BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Pasien Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit
Penelitian ini telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan yang dimulai dari bulan Juni 2014 s/d Juli 2014. Diketahui bahwa total data pasien anak rawat inap pada periode Januari 2013 s/d Desember 2013 sebanyak 997 lembar data pasien anak. Data diambil secara acak sebanyak 100 data pasienanak rawat inap dari rekam medik dalam rentang waktu Januari 2013 s/d Desember 2013 yang memenuhi kriteria inklusi sebagai objek penelitian yang meliputi penggunaan obat berdasarkan jenis kelamin, usia, lama perawatan, diagnosis penyakit, jumlah obat perpasien, jenis obat, bentuk sediaan, golongan obat dan golongan antibiotik.
4.1.1 Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap studi penggunaan obat pada pasien anak rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Karakteristik Jenis Kelamin Pada Pasien Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2013 s/d Desember 2013.
No. Jenis Kelamin Jumlah Pasien Persentase (%)
1 Laki-laki 55 55
2 Perempuan 45 45
24
Berdasarkan hasil dari 100 data rekam medik yang diteliti diperoleh 55 (55%) adalah anak lelaki dan 45 (45%) adalah anak perempuan dengan penyakit yang bermacam-macam. Aktifitas fisik yang banyak pada anak laki-laki dapat membuat kondisi fisik tubuh cepat mengalami penurunan termasuk penurunan sistem kekebalan tubuh, sehingga lebih berisiko terkena penyakit (Pudjiaji, 2010). Beberapa hasil penelitian dalam Lismartina, (2000), menjelaskan bahwa jenis kelamin merupakan faktor gizi internal yang menentukan kebutuhan gizi sehingga pada ada keterkaitan antara jenis kelamin dengan keadaan gizi. Soetjiningsih (1995) mengemukakan bahwa kematian bayi dan malnutrisi anak pria lebih rentan sakit dibandingkan perempuan.
Hasl penelitian Chen dan Jus’at, (1992), di Baghdad dan India, menunjukkan bahwa keadaan gizi balita perempuan, selalu lebih rendah dibandingkan balita laki-laki. Penelitian berbeda dihasilkan oleh Sudati dalam Lismartina, (2000), dari hasil analisi data Susenas, (1986), didaptkan bahwa prevalensi gizi kurang pada anak laki-laki lebih banyak dibandingkan pada anak perempuan. Perbedaan tersebut belum dapat dijelaskan secara pasti antara faktor genetik atau dalam hal perawatan/pemberian makan.
4.1.2 Usia
Penggolongan umur pada penelitian ini berdasarkan penggolongan masa anak-anak menurut The British Pediatric Association (BPA) pada tahun 2003, yang terdiri dari neonatus (awal kelahiran -1 bulan), bayi (1 bulan - 2 tahun), dan anak (2 tahun - 12 tahun).
Bayi dan anak mudah sakit jika dibandingkan orang dewasa, anak-anak lebih rentan terhadap penyakit karena sistem imunnya belum terbentuk
25
dengan sempurna. Banyak faktor yang menyebabkan anak rentan sakit, namun penyebab terbesar adalah adanya infeksi virus (Triasmara, 2013).
Dari 100 rekam medik pasien yang diteliti merupakan pasien dengan usia anak 2 tahun - 12 tahun 65 (65%) kemudian bayi 1 bulan - 2 tahun 32 (32%) dan neonatus 0 - 1 bulan 3 (3%), dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Karakteristik Usia Pada Pasien Anak Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2013 s/d Desember 2013.
