Pembelajaran Seni teater, khususnya seni laku peran yang menjadi fokus materi kelas 7 merupakan ruang eksplorasi bagi siswa untuk mengenali potensi tubuh, suara, sukma, jiwa, akal pikir, dan perasaannya. Eksplorasi dalam pembelajaran Seni Teater merupakan proses kreatif yang di antaranya terdiri dari kegiatan refleksi dan intensitas olah potensi. Refleksi merupakan kegiatan pemaknaan yang menuntun siswa untuk dapat berpikir kritis analitis, sekaligus bersikap jujur dalam melihat perkembangan diri sendiri. Sedangkan intensitas olah potensi adalah kegiatan untuk menjadikan praktek latihan sebagai bagian dari cara pembiasaan diri dalam mengolah rasa, pikir, dan raga.
Melalui pembelajaran Seni Teater siswa dapat mengekspresikan kemampuannya, baik kemampuan estetis maupun kemampuan etis. Istilah tersebut diambil dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Kemampuan estetis adalah kemampuan seseorang baik dalam mencipta suatu keindahan karya seni maupun kemampuan dalam menilai atau mengapresiasi suatu keindahan yang dirasakan maupun dilihat. Menurut Ki Hadjar Dewantara makna pokok dari keindahan adalah harmoni, keteraturan yang menyatukan (unite) berbagai unsur, yang berbeda sekalipun.
Kemampuan estetis merupakan kemampuan yang mendasari perkembangan kemampuan etis, yaitu kemampuan mengimplementasikan pemaknaan nilai-nilai sosial ke dalam sikap dan tindakan. Melalui pembelajaran Seni Teater siswa dapat mengembangkan kemandirian, kepercayaan, tanggung jawab, empati pengembangan kemampuan berpikir dan bekerja kreatif. Melalui intensitas latihan pengembangan berpikir dan bekerja kreatif setiap pelajar mampu menentukan bagaimana menyiasati keterbatasan dan mengatasi tantangan serta hambatan dalam proses belajar. Dalam konteks capaian pembelajaran kemampuan berpikir dan bekerja kreatif setiap pelajar seni teater tercermin dari hasil karya cipta orisinal pelajar baik berupa ekspresi individu maupun ekspresi kerja kolaborasi.
dan kepeduliannya pada lingkungan. Pembelajaran Seni Teater memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan kedewasaan sikap siswa, namun pembelajaran Seni Teater memberikan kontribusi yang berarti terhadap perkembangan kecerdasan sosial siswa. Disiplin kerja kolaboratif dalam Seni Teater merupakan aktivitas yang dapat membantu mengembangkan kecerdasan sosial. Pembelajaran teater membiasakan siswa untuk mampu bergotong royong dengan menyelaraskan tindakannya dengan tindakan orang lain dalam mencapai tujuan kelompok.
Sebagai sebuah karya kolaboratif selain mempersatukan berbagai jenis kesenian, Seni Teater juga berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu lain baik disiplin ilmu pasti maupun disiplin ilmu sosial dan humaniora. Seni Teater juga merupakan karya seni juga lentur dan relevan sebagai media pendidikan, penyadaran, maupun media pemberdayaan masyarakat. Karena itu melalui pembelajaran Seni Teater siswa dapat mengembangkan kemampuannya untuk bersikap terbuka dalam mengakomodir berbagai ide maupun pengetahuan dari berbagai sumber disiplin ilmu, serta terbuka untuk menyampaikan berbagai kajian isu sosial, budaya, politik dan kemanusiaan.
Pada prakteknya pembelajaran Seni Teater menggunakan sejumlah elemen pendekatan yang terintegrasi tak terpisahkan satu sama lain, yaitu elemen mengalami, elemen refleksi, elemen berpikir dan bekerja artistik, elemen menciptakan, dan elemen berdampak.
