• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Aktualisasi Diri

4. Karakteristik Orang yang Mengaktualisasi Diri . 28

karakteristik yang merupakan ciri-ciri orang yang mengaktualisasi diri yaitu (Feist & Feist 2010, 345) :

a. Persepsi yang lebih efisien akan kenyataan Maslow menyatakan orang yang mengaktualisasi diri dapat cepat dan kritis

29

daripada orang pada umumnya. Oleh karena itu, mereka lebih hati-hati dan cepat menangkap kenyataan secara lebih objektif berdasarkan pengamatan mereka walaupun pada kenyataannya ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan mereka.

b. Penerimaan akan diri, orang lain,dan hal-hal alamiah

Orang yang mengaktualisasi diri dapat menerima diri apa adanya dan tidak terlalu melihat kekurangan yang ada di dalam dirinya sehingga mereka tidak terlalu membela diri dan merasa bersalah ketika ada kritik yang ditujukan pada mereka.

c. Spontanitas, kesederhanaan, dan kealamian Orang yang mengaktualisasi diri dapat menerima diri apa adanya dan tidak terlalu melihat kekurangan yang ada di dalam dirinya sehingga mereka tidak terlalu membela diri dan merasa bersalah ketika ada kritik yang ditujukan pada mereka.

d. Berpusat pada tugas

30

Orang yang mengaktualisasi diri adalah orang yang lebih mengutamakan pada pekerjaan mereka daripada masalah yang ada pada diri mereka karena orang yang mengaktualisasi diri mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mengembangkan suatu misi dalam hidupnya.

e. Kebutuhan akan privasi

Orang yang mengaktualisasi diri tidak merasa kesepian ketika dirinya harus sendirian.

Mereka juga tidak bermasalah ketika harus bersama-sama karena orang lain yang bersamanya pada dasarnya kebutuhan akan cinta dan keberadaannya telah tercukupi.

f. Kemandirian

Orang yang mengaktualisasi diri merupakan orang yang berusaha untuk bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri namn masih memiliki kesadaran bahwa seseorang tidak dapat sepenuhnya hidup tanpa bantuan orang lain.

g. Penghargaan yang selalu baru

31

Orang yang mengaktualisasi diri mempunyai kemampuan untuk dapat mempertahankan penilaian mereka terhadap sesuatu yang mungkin dianggap orang lain sebagai sesuatu yang sederhana dengan pandangan yang tetap positif.

h. Pengalaman puncak

Orang yang mengaktualisasi diri mengalami pengalaman tidak terduga yang memberi perasaan sangat hebat. Orang-orang yang mengalami pengalaman puncak merasakan hilagnya rasa takut, kecemasan dan koflik serta menjadi lebih mencintai, menerima, dan bersikap spontan.

i. Gemeinschaft (kelompok sosial yang anggotanya berhubungan secara erat, intim, eksklusif, dan privat).

Orang yang mengaktualisasi diri memiliki rasa ketertarikan dan keterikatan pada lingkungan sosialnya sehingga bukan hanya terikat secara formal di masyarakat, namun lebih tulus atau tidak mengharapkan keuntungan dalam bermasyarakat.

32

j. Hubungan intrapersonal yang kuat

Orang yang mengaktualisasi diri lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas dari suatu hubungan yang membuat hubungan mereka lebih kuat dan mendalam terhadap orang-orang tertentu yang memberikan kontribusi positif.

k. Struktur karakter demokratis

Orang yang mengaktualisasi diri memiliki prinsip kesetaraan pada orang-orang disekitarnya oleh karena itu, orang-orang ini menganggap bahwa mereka bisa belajar dari siapa saja.

l. Diskriminasi antara cara dan tujuan

Orang yang mengaktualisasi diri memiliki pandangan bahwa mereka tidak terlalu mementingkan bagaimana cara yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan dan lebih mementingkan tujuan tersebut tanpa memperhatikan cara yang mungkin akan menghamba tujuan utama mereka.

