• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.2. Karakteristik Responden

Jenis kelamin merupakan salah satu karakteristik responden yang bekerja di penggorengan kerupuk. Jenis kelamin dibagi menjadi dua kategori yaitu jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan. Distribusi karakteristik jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Krakteristik Jumlah %

Jenis Kelamin

Laki-laki 22 73,3

Perempuan 8 26,7

Jumlah 30 100,0

Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa dari 30 orang responden yang bekerja, ada sebanyak 22 orang responden (73,3%) yang berjenis kelamin laki- laki, dan sebanyak 8 orang responden (26,7%) yang berjenis kelamin perempuan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja yang bekerja di penggorengan kerupuk memiliki jenis kelamin laki - laki.

4.2.2 Umur

Sampel pada penelitian ini sebanyak 30 orang yang terdiri dari satu kelompok dan diberi perlakuan dengan media ceramah dan leaflet. Kategori umur dibagi menjadi dua kategori yaitu ≤ 30 tahun dan > 30 tahun. Distribusi karakteristik umur tersebut dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Krakteristik Jumlah % Umur (tahun) ≤ 30 18 60,0 > 30 12 40,0 Jumlah 30 100,0

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa dari 30 orang responden yang bekerja, ada sebanyak 18 orang (60,0%) yang memiliki usia ≤ 30 tahun, dan sebanyak 12 orang responden (40,0%) yang memiliki usia > 30 tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja yang bekerja di penggorengan kerupuk berusia ≤ 30 tahun.

4.2.3 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan pada penelitian ini ada 3 jenis tingkat pendidikan yaitu SD, SLTP dan SMU, secara rinci dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Krakteristik Jumlah % Tingkat Pendidikan SD 13 43,3 SLTP 14 46,7 SMU 3 10,0 Jumlah 30 100,0

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa dari 30 orang responden yang bekerja, ada sebanyak 13 orang (43,3%) yang memiliki tingkat pendidikan SD yaitu sebanyak 13 responden, sebanyak 14 orang responden (46,7%) yang memiliki tingkat pendidikan SLTP yaitu sebanyak 14 responden dan sebanyak 3 orang responden (10,0%) yang memiliki tingkat pendidikan SMU yaitu sebanyak 3

responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja yang bekerja di penggorengan kerupuk mempunyai tingkat pendidikan yaitu SD sebanyak 13 responden dan SLTP sebanyak 14 responden.

4.3.Analisis Univariat

4.3.1 Pengetahuan Pekerja Penggorengan Kerupuk Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan

Pengetahuan pekerja penggorengan kerupuk dapat dinilai dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Ada sebanyak 15 pertanyaan yang menjadi acuan dalam penilaian pengetahuan tersebut. Pernyataan – pernyataan tersebut dibagi menjadi dua kategori yaitu jika responden menjawab “ya” maka akan diberi nilai 1, sedangkan jika responden menjawab “tidak” maka akan diberi nilai 0. Distribusi pengetahuan pekerja di penggorengan kerupuk tersebut dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut :

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Sebelum Diberikan Penyuluhan dengan Media Ceramah dan Leaflet Berdasarkan

Variabel Pengetahuan

No Pernyataan

Sebelum Penyuluhan Ya Tidak

N % n %

1. Bahaya pekerjaan pada penggorengan kerupuk adalah bahaya lingkungan kerja panas

23 76,7 7 23,3

2. Lingkungan kerja panas disebabkan oleh suhu udara pada ruangan kerja

19 63,3 11 36,7 3. Panas yang ada di tempat kerja bersumber dari api penggorengan 21 70,0 9 30,0 4. Akibat bahaya panas dapat menyebabkan keringat yang berlebih 20 66,7 10 33,3

5. Bahaya panas dapat menyebabkan kekurangan cairan 20 66,7 10 33,3

6. Bahaya panas dapat menyebabkan jarang buang air kecil 20 66,7 10 33,3 7. Bahaya panas dipenggorengan kerupuk dapat dicegah dengan

pemberian pembatas pada tungku penggorengan

17 56,7 13 43,3 8. Bahaya panas dapat dicegah dengan minum sebanyak satu gelas

setiap 15-20 menit

Tabel. 4.4. (Lanjutan)

No Pernyataan

Sebelum Penyuluhan Ya Tidak

N % n %

9. Bahaya panas di penggorengan kerupuk dapat dicegah dengan pakaian berbahan katun dan menyerap keringat, longgar agar aliran udara dapat masuk

21 70,0 9 30,0

10. Bahaya panas dipenggorengan kerupuk dapat dicegah dengan membuat ventilasi di dapur penggorengan

19 63,3 11 36,7 11. Bahaya panas dapat dicegah dengan cara berdiri searah dengan

angin untuk menghindari panas tungku dan asap yang berasal dari api penggorengan

21 70,0 9 30,0

12 Penggunaan atap seng di dapur penggorengan merupakan

sumber panas tambahan dilingkungan kerja.