1. Mengalami
Mengalami merupakan elemen pembelajaran yang menyentuh seluruh ranah kemampuan siswa. Melalui pengalaman siswa melihat, merasakan, mendengarkan, dan berinteraksi langsung dengan beragam sumber pengetahuan, bukan hanya pengetahuan tentang alam semesta seisinya tetapi juga pengetahuan tentang dirinya. Seni Teater memberikan ruang bagi siswa untuk mengenali potensi dirinya: tubuh, suara, sukma, dan emosinya. Seni Teater mendidik siswa untuk mengembangkan potensinya melalui kegiatan observasi, konsentrasi dan
MENGALAMI (EXPERIENCING)
MENCIPTA
(MAKING, CREATING)
REFLEKS I
BERPIKIR DAN BEKER JA ARTISTIK
BERDAMPAK
Bagan 1. Elemen Pembelajaran Teater
eksplorasi tubuh, vokal dan sukmanya dalam aneka ekspresi dari situasi dan suasana lingkungan sekitar.
2. Merefleksikan
Pengalaman merupakan guru yang baik bagi siswa yang berkemauan untuk merefleksikan apa yang dialami, menggali dan menemukan berbagai pengetahuan yang terpendam di dalamnya. Meditasi, konsentrasi, ingatan emosi bagian dari unsur Seni Teater yang mengajarkan siswa untuk berefleksi mengenali diri dan segala fenomena yang dijumpai dalam kehidupan keseharian. Refleksi dalam Seni Teater adalah tindakan berpikir dan bekerja artistik. Secara sadar siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis analitis dan jujur, objektif dalam memandang sesuatu. Dengan kemampuan refleksi siswa dapat menghargai pengalamannya, menceritakan kembali emosi yang dirasakan, mendalami nilai
dan watak tokoh yang diperankan, memaknai kisah kehidupan yang dimainkan dalam lakon pertunjukan.
3. Mencipta
Melalui pendidikan Seni Teater siswa mengolah berbagai kemampuannya.
Dengan kemampuan daya pikir, siswa dapat mengenali dan mengkaji biografi tokoh yang diperankan, serta mengenali karakter dengan mengimajinasikan gerak, mimik dan gesturnya. Siswa belajar merasakan apa yang dirasakan tokoh yang diperankan melalui kemampuan ingatan emosinya dan dengan kemampuan tubuhnya siswa menciptakan karya laku peran dengan mengekspresikan kehadiran tokoh yang diperankan dalam sebuah lakon, mengekspresikan daya imajinasi dan penalarannya dalam cipta karya naskah yang ditulis. Intensitas proses olah kemampuan mencipta karya dalam pendidikan Seni Teater menjadi pengalaman yang mengajarkan siswa untuk secara kreatif melahirkan ide-ide baru dan membuat perubahan-perubahan yang bermanfaat.
4. Berpikir dan Bekerja Artistik
Seni Teater dalam pendidikan sekolah merupakan cara pembelajaran yang mengajak siswa untuk berpikir dan bekerja artistik. Seni Teater di sekolah merupakan pembelajaran tentang sebuah proses kreatif yang melibatkan berbagai unsur seni dan menuntut setiap pekerja seni yang terlibat untuk mencurahkan kemampuan berpikir dan bekerja artistik. Dengan memasuki pembelajaran Seni Teater siswa mempertajam kemampuannya berpikir artistik dan menguatkan komitmennya bekerja secara artistik dengan menggali inspirasi, mengembangkan imajinasi, merancang konsep kreatif, menciptakan karya artistik dan menyampaikannya kepada orang lain, dalam hal ini penonton. Dengan kemampuan berpikir dan bekerja secara artistik, siswa dapat memilah kapan ia harus bekerja mandiri dan kapan ia harus melakukan kerja kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
5. Berdampak
Kemampuan laku peran dan pengetahuan tentang Seni teater adalah hasil dari proses pembelajaran. Hasil karya cipta dan pengetahuan merupakan bagian dari target capaian Seni Teater dalam pendidikan di sekolah, namun bukan yang utama. Seni Teater dengan segala disiplin kreatifnya dimaksudkan menjadi bagian dari proses pendidikan yang berdampak langsung pada perubahan siswa dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Perubahan yang terjadi pada siswa secara tidak langsung memberikan dampak yang dapat dirasakan oleh orang lain.