33

m. Memiliki selera humor

Orang yang mengaktualisasi diri memiliki rasa humor yang biasanya terjadi pada situasi unik tertentu, spontan dan tidak dibuat-buat. Maslow menyebutnya sebagai humor yang filosofis.

n. Kreatif

Maslow melihat bahwa kreativitas dapat muncul dari mana saja. Oleh karena itu orang yang mengaktualisasi diri dapat memunculkan kreativitas dari mana saja, bahkan dari hal-hal yang sederhana.

o. Tidak mengikuti enkulturasi (pembudayaan).

Orang yang mengaktualisasi diri tidak mudah terpengaruh oleh kebiasaan atau tren pada umumnya yang dikriteriakan secara sepihak oleh pihak luar yang diikuti. Orang yang mengaktualisasi diri memiliki nilai-nilai untuk suatu kebiasaan atau perilaku sesuai dengan keyakinan yang dianggapnya benar dan diterapkan pada dirinya sendiri.

34 C. Jenis-jenis Disabilitas

Disabilitas memiliki berbagai jenis yang diantaranya terdapat disabilitas fisik, intelektual, mental,dan sensorik. Pada disabilitas fisik masih terdapat beberapa jenis, diantaranya (Reefani 2016, 17):

1. Kelainan Tubuh (Tuna Daksa). Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan (kehilangan organ tubuh), polio dan lumpuh. Tunadaksa biasanya dapat terlihat dari bentuk fisik yang berbeda dengan orang pada umumnya yang menyebabkan terbatasnya mobilitas gerak tubuh mereka untuk melakukan sesuatu.

2. Kelainan Indera Penglihatan (Tunanetra). Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (blind) dan low vision.

Kondisi tunanetra selain sulit untuk melihat, mereka yang memiliki kondisi blind atau buta menyebabkan sama sekali tidak bisa melihat sehingga mengandalkan indera lainnya seperti pendengaran atau peraba.

3. Kelainan Pendengaran (Tunarungu). Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Karena

35

memiliki hambatan dalam pendengaran individu rungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Sama seperti tunanetra, tunarungu memiliki kondisi hanya sebagian yang berfungsi dan seluruhnya tidak dapat mendengar / total deaf hearing.

4. Kelainan Bicara (Tunawicara). Tunawicara merupakan seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya kondisi mereka yang sejak lahir tidak bisa mendengar dan terdapat kerusakan pada otak akibat genetik maupun akibat kecelakaan.

5. Tunaganda (disabilitas ganda). Orang yang menyandangnya memiliki dua jenis disabilitas sekaligus, bisa fisik dengan fisik yang lainnya atau fisik dengan mental.

Sementara itu rungu wicara merupakan salah satu jenis dari disabilitas gand fisik dimana penderitanya mengalami dua keterbatasan sekaligus yaitu tidak dapat mendengar dan tidak dapat berbicara. Penyandang kondisi ini tidak mampu berkomunikasi dengan baik selayaknya manusia biasanya.

Mereka perlu memahami informasi yang disampaikan dengan bahasa isyarat atau terkadang dengan memahami mimik muka.

36 D. Disabilitas Rungu Wicara

Disabilitas rungu wicara dapat diartikan sebagai kondisi seseorang yang memiliki keterbatasan ataupun ketidakmampuan dalam mendengar sekaligus berbicara yang dikarenakan tidak dapat berfungsinya organ pendengaran.

