• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Petani Cabai Rawit Merah

Dalam dokumen PENDAPATAN USAHATANI CABAI RAWIT MERAH (Halaman 54-60)

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.3. Karakteristik Petani Cabai Rawit Merah

Petani Cabai Rawit Merah yang dipilih sebagai responden adalah sebanyak 30 responden di Desa Cigedug. Usahatani yang dilakukan responden menggunakan sistem tumpang sari dengan tanaman pokok tumpangsari yaitu tomat dan kol. Hal ini dilakukan karena tanaman cabai rawit merah di dataran tinggi seperti di Desa Cigedug memiliki waktu siap panen yang cukup lama yakni 6 bulan sehingga akan lebih efisien dan ekonomis jika dijadikan sebagai tanaman tumpang sari dari tomat dan kol yang hanya berumur 3-4 bulan.

Karakteristik petani yang akan diuraikan meliputi usia dan pengalaman petani, tingkat pendidikan, status kepemilikan lahan dan luas lahan yang digarap. Karakteristik petani responden selengkapnya diuraikan sebagai berikut.

5.3.1. Usia dan Pengalaman Petani Responden

Secara umum, rata- rata usia petani responden yang mengusahakan cabai rawit merah baik yang melakukan kemitraan maupun yang tidak adalah antara 30-80 tahun. Sebaran umur petani ini dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu petani responden yang berusia muda dengan umur kurang dari 40 tahun, petani berusia sedang dengan umur 41 sampai 60 tahun, dan petani responden berusia tua dengan umur lebih dari 60 tahun. Jika dilihat dari sebaran umur petani responden, sebagian besar responden adalah petani yang usianya tergolong kategori petani berusia sedang yaitu pada kelompok usia 41-60 tahun sebesar 54,17%. Sebaran usia petani responden dapat dilihat pada Gambar 4.

40 Gambar 4. Perbandingan Kelompok Usia Responden

Menurut Nainggolan (2001) diacu dalam Iryanti (2005) bahwa umur seseorang dapat mempengaruhi fungsi biologis dan psikologis individu tersebut. Semakin muda umur petani diduga akan mempengaruhi kemampuan dan kemauan dalam mengadopsi inovasi. Para petani tersebut melakukan kegiatan usahatani sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan sehingga tingkat adopsi mereka terhadap inovasi dan sistem yang baru tinggi.

Dari 24 responden yang ada diketahui bahwa sebanyak 58,33 persen memiliki pengalaman usahatani antara 3 hingga 5 tahun, 37,50 persen telah berusahatani cabai rawit merah kurang dari 3 tahun, dan sebanyak 4,17 persen dari petani responden telah menjalankan usahatani cabai rawit merah selama lebih dari 5 tahun. Bagi petani di Desa Cigedug budidaya cabai rawit merah bukanlah hal yang relatif sulit dilakukan. Teknik budidaya cabai rawit merah tidak jauh berbeda dengan tanaman lain sejenisnya seperti tomat dan cabai merah besar atau cabai keriting. Pengalaman usahatani yang berbeda-beda pada setiap petani sangat berpengaruh terhadap teknik budidaya cabai rawit merah terutama pada penggunaan jenis dan dosis pupuk serta obat-obatan yang digunakan.

Petani yang berusia lebih tua tidak selalu memiliki pengalaman usahatani cabai rawit merah lebih lama dibandingkan petani yang berusia lebih muda. Para petani di Desa Cigedug rata-rata baru membudidayakan tanaman cabai rawit merah akibat adanya peningkatan harga secara signifikan di pasaran. Usahatani

37.50 % 54.17% 8.33 % Usia ≤40 Usia 41 - 60 Usia ≥ 61

41 cabai rawit merah dianggap sebagai usahatani yang kurang menguntungkan sebelum terjadinya ledakan harga di pasar. Kemitraan bukan merupakan alasan para petani membudidayakan cabai rawit merah.

Tabel 5. Sebaran Petani responden berdasarkan pengalaman usahatani cabai rawit merah di desa cigedug tahun 2012

Lama Berusahatani (tahun) Jumlah (jiwa) Persentase (%)

kurang dari 3 9 37,50

3 hingga 5 14 58,33

lebih dari 5 1 4,17

Total 24 100,00

5.3.2. Tingkat Pendidikan Petani Responden

Inovasi dan teknologi baru yang berkembang dalam usahatani dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan formal dalam memperoleh dan mengaplikasikannya. Baik dari sisi produksi, pemasaran, pengolahan, maupun keuangan. Petani yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki pendidikan yang beragam mulai dari jenjang SD, SMP SMA dan sarjana. Sebaran tingkat pendidikan petani responden dapat dilihat pada Tabel 6.

Namun, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh langsung terhadap kegiatan usahatani. Pengetahuan usahatani yang petani miliki berasal dari pengalaman bertani dan pengetahuan turun-temurun.

