BAB II. LANDASAN TEORI
E. Karakteristik Perusahaan
a) Pengertian Piutang
Piutang merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari penjual kepada pembeli yang timbul karena adanya suatu transaksi penjualan secara kredit. Piutang dagang adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh pembeli kepada perusahaan. Piutang ini umumnya berjangka waktu kurang dari 1 (satu) tahun. Piutang ini berkaitan erat dengan operasi perusahaan yang utama (Yusup, 1994).
b) Klasifikasi Piutang
Sesuai dengan jenis terjadinya transaksi, piutang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Piutang Dagang atau Piutang Usaha(Account Receivable) Piutang dagang atau piutang usaha adalah jenis piutang yang timbul akibat adanya penjualan barang atau jasa secara kredit, sesuai tujuan utama didirikannya perusahaan.
2) Piutang Wesel
Piutang wesel adalah piutang yang didasari atas kesanggupan tertulis dari si penerima kredit untuk membayar sejumlah uang tertentu atas permintaan pada suatu tanggal yang telah ditetapkan.
3) Piutang Lain-lain
Piutang lain-lain adalah piutang yang tidak termasuk dalam piutang dagang dan piutang wesel yang timbul bukan karena penjualan barang atau jasa secara kredit atau bukan karena kesanggupan formal dari penerima kredit untuk membayar sejumlah uang pada tanggal tertentu.
Termasuk jenis piutang ini antara lain:
1. Tuntutan atau klaim terhadap pihak lain akibat adanya peristiwa tertentu (klaim asuransi, klaim akibat hilangnya barang, klaim akibat pegawai atas kesalahannya)
2. Piutang pendapatan (deviden, bunga, sewa)
3. Piutang kepada pegawai akibat perusahaan meminjamkan uang kepada pegawai.
2. Hutang
Hutang adalah kewajiban suatu perusahaan yang timbul dari transaksi pada waktu yang lalu dan harus dibayar dengan kas, barang, atau jasa, di waktu yang akan datang. Hutang ini diharapkan akan dibayar dalam jangka waktu satu tahun atau siklus operasi normal perusahaan (tergantung mana yang lebih panjang) dengan menggunakan aktiva
lancar yang ada atau hasil dari pembentukan kewajiban lancar yang lain. Hutang dagang merupakan kewajiban perusahaan yang timbul dari transaksi yang berkaitan erat dengan operasi perusahaan (Yusup, 2001).
3. Biaya Operasi
Biaya operasi adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan operasional perusahaan selama periode akuntansi
4. Laba Kotor
Laba kotor adalah selisih lebih dari hasil penjualan bersih di atas harga pokok penjualan.
5. Rasio Total Akrual
Rasio total akrual merupakan perbandingan antara selisih laba dan arus kas yang berasal dari aktivitas operasi.
Rasio Total Akrual (RTA) diperoleh melalui rumus:
Laba Akuntansi
Laba akuntansi didefinisikan sebagai perbedaan antara pendapatan yang direalisasi dan transaksi yang terjadi selama satu periode dengan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut (Majuroh Siti, 2004) Arus Kas Operasi
Merupakan arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan.
Total Aktiva
Total aktiva didefinisikan sebagai total seluruh asset perusahaan yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan.
Akuntansi mengenal 2 (dua) dasar yaitu dasar akrual dan dasar kas. Dalam dasar akrual, akuntansi mengakui pengaruh transaksi pada saat transaksi tersebut terjadi. Apabila terjadi transaksi pemberian jasa, penjualan barang, atau pengeluaran biaya maka transaksi-transaksi tersebut akan dicatat dalam pembukuan sebagai pendapatan atau biaya, tanpa memandang apakah kas sudah diterima atau dikeluarkan. Sebaliknya, apabila digunakan dasar kas maka dalam akuntansi hanya akan dilakukan pencatatan apabila terjadi penerimaan atau pengeluaran kas. Ikatan Akuntansi Indonesia (2007) dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan menghendaki agar perusahaan menggunakan dasar akrual dalam menyusun laporan keuangan. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadiaan (dan bukan pada saat kas atau setara diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa pendapatan harus diakui pada saat pendapatan diperoleh dan biaya diakui pada saat biaya tersebut terjadi tanpa memandang apakah kas dari transaksi tersebut telah diterima atau telah dibayar. Dasar akrual menghasilkan informasi yang lebih lengkap daripada informasi yang dihasilkan oleh dasar kas. Semakin lengkap data yang disajikan maka semakin baik informasi yang diterima pengambil keputusan dalam
menilai kesehatan keuangan dan prospek perusahaan di masa yang akan datang (Jusup, 2001).