1. Definisi Disabilitas Rungu

Dalam penelitian ini peneliti lebih banyak menggunakan istilah disabilitas rungu sesuai dengan Undang-undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menggunakan istilah disabilitas untuk menyebutkan setiap orang yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental maupun sensorik, namun dalam memberikan definisi peneliti menggunakan istilah yang digunakan oleh para ahli yaitu tunarungu. Istilah tunarungu diambil dari kata tuna dan rungu. Tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran (Haenudin 2013, 23). Orang dikatakan rungu apabila ia tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar. Tunarungu adalah istilah yang umum yang menunjukan kesulitan mendengar baik ringan maupun berat (Somad 1996, 26). Tunarungu merupakan keadaan seseorang yang memiliki keterbatasan auditori atau gaya belajar melalui cara mendengar, menyimak dan berbicara (Suharmini 2009, 35). Dari beberapa pengertian tersebut maka dapat

37

disimpulkan tunarungu atau disabilitas rungu memiliki arti sebagai suatu kondisi tidak mampunyai atau sulitnya seseorang dalam menerima rangsangan berupa getaran suara sehingga membuat penyandangnya tidak mampu untuk mendengar.

2. Karakteristik Disabilitas Rungu Secara Pendengaran

Ditengah masyarakat awam, anak yang memiliki kondisi disabilitas rungu sering dianggap sebagai anak yang sama sekali tidak dapat mendengar, padahal tidak semua disabilitas rungusepenuhnya tidak dapat mendengar. Terdapat beberapa tingkatan yang membedakan antara rungu sebagian dengan rungu secara keseluruhan atau tuli. Ketajaman pendengaran seseorang diukur dan dinyatakan dalam satuan bunyi yang disebut deci-Bell atau db. Secara terperinci anak rungu dapat dikelompokan menjadi kelompok berikut (Somad 1996, 27):

a. Disabilitas rungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30 db (slight loses) dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Kemampuan mendengar masih baik karena berada di garis batas antara pendengaran normal dan kekurangan pendengaran taraf ringan.

38

2. Tidak mengalami kesulitan memahami pembicaraan dan dapat mengikuti sekolah biasa dengan syarat tempat duduknya perlu diperhatikan, terutama harus dekat dengan guru atau pembimbing.

3. Dapat belajar berbicara secara efektif dengan melalui kemampuan pendengarannya.

4. Perlu diperhatikan kekayaan perbendaharaan bahasanya supaya perkembangan biacara dan bahasanya tidak terhambat.

5. Disarankan yang bersangkutan menggunakan alat bantu dengar untuk meningkatkan ketajaman daya pendengarannya.

b. Anak rungu yang kehilangan pendengarannya antara 30-40 db (mild losses) dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Dapat mengerti percakapan bisa pada jarak sangat dekat.

2. Tidak mengalami kesulitan untuk mengekspresikan hatinya.

39

3. Tidak dapat menangkap suatu percakapan yang lemah

4. Kesulitan menangkap isi pembicaraan dari lawan bicaranya, jika tidak berhadapan.

5. Untuk menghindari kesulitan bicara perlu mendapatkan bimbingan yang baik dan intensif

6. Ada kemu dapat mengikuti sekolah biasa, namun untuk kelas-kelas pemulaan sebaiknya dimasukan dalam kelas khusus.

7. Disarankan menggunakan alat bantu dengar untuk menambah ketajaman pendengarannya.

c. Anak rungu yang kehilangan pendengaran antara 40-60 db (moderate losses)ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1. Dapat mengerti percakapan keras pada jark dekat, kira-kira satu meter, sebab ia kesulitan menangkap percakapan pada jarak normal.

2. Sering terjadi miss-understanding terhadap lawan bicaranya, jika diajak berbicara.

40

3. Penyandang rungu kelompok ini mengalami kelainan biacara terutama pada huruf konsonan.

4. Kesulitan menggunakan bahasa dengan bentar dalam percakapan.

5. Perbendaharaan kosakatanya sangat terbatas.

d. Anak rungu yang kehilangan pendengarannya antara 60-75 db (severe losses) ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1. Kesulitan membedakan suara

2. Tidak memiliki kesadaran bahwa benda-benda yang ada di sekitarnya memiliki getaran suara.

e. Anak rungu yang kehilangan pendengaran 75 db (profoundly losses) ciri-cirinya yaitu biasanya tidak menyadari bunyi keras, mungkin juga ada reaksi jika dekat telinga. Anak rungu kelompok ini meskipun menggunakan pengeras suara, tetapi tetap tidak dapat memahami atau menangkap suara.

