• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN TEORI

B. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi

1. Karakteristik Mahasiswa

Menurut kamus besar bahasa Indonesia mahasiswa adalah individu yang belajar di perguruan tinggi.38 Mahasiswa merupakan orang yang sudah lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sedang menempuh proses belajar di pendidikan tinggi serta melaksanakan proses sosialisasi.39 Mahasiswa belajar pada jenjang perguruan tinggi untuk mempersiapkan dirinya bagi suatu keahlian jenjang pendidikan tinggi

38http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php

39 Daldiyono, How to Be a Real and Successful Student, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2009), Hlm. 127

32

meliputi pendidikan diploma, sarjana, magister atau spesialis, selain itu mahasiswa berada pada periode peralihan dari masa akhir remaja memasuki periode perkembangan dewasa awal.40

Sedangkan dalam perundang-undangan bahwa mahasiswa sebagai anggota Sivitas Akademika diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di Perguruan Tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional. Mahasiswa sebagaimana dimaksud secara aktif mengembangkan potensinya dengan melakukan pembelajaran, pencarian kebenaran ilmiah, dan/atau penguasaan, pengembangan, dan pengamalan suatu cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk menjadi ilmuwan, intelektual, praktisi, dan/atau profesional yang berbudaya. Mahasiswa memiliki kebebasan akademik dengan mengutamakan penalaran dan akhlak mulia serta bertanggung jawab sesuai dengan budaya akademik. Mahasiswa berhak mendapatkan layanan Pendidikan sesuai dengan bakat, minat, potensi, dan kemampuannya.41

Jika dilihat dalam sudut pandang Psikologi perkembangan bahwa status perserta didik sebagai mahasiswa merupakan peroses perkembangan dari masa remaja awal kepada masa remaja akhir yang dalam pandangan abid samsudin adalah masa peralihan dari status sebagai remaja menjadi

40 Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. Human Development. (Psikologi

Perkembangan Edisi Kesepuluh), (Jakarta: Kencana, 2009), Hlm. 45

41 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi Pasal 13 Ayat 1 poin 1 sampai dengan 4

33

dewasa muda.42 Secara usia bahwa masa remaja akhir dan masa dewasa muda adalah berkisar anatara usia 19-25 tahun, sebagaimana di jelaskan oleh Freud dalam Djaali bahwa pada usia sekitar 20 tahun dan setelahnya disebut sebagai tahap perkembangan Genital yang merupakan dorongan penting bagi tingkah laku seseorang.43 Kemudian secara fisiologis bahawa pada rerata usia 17 hingga 20 tahun adalah tahap perkembangan pamatangan fisiologis yang dalam tahap ini pertumbuhan fisik menuju ke arah kematangan fisiologisnya dikarenakan adanya keseimbangan semua fungsi jasmaniahnya.44

a. Perkembangan Kognitif Mahasiswa

Mahasiswa sebagai peserta didik dengan rerata rantang usia antara 19 hingga 25 tahun merupakan masa formal operasional menurut piaget yang dalam masa ini seorang peserta didik termasuk pada tahap remaja telah memiliki kemampuan mengoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni; 1) kapasitas menggunakan hipotesis;45 2) kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.46 Selanjutnya seorang yang telah menjalani tahap formal operasional akan dapat memahami dan mengungkapkan

42

Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaha Rosdakarya, 2007), Hlm. 119

43 Djaali, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), Hlm. 23

44 Djaali, Psikologi Pendidikan,. Hlm. 25

45

Dengan kapasitas menggunakan hipotesis dalam arti dapat berpikir hipotesis, yakni berbipir sesuatu khususnya dalma pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons.

46 Dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak.

34

prinsip abastrak yang pada gilirannya akan dapat mengubah perhatian sehari-hari secara dramatis dengan pola yang terkadang sama sekali berbeda dengan pola-pola perhatian sebelumnya.47 Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang kepada kejadian dan peristiwa yang tidak konkret. Seperti misalnya pilihan pekerjaan, corak hidup bermasyarakat, pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh di depannya, dan lain-lain. Pada tahap ini, corak perilaku pribadinya dihari depan dan corak tingkah lakunya sekarang adakan berbeda, hal ini dikarnakan kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadiannya.48

Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi yang melingkupinya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan sehingga sering muncul pertentangan antara situasi yang dihadapinya dengan sikap kritis berdasarkan teori-teori yang diyakini yang tampak pada perilakunya. Disamping itu pengaruh egosentris masih terlihat pada pikirannya, diantaranya adalah cita-cita dan idealism yang tinggi sehingga terlalu menitikberatkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa perhitungan kesulitan praktis yang mungkin

47 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), Hlm. 33-34

48 Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Hlm. 102

35

menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan masalah. Selanjutnya adalah kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. Egosentris inilah yang menyebabkan kekakuan pada remaja dalam cara berfikir maupun bertingkah laku.49 Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka egosentrisme akan makin berkurang.