Menurut Suwardjono asas akrual adalah:
Asas dalam pengakuan pendapatan dan biaya yang menyatakan bahwa pendapatan diakui pada saat hak kesatuan usaha timbul lantaran penyerahan barang atau jasa ke pihak luar dan biaya diakui pada saat kewajiban timbul lantaran penggunaan sumber ekonomik yang melekat pada barang atau jasa yang diserahkan tersebut.
Yang termasuk dalam komponen akrual adalah: 1. Piutang Dagang
Piutang merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari penjual kepada pembeli yang timbul karena adanya suatu transaksi penjualan secara kredit. Piutang dagang adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh pembeli kepada perusahaan. Piutang ini umumnya berjangka waktu kurang dari 1 (satu) tahun. Piutang ini berkaitan erat dengan operasi perusahaan yang utama (Jusup, 2001). Wild, Subramanyam dan Halsey (2005) menggolongkan piutang dagang sebagai bagian dari aktiva lancar(current asset).
2. Utang Dagang
Utang adalah kewajiban suatu perusahaan yang timbul dari transaksi pada waktu yang lalu dan harus dibayar dengan kas, barang, atau jasa, di waktu yang akan datang. Utang ini diharapkan akan dibayar dalam jangka waktu satu tahun atau siklus operasi normal perusahaan (tergantung mana yang lebih panjang) dengan menggunakan aktiva lancar yang ada atau hasil dari pembentukan kewajiban lancar yang lain. Utang dagang merupakan kewajiban perusahaan yang timbul dari
transaksi yang berkaitan erat dengan operasi perusahaan (Jusup, 2001). Wild, Subramanyam dan Halsey (2005) menggolongkan utang dagang sebagai bagian dari kewajiban lancar(current liabilities). 3. Persediaan
Persediaan adalah barang-barang milik perusahaan yang akan dijual kepada konsumen (Jusup, 2001). Persediaan merupakan bagian utama dari modal kerja yang merupakan bagian dari aktiva suatu perusahaan. 4. Biaya Depresiasi
Depresiasi adalah proses pengalokasian harga perolehan aktiva tetap menjadi biaya selama masa manfaatnya dengan cara rasional dan sistematis (Jusup, 2001). Sedangkan menurut Suwardjono (2007) depresiasi adalah biaya nyata bukan hipotesis. Depresiasi untuk suatu perioda harus diperhitungkan dan diakui sebagai biaya karena jasa yang diberikan oleh aset tetap tidak terjadi sekaligus pada saat pemerolehan atau pemberhentian aset tersebut
F. Laporan Keuangan
1. Pengertian Laporan Keuangan
Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2007):
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan
laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dan proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahan tersebut. Selanjutnya dikatakan bahwa pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kondisi keuangan maupun hasil operasi perusahaan adalah: para pemilik perusahaan, manajer perusahaan yang bersangkutan, para kreditur, bankers, para investor, dan pemerintah di mana perusahaan tersebut berdomisili, buruh serta pihak-pihak lainnya (Munawir, 1983).
2. Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2007), tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 3. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Laba yang berkualitas merupakan penunjang untuk mencapai kualitas informasi pada laporan keuangan. Kualitas laporan keuangan dilihat dari sejauh mana laporan keuangan tersebut menjadi informasi yang berguna bagi pemakai sebagai alat pengambilan keputusan ekonomi.
Menurut Rosiyana (2005) terdapat empat karakteristik kualitatif pokok dalam pelaporan keuangan:
a. Relevan
Informasi dalam laporan keuangan dapat dikatakan relevan apabila informasi tersebut mampu dan berguna dalam mempengaruhi keputusan para penggunanya. Agar informasi dapat dikatakan relevan, maka informasi tersebut harus dapat membantu dalam meramalkan nilai masa yang akan datang (predictive value), menguatkan atau mengkoreksi pengharapan masa lalu(feedback value)serta disampaikan tepat waktu. b. Andal
Disamping relevan, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut juga harus andal (reliable). Keandalan menyangkut kualitas yang menyebabkan pemakai data bergantung pada kepercayaannya atas kejadian dan pada data yang disajikannya, sehingga informasi tersebut harus jujur dan bebas dari pengertian yang menyesatkan.
c. Dapat Diperbandingkan
Informasi yang terdapat pada laporan keuangan akan bertambah tingkat kebermanfaatannya apabila dapat dibandingkan dengan informasi serupa tentang badan usaha yang sama untuk suatu perioda yang lain atau suatu saat yang lain. Jadi dengan kata lain informasi akan semakin bermanfaat apabila informasi tersebut dapat dibandingkan dengan suatu patok duga(benchmark)(Suwardjono, 2008)
d. Konsisten
Informasi yang disajikan pada laporan keuangan harus konsisten dengan kenyataan yang ada sehingga tidak menimbulkan bias bagi para pengguna informasi yang terdapat dalam laporan keuangan.
