• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.4.2 Karakteristik Opini Publik

Opini dapat dinyatakan melalui prilaku, sikap tindak, mimik muka atau bahasa tubuh berbentuk simbol-simbol yang tertulis, berupa pakaian yang dikenakan, makna sebuah warna, dan sebagainya. Faktor pembentuk opini publik adalah sikap pribadi seseorang atau kelompoknya. Karena itu sikapnya ditentukan oleh pengalamannya dan pengalaman dari kelompok itu juga.

Opini dari perorangan secara akumulatif dapat berkembang menjadi suatu consensus (kesepakatan) dan terkristalisasi jika masyarakat dalam kelompok tertentu mempunyai kesamaan dalam visi, ide, nilai-nilai yang dianut, latar belakang dan hingga tujuan yang hendak dicapai di kemudian hari akan terbentuk menjadi opini publik.

Memahami opini seseorang, apalagi opini publik bukanlah sesuatu hal yang sederhana. Dengan sendirinya pembentukan opni publik dibentuk oleh publik yang selektif, karena itu untuk setiao masalah ada publiknya sendiri-sendiri. Karena opini sendiri mempunyai kaitan yang erat dengan pendirinya (attitude). Bahwa pendirian itu merupakan apa yang dirasakan oleh seseorang (what the individual really feels) dan kemudian timbul attitude sebagai the feeling one has for self atau sikap yang dapat bersifat tersembunyi dalam diri seseorang (latent opinion) dan dapat berbentuk simbol,

bahasa tubuh, verbal, mimik muka, ekspresi serta makna dari suatu warna yang dipakainya dan lain sebagainya (Ruslan, 2002:66).

Mariam D Irish dan James W Protho dalam The Politics of American Democracy memberikan tiga unsur dalam definisi pendapat umum yaitu (Susanto, 1985:91):

a. dinyatakan (expressed) b. sikap (attitude)

c. masalah masyarakat (social issue)

Tampaklah persamaan pendapat harus dinyatakan untuk dapat dinilai sebagai pendapat umum. Irish dan Protho mengenai pendapat yang dinyatakan yaitu bahwa pernyataan yang telah mengalami proses komunikasi disebut opinion, sedangkan bila perasaan ataupun pemikiran tadi belum dinyatakan, maka ia masih merupakan attitude (sikap). Hal ini ditandaskan oleh Irish dan Protho dalam kata-kata: attitude are internal presdsposition than cannot be directly observed (Susanto, 1985:91).

Unsur ketiga tersebut bahwa diperlukan adanya issue atau masalah agar supaya sesuatu dapat dinilai sebagai pendapat umum. Suatu pendapat akan menjadi issue apabila ia mengandung unsur memungkinkan pro dan kontra suatu pendapat (tentang suatu kejadian) yang telah dinyatakan (Susanto, 1985:92).

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1 KOMUNIKASI

2.1.1 Pengertian Komunikasi

Pentingnya studi komunikasi karena permasalahan-permasalahan yang timbul akibat komunikasi. Manusia tidak dapat hidup sendirian, ia secara tidak kodrati harus hidup bersama manusia lain, baik demi kelangsungan hidupnya keamanan hidupnya, maupun demi keturunannya. Jelasnya manusia harus bermasyarakat. Masyarakat bias berbentuk kecil, sekecil rumahtangga yang hanya terdiri dari dua orang suami istri, bias berbentuk besar, sebesar kampong, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, propinsi dan Negara. Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai penyalurnya (Effendy, 2003:28).

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna.

Jadi, jika dua orang terlibat dalam komunikasi, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna, sehingga komuniaksi yang dilakukan kedua orang tersebut bersifat komunikatif. Akan tetapi, pengertian komunikasi di atas sifatnya dasariah, dalam arti kata bahwa komunikasi minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif,

yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, dan lain-lain (Effendy, 2004:9).

Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap (Effendy, 2004:10).

Defenisi Hovland diatas menunjukkan bahwa yang dijadikan objek studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap public (public attitude) yang dalam kehidupan social dan kehidupan politik memainkan peranan yang amat penting. Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah proses megubah perilaku orang lain (communicatio is the process to modify the behavior of other individuals). Akan tetapi, seseorang akan dapat mengubah sikap, pendapat, atau perilaku orang lain apabila komunikasinya itu memang komunikatif.

Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat lancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigm yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom Whit What Effect?

Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:

1. Komunikator (communicator)

Komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang memulai memberikan informasi kepada lawan bicaranya.

2. Pesan (message)

Pesan merupakan seperangkat lambing yang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.

