem, Komunitas, Komunitas, dan Lingkungan, hlm. 36-37
35
John W Kimball, Biologi Jilid 5,terj. Siti Soetarmi dan Nawangsari Sugiri, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1990, hlm. 146
Gambar 2.1 Rantai Makanan36
Berdasarkan peristiwa makan dan dimakan di atas, padi berperan sebagai produsen, belalang sebagai konsumen I, katak sebagai konsumen II, dan ular sebagai konsumen puncak.
2) Jaring-jaring makanan
Proses makan dan dimakan (rantai makanan) saling berkaitan membentuk sebuah jaring-jaring makanan.37
Gambar 2.2 Jaring-Jaring Makanan38
36
Biyan Tibyan, Makhluk Hidup dan Lingkungannya,
https://byantibyan.wordpress.com/2013/02/02/mahkluk-hidup-dan-lingkungannya/html, (Diakses Semarang, 03 April 2015 19:40 WIB)
37
Soedjiran Resosoedarmo, dkk., Pengantar Ekologi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), hlm. 26
38
Nasria Ika Nitasari, Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan, https://nasriaika1125.wordpress.com/2013/06/18/rantai-makanan-dan-jaring-jaring-makanan/html. (Diakses Semarang 03 April 2015 20:03 WIB)
Gambar tersebut menunjukkan bahwa yang bertindak sebagai produsen adalah bunga sepatu dan sawi. Organisme yang menduduki tingkat tropik kedua disebut konsumen primer (konsumen I). Konsumen I biasanya diduduki oleh hewan herbivora. Terlihat pada gambar bahwa yang berperan sebagai konsumen I (Herbivora) adalah ulat, belalang, dan tikus. Organisme yang menduduki tingkat tropik ketiga disebut konsumen sekunder (Konsumen II), diduduki oleh hewan pemakan daging (karnivora). Terlihat pada gambar bahwa yang bertindak sebagai konsumen II (karnivora) adalah burung pipit dan katak. Organisme yang menduduki tingkat tropik tertinggi disebut konsumen puncak. Terlihat pada gambar bahwa burung elang bertindak sebagai konsumen puncak (karnivora).
3) Piramida Makanan
Piramida makanan adalah suatu piramida yang menggambarkan perbandingan komposisi jumlah biomassa dan energi dari produsen sampai konsumen puncak dalam suatu ekosistem. Komposisi biomasa terbesar terdapat pada produsen yang menempati dasar piramida. Berikut contoh dari piramida makanan:
Gambar 2.3 Piramida Makanan39
Piramida makanan dapat menggambarkan struktur trofik dan fungsi trofik, berupa: a) piramid makanan individu, b) piramid biomassa dan c) piramid energi. e. Pola interaksi organisme
1) Simbiosis
Simbiosis berasal dari bahasa Yunani, syn yang berarti ”bersama” dan bios yang berarti ”hidup” dengan demikian simbiosis diartikan cara hidup bersama dari organisme-organisme berbeda dalam hubungan yang erat. Masing-masing makhluk hidup yang melakukan simbiosis disebut simbion. Berdasarkan sifatnya simbiosis dibedakan menjadi tiga macam, yaitu simbiosis mutualisme, simbiosis komensalisme, dan simbiosis parasitisme.
39
Anne Ahira, Keseimbangan Piramida Makanan dalam Ekosistem, http://www.anneahira.com/piramida-makanan-dalam-ekosistem.html, (Diakses Semarang 03 April 2015 20:22 WIB)
a) Simbiosis Mutualisme
Simbiosis mutualisme adalah cara hidup bersama yang saling menguntungkan antara dua individu makhluk hidup yang berlainan spesies. Contoh: jamur dengan ganggang, lebah atau kupu-kupu dengan bunga dan badak dengan burung jalak.
b) Simbiosis Komensalisme
Simbiosis komensalisme adalah cara hidup bersama antara dua makhluk hidup yang berlainan spesies. Salah satu makhluk hidup memperoleh keuntungan dan makhluk hidup yang lain tidak dirugikan. Contoh simbiosis komensalisme seperti tumbuhan paku atau anggrek dengan pohon yang tinggi di hutan, ikan remora dengan ikan hiu, jamur saprofit.
c) Simbiosis Parasitisme
Simbiosis parasitisme adalah cara hidup bersama antara dua makhluk hidup yang berbeda spesies, salah satu makhluk hidup memperoleh keuntungan dan yang lain dirugikan. Contohnya seperti benalu dengan pohon mangga, tali putri dengan tanaman beluntas dan cacing pita dengan tubuh manusia.
2) Kompetisi
Kompetisi terjadi karena terdapat lebih dari satu jenis makhluk hidup yang membutuhkan bahan yang sama dari lingkungan habitatnya, misalnya dalam ekosistem padang rumput, antara kelinci, kuda, sapi, kerbau dan banteng terjadi kompetisi untuk mendapatkan rumput sebagai makanan mereka.