22 73,3 8 26,7 13 Panas pada lingkungan kerja dapat dikurangi dengan istirahat

yang cukup

18 60,0 12 40,0 14 Pekerja yang selalu terpapar pada suhu lingkungan kerja tinggi

tanpa ada pengendalian dari bahaya panas bisa mengalami sakit

23 76,7 7 23,3

15 Pengaturan lama bekerja merupakan bentuk pengendalian terhadap bahaya lingkungan kerja panas

23 76,7 7 23,3

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa pada pernyataan pertama ada sebanyak 23 orang responden (76,7%) yang menjawa “ya” dan sebanyak 7 orang responden (23,3%) yang menjawab “tidak”. Pada pernyataan kedua ada sebanyak 16 orang responden (63,3%) yang menjawab “ya” dan sebanyak 14 orang responden (36,7%) yang menjawab tidak. Pernyataan ketiga menunjukkan ada sebanyak 21 orang responden (70,0%) yang menjawab “ya” dan sebanyak 9 orang responden (30,0%) yang menjawab “tidak”. Pernyataan keempat, kelima dan keenam menunjukkan ada sebanyak 20 orang responden (66,7 %) yang menjawab “ya” dan sebanyak 10 orang responden (33,3%) yang menjawab “tidak”. Pernyataan ketujuh dan kedelapan menunjukkan ada sebanyak 17 orang responden (56,7%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 13 orang responden (43,3%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan kesembilan menunjukkan ada sebanyak 21 orang responden

(70,0%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 9 orang responden (30,0%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan kesepuluh menunjukkan ada sebanyak 19 orang responden (63,3%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 11 orang responden (36,7%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan kesebelas menunjukkan ada sebanyak 21 orang responden (70,0%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 9 orang responden (30,0%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan keduabelas menunjukkan ada sebanyak 22 orang responden (73,3%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 8 orang responden (26,6%). Pernyataan ketigabelas menunjukkan ada sebanyak 16 orang responden (60,0%) dan yang menyatakan “ya” dan sebanyak 14 orang responden (40,0%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan keempatbelas dan kelimabelas sebanyak 23 orang responden (76,7%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 7 orang responden (23,3%) yang menyatakan “tidak”.

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Sesudah Diberikan Penyuluhan dengan Media Ceramah dan Leaflet Berdasarkan

Variabel Pengetahuan No Pertanyaan Sesudah Penyuluhan Ya Tidak N % N %

1. Bahaya pekerjaan pada penggorengan kerupuk adalah bahaya lingkungan kerja panas

30 100,0 0 0

2. Lingkungan kerja panas disebabkan oleh suhu udara pada ruangan kerja

30 100,0 0 0

3. Panas yang ada di tempat kerja bersumber dari api penggorengan

30 100,0 0 0

4. Akibat bahaya panas dapat menyebabkan keringat yang berlebih

Tabel. 4.5.( Lanjutan) No Pertanyaan Sesudah Penyuluhan Ya Tidak N % N %

5. Bahaya panas dapat menyebabkan kekurangan cairan 30 100,0 0 0 6. Bahaya panas dapat menyebabkan jarang buang air

kecil

29 96,7 1

3,3 7. Bahaya panas dipenggorengan kerupuk dapat dicegah

dengan pemberian pembatas pada tungku penggorengan

27 90,0 3 10,0

8. Bahaya panas dapat dicegah dengan minum sebanyak satu gelas setiap 15-20 menit

30 100,0 0 0

9. Bahaya panas di penggorengan kerupuk dapat dicegah dengan pakaian berbahan katun dan menyerap keringat, longgar agar aliran udara dapat masuk

