BAB V FAKTOR PENYEBAB PEREMPUAN DESA MELAKUKAN
5.3 Karakteristik Responden
Karakteristik responden merupakan hal-hal spesifik dari responden yang diteliti yang diduga berpengaruh terhadap tingkat mobilitas perempuan di Desa Pusakajaya. Karakteristik responden yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu: umur, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan status ekonomi keluarga. Penggambaran singkat mengenai karakteristik responden yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Karakteristik Pribadi Responden di Desa Pusakajaya Tahun 2011
Karakteristik Internal Jumlah Persentase (%)
Umur (Pertama Menjadi TKW) x ≤ 21 tahun 16 48,5 x > 21 tahun 17 51,5 Total 33 100,0 Umur (Sekarang) x ≤ 36 tahun 17 51,5 x > 36 tahun 16 48,5 Total 33 100,0 Status Pernikahan (Pertama menjadi TKW) Menikah 22 66,7 Janda 3 9,1 Belum menikah 8 24,2 Total 33 100,0 Status Pernikahan (Sekarang) Menikah 30 90,9 Janda 3 9,1 Belum menikah 0 0,0 Total 33 100,0 Tingkat Pendidikan
Rendah (tidak tamat SD) 5 15,2
Sedang (tamat SD) 17 51,5
Tinggi (tamat SMP dan
tamat SMA) 11 33,3
Total 33 100,0
5.3.1 Umur
Umur sangat menentukan bagi setiap individu untuk melakukan suatu pekerjaan serta menentukan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Berkaitan
40
dengan program pengiriman TKW ke luar negeri, umur sangat penting mengingat tingginya tingkat kesulitan yang akan dialami TKW pada saat bekerja. Kesulitan tersebut terjadi misalnya dalam sosialisasi antara TKW dengan majikan dan sosialisasi dengan pekerjaan. Kesulitan-kesulitan inilah yang sering dialami oleh para TKW yang bekerja di luar negeri. Kesulitan tersebut terjadi karena adanya perbedaan budaya antara budaya yang ada di kampung halaman TKW sendiri dengan budaya di tempat mereka bekerja.
Hubungan antara program pengiriman TKW ke luar negeri dan umur yaitu, pemerintah telah menetapkan persyaratan yaitu minimal berusia 18 tahun atau sesuai permintaan negara tujuan (pasal 39 ayat 2/MEN/2002), dimana umur yang sudah cukup dewasa dan matang dalam bersikap dan semangat kerja yang tinggi. Pada Tabel 8, dapat dilihat rataan pembagian umur responden, yang dibagi menjadi dua golongan umur yaitu umur ketika pertama kali responden melakukan migrasi internasional x ≤ 21 tahun dan x > 21 tahun serta umur saat responden saat penelitian ini dilaksanakan yaitu x ≤ 36 tahun dan x > 36 tahun.
Saat pertama kali bekerja ke luar negeri, sebanyak 48,5 persen responden berada pada rentang umur x ≤ 21 tahun dan sebanyak 51,5 persen responden berada pada rentang umur x > 21 tahun. Berdasarkan pengakuan responden, terdapat umur responden yang kurang dari 18 tahun, yaitu termuda berumur 16 tahun ketika pertama kali berangkat menjadi TKW. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengetahui secara pasti peraturan yang menetapkan bahwa calon TKW harus berumur 18 tahun ke atas atau sesuai dengan permintaan negara tujuan. Umur responden ketika penelitian ini berlangsung yaitu sebanyak 51,5 persen responden berada pada rentang umur x ≤ 36 tahun dan sebanyak 48,5 persen responden berada pada rentang umur x > 36 tahun.
5.3.2 Status Pernikahan
Status pernikahan menentukan derajat kehidupan seseorang di dalam rumah tangga maupun masyarakat. Seorang wanita yang sudah menikah tentu akan berbeda dengan wanita yang belum menikah atau janda. Perbedaan yang sangat mencolok terlihat pada peranan mereka dalam rumah tangga. Seorang wanita yang sudah menikah mempunyai peranan yang komplek yaitu sebagai istri dan ibu rumah tangga. Wanita yang sudah menikah menjadi TKW untuk
membantu suaminya mencari nafkah, sedangkan wanita yang belum menikah atau janda, menjadi TKW untuk membantu perekonomian keluarganya. Dari sisi tanggung jawab, wanita yang sudah menikah memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibanding wanita yang belum menikah, karena harus meninggalkan suami dan anaknya. Hal ini kemudian akan berdampak pada kehidupan rumah tangganya dan perkembangan anaknya, untuk itu status pernikahan berpengaruh pada keputusan migran untuk bekerja atau tidak.
Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 8 terlihat bahwa 66,7 persen responden berstatus menikah. Hal ini menunjukkan adanya suatu keterkaitan responden terhadap suami dan anaknya, namun di sisi lain pernikahan juga memungkinkan responden untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan sekolah anak. Kebutuhan tersebut dirasakan lebih tinggi dibanding ketika belum menikah, sehingga hal tersebut mendorong responden untuk melakukan pemenuhan kebutuhan hidupnya, dengan membantu suami ataupun sebagai pencari nafkah utama karena suami tidak bekerja. Sebanyak 24,3 persen responden belum menikah ketika pertama kali melakukan migrasi internasional, hal ini dikarenakan keinginan responden untuk membantu perekonomian keluarga, mencari pasangan hidup, atau sekedar mencari pengalaman dan menabung untuk masa depan. Tingginya wanita berstatus menikah yang menjadi TKW menunjukkan tuntutan wanita untuk bekerja sebagai pencari nafkah membantu suami dan ketidakpuasan terhadap penghasilan suami.
Ketika dilakukannya penelitian ini, sebanyak 90,9 persen responden sudah menikah dan sebanyak 9,1 persen responden yang berstatus janda. Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap responden, diketahui bahwa terjadi pergantian status pernikahan responden selama pengalamannya menjadi TKW. Sebanyak 2 orang responden yang menikah dengan orang di tempatnya bekerja, namun kemudian bercerai. Hal ini dialami oleh NH (31 tahun) dan EU (41 tahun). NH bekerja di Hongkong dan menikah dengan orang di tempatnya bekerja, namun mengalami perceraian, dan dari hasil pernikahannya ia mendapatkan seorang putra. Setelah mengalami perceraian, ia tetap bekerja sebagai TKW dan tidak menikah kembali. Lain halnya dengan EU, ia bekerja di Malaysia dan kemudian menikah dengan orang di tempatnya bekerja dan mendapatkan seorang putri dari
42
pernikahannya, namun mengalami perceraian. Sekembalinya ke daerah asal, ia menikah lagi dengan orang Indonesia dan saat ini masih menetap di daerah asal. Kisah perceraian juga dialami oleh AL (31 tahun). Sepulangnya menjadi TKW, ia menikah dengan orang Indonesia, namun tak berapa lama pernikahannya, ia bercerai. Beberapa bulan kemudian ia memutuskan untuk bekerja kembali menjadi TKW.
Status pernikahan memang merupakan faktor yang berpengaruh terhadap keputusan responden untuk menjadi TKW kembali, namun hal ini juga dipengaruhi oleh individu itu sendiri. Ketika ia masih merasa mampu untuk membantu suaminya, maka ia memutuskan untuk pergi kembali, namun beberapa responden juga mengaku lelah bekerja sebagai TKW dan memutuskan untuk fokus mengurus keluarga.
5.3.3 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan suatu variabel yang berpengaruh dalam dunia kerja. Pendidikan TKW merupakan modal utama dalam menghadapi dunia pasar kerja, terutama dunia pasar internasional. Memasuki pasar kerja internasional diperlukan kemampuan berbahasa misalnya mampu menguasai bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa lain yang dibutuhkan di tempat kerja, untuk itu kemampuan membaca dan menulis bagi calon TKW sangat diperlukan.
Pada Tabel 8, menunjukkan kualitas TKW di Desa Pusakajaya dilihat dari tingkat pendidikan formal TKW relatif masih rendah. Dari 33 responden, sebanyak 15,2 persen TKW yang tidak menamatkan pendidikan di tingkat dasar (tingkat pendidikan rendah), sebanyak 51,5 persen responden menamatkan pendidikan tingkat dasar (tingkat pendidikan sedang), kemudian sebanyak 30,3 persen responden berhasil menamatkan pendidikan tingkat SMP dan hanya sebanyak 3,03 persen responden berhasil menamatkan pendidikan di tingkat SMA (tingkat pendidikan tinggi). Beberapa responden mengaku belum lancar berbicara dalam bahasa asing ketika berangkat ke negara tujuan. Berikut pernyataan salah seorang responden:
“…sewaktu diberangkatkan sama PT itu, saya belum terlalu lancar ngomongnya, kan nanti juga lama-lama di sana bisa. Kayak majikan ngomong sambil nunjuk itu apa, kan nanti lama-lama kita belajar dari situ. Saya satu bulan di PT kan tetep belajar juga…” (ME, 31 tahun).
