• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA

4.6. Karakteristik Pasar Tradisional Sipahutar

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan, maka yang menjadi karakteristik Pasar Tradisional Sipahutar ini adalah :

Pada pukul 06.00 pagi di pasar tradisional ini telah banyak melakukan aktivitas., baik sebagai pedagang maupun pembeli. Sebagai pedagang maka mereka akan mengatur dan memilah-milah dagangan mereka dan sebagai pembeli mereka akan melihat-lihat berbagai barang yang akan mereka butuhkan. Pasar tradisional ini berlangsung sekali dalam seminggu yaitu pada hari senin dan di pasar ini masyarakat akan berdatangan dari segala desa yang ada di Kecamatan Sipahutar. Situsi pasar akan ramai menjelang jam 12 – 14 wib dan akan sepi ketika jam menunjukkan jam 16 ke atas, karena penduduk telah berpulangan ke desa masing-masing. Namun dalam a. Waktu kegiatan :

hari-hari tertentu, misalnya hari menjelang masuk sekolah, hari menjelang Natal dan Tahun Baru pasar ini akan ramai dikunjungi. Pembeli maupun pedagang dari daerah/desa lain berdatangan ke pasar tradisional Sipahutar.

b. Kondisi fisik tempat usaha :

Pada Pasar Tradisional ini ditemukan bangunan permanent yaitu dimana kondisi fisik tempat usaha pedagang dari beton/semen keseluruhan, dan bangunan semi permanent maksudnya adalah kondisi fisik tempat usaha para pedagang setengah beton dan setengah kayu artinya lantai dari semen dan tiangnya /penyangga dari kayu dan kalau papan/kayu maksudnya adalah bangunan fisik usaha pedagang itu terbuat dari kayu/papan dan sama sekali tidak ada semennya. Biasanya bangunan yang kondisi fisiknya permanent ditempati pedagang yang dagangannya perabot rumah tangga (kursi,lemari), penjahit, penjual alat-alat motor/kreta, penjual pupuk, apotik, tukang mas, dan sebagian pedagang makanan ringan. Untuk pedagang yang memiliki kondisi fisik tempat usaha semi permanent ditempati para pedagang yang jenis dagangannya adalah kain, sepatu, ulos batak, kelontong, penjual bumbu jadi, pecah belah dan lain-lain. Sementara untuk pedagang yang memiliki kondisi fisik tempat usaha papan/kayu ditempati para pedagang tukang jam tangan, pedagang jualan daging, pedagang kain bekas, pedagang ikan kering, sebagian pedagang kelontong dan lain-lain.

- Kebersihan tidak terjaga dengan baik.

Maksudnya bahwa di pasar tradisional ini masih banyak tumpukan-tumpukan sampah yang berserakan atau sampah yang belum dibakar, kondisi yang becet, dan terlalu kotor selalu ditemui di pasar ini apalagi ketika datang hujan mengenangi jalan-jalan pasar yang membuat kesulitan dan tidak yaman bagi pembeli atau pengunjung. - Gang antar kios terlalu sempit.

Ini dapat dilihat dari jarak antara pedagang yang satu dengan pedagang lain yang saling berhadapan hanya memiliki kurang lebih 1 meter, sehingga ketika para pembeli/pengunjung lewat mereka saling bersentuhan, dan saat puncak keramaian pembeli akan berdesakan.

- Fasilitas parkir tidak memadai.

Ini dapat dilihat dari bercampurnya antara pedagang dan mobil yang diparkirkan dan belum adanya tempat khusus pemarkiran. Walaupun demikian antara pedagang dan pemarkir menjalin hubungan yang baik tidak adanya perilaku yang ingin mengambil keuntungan sepihak, karena pada masyarakat ini mengutamakan kenersamaan dan saling tolong-menolong.

- Tempat pembuangan sampah yang belum memadai/tidak tersedia.

Ini dapat dilihat dari berseraknya sampah dimana-mana dan pembuangan sampah (khusus) belum ada/tersedia. Padahal setiap hari onan pengurus pasar selalu mengutip retribusi dari setiap kios, balairung dan lapak-lapak. Dimana setiap kios dan lapak harus membayar diantara Rp.700 – 2.000 dan balairung Rp.4.000 per bulan.