30 100,0 0 0

10. Bahaya panas dipenggorengan kerupuk dapat dicegah dengan membuat ventilasi di dapur penggorengan

30 100,0 0 0

11. Bahaya panas dapat dicegah dengan cara berdiri searah dengan angin untuk menghindari asap yang berasal dari api penggorengan

28 93,3 2 6,7

12. Penggunaan atap seng di dapur penggorengan merupakan sumber panas tambahan dilingkungan kerja.

29 96,7 1 3,3

13. Panas pada lingkungan kerja dapat dikurangi dengan istirahat yang cukup

28 93,3 2 6,7 14. Pekerja yang selalu terpapar pada suhu lingkungan

kerja tinggi tanpa ada pengendalian dari bahaya panas bisa mengalami sakit

27 90,0 3 10,0

15. Pengaturan lama bekerja merupakan bentuk pengendalian terhadap bahaya lingkungan kerja panas

26 86,7 4 13,3

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa pada pernyataan pertama sampai pernyataan kelima ada sebanyak 30 orang responden (100,0%) yang menjawa “ya” dan sebanyak 0 orang responden (0%) yang menjawab “tidak”. Pada pernyataan keenam ada sebanyak 29 orang responden (96,7%) yang menjawab “ya” dan sebanyak 1 orang responden (3,3%) yang menjawab “tidak”. Pernyataan ketujuh

menunjukkan ada sebanyak 27 orang responden (90,0%) yang menjawab “ya” dan sebanyak 3 orang responden (10,0%) yang menjawab “tidak”. Pernyataan kedelapan, kesembilan dan kesepuluh menunjukkan ada sebanyak 30 orang responden (100,0 %) yang menjawab “ya” dan sebanyak 0 orang responden (0%) yang menjawab “tidak”. Pernyataan kesebelas menunjukkan ada sebanyak 28 orang responden (93,3%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 2 orang responden (6,7%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan keduabelas menunjukkan ada sebanyak 29 orang responden (96,7%) menyatakan “ya” dan sebanyak 1 orang responden (3,3%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan ketigabelas menunjukkan ada sebanyak 28 orang responden (93,3%) dan yang menyatakan “ya” dan sebanyak 2 orang responden (6,7%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan keempatbelas menunjukkan ada sebanyak 27 orang responden (90,0%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 3 orang responden (100,0%) yang menyatakan “tidak”. Pernyataan kelimabelas menunjukkan ada sebanyak 26 orang responden (86,7%) yang menyatakan “ya” dan sebanyak 4 orang responden (13,3%) yang menyatakan “tidak”.

Distribusi responden berdasarkan seluruh jawaban dari 15 pernyataan dibagi menjadi 2 kategori yaitu baik dan tidak baik. Responden yang menjawab pernyataan dengan jumlah nilai ≤ 7 dikategorikan tidak baik dan responden yang menjawab pernyataan dengan jumlah nilai > 7 dikategorikan baik. Distribusi responden tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6 Distribusi Kategori Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan

Pengetahuan

Sebelum Penyuluhan Sesudah Penyuluhan

N % N %

Baik 19 63,3 30 100,0

Tidak Baik 11 36,7 0 0

Jumlah 30 100,0 30 100,0

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dijelaskan bahwa dari 30 orang responden ada sebanyak 19 orang (63,3%) memiliki pengetahuan yang baik dan sebanyak 11 orang (36,7%) memiliki pengetahuan yang kurang baik. Sedangkan setelah dilakukan penyuluhan dengan media ceramah dan leaflet, seluruh responden (100,0%) memiliki pengetahuan yang baik.

Nilai rata – rata pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan adalah 10,17 dengan nilai SD 2,82 dan nilai rata – rata pengetahuan sesudah diberikan penyuluhan adalah 14,43 dengan nilai SD 0,77. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7 Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan

Pengetahuan N SD Min Maks

Sebelum 30 10,17 2,82 7 15

Sesudah 30 14,43 0,77 13 15

4.3.1 Sikap Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan dengan Media Ceramah dan Leaflet

Sikap responden dibagi menjadi 4 kategori yaitu , sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Distribusi pernyataan sikap responden sebelum diberikan penyuluhan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Pernyataan Sikap Responden Sebelum Diberikan Penyuluhan No Pernyataan Jawaban Sebelum Penyuluhan Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju n % N % n % n %