Dari pernyataan di atas maka didapat bahwa kondisi disabilitas rungu memiliki berbagai macam tingkatan dalam kemampuannya menerima suara, dengan berbeda-bedanya tingkatan itu juga membuat

41

mereka memiliki ciri khasnya masing-masing berupa cara mereka dalam menerima dan menanggapi suara hingga berkomunikasi.

3. Karakteristik Disabilitas Rungu Secara Khusus Selain secara pendengaran, penyandang disabilitas rungu memiliki karaktersitik secara khusus secara kepribadiannya, hal ini diungkapkan sebagai berikut (Haenudin 2013, 66) :

a. Intelegensi penyandang tunarungu biasanya tidak jauh berbeda dengan orang dengan kondisi normal. Namun secara fungsional penyandang tunarungu masih di bawah rata-rata orang normal. Kondisi tunarungu membuat mereka belajar dengan mengamati dan sulit memahami informasi secara verbal sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk proses belajar.

b. Memiliki hambatan dalam berbicara dan berbahasa, kosa kata mereka sangat terbatas sehingga sulit untuk memahami kiasan dan kata-kata abstrak

c. Keterbatasan dalam berkomunikasi membuat penyandang tunarungu merasa terasingkan di lingkungannya sehingga memunculkan kecurigaan, emosi yang tidak stabil, rasa

42

percaya diri yang kurang dan cenderung memisahkan diri dari pergaulan.

d. Memiliki sifat egosentrisme yang lebih tinggi sehingga sulit menempatkan diri pada cara berpikir dan perasaan orang lain serta sulit untuk menyesuaikan diri.

e. Memiliki sifat impulsive yang membuat mereka lebih berhati-hati dan cenderung terencana sebelum melakukan suatu tindakan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

f. Memiliki sifat kaku dan kurang luwes dalam memandang dunia.

g. Mudah marah dan tersinggung.

h. Memiliki rasa hati-hati yang tinggi seiring pengalaman yang mereka dapatkan.

Dari penjelasan di atas maka bisa didapatkan bahwa secara umum dari penampilan fisik, kondisi tunarungu tidak jauh berbeda dengan kondisi orang normal. Namun dari segi intelegensi dan emosi, orang dengan kondisi tunarungu memiliki proses yang lebih lama karena mereka cenderung untuk mengamati sesuatu untuk mendapatkan informasi, memiliki antisipasi yang tinggi dan mudah untuk tersinggung

43

yang akhirnya membuat mereka sulit untuk percaya diri.

4. Penyebab Disabilitas Rungu

Berdasarkan saat terjadinya kerunguan dapat terjadi pada saat sebelum lahir (prenatal), saat dilahirkan atau kelahiran (natal), dan sesudah dilahirkan (post natal). Banyak juga para ahli yang mengungkap tentang penyebab disabilitas rungu dengan sudut pandang yang berbeda. Faktor-faktor penyebab disabilitas rungu dikelompokkan sebagai berikut (Zaenal Arimin 1996, 25):

1. Faktor dari dalam diri anak, ada beberapa hal yang menjadi penyebab disabilitas rungu yang berasal dari dalam diri anak antara lain:

a. Faktor keturunan termasuk diantaranya adalah genetik dari salah satu atau kedua orang tua anak tersebut yang mengalami kerunguan. Transmisi yang disebabkan adanya gen yang dominan resesif dan memiliki hubungan dengan jenis kelamin.

b. Adanya penyakit bawaan ibu yang sedang mengandung seperti menderita penyakit rubella pada masa kandungan tiga bulan pertama yang akan berkemungkinan besar ikut menginfeksi janin.

44

c. Ibu yang sedang hamil mengalami keracunan darah (Toxaminia). Hal ini bisa menyebabkan kerusakan pada plasenta yang mempengaruhi pertumbuhan janin.

