BAB I PENDAHULUAN
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Karakteristik Pedagang Jajanan Makanan/Minuman
Deskripsi karakteristik pedagang adalah menguraikan atau memberikan gambaran mengenai identitas pedagang dalam penelitian ini, sebab dengan menguraikan identitas pedagang yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat diketahui sejauh mana identitas pedagang dalam penelitian ini. Oleh karena itu identitas responden dalam penelitian ini dikelompokkan dalam beberapa kelompok yaitu jenis kelamin, umur, pendidikan, penghasilan, dan sumber informasi yang diperoleh responden.
Dalam pelaksanaan penelitian ini, ditetapkan sebanyak 80 orang pedagang. Dimana dari 80 kuesioner yang dibagikan kepada pedagang maka kuesioner telah dikembalikan dan semuanya telah diolah lebih lanjut, oleh sebab itu akan disajikan gambaran identitas responden sebagai berikut:
Hasil penelitian seperti yang ditunjukkan dalam tabel 4.1. diketahui bahwa responden berjenis kelamin laki laki ada sebanyak 28 responden (35,0%), dan yang berjenis kelamin perempuan ada sebanyak 52 responden (65,0 %). Hal ini menunjukkan bahwa rata – rata pedagang yang berjualan jajanan makanan dan minuman di Pajak Usu Padang Bulan Medan ialah kebanyakan kaum perempuan dibandingkan dengan laki – laki.
Berdasarkan hasil penelitian, pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden memiliki umur yang bervariasi yaitu berumur 23 – 47 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa rata – rata pedagang disini masih tergolong muda, dan biasanya golongan usia ini lebih mudah untuk menerima informasi dan penyuluhan dari pihak luar.
Pendidikan adalah suatu usaha menanamkan pengertian dan tujuan agar pada diri manusia (masyarakat) tumbuh pengertian, sikap dan perbuatan positif. Pada dasarnya usaha pendidikan adalah perubahan sikap perilaku pada diri manusia menuju arah positif dan mengurangi faktor – faktor perilaku dan sosial budaya negatif ( Notoadmojo 2003).
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar (43,8%) responden mempunyai pendidikan dengan kategori tinggi (tamat SMP) tetapi pengetahuannya sangat kurang. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat ( Depkes RI, 2004). Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan, maka diharapkan akan semakin luas pula pengetahuan responden serta semakin mudah dan cepat untuk menerima berbagai informasi tentang bahan tambahan pangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso Karo-karo (1984) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkatan pendidikan yang pernah ditempuh makan semakin mudah dalam menyerap informasi baru.
Berdasarkan tabel 4.3.1 dapat diketahui bahwa pedagang yang tingkat pendidikannya tinggi sebanyak 22 orang ( 27,5%) memiliki tingkat pengetahuan yang sedang. Sebanyak 25 orang ( 31,2%) memiliki sikap sedang dan sebanyak 27 orang ( 33,7%) memiliki tindakan yang kurang. Sedangkan pedagang yang tingkat pendidikannya rendah sebanyak 10 orang ( 12,5%) memiliki pengetahuan sedang. sebanyak 13 orang ( 16,2%) memiliki sikap buruk. Dan sebanyak 11 orang ( 13,7%) memiliki tindakan buruk. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pendidikan para pedagang termasuk dalam kategori tinggi tetapi memiliki pengetahuan yang sedang, sikap yang sedang tetapi tindakannya kurang. Tingkat pendidikan yang tinggi juga tidak mempengaruhi pengetahuan, sikap dan tindakan pedagang. Hal ini terjadi karena tidak adanya kesadaran dari pihak Pemerintah dan Dinas Kesehatan serta pedagang itu sendiri untuk dapat membuat makanan jajanan yang aman yang dapat dikonsumsi oleh konsumen. Beberapa penelitian mengenai bahan tambahan pangan menunjukkan bahwa pedagang memilih menggunakan bahan tambahan pangan disebabkan karena bahan tambahan pangan tersebut membuat makanan lebih menarik, murah dan mudah didapat. Padahal sebagian para pedagang kebanyakan mengetahui bahayanya apabila mengkonsumsi bahan bahan tambahan pangan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa kebanyakan pedagang memilki penghasilan sebanyak Rp. 1.000.000, - Rp. 2.000.000, yaitu sebanyak 43 orang (53,8%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ekonomi atau penghasilan para pedagang dapat dikatakan cukup baik. Penghasilan yang cukup baik
bahan tambahan makanan yang alami karena sebagian besar para pedagang merasa tidak akan mendapatkan keuntungan yang besar jika menggunakan bahan tambahan yang alami dikarenakan harganya yang mahal sedangkan harga jual jajanan makanan dan minuman dijual dengan harga yang relatif murah. Hal inilah yang menyebabkan banyak pedagang menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang ataupun menggunakannya melebihi batas standart yang telah ditentukan agar makanan dapat terlihat menarik dan lebih bervariasi.