1. Sebagai pekerja penggoreng kerupuk, setujukah anda bila diadakan penyuluhan kesehatan tentang bahaya lingkungan kerja panas . 8 26, 7 1 7 56, 7 5 16, 7 0 0

2. Anda merasa efek panas dapat berpengaruh terhadap kesehatan pekerja penggoreng kerupuk.

9 30, 0 8 26, 7 7 23, 3 6 20,0

3. Panas yang dirasakan di dapur penggorengan berasal dari panci dan wajan 5 16, 7 1 4 46, 7 11 36, 7 0 0

4. Panas yang dirasakan di lingkungan kerja penggoreng kerupuk juga dapat bersumber dari tungku pembakaran kayu.

6 20, 0 9 30, 0 8 26, 7 7 23,3

5. Efek panas yang dirasakan berasal dari proses kerja pengukusan dan penggorengan kerupuk. 11 36, 7 8 26, 7 6 20, 0 5 16,7

6. Suhu lingkungan yang panas dapat menyebabkan cepat lelah.

13 43, 3 8 26, 7 5 16, 7 4 13,3 7. Pada saat bekerja, pekerja sering

merasakan lelah yang berlebihan

11 36, 7 1 1 36, 7 0 0 8 26,7 8. Pekerja dapat meminum air putih

yang banyak untuk mengurangi bahaya panas. 5 16, 7 1 7 56, 7 8 26, 7 0 0

9. Pada tungku penggorengan sebaiknya dibuat pembatas untuk dapat membatasi rasa panas.

9 30, 0 1 2 40, 0 2 6,7 7 23,3

10. Efek panas agar tidak terlalu dirasakan oleh pekerja, maka perlu dibuat pengaturan tata letak tungku. 4 13, 3 2 4 80, 0 2 6,7 2 6,7

Tabel. 4.8. (Lanjutan) 11. Pada saat menggoreng sebaiknya

pekerja berdiri sesuai arah angin agar panas dari tungku tidak langsung terkena kepada pekerja.

19 63, 3 6 20, 0 5 16, 7 0 0

12 Berada pada tungku penggorengan yang sangat panas akan membuat pekerja sering merasa haus 12 40, 0 1 2 40, 0 6 20, 0 0 0

13 Pekerja mengeluarkan keringat yang banyak saat menggoreng kerupuk 12 40, 0 1 2 40, 0 6 20, 0 0 0

14 Pada saat bekerja, pekerja memiliki kebiasaan sedikit (tidak ada – 1 kali) buang air kecil

0 0 1 2 40, 0 10 33, 3 8 26,7

15 Pada saat penggorengan kerupuk sebaiknya pekerja menggunakan pakaian berbahan katun dan menyerap keringat, baju longgar agar aliran udara dapat masuk.

9 30, 0 9 30, 0 4 13, 3 8 26,7

Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa pada pernyataan pertama ada sebanyak 17 orang (56,7%) yang menyatakan setuju, pernyataaan kedua sebanyak 9 orang (30,0%) yang menyatakan sangat setuju. Pada pernyataan ketiga ada sebanyak 14 orang (46,7%) yang menyatakan setuju pernyataan keempat sebanyak 9 orang (30,0%) yang menyatakan setuju dan pernyataan kelima sebanyak 11 (36,7%) yang menyatakan sangat setuju. Pernyataan keenam menunjukkan ada sebanyak 13 orang (43,3%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataan ketujuh ada sebanyak 11 orang (36,7%) yang menyatakan sangat setuju dan setuju, pernyataan kedelapan ada sebanyak 17 orang (56,7%) yang menyatakan setuju, pada pernyataan kesembilan ada sebanyak 12 orang (40,0%) yang menyatakan setuju, pertanyaan kesepuluh ada

sebanyak 24 (80,0%). Untuk pernyataan kesebelas ada sebanyak 19 orang (63,3%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataan keduabelas dan ketigabelas sebanyak 12 orang (40,0%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataan keempat belas sebanyak 12 orang (40,0%) yang menyatakan setuju dan pernyataan kelimabelas 9 orang yang menyatakan sangat setuju.