3) Antibiosis
Antibiosis diartikan sebagai cara hidup bersama antara dua jenis makhluk hidup yang berbeda spesies dan makhluk hidup yang satu menghambat pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup yang lain, misalnya jamur Pinicilliumnotatum dapat menghasilkan zat antibiotic pinicilin, dengan kemampuannya membentuk pinicilin, jamur ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau jamur lain yang hidup bersamanya40
B. Kajian Pustaka
Kajian pustaka yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah:
1. Skripsi yang ditulis oleh Anggita Prian Irawanti (1401409103) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang dengan judul “Keefektifan Model Examples Non Examples Terhadap Hasil Belajar Materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 1 Toyareka Purbalingga”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Examples Non Examples terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.
Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada segi materi sample dan tempat penelitian. Penelitian adalah ekosistem dengan sample kelas VII di MTs Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati, sedangkan materi pokok penelitian sebelumnya adalah sumber daya alam dengan sample kelas IV SDN 1 Toyareka Purbalingga.41 2. Skripsi yang ditulis oleh Reni Mulyani (1102277) Program
studi Pengembangan Kurikulum Sekolah Pascasarjana
41
Anggita Prian Irawanti, “Keefektifan Model Examples Non Examples Terhadap Hasil Belajar Materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 1 Toyareka Purbalingga”,
Skripsi (Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang,
Universitas Pendidikan Indonesia dengan judul “Efektivitas Penggunaan Media Flash Flipbook untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Siswa pada Mata Pelajaran TIK (Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Majalaya Kabupaten Bandung”. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Reni Mulyani menunjukkan bahwa media aplikasi flash flip book lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan media konvensional (buku teks). Hal tersebut dapat dilihat dari ketercapaian hasil belajar siswa.42
Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada mata pelajaran dan tempat penelitian. Penelitian ini menggunakan mata pelajaran IPA di MTs Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan mata pelajaran TIK di kelas XI SMA Negeri 1 Majalaya Kabupaten Bandung.
3. Skripsi yang ditulis oleh Dewi Yulianti (073811022) Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang yang berjudul “Efektivitas Penggunaan Media Gambar Dilengkapi CD Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa Materi Ekosistem Kelas VII SMP N I Ngaringan Tahun Ajaran 2010/2011”. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi Yulianti menunjukkan bahwa penerapan media gambar
42Reni Mulyani, “Efektivitas Penggunaan Media Flash Flip Book untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Siswa pada Mata Pelajaran TIK”,
Tesis (Bandung: program studi Pengembangan Kurikulum Sekolah
dilengkapi CD pembelajaran berperan efektif terhadap hasil belajar siswa pada materi ekosistem kelas VII. Hal tersebut dapat dilihat dari ketercapaian hasil belajar siswa.43
Perbedaan dengan penelitian sebelumnya terletak pada metode dan sample penelitian. Pada penelitian ini menggunakan metode Example Non Examples dengan sample kelas VII di MTs Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan metode gambar dilengkapi CD pembelajaran.
C. Rumusan Hipotesis
Hipotesis merupakan pernyataan sementara terhadap rumusan masalah penelitian, rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan.44 Mengingat bahwa hipotesis adalah pernyataan sementara yang mungkin benar dan mungkin salah, maka dilakukan pengkajian lebih lanjut untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak sesuai data yang terkumpul secara empiris. Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah “Penggunaan model Example Non Examples berbasis flipbook maker efektif terhadap hasil belajar IPA pada materi pokok ekosistem kelas VII MTs
43Dewi Yulianti, “Efektivitas Penggunaan Media Gambar Dilengkapi CD Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa Materi Ekosistem Kelas VII SMP N I Ngaringan Tahun Ajaran 2010/2011”, skripsi (Semarang: IAIN Walisongo Semarang, 2011), hlm. vi
44
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati Tahun Ajaran 2014/2015”.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dan metode analisis data secara kuantitatif. Adapun desain dalam penelitian eksperimen ini adalah “Control Group Post test-Only Design”.
Control Group Post test-Only Design memiliki kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R), kelompok pertama diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen, dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelas kontrol. Untuk mengetahui keadaan awal apakah ada perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan membandingkan nilai ulangan sebelumnya. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Example Non Examples berbantuan flipbook maker sedangkan pada kelas kontrol tidak diberi perlakuan atau pembelajaran menggunakan metode ceramah. Kedua kelompok eksperimen dan kontrol akan diukur kembali dengan diberikan posttest, hasil dari posttest inilah yang akan menjawab apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
Desain penelitian dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 3.1 Control Group Post test-Only Design Keterangan:
O2 = Nilai posttest siswa setelah mengikuti pembelajaran menggunakan model Example Non Examples berbantuan flipbook maker
O4 = Nilai posttest siswa yang tidak diberi pembelajaran menggunakan model Example Non Examples berbantuan flipbook maker
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Tarbiyatul Banin Pekalongan Kec. Winong Kab. Pati yang beralamat di Jl. Masjid Darussalam KM. 01 Ds. Pekalongan Kec. Winong Kab. Pati. Pemilihan tempat penelitian ini dikarenakan lokasi yang berjarak dekat dengan rumah penulis serta penulis merupakan alumni dari MTs Tarbiyatul Banin Pekalongan sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian.