Jika hal tersebut menyerang syaraf atau alat-alat pendengaran, maka anak tersebut akan dilahirkan dalam keadaan sulit mendengar atau disabilitas rungu.

2. Faktor dari luar diri anak anatara lain:

a. Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan, anak yang terkena infeksi adalah anak yang terserang Herves Implex, jika infeksi ini menyerang alat kelamin ibu, dapat menular pada anak pada saat dilahirkan.

b. Terdapat infeksi virus yang menyebabkan terjadinya penyakit meningitis yang mampu menyerang indera pendengaran sampai mengalami kondisi tuli.

c. Otitis Media atau Radang Telinga Bagian tengah. Otitis media merupakan radang pada telinga bagian tengah, sehingga menimbulkan nanah yang mengumpul dan mengganggu hantaran bunyi. Jika kondisi

45

tersebut sudah kronis dan tidak segera diobati, dapat mengakibatkan gangguan pendengaran yang tergolong ringan sampai sedang.

Dari penyebab-penyebab disabilitas rungu tersebut maka didapatkan bahwa terdapat dua jenis penyebab terjadinya gangguan pendengaran pada seseorang yaitu faktor dari dalam diri seseorang dan dari luar diri seseorang. Sehingga saat terjadi kehamilan maupun sesudah melahirkan diperlukan pemeriksaan Kesehatan terhadap ibu yang mengandung dan juga anak yang dilahirkan untuk mencegah terjadinya berbagai penyakit atau kelainan yang dapat menyebabkan disabilitas rungu maupun gangguan lainnya.

5. Definisi Disabilitas Wicara

Tunawicara merupakan sebutan bagi mereka yang memiliki gangguan berbicara sehingga tidak mampu berkomunikasi atau berbicara dengan jelas, biasanya diakibatkan oleh gangguan pendengaran yang membuat mereka sulit untuk berbicara (Bilqis 2012, 11). Tunawicara biasanya mengalami kondisinya tersebut dikarenakan memiliki kondisi disabilitas rungu sehingga ia tidak mampu menerima informasi berupa suara yang membuatnya tidak dapat berkomunikasi

46

melalui lisan (Zaenal Arimin 1996, 18). Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulan tunawicara merupakan tidak mampunya seseorang dalam berkomunikasi secara lisan atau berbicara yang biasanya juga disebabkan oleh adanya kondisi disabilitas rungu, kondisi tunawicara ini menghambat mereka dalam berkomunikasi dengan orang lain sehingga memerlukan bahasa khusus yaitu bahasa isyarat.

6. Klasifikasi Anak Tunawicara

Tunawicara merupakan kondisi seseorang tidak dapat berbicara secara normal dikarenakan adanya gangguan yang membuatnya kesulitan berbicara, terdapat klasifikasi pada tunawicara diantaranya (Zaenal Arimin 1996, 22):

a. Tipe kelainan bicara diantaranya:

1. Kelainan artikulasi (articulation disorders) yaitu kelainan yang berupa bunyi ucapan kacau, tidak konsisten atau tidak benar seperti ucapan bayi, ucapan orang pelat atau laling (gangguan bunyi r, i, t, d, s) karena tidak aktifnya kondisi lidah.

2. Kelainan suara (voice disorder) yaitu adanya penyimpangan atau gangguan

47

yang terjadi pada kualitas suara, puncak suara, kerasnya suara, identitas suara, dan fleksibel.

3. Gangguan kelancaran (fluency disorder) yaitu gangguan atau kelancaran yang bervariasi di antara faktor-faktor yang meliputi gagap atau kecepatan irama bicara.

b. Tipe gangguan bahasa yaitu adnya kesenjangan kemampuan memahami dan mengekspresikan ide meliputi:

1. Bahasa terlambat (delayed language) yaitu anak tidak memperoleh

kemampuan bicara atau

mengekspresikan bahasa oral pada waktu normal dengan tingkat ketepatan yang standar.