3. Media (channel)

Media adalah saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.

4. Komunikan (communicant)

Komunikan adalah seseorang yang menerima pesan dari komunikator.

5. Efek (effect)

Efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.(Effendy, 2004:10).

Menurut Everett M. Rogers seorang pakar Sosiologi Pedesaan Amerika yang telah banyak memberi perhatian pada studi riset komuniasi, khususnya dalam hal penyeberan inovasi membuat definisi bahwa Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Rogers mencoba mengspesifikasikan hakikat suatu hubungan dengan adanya suatu pertukaran informasi (pesan), dimana ia menginginkan adanya

perubahan sikap dan tingkah laku serta kebersamaan dalam menciptakan saling pengertian dari orang-orang yang ikut serta dal;am suatu proses komunikasi (Cangara, 2004:19).

Sedangkan menurut Shannon dan Weaver (1949) bahwa Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak disengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi (Cangara, 2004:20).

Para pakar Psikologi melihat komunikasi dalam pengertian fenomena stimuli-respons, sebagaimana dikemukakan oleh Dance (1970) Komunikasi adalah pengungkapan respons melalui simbol-simbol verbal. Sedangkan Edwin Neiman (1948) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses ketika sejumlah orang diubah menjadi kelompok yang berfungsi (Arifin, 2003:26).

Jika kita berada dalam situasi komunikasi, maka kita memiliki beberapa kesamaan dengan orang lain, seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi apa yang dinamakan Wilbur Schramm frame of reference atau dalam bahasa Indonesianya kerangka acuan, yaitu paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings). Schramm menyatakan bahwa field of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain dengan kata lain situasi menjadi tidak komunikatif (Effendy, 2003:30-31).

2.1.2 Ruang Lingkup Komunikasi

Berdasarkan uraian mengenai lingkup ilmu komunikasi ditinjau dari bentuknya, sifatnya, metodenya, tekniknya, modelnya, dan bidangnya adalah sebagai berikut:

 Bentuk dari ilmu komunikasi adalah: Komunikasi Personal (Personal Communicatio)

a. Komunikasi intrapersonal (intrapersonal communication)

b. Komunikasi antarpersonal (interpersonal communication)

c. Komunikasi Kelompok (Group Communication)

Komunikasi Kelompok Kecil (small group communication):

1. ceramah (lecture)

2. diskusi panel (panel discussion)

3. symposium (symposium)

4. forum

5. seminar

6. curahsaran (brainstorming)

Komunikasi Kelompok Besar (Large Group Communication / Public Speaking )

Komunikasi Massa (Mass Communication)

1. pers

2. radio

3. televisi

4. film

5. dan lain-lain

Komunikasi Media (Medio Communication)

a. surat b. telepon c. pamflet d. poster e. spanduk f. dan lain-lain

 Sifat dari ilmu komunikasi adalah sebagai berikut: a) Tatap muka (face to face)

c) Verbal (verbal)

d) Lisan (oral)

e) Tulisan/cetak (written/printed)

f) Nonverbal (non verbal)

g) kial/isyarat badaniah (gestural)

h) Bergambar (pictorial)

 Metode ilmu komunikasi adalah sebagai berikut: a) Jurnalistik (journalism)

b) jurnalistik cetak (printed journalism)

c) jurnalistik elektronik (electronic journalism)

d) Hubungan masyarakat (public relations)

e) Periklanan (advertising)

f) Pameran (exhibition/exposition)

g) Publisitas (publicity)

h) Propaganda

i) Perang urat saraf (psychological warfare)

 Teknik dari ilmu komunikasi adalah sebagai berikut:

a) Komunikasi informatif (informative communication)

b) Komunikasi persuasif (persuasive communication)

c) Komunikasi instruktif/koersif (instructive/coercive communication)  Model dari ilmu komunikasi adalah sebagai berikut:

a) Komunikasi satu tahap (one step flow communication)

b) Komunikasi dua tahap (two step flow communication)

c) Komunikasi multitahap (multi step flow communication)

 Bidang dari ilmu komunikasi adalah sebagai berikut: a) Komunikasi sosial (social communication)

b) Komunikasi manajemen / organisasional (management/ organizational communication)

c) Komunikasi perusahaan (business communication)

d) Komunikasi politik (political communication)

e) Komunikasi internasional (international communication)

f) Komunikasi antar budaya (intercultural communication)

g) Komunikasi pembangunan (development communication)

i) Komunikasi tradisional (tradisitional communication)

(Effendy, : 2004 7-9)