Pernyataan sikap responden setelah diberikan penyuluhan mengenai bahaya penggorengan panas dibagi menjadi 4 kategori yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Adapun distribusi jawaban pernyataan sikap responden dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Pernyataan Sikap Responden Sesudah Diberikan Penyuluhan No Pernyataan Jawaban Sesudah Penyuluhan Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju n % n % n % n %

1. Sebagai pekerja penggoreng kerupuk, setujukah anda bila diadakan penyuluhan kesehatan tentang bahaya lingkungan kerja panas .

26 86,7 4 13,3 0 0 0 0

2. Anda merasa efek panas dapat berpengaruh terhadap kesehatan pekerja penggoreng kerupuk.

24 80,0 6 20,0 0 0 0 0

3. Panas yang dirasakan di dapur penggorengan berasal dari panci dan wajan

25 83,3 5 16,7 0 0 0 0

4. Panas yang dirasakan di lingkungan kerja penggoreng kerupuk juga dapat bersumber dari tungku pembakaran kayu.

Tabel.4.9. (Lanjutan) 5. Efek panas yang dirasakan

berasal dari proses kerja pengukusan dan penggorengan kerupuk.

27 90,0 3 10,0 0 0 0 0

6. Suhu lingkungan yang panas dapat menyebabkan cepat lelah.

24 80,0 6 20,0 0 0 0 0 7. Pada saat bekerja, pekerja

sering merasakan lelah yang berlebihan

20 66,7 1 0

33,3 0 0 0 0

8. Pekerja dapat meminum air putih yang banyak untuk mengurangi bahaya panas.

15 50,0 1 5

50,0 0 0 0 0

9. Pada tungku penggorengan sebaiknya dibuat pembatas untuk dapat membatasi rasa panas.

19 63,3 1 1

36,7 0 0 0 0

10. Efek panas agar tidak terlalu dirasakan oleh pekerja, maka perlu dibuat pengaturan tata letak tungku.

19 63,3 1 1

36,7 0 0 0 0

11.

Pada saat menggoreng sebaiknya pekerja berdiri sesuai arah angin agar panas dari tungku tidak langsung terkena kepada pekerja.

20 66,7 1 0

33,3 0 0 0 0

12 Berada pada tungku

penggorengan yang sangat panas akan membuat pekerja sering merasa haus

19 63,3 1 1

36,7 0 0 0 0

13 Pekerja mengeluarkan keringat yang banyak saat menggoreng kerupuk

24 80,0 6 20,0 0 0 0 0 14 Pada saat bekerja, pekerja

memiliki kebiasaan sedikit (tidak ada – 1 kali) buang air kecil

21 70,0 9 30,0 0 0 0 0

15 Pada saat penggorengan kerupuk sebaiknya pekerja menggunakan pakaian berbahan katun dan menyerap keringat, baju longgar agar aliran udara dapat masuk.

24 80,0 5 16,7 1 3, 3

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa pada pernyataan pertama ada sebanyak 26 orang (86,7%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataaan kedua sebanyak 24 orang (80,0%) yang menyatakan sangat setuju. Pada pernyataan ketiga dan keempat ada sebanyak 25 orang (83,3%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataan kelima sebanyak 27 orang (90,0%) yang menyatakan sangat setuju dan pernyataan keenam sebanyak 24 (80,0%) yang menyatakan sangat setuju. Pernyataan ketujuh menunjukkan ada sebanyak 20 orang (66,7% yang menyatakan sangat setuju, pernyataan kedelapan ada sebanyak 15 orang (50,0%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataan kesembilan dan kesepuluh ada sebanyak 19 orang (63,3%) yang menyatakan sangat setuju pernyataan kesebelas ada sebanyak 20 orang (66,7%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataan keduabelas ada sebanyak 19 orang (63,3%) yang menyatakan sangat setuju dan pada pernyataan ketigabelas ada sebanyak 24 orang (80,0%) yang menyatakan sangat setuju. Untuk pernyataan keempatbelas ada sebanyak 21 orang (70,0%) yang menyatakan sangat setuju, pernyataan kelimabelas ada sebanyak 24 orang yang menyatakan sangat setuju.