2. Adaptasi (aphasia) adalah kehilangan kemampuan memakai atau memahami kata-kata kaena suatu penyakit otak.

c. Gangguan ganda atau jamak merupakan gangguan bicara dan bahasa diartiakan dengan:

1. Kerusakan pendengaran (hearing impairment)

48

2. Langit-langit atau bibir terbelah (cleft-Palate or cleft-Lip)

3. Terbelakang mental (mental retardation)

4. Gangguan emosi (emotional disturbance)

5. Ketidakmampuan belajar (learning disability)

6. Kelayuan otak (celebral palsy).

Dari klasifikasi tersebut didapatkan bahwa penyandang tunawicara memiliki berbagai kelainan dan gangguan yang membuat mereka terhambat untuk melakukan berbagai macam hal terutama dalam menerima informasi.

7. Definisi Disabilitas Rungu Wicara

Dapat disimpulkan bahwa disabilitas rungu wicara merupakan ketidakmampuan atau kesulitan seseorang secara sebagian maupun keseluruhan untuk mendengar sekaligus berbicara yang disebabkan adanya gangguan pada indera pendengaran maupun kondisi fisik lainnya yang mempengaruhi pendengaran dan cara berbicara. Selain mereka mengalami kesulitan untuk mendengar dan berbicara, keadaan ini membuat mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain sehingga diperlukannya bahasa isyarat sebagai cara

49

mereka berkomunikasi. Selain itu masalah yang ditimbulkan juga mempengaruhi kondisi emosi mereka yang mudah untuk tersinggung, kesulitan dalam belajar atau menerima informasi, memahami lingkungan sekitar dan keterbelakangan mental.

E. Kerangka Berpikir

Rungu wicara merupakan suatu kondisi dimana penyandangnya mengalami gangguan fungsi indera berupa pendengaran hingga pada wicara atau berbicara, keadaan ini diakibatkan oleh berbagai hal dari mulai penyakit yang diderita oleh ibu yang mengandungnya, genetik dan cedera di bagian kepala yang menyebabkan terjadinya kerusakan syaraf pendengaran. Kondisi rungu yang terjadi semenjak orang itu lahir dapat membawa keadaan mereka menjadi gangguan wicara karena mereka tidak mengenali bahasa atau kata-kata secara lisan sehingga mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat, sehingga mereka menjadi penyandang rungu wicara. Keadaan mereka yang tidak bisa berkomunikasi secara lisan dapat menghambat proses pengiriman dan diterimanya informasi yang disampaikan terlebih saat mereka berkomunikasi dengan orang yang tidak bisa berbahasa isyarat.

Kondisi ini akhirnya menimbulkan masalah yang lain seperti masalah sosial dan psikologis. Emosi mereka menjadi rentan akan hal-hal yang membuat mereka menjadi tidak

50

nyaman sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan dasarnya termasuk dalam hal mengaktualisasikan diri. Manusia setidaknya memiliki lima kebutuhan dasar yaitu fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Terdapat indikator-indikator kebutuhan agar manusia dapat mengaktualisasikan dirinya, diantaranya kebutuhan pertumbuhan, kebutuhan pencapaian potensi seseorang, kebutuhan pemenuhan diri dan kebutuhan dorongan. Seluruh kebutuhan tersebut harus dipenuhi agar mereka mampu untuk memaksimalkan potensi yang ada sehingga mampu untuk menjadi apa yang mereka inginkan sesuai potensinya tersebut.

Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara Melati hadir untuk memberikan wadah bagi penyandang rungu wicara untuk dipersiapkan menjadi orang-orang yang mampu hidup secara normal, memenuhi kebutuhannya dan berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam mempersiapkan hal tersebut, balai menyediakan beberapa fasilitas seperti penginapan, makan, rekreasi, keamanan dan lainnya yang menunjang kebutuhan mereka di balai. Selain itu terdapat beberapa program termasuk kesenian angklung sebagai salah satu program yang wajib diikuti oleh penerima manfaat. Kesenian angklung menjadi salah satu kegiatan yang unik karena mengharuskan orang yang tidak memiliki kemampuan mendengar harus bisa memainkan alat musik yaitu angklung. Selain itu kesenian angklung merupakan

51

salah satu kegiatan yang sudah ada lama di balai, oleh karena itu dengan adanya kesenian angklung di balai, seharusnya bisa menjadi salah satu porgam yang dapat membantu penerima manfaat untuk mengaktualisasikan dirinya agar mereka mampu berdaya ketika sudah lulus dari balai.