Sekembalinya menjadi TKW, tidak ada satu pun TKW yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka lebih memilih menginvestasikan uangnya dalam bentuk lain atau menyekolahkan anak atau adik mereka. Secara tidak langsung, bekerja menjadi TKW membawa pengalaman yang berbeda bagi mereka. Dengan belajar sedikit demi sedikit mereka mampu menguasai bahasa asing di tempat mereka bekerja. Hal ini seperti yang dituturkan oleh seorang responden:
“…di tempat saya bekerja di Taiwan itu ada bahasa lokalnya, kalau mereka berbicara dengan keluarganya, mereka menggunakan bahasa lokal yang tidak saya mengerti, tapi karena sering mendengar, lama-lama saya belajar dan menjadi tau… (LN, 29 tahun)”.
5.3.4 Jenis Pekerjaan Suami/Kepala Keluarga
Jenis pekerjaan kepala keluarga adalah pekerjaan yang dilakukan kepala keluarga dalam upaya menghasilkan uang atau barang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rata-rata pekerjaan kepala keluarga adalah sebagai buruh tani. Data mengenai pekerjaan kepala keluarga TKW dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Jumlah dan Persentase Keluarga TKW Menurut Pekerjaan Kepala Keluarga, Desa Pusakajaya Tahun 2011
Pekerjaan Kepala Keluarga Jumlah Persentase (%)
Formal (satpam, pegawai koperasi, guru) 4 12,1
Buruh tani/bangunan 9 27,3 Pedagang/Wiraswasta 6 18,2 Jasa (Ojeg/becak) 5 15,2 Supir 4 12,1 Petani 3 9,1 Lain-lain 2 6,1 Jumlah 33 100,0
44
Dari 33 responden, sebanyak 27,3 persen kepala keluarga TKW bekerja sebagai buruh tani/buruh bangunan, 18,2 persen sebagai pedagang/wiraswasta, 12,1 persen sebagai supir, 12,1 persen lainnya bekerja dengan upah tetap sebagai satpam, guru, dan pegawai koperasi, dan 9,1 persen bekerja sebagai petani. Selain pekerjaan pokok ada beberapa kepala keluarga TKW yang mempunyai pekerjaan sampingan atau pekerjaan ganda yaitu di bidang jasa dan buruh bangunan.
5.3.5 Status Ekonomi Keluarga
Status ekonomi keluarga dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh keluarga dalam waktu satu bulan. Tabel 10 menunjukkan bahwa rumah tangga responden yang memiliki penghasilan tinggi yaitu Rp 2.375.000 – Rp 3.250.000 sebesar 15,2 persen responden, sedangkan yang rumah tangga responden yang memiliki penghasilan sedang yaitu Rp 1.500.000<x<Rp 2.375.000 sebanyak 48,5 persen responden, dan rumah tangga yang memiliki penghasilan rendah yaitu Rp 625.000 - Rp 1.500.000 sebanyak 36,4 persen responden. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan rumah tangga responden yang memiliki penghasilan sedang dan rendah.
Tabel 10 Pendapatan Sekarang Rumah tangga Migran Desa Pusakajaya Tahun 2011
Pendapatan Rumah tangga Jumlah Persentase (%)
Rendah 12 36,4
Sedang 16 48,5
Tinggi 5 15,2
Total 33 100,0
5.3.6 Jumlah Tanggungan Ekonomi Keluarga
Jumlah tanggungan ekonomi keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang secara ekonomis masih menjadi tanggungan keluarga. Dalam penelitian ini, jumlah tanggungan ekonomi keluarga dilihat dari banyaknya jumlah anak yang masih sekolah dan memerlukan biaya pendidikan. Rata-rata jumlah tanggungan ekonomi keluarga TKW berdasar jumlah anak yang masih sekolah adalah dua
orang. Pada Tabel 11 terlihat bahwa 63,6 persen keluarga TKW mempunyai jumlah tanggungan ekonomi keluarga kurang dari dua orang dan 36,4 persen lainnya mempunyai jumlah tanggungan ekonomi keluarga lebih dari sama dengan dua.
Tabel 11 Jumlah dan Persentase Keluarga TKW Menurut Jumlah Tanggungan Ekonomi Keluarga, Desa Pusakajaya Tahun 2011
Tanggungan Ekonomi
Keluarga Jumlah Persentase (%)
< 2 21 63,6
≥ 2 12 36,4
Jumlah 33 100,0
5.4 Lama Waktu Bekerja Menjadi TKW dan Negara Tujuan