Berdasarkan hasil penelitian, pada tabel 4.5 menunjukkan bahwa responden yang menjual makanan ada sebanyak 62 orang (60,1% ) dan pedagang yang menjual minuman ada sebanyak 18 orang (39,9%).
Berdasarkan hasil penelitian, media cetak juga dapat memengaruhi perilaku pedagang jajanan makanan dan minuman terhadap penggunaan bahan tambahan pangan. media cetak dan media elektronik tidak secara langsung mengajari masyarakat, tetapi berdampak besar bagi perilaku masyarakat. Dari hasil penelitian didapat bahwa media sosialisasi media cetak yang memengaruhi perilaku pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa responden yang sumber informasi tentang bahan tambahan pangan yaitu dari majalah 12 orang (15,0%), sebanyak 37 orang (46,3%) yaitu dari televisi, sebanyak 31 orang (38,8%) yaitu dari teman.
Media telah menjadi ciri khas masyarakat modern, setiap hari masyarakat disajikan beragam informasi dari media yang dapat mempengaruhi persepsi. Menurut Jahi (1988), TV dan radio merupakan media komunikasi massa yang memiliki kemampuan yang besar untuk mengantarkan dan menyebarkan pesan - pesan. Pesan tersebut disampaikan kepada masyarakat yang berada ditempat terpencar dan tersebar
luas, secara serentak dan dengan kecepatan tinggi. TV sebagai salah satu media komunikasi mempunyai potensi yang cukup besar untuk menghasilkan efek. Hal ini dimungkinkan oleh sifatnya yang audio visual. Penyampaian pesan yang disertai gambar - gambar dapat bergerak mempunyai daya tarik yang kuat dan dapat memberikan kesan yang mendalam, sehingga memungkinkan memberikan efek yang cukup besar. Efek dapat berupa bertambahnya pengetahuan, sikap, persepsi dan bahkan sampai mengubah perilaku.
5.2.. Pengetahuan Pedagang Jajanan Makanan dan Minuman di Pusat Jajanan Pajak USU Padang bulan Medan
Menurut Notoadmodjo (2003) pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman dan informasi. Pengetahuan seseorang akan mempengaruhi sikap dan tindakannya. Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur yang diperlukan seseorang individu agar ia berbuat sesuatu, adapun salah satu unsurnya adalah keyakinan dan kebenaran dari apa yang akan dilakukannya.
Salah satu faktor yang menentukan perilaku seseorang adalah pengetahuan, ( Glauz,dkk 1990) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam tindakan seseorang.
Pengetahuan para pedagang tentang bahan tambahan pangan yang berbahaya dilatar belakangi oleh beberapa faktor antara lain yaitu tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan para pedagang bervariasi mulai dari tidak bersekolah sampai dengan
menimbulkan pemahaman yang berbeda pada setiap individu. Dengan kondisi tingkat pendidikan tersebut seharusnya dapat mempermudah pedagang untuk menerima informasi tentang bahan tambahan pangan. Selain itu wilayah yang terletak di perkotaan akan mempermudah akses untuk mendapatkan informasi tentang bahan tambahan makanan. Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang luas ( Notoadmojdo, 2003)
Adanya pengetahuan yang baik merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang terhadap makanan, selain itu pengetahuan mempunyai peranan penting untuk dapat membuat hidup sejahtera dan berkualitas. Semakin banyak pengetahuan gizi atau makanan semakin diperhitungkan jenis dan kualitas makanan yang akan dipilih dan dikonsumsi ( sediatomo, 2000 )
Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut.