Bagan 2.1 Kerangka Berpikir

Indikator Kebutuhan Aktualisasi Diri (Robbins 2010, 110)

 Kebutuhan pertumbuhan

 Pencapaian potensi seseorang

 Pemenuhan diri

 Kebutuhan Dorongan

Aktualisasi Rungu Wicara yang Mengikuti Kesenian Angklung

Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara Melati Rungu Wicara

(Penerima manfaat)

Kesenian Angklung

52 BAB III

GAMBARAN UMUM BALAI REHABILITASI SOSIAL PENYANDANG DISABILITAS SENSORIK RUNGU

WICARA MELATI

Bab ini menjelaskan tentang profil lembaga, visi dan misi yayasan, program balai, struktur organisasi dan jumlah penerima manfaat atau penyandang tunrungu wicara. Dengan menjelaskan gambaran umum lembaga diharapkan mampu memberikan pemahaman, penjelasan, maupun gambaran terkait dengan Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara Melati.

Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara Melati

1. Sejarah BRSPDSRWM

Balai Rehabilitasi Sensorik Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara Melati memiliki sejarah yang cukup panjang dibuktikan dari berdirinya pada tahun 1988 dengan nama Panti Rehabilitasi Penderita Cacat Rungu Wicara (PRPCRW) yang merupakan proyek Direktorat RPTC Departemen Sosial RI non struktural yang dipimpin oleh koordinator dan mempunyai tugas serta fungsi Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Tuna Rungu Wicara (Arsip BRSPDSRW, 2020).

53

Kemudian pada 1994 berubah nama menjadi Panti Sosial Bina Rungu Wicara Melati (PSBRWM) berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. 3/HUK/1994 tentang dasar pendirian panti sosial yang dijabarkan dalam Permensos RI No. 106/HUK/2009 tentang organisasi dan tata kerja balai sosial di lingkungan Departemen Sosial, panti ini memiliki tugas pokok memberikan bimbingan pelayanan dan rehabilitasi sosial yang bersifat kuratif, rehabilitatif, promotif dalam bentuk memberi pelayanan bimbingan fisik, mental, sosial, pelatihan, keterampilan,resosialisasi serta bimbingan lanjut, melaksanakan proses pengkajian dan penyiapan standar pelayanan, pemberian informasi dan rujukan dengan tujuan para penyandang disabilitas rungu wicara mampu untuk mandiri dan dapat berperan aktif dalam kehidupannya di tengah masyarakat. Nama Melati sendiri diambil dari

Kemudian pada 1994 berubah nama menjadi Panti Sosial Bina Rungu Wicara Melati (PSBRWM) berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. 3/HUK/1994 tentang dasar pendirian panti sosial yang dijabarkan dalam Permensos RI No. 106/HUK/2009 tentang organisasi dan tata kerja balai sosial di lingkungan Departemen Sosial, panti ini memiliki tugas pokok memberikan bimbingan pelayanan dan rehabilitasi sosial yang bersifat kuratif, rehabilitatif, promotif dalam bentuk memberi pelayanan bimbingan fisik, mental, sosial, pelatihan, keterampilan,resosialisasi serta bimbingan lanjut, melaksanakan proses pengkajian dan penyiapan standar pelayanan, pemberian informasi dan rujukan dengan tujuan para penyandang disabilitas rungu wicara mampu untuk mandiri dan dapat berperan aktif dalam kehidupannya di tengah masyarakat. Nama Melati sendiri diambil dari

Dokumen terkait