• Tidak ada hasil yang ditemukan

6. PEMBAHASAN

6.1 Intepretasi dan Hasil diskuai

6.1.2 Karakteristik Orang Tua

6.1.2 Karakteristik Orang Tua

a. Tingkat Pendidikan Ayah dan Ibu

Pada penelitian ini ditunjukkan tingkat pendidikan ayah dan ibu terbanyak yaitu pada tingkat pendidikan perguruan tinggi sebanyak 75%. Hal tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan ibu saat ini sudah tinggi dan setara dengan tingkat pendidikan ayah. Menurut Potter dan Perry (2005), tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi komunikasi yang dilakukannya. Hal tersebut menunjukan orang tua dengan tingkat pendidikan yang tinggi memungkinkan adanya komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, maupun orang tua dengan sekolah. Sehingga dengan adanya komunikasi yang baik akan tercipta keterlibatan orang tua yang tinggi pada belajar anak.

Selain itu, orang tua yang tingkat pendidikannya tinggi memungkinan anaknya memiliki prestasi belajar yang tinggi. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Yuliani (2004) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan ayah dengan prestasi belajar siswa, serta ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan prestasi belajar siswa. Penelitian tersebut juga didukung oleh Baker dan Stevenson, (1986 dalam Hill & Taylor 2004), menyatakan bahwa tingkat pendidikan orang tua yang tinggi memiliki hubungan positif untuk menganjurkan anak dalam kursus belajar dan mengatur pendidikan anaknya. Analisa peneliti, orang tua yang memiliki pendidikan yang tinggi akan cenderung untuk menuntut anaknya untuk memperoleh pendidikan yang baik dan mencapai tingkat pendidikan yang tinggi pula. Hal tersebut dilakukan dengan selalu mengikutsertakan anak dalam kursus belajar serta memilihkan pendidikan yang terbaik untuk

             

anaknya, sehingga anak dapat mendapat prestasi yang memuaskan dan mendapat pendidikan yang terbaik.

b. Pekerjaan Ayah dan Pekerjaan Ibu

Menurut Tamsar (2008) bahwa jenis pekerjaan memiliki hubungan yang sangat erat dengan prestasi belajar anak. Sejalan dengan penelitian tersebut, hasil penelitian ini menunjukkan 98% ayah bekerja dan 85% ibu bekerja. Ayah yang bekerja merupakan hal yang utama dalam keluarga, karena ayah sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan keluarga dan mempengaruhi tingkat ekonomi keluarga. Selain pekerjaan ayah, pekerjaan ibu merupakan salah satu bagian dari karakteristik orang tua yang perlu dikaji karena ibu yang bekerja kemungkinan memiliki pemantauan yang kurang terhadap belajar anak dibandingkan ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga saja. Hal itu sejalan dengan penelitian Rosita (2011) yang menyatakan bahwa 72% profesi ibu rumah tangga akan menyebabkan lebih banyak mempunyai ketersediaan waktu untuk berkomunikasi dengan anak.

c. Lama Waktu Bekerja Ayah dan Ibu

Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata lama waktu bekerja ayah 8,49 jam dan lama waktu bekerja ibu 7,45 jam dalam satu hari. Semakin lama waktu ayah dan ibu dalam bekerja di luar rumah memungkinkan kurangnya keterlibatan ayah dan ibu dalam membimbing anaknya belajar. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rosita (2011) menyatakan bahwa semakin lama ibu menghabiskan waktu bekerja di luar rumah maka akan mengurangi waktu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak. Selain itu, Yulia (2007) mengatakan bahwa seorang ibu yang bekerja memiliki dampak negatif bagi anak, di antaranya yaitu melemahkan ikatan emosi antara ibu dan anak, menelantarkan anak, anak menjadi manja, dan hilangnya waktu kebersamaan ibu dengan anak.