2.1.3 Fungsi Komunikasi

Fungsi adalah potensi yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu. Komunikasi sebaagi ilmu, seni, dan lapangan kerja sudah tentu memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Komunikasi dengan diri sendiri berfungsi untuk mengembangkan kreativitas imajinasi, memahami, dan mengendalikan diri, serta meningkatkan kematangan berfikir sebelum mengambil keputusan. Melalui komunikasi dengan diri sendiri, orang dapat berfikir dan mengendalikan diri bahwa apa yang ingin dilakukan mungkin saja tidak menyenangkan orang lain. Jadi komunikasi dengan diri sendiri dapat meningkatkan kematangan berfikir sebelum ik keputusan. Ia merupakan proses internal yang dapat membantu dalam menyelesaikan suatu masalah (Cangara, 2004:56).

Adapun fungsi komunikasi antar pribadi ialah berusaha meningkatkan hubungan insan (human relations), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain.

Komunikasi publik berfungsi untuk menumbuhkan semangat kebersamaan (solodaritas), mempengaruhi orang lain, member informasi, mendidik dan menghibur. Bagi orang yang terlibat dalam komunikasi publik, dengan mudah ia menggolongkan dirinya dengan kelompok orang banyak.

Komunikasi massa, berfungsi untuk menyebarluaskan informasi, meratakan pendidik, merangsang pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan kegembiraan dalam hidup seseorang (Cangara, 2004:61-63).

Sementara itu, Karlinah (dalam Karlinah, dkk 1999) mengemukakan fungsi komunikasi secara umum adalah:

1. Fungsi Informasi

Fungsi memberikan infornasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Berbagai informasi dibutuhkan oleh khalayak media massa yang bersangkutan sesuai dengan kepentingan khalayak. Khalayak sebagai manusia sosial akan selalu merasa haus informasi tentang segala sesuatu yang terjasi di sekitarnya.

2. Fungsi Pendidikan

Media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayaknya (mass education). Kreana media massa banyak menyajikan hal-hal yang sifatnya mendidik.

3. Fungsi Mempengaruhi

Fungsi mempengaruhi dalam komunikasi, khalayak terpengaruh oleh pesan-pesan dalam komunikasi yang dilakukan sehingga tanpa sadar khalayak melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan yang diinginkan oleh komunikator,

Untuk mengembangkan wawasan, kita membutuhkan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan berkomunikasi, manusia akan bertambah pengetahuannya dan berkembang intelektualitasnya. Hal tersebut diperoleh dari pengalamanpribadinya dan dari orang lain. Pengalaman dapat membantu manusia untuk memahami betapa besar ketergantungan manusia kepada komunikasi, karena komunikasi dapat membantu manusia dalam perkembangan mentalnya.

5. Fungsi Adaptasi Lingkungan

Setiap manusia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan dunianya untuk dapat bertahan hidup. Proses komunikasi membantu manusia dalam proses penyesuaian tersebut. Proses pengiriman pesan oleh komunikator dan penerima pesan oleh komunikan dapat membantu kita dengan berhubungan dengan orang lain, saling menyesuaikan diri, sehingga menimbulkan kesamaan diantara komunikator dan komunikan.

6. Fungsi Memanipulasi Lingkungan

Memanipulasi di sini bukanlah diartiakn sebagai sesuatu yang negative. Memanipulasi lingkungan artinya berusaha untuk mempengaruhi. Setiap orang berusaha untuk saling mempengaruhi dunia dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dalam fungsi manipulasi, komunikasi digunakan sebagai alat control utama dan pengaturan lingkungan.

7. Fungsi Menyakinkan (to persuade)

Fungsi komunikasi massa secara umum antara lain memberikan hiburan kepada khalayaknya. Namun ada fungsi yang tidak kalah penting dari media massa yaitu fungsi

menyakinkan atau persuasi. Persuasi menurut Devito, bias dalam bentuk (Karlinah,dkk,1999):

a. Mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan atau nilai seseorang;

b. Mengubah sikap, kepercayaan atau nilai seseorang;

c. Menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu; dan

d. Memperkenalkan etika dan menawarkan system nilai tertentu

2.2 KOMUNIKASI MASSA DAN MAJALAH

2.2.1 Sejarah dan Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi Massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipat gandakan pesan-pesan komunikasi. Dalam sejarah publisistik dimulai satu setengah abad ditemukan mesin cetak oleh Johannes Guttenberg. Sejak itu dimulai suatu zaman yang dikenal dengan zaman publisistik atau awal dari era komunikasi massa. Sebaliknya dikenal sebagai zaman prapublisistik (Wiryanto, 2000:1)