Menurut Soeharjo dan Patong (1973), tingkat pendidikan pada umumnya akan mempengaruhi cara berpikir petani. Pendidikan yang relatif tinggi dan umur yang muda menyebabkan petani lebih dinamis dalam mengadopsi inovasi baru. Salah satu petani responden yang memiliki pendidikan setingkat sarjana terlihat lebih matang dalam melakukan perencanaan usahataninya. Hal tersebut dapat dilihat adanya sebuah perencanaan secara tertulis baik dalam mempersiapkan faktor input maupun dalam hal pemasaran.

42 Tabel 6. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa

Cigedug tahun 2012

Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

SD 9 37,50

SMP 6 25,00

SMA 8 33,33

Sarjana 1 4,17

Total 24 100,00

5.3.3. Luas dan Status Pengelolaan Lahan

Rata-rata petani responden memiliki dan menggarap lahan cabai rawitnya sendiri. Beberapa petani yang memiliki luas lahan lebih dari 1 ha memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk menggarap lahannya. Petani tersebut hanya mengawasi dan mengambil keputusan terhadap kegiatan usahatani pada lahannya.

Besar luas lahan yang dikelola untuk lahan cabai rawit merah sangat beragam. Namun, sebanyak 25% dari petani responden menjalankan usahatani cabai rawit merah pada lahan yang relatif kecil yaitu kurang dari 0,2 ha. Besar luas lahan petani responden dalam menjalankan usahatani cabai rawit merah dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Perbandingan Luas Lahan Petani Responden

25.00

37.50 16.67

20.83

Persentase Luas Lahan (%)

≤ 2.000 2.001 – 5.000 5.001 - 10.000 ≥ 10.001

43 Sebagian besar petani di Desa Cigedug baik yang bermitra maupun yang tidak bermitra memiliki lahan sendiri untuk menjalankan kegiatan usahatani cabai rawit merah. Namun ada sebagian kecil petani yang menyewa lahan untuk menjalankan kegiatan usahataninya. Petani yang tidak memiliki lahan sehingga harus menyewa lahan untuk menjalankan usahatani cabai rawit merah hanya sebesar 29,17 persen dari 24 orang petani responden. Tabel 7 menunjukkan perbandingan status kepemilikan lahan antara petani yang memiliki lahan sendiri dengan petani yang meyewa lahan.

Tabel 7. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Tahun 2012

Status Kepemilikan Jumlah (jiwa) Persentase

Milik 17 70,83

Sewa 7 29,17

Total 24 100,00

Hernanto (1996) menyatakan bahwa pengaruh status kepemilikan lahan terutama lahan milik sendiri terhadap pengelolaan usahatani antara lain :

a) Petani bebas mengelola lahan pertaniannya.

b) Petani bebas merencanakan dan menentukan jenis tanaman yang akan ditanam. c) Petani bebas menggunakan teknologi dan cara budidaya.

d) Petani bebas memperjualbelikan lahan yang dimilikinya.

e) Dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab petani terhadap apa yang dimilikinya.

5.3.4. Jenis dan Pola Tanam Tumpang Sari

Tanaman cabai rawit merah di Desa Cigedug ditanam bersama dengan tanaman lain atau dikenal dengan istilah pola tanam tumpang sari. Tanaman cabai rawit merah dapat ditumpang sarikan dengan tanaman seperti tomat, kol, kentang, kacang merah, dan pecay. Tanaman cabai rawit merah memiliki usia produktif lebih lama dibandingkan tanaman tomat, kol, kentang dan sebagainya. Tanaman cabai rawit dianggap sebagai tanaman yang dapat menghasilkan penerimaan tambahan tanpa harus menambah lebih banyak biaya yang dikeluarkan.

44 Sebanyak 66,67 persen petani di Desa Cigedug membudidayakan cabai rawitnya dengan tomat dan kol dalam satu musim tanam. Tanaman pecay ditanam sebagai substitusi dari tanaman kol sedangkan tanaman kacang merah dapat ditanam sebagai substitusi tanaman tomat. Tanaman kentang juga bisa ditumpang sari dengan cabai rawit merah menggunakan teknik khusus sehingga tidak banyak petani yang melakukannya. Pada umumnya petani yang menggunakan pola tanam seperti ini termotivasi karena efisiensi biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penerimaan setinggi-tingginya. Petani cenderung menggunakan pola tanam tumpang sari dengan menanam tomat dan cabai rawit secara bersamaan disusul dengan kol saat tanaman tomat selesai di panen. Hal tersebut dapat dilakukan karena tanaman cabai rawit memiliki umur produktif selama 1,5 tahun dengan umur siap panen selama 6 bulan sedang umur produktif tomat dan kol hanya berkisar 3 hingga 5 bulan saja.

45

Dalam dokumen PENDAPATAN USAHATANI CABAI RAWIT MERAH (Halaman 54-60)

Dokumen terkait