Hal tersebut di atas menunjukkan orang tua dengan lama waktu bekerja yang tinggi memungkinkan kurangnya interaksi yang baik antara orang tua

             

dengan anak. Kurangnya interaksi tersebut mengakibatkan orang tua kurang terlibat pada keseharian anak maupun belajar anak. Sehingga hal tersebut akan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak yang kurang memuaskan dan berpengaruh juga terhadap sifat anak.

d. Status Ekonomi Keluarga

Status ekonomi keluarga ditunjukkan dengan pendapatan keluarga. Hasil penelitian ini menunjukkan pendapatan keluarga dengan status ekonomi rendah 3,3% keluarga, sedangkan sebanyak 61,7 % keluarga memiliki status ekonomi tinggi. Hal tersebut menunjukkan sebagian besar keluarga dari responden memiliki pendapatan yang tinggi. Hal tersebut memungkinkan berpengaruhnya pendapatan keluarga atau status ekonomi pada keterlibatan orang tua dalam proses belajar anaknya. Selain itu, status sosial ekonomi juga memungkinkan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Analisa peneliti, apabila status sosial ekonomi keluarga tinggi maka keluarga akan mampu memberikan tambahan bimbingan belajar di luar sekolah seperti kursus mata pelajaran atau kursus peningkatan bakat anak, sehingga dengan adanya hal tersebut maka prestasi belajar anak akan meningkat. Berbeda halnya pada keluarga dengan status ekonomi rendah yang memungkinkan ketidakmampuan keluarga untuk membayar biaya kursus yang tinggi dan menyediakan buku-buku serta perlengkapan belajar yang bagus, hal tersebut juga memungkinkan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Padavick (2009) mengenai keterlibatan orang tua dengan belajar dan peningkatan prestasi siswa, didapatkan hasil yaitu ada hubungan antara status pendidikan dan status sosial ekonomi yang tinggi dengan kesuksesan akademik serta pengasuhan orang tua dan keterlibatan orang tua.

6.1.3 Keterlibatan Orang Tua dalam Belajar Anak

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 58,3% orang tua terlibat dalam proses belajar anak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa orang tua memiliki keterlibatan yang baik karena lebih dari setengah jumlah orang tua yang

             

terlibat dalam belajar anak. Menurut Schunk (2010) menyimpulkan beberapa cara orang tua agar tetap terlibat pada belajar anak, diantaranya dapat dilihat dari pemberian dukungan terhadap anak, pemberian tambahan bimbingan belajar, pemberian perhatian terhadap tugas sekolah dan jadwal harian, serta ditunjukan pada keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah. Apabila cara tersebut di atas dapat dilakukan oleh orang tua bisa dipastikan orang tua terlibat dalam proses belajar anak. Sehingga dengan orang adanya orang tua yang selalu terlibat dalam proses belajar anak maka hal tersebut akan menjadikan prestasi anak meningkat.

6.1.4 Hubungan Keterlibatan Orang Tua dengan Prestasi Belajar Anak. Hasil analisa hubungan antara keterlibatan orang tua dengan prestasi belajar anak usia sekolah di SDIT Permata Hati diperoleh hasil adanya hubungan antara keterlibatan orang tua dengan prestasi belajar anak (p value = 0,001). Terlibat atau tidaknya orang tua dalam proses belajar anak akan mempengaruhi tinggi atau rendahnya prestasi belajar anak. Oleh karena itu orang tua yang menginginkan anaknya berprestasi di sekolah sebaiknya mereka mau berperan aktif untuk terlibat dalam proses belajar anak, baik di sekolah atau di rumah. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Gonzalez-DeHass (2005), Tamis-LeMonda dan Cabrera, (1999 dalam Schunk 2010) yang menyatakan bahwa keterlibatan orang tua di dalam dan di luar sekolah berkaitan secara langsung terhadap motivasi dan prestasi.

Keterlibatan orang tua dapat dilihat melalui pemberian tambahan bimbingan belajar. Pada penelitian ini menunjukkan hasil terdapat hubungan antara keterlibatan orang tua dalam pemberian tambahan bimbingan belajar dengan prestasi belajar anak (p value = 0,050). Analisa peneliti, dengan adanya dukungan dalam pemberian tambahan bimbingan belajar seperti kursus mata pelajaran maupun kursus peningkatan bakat anak, maka akan memungkinkan prestasi belajar anak di sekolah meningkat. Hal tersebut sejalan dengan teori keterlibatan orang tua yang dikemukakan oleh Henderson., et al, (2004 dalam Ferrara, 2005). Keterlibatan orang tua

             

merupakan hal yang sangat penting untuk mendukung belajar anak, baik di sekolah formal maupun di kursus belajar (Henderson., et al, 2004 dalam Ferrara, 2005).