Dalam berpikir operasional formal setidak tidaknya memiliki dua sifat penting, yakni; 1) sifat deduktif hipotesis yang dalam menyelesaikan masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. Ia menganalisis masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berpikir deduktif disampin induktif, ooleh sebab itu dari sifat analisis yang ia lakukan, ia dapat membuat suatu strategi penyelesaian. Analisis teoritik ini dapat dilakukan secra verbal. Anak lalu mengajukan pendapat-pendapat atau prediksi tertentu yang juga disebut proporsi-proporsi, kemudian mencari hubungan atau proposisi yang berbeda-beda itu; 2) berpikir operasional juga berpikir kombinasi, sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara melakukan analiasis.50 Dengan berpikir operasional formal mmemungkinkan seseorang untuk

49 Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta… Ibid., Hlm. 103

50

36

mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesis dengan variable-variabel tergantung yang mungkin ada.

b. Perkembangan Sosio Moral Mahasiswa

Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jejang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi social dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan. Kehidupan social pada jenjang remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Seseorang remaja dapat mengalami sikap hubungan social yang bersifat tertutup sehubungan dengan masalah yang dialaminya. Keadaaan atau peristiwa seperti ini oleh Erik Erickson dinyatakan mengalami krisis identitas.51

Seorang anak atau individu yang lebih besar dan beranjak dewasa tidak bersifat statis dalam pergaulannya, karena ia dirangsang oleh lingkungan social, adat istiadat, kebiasaan kelompoknya dan minat serta keinginannya. Tingkah laku batiniah dan lahiriah akan berubah seiring dengan perubahan lingkungannya. Kesadaran dan karakter social merupakan hasil pertumbuhan dari kegiatan individu yang konsisten dengan dasar dan taraf dari keseluruhan

51 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), Hlm. 78

37

pola dan arah pertumbuhannya. Sehingga perkembangan itu akan berjalan meurut situasi linkungan untuk mencapai kedewasaan. Salah satu tugas yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian bersedia membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan social/masyarakat tanpa harus terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti sewaktu kanak-kanak. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. Michael meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja sebagai berikut;52

1) Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak.

2) Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.

3) Penilaian moral menjadi kurang egosentris.

4) Penilaian moral secara psikologis menjadi mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi.

52

38

Dalam teori perkembangan moral Kohlberg bahwa pada tahap pascakonvensional seseororang dapat memephatikan hak perseorangan dan kemudian memperhatikan prinsip-prinsip etika. Pada tahap ini seorang remaja mengartikan perilaku bailk sebagai hak pribadi sesuai dengan aturan dan patokan sosial. Kemudian keputusan mengenai perilaku-perialaku social didasarkan atas prinsip-prinsip moral pribadi yang bersumber dari hokum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain. Keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai yang melekat meskipun sewaktu-waktu berlawanan dengan hokum yang dibuat untuk menegakkan aturan social.53

Seperti dalam proses-proses perkembangan lainnya, proses perkembangan social moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan social moral siswa sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya proses belajar sosio moral) siswa tersebut baik dilingkungan sekolah/perguruan tinggi. Keluarga maupun masyarakat disekittarnya. Ini bermakna bahwa proses belajar itu amat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berprilaku social yang selaras dengan norma-norma agama, moral tradisi, moral hokum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakatnya.

53

39

Sekolah lanjutan atau perguruan tinggi yang diorganisasikan dengan baik dapat memberikan banyak kesempatan kepada para siswa/siswinya untuk berpartisipasi dalam kegiantan social yang diprakarsainya. Ada juga jenis kegiatan yang harus diorganisasikan sendiri oleh siswa-siswinya di bawah bimbingan seorang pendidik yang simpatik dan bijaksana. Dalam melakukan kegiatan tersebut, peran pendidik merupakan factor penting terhadap masa penyesuaian diri bagi remaja.54

Dokumen terkait