Publisistik (Pulizistik) di Jerman, sebenarnya berkembang dari Ilmu Pers atau ilmu Persuratkabaran yang dikenal dengan nama Zaitungswisswnschaft. Asalnya dapat ditelusuri sampai abad ke-19 ketika surat kabar sebagai obyek studi ilmiah mulai menarik perhatian para pakar di masa itu. Surat kabar sebagai salah satu hasil dari pertumbuhan teknologi dan industri ternya membawa berbagai implikasi sosial yang sangat menarik

bagi kajian ilmu kemasyarakatan dan kemanusiaan. Adalah mengesankan karena kesadaran dan perhatian seperti itu, baru lahir dan berkembang setelah dua ratus tujuh tiga tahun kemudian dari terbitnya Relation (1609) sebagai surat kabar tercetak pertama di dunia (Arifin, 2003:4).

Pada dekade sebelum abad ke-20, alat-alat mekanik yang menyertai lahirnya publisistik atau komunikasi massa adalah alat-alat percetakan (press printed) yang menghasilkan surat kabar, bukau-buku, majalah, brosur dan materi cetakan lain. Gejala ini makin meluas pada dasawarsa pertama abad ke-20, ketika film dan radio mulai digunakan secara luas. Kemudian disusul televisi pada decade berikutnya. Kini kita telah memasuki era telekomunikasi dengan digunakannya system satelit ruang angkasa dan jaringan computer (Wiryanto, 2000:2).

Pengertian komunikasi massa merujuk kepada pendapat Tan dan Wright, dalam Liliweri. 1991, merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara missal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2004:3).

Agar tidak ada kerancuaan dan perbedaan persepsi tentang massa, ada baiknya kita membedakan arti massa dalam arti umum. Massa dalam komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Dengan kata lain, massa yang dalam sikap dan perilakunya berkaitan dengan peran media massa. Oleh karena itu, massa disini menunjuk kepada khalayak, audience, penonton, pemirsa atau pembaca. Beberapa istilah ini berkaitan dengan media massa (Nurudin, 2004:3).

Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner, yakni: komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is message communicated through a mass medium to a large number of people) (Ardianto, 2004:3).

Definisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi yang lain, yaitu Gebner. Menurut Gebner (1967) yaitu: “ Mass communication is the tehnologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of message in industrial societies”. (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontiniu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri). (Rakhmat, dalam Karlinah, dkk 1999).

Rakhmat merangkum definisi-definisi komunikasi massa menjadi : Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Rakhmat, dalam Karlinah, dkk 1999).

2.2.2 Karakteristik Komunikasi Massa

Definisi-definisi komunikasi massa itu secara prinsip mengandung suatu makna yang sama, bahkan antara satu definisi dengan definisi lainnya dapat dianggap saling melengkapi. Melalui definisi itu pula kita dapat mengetahui karakteristik komunikasi massa. Karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut (Ardianto, 2004:7-13):

a. Komunikator Terlembagakan

Ciri komunikasi yang pertama adalah komunikatornya. Kita sudah memahami bahwa komunikasi massa itu menggunakan media massa, baik media cetak maupun elektronik.

b. Pesan Bersifat Umum

Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karenanya pesan komunikasi massa bersifat umum. Pesan komunikasi massa dapat berupa fakta, peristiwa, atau opini. Namum tidak semua fakta dan peristiwa yang terjadi disekeliling kita dapat dimuat dalam media massa. Pesan komunikasi massa yang dikemad dalam bentuk apapun harus memenuhi kriteria penting atau menarik, atau penting sekaligus menarik, bagi sebagian besar komunikan.

c. Komunikannya Anonim dan Heterogen

Komunikan pada komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen. Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikannya (anonim), karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka. Disamping anonim, komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari berbagai jenis lapisan masyarakat yang berbeda, yang dapat dikelompokkan berdasarkan faktor: usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama dan tingkat ekonomi.

Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya, adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapai relatif banyak dan tidak terbatas. Bahkan lebih dari itu, komunikan yang tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula.

e. Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan

Setiap komunikasi melibatkan unsur isi dan unsur hubungan sekaligus. Dalam komunikasi massa, pesan harus disusun sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dan disesuaikan dengan karakteristik media massa yang akan digunakan.

f. Komunikasi Massa bersifat Satu Arah

Secara singkat, komunikasi massa itu adalah komunikasi dengan menggunakan atau melalui media massa. Karena melalui media massa maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima pesan, namum diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog. dengan demikian, komunikasi massa itu bersifat satu arah.

g. Stimulus Alat Indra Terbatas

Ciri komunikasi massa l;ainnya yang dapat dianggap salah satu kelemahannya adalah stimulasi alat indara yang “terbatas”. Dalam komunikasi massa, stimulus alat indar bergantung pada jenis media massa, Dalam media majalah, kita menggunakan indra penglihatan.

komponen umpan balik atau yang lebih popular dengan sebutan feedback merupakan faktor penting dalam membentuk komunikasi apapun. efektifitas komunikasi sering kali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan. Umpan balik dalam komunikasi massa tidak dapat secara langsung (direct feedback) karena komunikator tidak dapat melihat langsung reaksi atau tanggapan dari komunikan.

2.2.3 Fungsi Komunikasi Massa

Fungsi Komunikasi Massa yang dikemukakan oleh Harold D Lasswell yakni, (1) Fungsi Pengawasan (2) Fungsi Koerelasi (3) Fungsi Pewarisan Sosial. Sama seperti pendapat Lasswell, Charles Robert Wright (1988) menambah fungsi hiburan dalam fungsi komunikasi massa (Nurudin, 2003:62-63).

Sedangkan fungsi komunikasi massa Dominick, dalam bukunya The Dinamics of Mass Communications adalah sebagai berikut (Ardianto, 2004:16-18)

a) Surveillance (Pengawasan)

Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama:

- Fungsi Pengawasan Penringatan yaitu jenis pengawasan yang dilakukan oleh media untuk menyampaikan informasi berupa ancaman yang perlu diketahui oleh khalayak

- Fungsi Pengawasan Instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari.

Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga member penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Tujuan penafsiran media ingin mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas wawasan dan membahasnya lebih lanjut.

c) Linkage (Pertalian)

Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk Linkage (Pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tenang sesuatu. Kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan yang sama tetapi terpisah secara geografis diperhatikan atau dihubungkan oleh media.

d) Transmission of Value (Penyebaran nilai-nilai)

Fungsi ini juga disebut socialization (sosialisasi). Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu mengadopsi prilaku dan nilai kelompok. Media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu ditonton, didengar dan dibaca. Media massa memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa yangdiharapkan mereka dengan perkataan lain, media mewakili kita dengan model peran yang kita amati dan harapan untuk menirunya.

e) Entertainment (Hiburan)

Sulit dibantah lagi, bahwa kenyataannya hamper semua media menjalankan fungsi hiburan. Majalah banyak memuat hiburan, bahkan ada beberapa majalah yang hanya menampilkan berita seperti Time dan News Week, Tempo, Gatra dan Garda.

2.2.4 Komponen Komunikasi Massa

Komunikasi massa pada dasarnya merupakan proses komunikasi satu arah, artinya komunikasi berlangsung dari komunikator (sumber) melalui media kepada komunikan (khalayak). Walaupun komunikasi massa dalam prosesnya bersifat satu arah, namun dalam operasionalnya memerlukan komponen lain yang turut menentukan lancarnya proses komunikasi. Komponen dalam komunikasi massa ternyata tidak sesederhana komponen komunikasi yang lainnya. Proses komunikasi massa lebih kompleks, karena setiap komponennya mempunyai karakteristik tertentu adalah sebagai berikut: (Ardianto, 2004:36-42 )

a. Komunikator

Dalam komunikasi massa produknya bukan merupakan karya langsung seseorang, tetapi dibuat melalui usaha-usaha yang terorganisasikan dari beberapa partisipan, diproduksi secara missal dan didistribusikan kepada massa.

b. Pesan

Sesuai dengan karakteristik dari pesan komunikasi massa yaitu bersifat umum, maka pesan harus diketahui oleh setiap orang. Penataan pesan bergantung pada sifat media yang berbeda antara satu sam lainnya,

c. Media

Media yang dimaksud dalam proses komunikasi massa yaitu media massa yang memiliki ciri khas, mempunyai kemampuan untuk memikat perhatian khalayak secara serempak (simultaneous) dan serentak (instantaneous).

Khalayak yang dituju oleh komunikasi massa adalah massa atau sejumlah besar khalayak. Karena banyaknya jumlah khalayak serta sifatnya yang anonim dan heterogen, maka sangat penting bagi media untuk memperhatikan khalayak.

e. Filter dan Regulator Komunikasi Massa

Dalam komunikasi massa pesan yang disampaikan media pada umumnya ditujukan kepada massa (khalayak) yang heterogen. Khalayak yang heterogen ini akan menerima pesan melalui media sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan,

Dokumen terkait