Keterlibatan orang tua juga dapat dilihat melalui partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah anak. Keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah anak memungkinkan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Penelitian ini menganalisis hubungan antara keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah dengan prestasi belajar anak usia sekolah di SDIT Permata Hati. Berdasarkan hasil analisis simpulan terdapat hubungan antara keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah dengan prestasi belajar anak (p value = 0,034). Schunk, 2010 menjelaskan bahwa keterlibatan orang tua juga ditunjukkan ketika mengunjungi anaknya di sekolah, bertemu dengan guru, ikut serta dalam aktivitas dan kegiatan yang sedang diadakan di sekolah, menjadi sukarelawan di sekolah, mengikuti perkembangan kemajuan akademik anak serta memberikan biaya pendidikan anak. Keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah didukung dengan adanya komunikasi yang baik antara orang tua dengan pihak sekolah sehingga tercipta hubungan yang baik. Keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah juga mampu medukung prestasi belajar anak di sekolah.

Selain dengan terlibatnya orang tua pada kegiatan sekolah anak, keterlibatan juga ditunjukkan dengan pemberian perhatian terhadap tugas sekolah seperti pekerjaan rumah (PR) dan jadwal harian. Menurut Epstein, (1995 dalam Voorhis, 2003) yang menyatakan bahwa keterlibatan orang tua dalam aktivitas belajar anak di rumah merupakan salah satu dari enam tipe keterlibatan orang tua pada pendidikan, di antaranya yaitu pengasuhan, menjadi volunteer, komunikasi, pembuat keputusan, mendidik anak di rumah, dan berkolaborasi dengan komunitas. Pemberian perhatian tersebut juga memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar anak. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil penelitian ini yang diperoleh adanya hubungan antara keterlibatan orang tua dalam pemberian perhatian terhadap tugas sekolah dan jadwal harian dengan prestasi belajar anak (p value = 0,001). Analisa

             

peneliti, dengan adanya pemberian perhatian terhadap tugas sekolah seperti pekerjaan rumah (PR), dan pemberian perhatian orang tua terhadap jadwal harian seperti waktu bermain, dan waktu belajar anak, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.

Selain itu, pemberian perhatian terhadap tugas sekolah dan jadwal harian juga didukung dengan suasana lingkungan rumah yang mendukung belajar anak, misalnya orang tua selalu menyediakan makanan kecil ketika anak belajar dan menyediakan sarapan pagi serta memastikan anak untuk sarapan pagi. Hal tersebut menunjukkan adanya interaksi yang baik antara orang tua dan anak, sehingga anak lebih bersemangat untuk belajar dan prestasi belajar anak akan meningkat. Penelitian yang dilakukan Moline (1998) dengan judul The parental involvement student achievement link, menyatakan bahwa orang tua memiliki pola interaksi yang berbeda terhadap anak untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi dan membuat lingkungan rumah yang mendukung secara emosional.

Hasil analisis hubungan antara keterlibatan orang tua dalam pemberian dukungan terhadap anak dalam aktivitas dengan prestasi belajar anak usia sekolah di SDIT Permata Hati menunjukkan tidak ada hubungan antara keterlibatan orang tua dalam pemberian dukungan terhadap anak pada aktivitas dengan prestasi belajar anak (p value = 0,389). Hal itu dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya yaitu perbedaan pola asuh. Perbedaan pola asuh membuat orang tua terkadang berperilaku keras dengan memberikan aturan-aturan yang bersifat mutlak harus ditaati, dan terkadang ada yang menghormati dan menghargai pendapat anak untuk menentukan kegiatan yang baik untuknya. Perbedaan pola asuh berpengaruh juga terhadap pemberian izin orang tua dalam aktivias yang dipilih oleh anak. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hardiana, Salman, Amirulloh, dan Ryzza, (2011) diperoleh hasil tidak ada hubungan antara karakteristik individu dengan prestasi akademik, dan tidak ada hubungan pola asuh

             

(permisif, dan demokratis) dengan prestasi akademik, tetapi ada hubungan antara pola asuh otoriter terhadap prestasi akademik.

Dokumen terkait