No. Usia Jumlah Pasien Persentase (%)
1 2 tahun - 12 tahun 65 65
2 1 bulan - 2 tahun 32 32
3 0 - 1 bulan 3 3
Total 100 100
Pada pasien anak berdasarkan usia 2 tahun - 12 tahun umumnya mempunyai keluhan yang lebih banyak dari pada bayi, hal ini sesuai dengan pertambahan usia dan aktifitas yang lebih banyak menjadi penyebab terganggunya fungsi kekebalan tubuh (Maas, 2007). Berdasarkan dari hasil penelitian Fras K., et al, (2013), penelitian Penderita diare akut terbanyak berdasarkan kriteria kelompok umur adalah pada kelompok umur 1 - 5 tahun yaitu sebanyak 42,85 % (36 penderita). Kelompok usia 1 - 5 tahun adalah kelompok anak yang mulai aktif bermain dan rentan terkena infeksi penyakit terutama diare. Anak pada kelompok umur ini dapat terkena infeksi bakteri penyebab diare pada saat bermain di lingkungan yang kotor serta melalui cara hidup yang kurang bersih (Wulandari, 2012).
26 4.1.3 Lama Perawatan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap studi penggunaan obat pada pasien anak rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan lama perawatan yang paling lama adalah selama 26 hari dan yang paling cepat perawatan adalah selama 2 hari, dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Karakteristik Lama Perawatan Pada Pasien Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2013 s/d Desember 2013.
No. Lama Perawatan (hari)
Jumlah Pasien
Persentase Jumlah
Pasien (%) hari x pasien
1 1 0 0 0 2 2 10 10 20 3 3 14 14 42 4 4 22 22 88 5 5 20 20 100 6 6 14 14 84 7 7 2 2 14 8 8 3 3 24 9 9 3 3 27 10 10 2 2 20 11 11 3 3 33 12 12 2 2 24 13 13 0 0 0 14 14 2 2 28 15 15 0 0 0 16 16 1 1 16 17 21 1 1 21 18 26 1 1 26 Jumlah 100 100 567
Rata-rata lama perawatan 5,67 hari Berdasarkan lama perawatan pada pasien anak rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan pada periode Januari 2013 s/d Desember 2013, lama perawatan 4 hari merupakan perawatan persentase yang paling tinggi (22%) diikuti dengan 5 hari perawatan (20%) kemudian lama perawatan 3 dan 6 hari (14%). Lama perawatan 2 hari merupakan lama perawatan yang paling cepat
27
(10%) dan lama perawatan 26 hari merupakan lama perawatan yang paling lama (1%). Penelitian ini menyebutkan bahwasannya perawatan selama 4 hari memiliki persentase yang paling tinggi yang berarti dalam penggunaan obat pada pasien anak terutama antibiotik didapat jumlah penggunaan antibiotik yang paling banyak secara keseluruhan, namun jika ditinjau pada setiap pasien yang dirawat, penggunaan obat terutama antibiotik yang paling banyak didapati pada pasien yang dirawat selama 26 hari.
4.1.4 Diagnosis Penyakit
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap studi penggunaan obat pada pasien anak rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan pada periode Januari 2013 s/d Desember 2013 ini, mayoritas pasien anak rawat inap menderita infeksi (44%). Infeksi itu sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme, yang menimbulkan kerusakan atau gangguan fungsi jaringan. Penyakit infeksi merupakan penyebab utama dalam kasus kematian pada masyarakat sepanjang abad 20. Sedikitnya 100.000 kasus di rumah sakit di Inggris pertahunnya disebabkan karena infeksi, dengan angka kematian mencapai 5.000 kematian (Surahman, et al., 2008).
Setelah infeksi diagnosis terbanyak setelahnya adalah gangguan pernafasan (21%), gangguan pencernaan (13%), gangguan seizure (5%), malnutrisi (5%), dan penyakit lainnya (12%), dapat dilihat pada Tabel 4.4.
28
Tabel 4.4 Karakteristik Diagnosis Penyakit Pada Pasien Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2013 s/d Desember 2013.
No. Diagnosis Penyakit Jumlah Persentase (%)
1 Infeksi 44 44 2 Gangguan Pernafasan 21 21 3 Gangguan Pencernaan 13 13 4 Gangguan Seizure 5 5 5 Malnutrisi 5 5 6 Dan lain-lain 12 12 Jumlah 100 100
4.2 Persentase Penggunaan Obat Perpasien Pada Pasien Anak Rawat Inap Di