• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Taman Kanak-kanak

Secara psikologis anak TK berada pada rentang usia 4 sampai 6 tahun. Pada usia ini, anak TK dihadapkan kepada suatu kenyataan bahwa mereka memiliki perbedaan-perbedaan antara individu satu dengan yang lain termasuk dalam aspek kecerdasan. Perbedaan individu tersebut dapat dilihat dari tumbuh dan berkembangnya anak (Dahlan, 2000:118). Meskipun ada perbedaan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, namun pada dasarnya masa anak-anak

merupakan masa ideal untuk mempelajari keterampilan tertentu, baik keterampilan yang berhubungan dengan fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, seni maupun moral dan nilai-nilai agama.

Karakteristik perkembangan anak usia Taman Kanak-kanak menurut Papalia and Olds (Jamaris, 2004: 4- 7), mencakup:

1. Perkembangan Fisiologis: Perkembangan fisiologis berkaitan dengan perkembangan fisik yang mencakup: perkembangan otak dan susunan syaraf pusat. Berat otak anak usia taman kanak-kanak telah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa.

2. Perkembangan Daya Pikir; Daya pikir anak usia taman kanak-kanak berada dalam fase pra operasional (Piaget, 1974: 49-91) dengan ciri-ciri berikut. a. Berpikir egosentris, artinya belum dapat menerima cara berpikir orang

lain. Hal ini menyebabkan anak tidak dapat menerima atau memandang suatu permasalahan dari sudut pandang orang lain.

b. Berpikir simbolik artinya mampu menghadirkan objek-objek di dalam pikirannya walaupun objek tersebut secara fisik tidak hadir.

c. Intuitif dapat memecahkan masalah secara intuitif yaitu dengan cara-cara yang tidak dapat dijelaskannya.

3. Perkembangan Psikososial; Perkembangan psikososial menyangkut perkembangan moral, sikap dan perilaku. Psikososial anak usia taman kanak-kanak berada dalam fase fase inisiatif vs rasa bersalah. Apabila perkembangan psikososial anak sebelum masa usia 4-5/6 tahun yaitu fase autonomi vs malu-malu dan ragu-ragu dilalui dengan baik maka akan berkembang inisiatif. Inisiatif adalah kemampuan untuk melakukan berbagai kegiatan beradasarkan inisiatif sendiri. Autonomi merupakan dasar bagi perkembangan inisiatif.

4. Perkembangan Bahasa dan Komunikasi ; Perkembangan kemampuan bahasa anak usia dini, khususnya anak usia taman kanak-kanak telah berada dalam fase ekspresif. Fase ini diawali dengan fase reseptif yaitu Kemampuan untuk mendengar dan merekam bahasa dan percakapan yang didengar. Kemampuan ini mendasari kemampuan bahasa ekspresif yaitu kemampuan untuk menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan menyatakan keinginan atau penolakan. Pada usia TK anak telah menguasai +2500 kosa kata yang mencakup: bentuk, warna, warna dan bentuk, rasa, bau, kecantikan, suhu, perbedaan, perbandingan jarak, permukaan; halus dan kasar.

5. Perkembangan Seni; Perkembangan seni pada anak usia dini merupakan akibat langsung dari perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam bidang fisika, kognif, psikososial, bahasa dan komunikasi, Anak usia taman kanak-kanak di tinjau dari bidang seni telah dapat mengekpresikan seni melalui berbagai aktivitas seperti menggambar, merajut, meronce, musik, tari dan sudah dapat menghargai dan menghayati karya seni (Seefeltd dan Bourbaour, 1994:373-410).

1. Perkembangan Fisik

Pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu sama, ada beberapa anak yang mengalami pertumbuhan secara cepat, tetapi ada pula yang mengalami kelambatan. Pada masa kanak-kanak, pertumbuhan tinggi badan dan berat badan relatif seimbang.

Selain berubahnya berat badan dan tinggi badan, anak juga mengalami perubahan fisik secara profesional. Pada masa kanak-kanak, anak mengalami perubahan fisik menuju proporsi tubuh yang lebih serasi, walaupun tidak seluruh bagian tibuh dapat mencapai proporsi kematangan dalam waktu bersamaan. Perubahan proporsi tubuh mempunyai irama pertumbuhan sendiri, ada yang tumbuh cepat dan ada pula yang lambat, namun semuanya akan mencapai taraf kematangan ukuran tepat pada saatnya (Hurlock, 1978:121).

2. Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget (Santrock, 1995:228), anak usia TK pada umumnya berada pada tahap berpikir praoperasional. Pada tahap ini anak belum memahami pengertian operasional yaitu proses interaksi suatu aktivitas mental, dimana prosesnya dapat kembali pada titik awal berfikir secara logis. Manipulasi simbol merupakan karakteristik esensial dari tahapan ini.

Menurut Piaget, pemikiran anak bersifat egosentris, anak pada tahap ini sult membayangkan bagaimana segala sesuatunya tampak dari perspektif orang lain. Berkaitan dengan masalah ini Piaget dikenal dengan eksperimennya melalui tiga gunung yang sering digunakan untuk mempelajari masalah egosentrisme.

Karakteristik lain dari cara berfikir praoperasional yaitu sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multi dimensional, maka anak akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi dan mengabaikan dimensi lainnya. Mekanisme utama yang memungkinkan anak maju

dari satu tahap pemungsian kognitif ke tahap berikutnya oleh Piaget disebut sebagai asimilasi, akomodasi dan equilibrium .

Piaget memandang anak sebagai partisipan aktif di dalam proses perkembangan. Piaget meyakini bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban dalam upaya melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi.

3. Perkembangan Bahasa

Bahasa adalah salah satu cara yang utama untuk mengekspresikan pikiran, dan dalam seluruh perkembangan, pikiran selalu mendahului bahasa. Bahasa dapat membantu perkembangan kognitif. Bahasa dapat mengarahkan perhatian anak pada benda-benda baru atau hubungan baru yang ada di lingkungan, mengenalkan anak pada pandangan-pandangan yang berbeda dan memberikan informasi pada anak. Piaget menekankan bahwa anak adalah makhluk yang aktif dan adaptif namun bersifat egosentris yang proses berpikirnya sangat berbeda dengan orang dewasa, maka pengalaman belajar disesuaikan dengan pemahaman mereka.

4. Perkembangan Sosial-Emosional

a. Perkembangan Sosial Anak

Menurut Hurlock (1978:293), perkembangan sosial merupakan :perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial”. Menjadi orang yang mampu bersosialisasi membutuhkan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain tetapi saling berkaitan. Kegagalan dalam satu

proses akan menurunkan kadar sosialisasi individu. Ketiga proses itu adalah: belajar berprilaku yang dapat diterima secara sosial, belajar memainkan peran sosial yang dapat diterima, dan mengembangkan sikap sosial.

b. Perkembangan Emosi Anak

Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang sifatnya disadari. Goleman (1995:411) merumuskan “emosi sebagai sesuatu yang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, serta rangkaian kecenderungan untuk bertindak”.

Dokumen terkait