- Kurangnya perhatian dari pengelola pasar, yang membuat para penjual di Pasar Tradisional ini merasa dirugikan karena pada saat hujan kondisi pasar sangat becek, kotor, dan air tergenang hingga para pembeli/pengunjung sulit melewati dagangan mereka

c. Barang yang dijual :

- Barang yang dijual adalah barang-barang kebutuhan rumah tangga sehari- hari, seperti syur-mayur, cabe, garam, beras, minyak makan, minyak tanah, ikan kering, ikan basa, buah dan lain-lain.

- Umumnya barang yang dijual lebih segar dan bervariasi.

Ini bisa dilihat dari jenis dagangan yang dijual para pedagang. Misalnya sayur-mayur, ubi kayu dan lain sebagainya. Karena pedagang sayur-mayur umumnya menanam sendiri.

- Harga relatif murah dan dan dapat ditawar.

Ikatan-ikatan komersil sama sekali dipisahkan dari ikatan-ikatan sosial, persahabatan, ketetanggan bahkan kekerabatan adalah satu hal, sementara perdagangan adalah hal lain, dan pendekatan pada kegiatan ekonomi terlepas dari hubungan pribadi. Umumnya pedagang mengutamakan hubungan sosialnya dari pada keuntungan yang besar dan ketika hari sudah sore harga barang-barang keperluan dapur seperti cabe, tomat, sayur dan lainnya akan relatif lebih murah, karna barang tersebut tidak tahan lama disimpan.

- Berlakunya sistem bayar besok (utang) bagi pembeli yang langganan.

Maksudnya ketika pembeli (langganan) membeli barang kebutuhan pada seorang pedagang yang sudah lama dikenal, ia akan mendapat keringanan untuk menbayar harga setengahnya untuk minggu depan karena pembeli tidak sanggup membayar sekaligus atau pembeli masih membeli keperluan yang paling dibutuhkan. Tindakan seperti ini adalah bentuk dari saling tolong-menolong antara pedagang dan pembeli yang bertujuan untuk mepererat hubungan diantara mereka, dan adanya kepercayaan (trust) sikap saling percaya-mempercayai antara pedagang dan pembeli yang melahirkan hubunngan sosial yang kuat dan erat.

- Penataan barang yang seadanya.

Ini dapat dilihat dari penataan barang dagangan pedagang yang menggabungkan jenis dagangan yang satu dengan jenis dagangan yang lain, misalnya sayur-mayur digabung dengan dagangan pecah belah.

d. Hubungan pembeli dan penjual

Adanya kominikasi ketika pembel menbeli dan sipenjual menawarkan barang dagangannya. Tanpa interaksi mustahil barang dagangan mereka akan laku terjual. Transaksi yang terjadi pada pasar tradisional ini juga memperlihatkan bahwa institusi pasar ini tidak terlepas dalam kaitannya dengan hubungan-hubungan sosial. Dapat saja terjadi sipenjual (pedagang) tidak mendapatkan keuntungan apa-apa ketika ia

:

menjual barang dagangannya kepada seseorang, yang kebetulan teman akrabnya dulu di desa.

- Terjadi proses tawar-menawar.

Ini dapat dilihat ketika pembeli membeli barang dagangan sipedagang. Pembali dan sipedagang akan merasa puas ketika harga yang ditawarkan sesuai dengan keinginan mereka. Tindakan ekonomi tidak semata-mata didasarkan pada suatu motivaasi mencari keuntungan semata, tetapi juga mempertimbangkan aaspek-aspek sosial lainnya, misalnya hubungan kekeluargaan, hubungan kedaerahan, dan lainnya.

e. Adanya kebiasaan/tradisi dari masyarakat Sipahutar pergi ke pasar bukan hanya untuk membeli keperluan/kebutuhan sehari-hari tetapi ada juga hanya sekedar dating, ngobrol dengan teman, ketemuan, diskusi bahkan mencari pacar. Ini sudah lama berlangsung dan para informan mengatakan sejak pasar ada, tradisi ini sudah ada.

f. Kurangnya pengelolaan Pasar TradisionalSipahutar.

Ini dapat dilihat dari adanya kutipan dari setiap pedagang kepada petugas pasar, tapi sarana dan prasarananya masih kurang memadai misalnya kamar mandi/WC, tempay sampah yang kurang dan parit yang kurang jelas salurannya kemana.

Dokumen terkait