R X O
22. Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2014/2015 yakni pada tanggal 26 Maret 2015-10 Juni 2015.
C. Metode Penelitian 1. Populasi
Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.1Penelitian ini menggunakan populasi seluruh peserta didik kelas VII MTs Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati Tahun Ajaran 2014/2015 yang terdiri dari 4 kelas yaitu kelas VII A, VII B, VII C, dan VII D.
2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.2 Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik cluster random sampling. Cluster random sampling adalah teknik kelompok
1
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D), hlm. 117
2
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif,
atau rumpun, dilakukan dengan jalan memilih sampel yang didasarkan pada kelompoknya bukan pada individunya.3
Penelitian ini dipilih dua kelas yang menjadi sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas yang digunakan sebagai kelas eksperimen merupakan kelas VII B dan kelas VII C sebagai kontrol.
D. Variabel Penelitian
Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus penelitian untuk diamati. Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi yang selanjutnya dapat ditarik suatu kesimpulan.4
1. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel bebas atau merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent.5 Variabel Independent dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Examples Non Example. Indikator yang
3
Tulus Winarsunu, Statistik dalam Penelitian Psikologi dan
Pendidikan, (Malang: UMM Press, 2004), Cet. II, hlm. 17
4
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D), hlm. 60
5
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
digunakan adalah penggunaan metode pembelajaran Examples Non Example pada materi ekosistem.
2. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dengan indikator: a. Hasil belajar telah mencapai KKM yaitu 70
b. Proses pembelajaran telah mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Metode Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data awal tentang kemampuan peserta didik yang dijadikan obyek penelitian. Data tersebut berupa daftar nama peserta didik kelas VII MTs Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati Tahun Ajaran 2014/2015 dan daftar nilai UAS semester gasal Tahun Ajaran 2014/2015.
2. Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki
oleh individu atau kelompok.6 Metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa.
Tes diberikan setelah kelompok eksperimen dan kontrol diberikan perlakuan. Sebelum tes diberikan, soal tes terlebih dahulu diujikan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan taraf kesukaran dari masing-masing butir soal. Jika ada butir-butir soal yang tidak valid maka dilakukan perbaikan pada butir soal tersebut. Tes yang sudah diperbaiki dan valid akan di berikan kepada kelas sampel.
a. Bentuk Tes
Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif jenis pilihan ganda. Pemilihan tes pilihan ganda pada penelitian ini dengan alasan berikut: 1) Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif,
misalnya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat dihindari campur tangan unsur-unsur subyektif baik dari segi siswa maupun segi guru yang memeriksa.
2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.
3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain.
6
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta 2007), hlm.150
4) Pemeriksaan tidak terdapat unsur subyektif yang mempengaruhi.7
b. Metode Penyusunan Perangkat Tes 1) Membatasi materi yang diujikan
Materi yang diujikan pada penelitian ini adalah materi ekosistem yang mencakup komponen penyusun ekosistem, satuan makhluk hidup dalam ekosistem, macam dari ekosistem, saling hubungan antar komponen ekosistem, diagram rantai makanan dan jaring-jaring makanan, pola interaksi antarorganisme, dan aliran energi dalam ekosistem. 2) Menentukan tipe soal
Tipe soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif jenis pilihan ganda dengan tipe soal golongan C1, C2, C3, C4, C5, dan C6.
3) Menentukan jumlah butir soal
Jumlah butir soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejumlah 38 butir soal pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban yakni a, b, c, dan d. 4) Menentukan waktu mengerjakan soal
Waktu yang digunakan dalam mengerjakan butir soal pada penelitian ini adalah 57 menit.
7
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 164-165
F. Teknik Analisis Data
Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis dengan analisis statistik. Langkah analisis statistik sebagai berikut:
1. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen
Perangkat tes yang sudah tersusun rapi, kemudian diujicobakan kepada siswa yang sudah mendapatkan pengajaran materi pokok ekosistem. Analisis yang digunakan dalam pengujian instrumen ini meliputi validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda.
a. Uji validitas
Sebuah tes atau soal dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kevalidan soal adalah teknik korelasi product moment dengan rumus8:
rxy =
}
)
(
}{
)
(
{
)
)(
(
2 2 2 2Y
Y
N
X
X
N
Y
X
XY
N
keterangan:rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variable Y N = banyaknya peserta didik yang mengikuti tes X = skor item tiap nomor
Y = jumlah skor total
∑XY = jumlah perkalian X dan Y
Harga dihitung dengan taraf signifikansi 5% dan N sesuai dengan jumlah siswa.Jika maka item tes yang diujikan valid.
b. Uji reliabilitas
Suatu tes dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes. Untuk mengetahui reliabilitas tes digunakan rumus K-R 20 yaitu sebagai berikut9:
2 2 111 SB
pq
SB
k
k
r
Keterangan: 11r
= reliabilitas tes secara keseluruhan SB2 = standar deviasi dari tes (akar varians)p = proporsi subyek yang menjawab benar pada suatu butir