Distribusi responden berdasarkan seluruh jawaban dari 15 pernyataan dibagi menjadi dua kategori yaitu baik dan tidak baik. Responden yang menjawab pernyataan dengan jumlah nilai ≤ 30 dikategorikan tidak baik dan responden yang menjawab pernyataan dengan jumlah nilai > 30 dikategorikan baik. Distribusi responden tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.10 Distribusi Kategori Sikap Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan

Sikap

Sebelum Penyuluhan Sesudah Penyuluhan

n % n %

Baik 21 70,0 30 100

Tidak Baik 9 30,0 0 0

Jumlah 30 100,0 30 100,0

Berdasarkan tabel 4.10 di atas dapat diketahui bahwa hasil pengukuran sikap pekerja penggoreng kierupuk sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dengan menggunakan metode ceramah dan leaflet yaitu yang bersikap baik sebanyak 21 orang (70,0%) menjadi 30 orang (100%), sedangkan yang bersikap kurang sebanyak 9 orang (30,0%) menjadi tidak ada yang bersikap kurang.

Nilai rata – rata pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan pada pekerja adalah 10,17 dengan nilai SD 2,82 dan nilai rata – rata pengetahuan sesudah diberikan penyuluhan adalah 14,43 dengan nilai SD 0,77. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.11 Sikap Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan

Sikap n SD Min Maks

Sebelum 30 42,03 9,99 30 56

Sesudah 30 56,17 4,39 45 60

Berdasarkan Tabel 4.11 dapat dijelaskan tentang sikap responden sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dengan metode ceramah dan leaflet, diperoleh nilai sikap yang dimiiliki responden adalah rata-rata 42,03 dan nilai rata-rata sikap sesudah diberikan penyuluhan adalah 56,17.

4.2 Analisis Bivariat

Untuk mengetahui pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen dilakukan analisis bivariat menggunakan uji Paired Sampel t-test bila data berdistribusi normal (p<0,005) dan uji wilcoxon bila data tidak berdistribusi tidak normal (p>0,005). Namun sebelumnya dilakukan terlebih dahulu uji normalitas data. 4.2.1 Uji Normalitas Data

Normalitas merupakan syarat yang harus terpenuhi dalam menggunakan uji independen. Normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan berdistribusi normal dengan uji Shapiro Wilks dengan alasan sampel sebanyak 30 orang.

Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Data Variabel Pengetahuan dan Sikap

Variabel

Media

Ceramah dan Leaflet

P Keterangan

Pengetahuan

Sebelum Penyuluhan 0,001 Tidak Normal

Sesudah Penyuluhan <0,001 Tidak Normal

Sikap

Sebelum Penyuluhan 0,001 Tidak Normal

Sesudah Penyuluhan <0,001 Tidak Normal

Berdasarkan tabel 4.12 tersebut dapat diketahui bahwa tidak ada satupun variabel baik pengetahuan maupun sikap responden setelah dilakukan pretest dan posttest yang berdistribusi normal karena seluruh nilai p<0,05. Oleh karena itu, uji bivariat dilakukan dengan uji wilcoxon.

4.2.2 Pengaruh Penyuluhan terhadap Pengetahuan dan Sikap Sebelum dan Sesudah Intervensi

Berdasarkan hasil pada penelitian yang telah dilakukan didapat hasil data yang tidak berdistribusi normal maka untuk melihat ada atau tidak pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah intervensi dilakukan dengan menggunakan uji wilcoxon.

Tabel 4.13 Pengaruh Penyuluhaan terhadap Pengetahuan dan Sikap Sebelum dan Sesudah

Variabel Mean P Pengetahuan <0,001 Sebelum 10,17 Sesudah 14,43 Sikap <0,001 Sebelum 42,03 Sesudah 56,17

Berdasarkan tabel 4.13 di atas dapat dilihat bahwa terjadi perubahan nilai rata- rata pengetahuan sebelum dengan sesudah diberikan penyuluhan terhadap pekerja dengan menggunakan media ceramah dan leaflet yaitu 10,17 menjadi 14,43 dengan nilai p<0,001, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan pekerja di industri kecil penggorengan kerupuk tentang bahaya kerja panas.

Terdapat peningkatan rata-rata sikap sebelum dengan sesudah diberikan penyuluhan yaitu 42,03 menjadi 56,17 dengan nilai p<0,001, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan pekerja di industri kecil penggorengan kerupuk tentang bahaya kerja panas.

BAB 5 PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitiaaan yang telah dilakukan pada salah satu industri kecil penggorengan kerupuk yang berada di Wlayah Kecamatan Medan Selayang yang dilakukan pada bulan Juni tahun 2015, maka di bahas secara berurutan sesuai dengan variable penelitian.

Dokumen terkait