Berdasarkan penelitian, pengetahuan pedagang tentang penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) terhadap jajanan makanan dan minuman dapat dilihat dari tabel 4.8 dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 38 orang (47,5%) dan yang pada kategori baik yaitu sebanyak 13 orang (16,3%). Hal ini menunjukkan bahwa dari semua pedagang hanya 13 orang ( 16,3%) pedagang yang pengetahuannya baik tentang apa itu bahan tambahan pangan, jenis-jenis bahan tambahan pangan dan bahaya bahan tambahan pangan bagi kesehatan.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan salah satu seorang pedagang menunjukkan bahwa ia mengetahui bahwa ia menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang untuk digunakan. Akan tetapi ia tetap saja menggunakan bahan tambahan pangan. Pedagang adalah seorang yang memiliki pendidikan tinggi (SMA) dan tahu mengenai beberapa bahan tambahan pangan yang tidak boleh digunakan untuk makanan.
Hal ini disebabkan masih kurangnya sosialisasi dari pemerintah, Dinas kesehatan dan Balai POM dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap para pedagang yang menyebabkan para pedagang menggunakan bahan tambahan pangan pada makanan atau minuman karena harganya relatif murah dan memberikan tampilan fisik yang memikat.
Menurut Budharja, Wakil kepala Dinas Jawa Tengah, para penjual jajanan tidak memperhatikan bahan tambahan pangan yang digunakan. Mereka berorientasi keuntungan dengan memberi produk makanan dan minuman dengan segala jenis bahan tambahan pangan agar kelihatan mencolok dan dapat menarik minat pembeli.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Balai POM Semarang yang membuktikan bahwa dari 89 sampel jajanan yang diambil, 85 diantaranya tidak memenuhi syarat kesehatan karena mengandung pewarna tekstil,boraks, pemanis buatan dan penyedap rasa secara berlebihan.
Menurut hasil penelitian Maskar (2004), hasil wawancara dengan pedagang kaki lima di Jakarta timur menunjukkan bahwa pedagang kaki lima tahu bahwa bahan
tambahan pangan yang mereka gunakan pada makanan dan minuman berbahaya dan illegal, namun karena harganya yang murah serta dapat memberikan penampilan yang menarik dan mudah didapat yang membuat para pedagang selalu menggunakan bahan tambahan pangan tersebut..
Adapun media sosialisasi yang memengaruhi pengetahuan responden adalah media sosialisasi teman/kelompok sebaya, media elektronik dan media media cetak seperti yang telah ditampilkan dalam tabel 4.6 yang merupakan hasil uji penelitian.
Dari hasil sumber informasi yang didapat, sebanyak 37 atau (46,3%) responden yang mengetahui informasi tersebut dari televisi. Hasil penelitian Sitorus (2008) juga menentukan bahwa sumber informasi pada masyarakat daerah Wirobrajan tentang makanan dan minuman jajanan yang mengandung bahan tambahan makanan pada umumnya berasal dari televisi. Siaran TV pada umumnya bersifat informatif, edukatif dan hiburan. Dengan TV masyarakat dapat mengetahui perkembangan informasi di seluruh penjuru dunia. Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa selain TV, sumber informasi yang tidak kalah penting adalah media massa seperti surat kabar, majalah dan buku. Hal tersebut didukung dengan pernyataan pedagang bahwa mereka pernah mendengar informasi tentang makanan yang mengandung bahan tambahan pangan yang berbahaya tidak hanya dari televisi tetapi juga dari majalah dan teman.
Namun meskipun sudah banyak sumber informasi dari berbagai media yang diperoleh tetap saja masih banyak responden yang memiliki pengetahuan dalam kategori kurang. Hal ini dapat disebabkan karena informasi yang diperoleh tidak sepenuhnya diserap atau dimengerti oleh ressponden.
Pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain, faktor pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang positif dan negatif akan mempengaruhi sikap dan tindakan yang positif dan negatif pula.
5.3. Sikap Pedagang Jajanan Makanan dan Minuman di Pusat Jajanan Pajak