G. Pengembangan Hipotesis 1. Pengembangan Hipotesis I
Dechow (1994) dalam Triyono (2007) berargumen bahwa perputaran operasi perusahaan merupakan indikator ketidakpastian. Perputaran operasi perusahaan adalah aktivitas sehari-hari perusahaan untuk memperoleh laba selama periode akuntansi. Perputaran operasi perusahaan yang panjang akan menyebabkan variabilitas akrual menjadi lebih besar sehingga berpengaruh terhadap kualitas laba. Hal ini disebabkan karena perusahaan dengan perputaran operasi panjang berarti memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi yang dapat mempengaruhi kualitas dari akrual. Ketika perputaran operasi perusahaan panjang, penerimaan piutang tersebut bisa lebih dari satu tahun dan tidak menutup kemungkinan bahwa piutang tersebut menjadi tidak tertagih. Hal ini menunjukkan informasi piutang dagang menjadi tidak relevan.
Perputaran operasi perusahaan diproksi dengan indeks piutang dagang sehingga perusahaan yang memiliki indeks piutang yang tinggi mengindikasikan kualitas laba menjadi rendah, maka rumusan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
2. Pengembangan Hipotesis II
Gu et al., (2002) dalam Triyono (2007) berargumen bahwa tingkat hutang akan berpengaruh pada volatilitas akrual yang selanjutnya juga akan berpengaruh terhadap kualitas laba. Peningkatan hutang mengakibatkan manajemen memiliki kecenderungan melakukan penyesuaian pada angka-angka akuntansi dikarenakan hutang yang terlalu tinggi dianggap mempunyai tingkat resiko yang tinggi bagi perusahaan sehingga memberikan signal negatif bagi investor. Penelitian ini dalam mengukur tingkat hutang didasarkan pada indeks hutang, yaitu rasio total hutang perioda t dibagi rasio total hutang periode t-1. Jika indeks hutang lebih besar dari 1 berarti terjadi peningkatan hutang, maka rumusan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
H2: Hutang Dagang berpengaruh negatif terhadap kualitas laba 3. Pengembangan Hipotesis III
Menurut Triyono (2007) biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan operasi perusahaan. Biaya operasi ini meliputi biaya penjualan dan biaya administrasi dan umum. Tingginya biaya operasi, dapat memotivasi manajemen melakukan perekayasaan laba, (dengan asumsi apabila biaya operasi meningkat dan peningkatannya tidak sebanding dengan peningkatan penjualan) agar tidak terjadi volatilitas laba yang dikarenakan tingginya biaya operasi. Hal ini mengakibatkan kualitas laba menjadi rendah sehingga biaya operasi diestimasi berhubungan negatif
dengan kualitas laba. Penggunaan biaya operasi dapat menginterpretasikan ketidaksebandingan peningkatan dalam penjualan dengan laba sebagai suatu signal negatif tentang prospek masa depan perusahaan. Biaya operasi diukur melalui indeks biaya operasi. Indeks biaya operasi dihitung berdasarkan rasio biaya operasi periode t dibandingkan rasio biaya operasi periode t-1, maka rumusan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
H3: Biaya Operasi berpengaruh negatif terhadap kualitas laba 4. Pengembangan Hipotesis IV
Laba kotor merupakan pengurangan antara penjualan dengan harga pokok penjualan. Perusahaan yang laba kotornya menurun memiliki kecenderungan melakukan perekayasaan laba untuk mengurangi volatilitas laba sehingga mengakibatkan kualitas laba menjadi rendah. Pada penelitian ini laba kotor diproksi dengan indeks laba kotor. Indeks laba kotor yang meningkat berarti laba kotor periode sekarang lebih rendah dibanding dengan laba kotor periode sebelumnya sehingga terdapat penurunan laba kotor (laba kotor memburuk). Indeks laba kotor dihitung dengan cara membandingkan antara rasio laba kotor periode t-1 dengan rasio laba kotor perioda t, maka rumusan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
H4: Laba Kotor berpengaruh negatif terhadap kualitas laba 5. Pengembangan Hipotesis V
Menurut Triyono (2007), perusahaan dengan kualitas akrual rendah mempunyai jumlah yang besar dalam akrual yang tidak berkaitan dengan
realisasi arus kas sehingga mempunyai persistensi laba yang rendah. Penelitian ini menggunakan rasio total akrual sebagai proksi untuk melihat seberapa besar kas mendasari pelaporan laba. Rasio total akrual diukur dengan perbandingan rasio laba akuntansi terhadap arus kas operasi dengan total aktiva. Semakin tinggi rasio total akrual maka akan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba, maka rumusan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
H5: Rasio Total Akrual berpengaruh negatif terhadap kualitas laba
BAB III
METODE PENELITIAN