• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skema 3.1. Kerangka Penelitian Gambaran Psikologis dan Kognitif pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP HAM Medan

1. Hasil Penelitian

1.2 Karakteristik Responden

Deskripsi karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, jenis penyakit. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan yaitu sejumlah 19 orang (63,3%) dan mayoritas responden berusiaberusia 41-60 tahun yaitu sejumlah 22 orang (73,3%) danjenis gangguan saraf yang paling banyak adalah penyakit stroke 17 orang (56,6%).

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2015

Data Demografi Frekuensi (f) Persentase (%) Jenis Kelamin Laki-laki 11 36,7 Perempuan 19 63,3 Usia 18-40 tahun(dewasa dini) 2 6,7 41-60 tahun(dewasa madya) 22 73,3 >60 tahun(dewasa lanjut ) 6 20,0 Diagnosa Medis Stroke 17 56,6 SOL 7 23,3 SDH 1 3,3

Low Back Pain 1 3,3

Miestania Gravis 1 3,3

Aneurisma Intrakranial 1 3,3

Paraparese tipe UMN 1 3,3

Metastase Otak 1 3,3

Total 30 100

1.3. Gambaran Psikologis Berdasarkan Tingkat Kecemasan pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran tingkat kecemasan pada pasien yang mengalami gangguan sistem saraf adalah tidak ada kecemasan yaitu

10 orang (33,3%), kecemasan ringan yaitu sejumlah 12 orang ( 40%), kecemasan sedang yaitu 6 orang (20%), kecemasan berat yaitu 2 orang (6,7%), dan tidak ada pasien yang mengalami kecemasan berat.

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Psikologis Berdasarkan Tingkat Kecemasan pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2015

Kategori Frekuensi (f) Persentasi (%)

Tidak mengalami kecemasan 10 33,3

Ringan 12 40,0

Sedang 6 20,0

Berat 2 6,7

Berat Sekali -

-Total 30 100,0

1.4. Gambaran Psikologis Berdasarkan Tingkat Depresi pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil penelitian menunjukkan bahwagambaran tingkat depresi pada pasien yang mengalami gangguan sistem saraf adalah tidak mengalami depresi yaitu 9 orang ( 30,0%), depresi ringan yaitu 17 orang (56,7%), depresi sedang yaitu 3 orang (10,0%), dan depresi berat yaitu 1 orang (3,3%)

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Psikologis Berdasarkan Tingkat Depresi pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2015

Kategori Frekuensi (f) Persentasi (%)

Tidak mengalami depresi 9 30,0

Ringan 17 56,7

Sedang 3 10,0

Berat 1 3,3

1.5. Gambaran Kognitif pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil penelitian menunjukkan bahwag ambaran kognitif pasien yang mengalami gangguan sistem saraf adalah Normal yaitu 16 orang (53,3%), kemungkinan mengalami gangguan kognitif yaitu 3 orang (10,0%), dan ada gangguan kognitif yaitu 11 orang (36,7%).

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kognitif pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2015

Kategori Frekuensi (f) Persentasi (%)

Kognitif Normal 16 53,3

Kemungkinan ada Gangguan 3 10,0

Ada Gangguan 11 36,7

Total 30 100,0

2. Pembahasan

2.1. Psikologis Berdasarkan Tingkat Kecemasan pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan

Secara teorotis kecemasan merupakan respon psikologis seseorang pada situasi tertentu, dalam hal ini situasi pasien dengan penyakit fisik. Hasilpenelitian yang didapat oleh peneliti menunjukkan bahwa gambaran tingkat kecemasan yang dialami pasien pada pasien gangguan sistem saraf di RSUP H.Adam Malik Medan adalah ringan (40%),

Respons-respons fisiologis orang yang mengalami ansietas ringan adalah sesekali mengalami nafas pendek, naiknya tekanan darah dan nadi, muka berkerut (tegang), bibirbergetar (Pieter, dkk 2011). Hal ini didukung dengan pernyataan

kuesioner nomor 14, bahwa ada 15 responden (50%) mengalami gejala ringan seperti nafas pendek,muka tegang. Gejala lain juga yang muncul ketika seseorang mengalami kecemasan adalah pasien mengalami kegelisahan, kekhawatiran, (Ermawati,dkk., 2009). Pada penelitian ini ditemukan bahwa 43,3% pasien merasakan kekhawatiran yang didukung oleh pernyataan nomor 1, dan 30 % responden mengalami kegelisahan didukung oleh pernyataan nomor 2. Pada penelitian ini didapatkan gejala yang paling tinggi dirasakan oleh pasien adalah kekhawatiran. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Lyketsos (2007), tentang gambaran kecemasan pada penyakit stroke yang menyatakan bahwa yang menyatakan pasien-pasien dengan penyakit stroke atau gangguan neurologis lainnya akan mengalami gejala emosional seperti pasienmenunjukkankhawatir, gelisah, kelelahan, konsentrasi yang buruk, dangangguantidurtanpakesedihan. Gejala dari kecemasan tersebut bisa sangat melemahkan pasien tersebut. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelirian yang dilakukan Srivastava (dkk, 2012) yang menyatakan bahwa pasien SOL tidak hanya mengalami gejala-gejala neurologis tetapi juga mengalami gejal-gejala neurologis yaitu cemas dan depresi.

Davis (1999), menyatakan bahwa gangguan kecemasancukup seringterjadi pada pasien yang memiliki gangguan neurologis.Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa gangguan kecemasan terjadi lebihsering dari padagangguan mood pada pasien dengan kondisi neurologis. Hal ini sejalan dengan pernyataan Davies (et al,2011) bahwa gangguan kecemasan adalah gejala psikologis yang sering terjadi pada pasien dengan penyakit neurologis. Kondisi neurologis yang terganggu terdapat beberapa kesamaan antara gejala fisik dan gejala kecemasan

itu sendiri, seperti tremor.Gambaran kecemasan pada pasien gangguan sistem saraf di RSUP H.Adam Malik medan termasuk dam kategori ringan kemungkinan dapat dipengaruhi beberapa faktor meliputi hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (63,3%). Hal ini juga didukung olehpendapat Gunarso (1995) yang mengatakan lebih cenderung mengalami kecemasan dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan dirasa lebih sensitif terhadap permasalahan dan cenderung mengungkapkan perasaanya sehingga mekanisme koping perempuan kurang baik dibanding laki-laki. hal ini didukung juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Furwanti (2014) bahwa perempuan akan merasa lebih cemas akan ketidakmampuannya dibandingkan dengan laki-laki yang cenderung lebih aktif, eksploratif sedangkan perempuan lebih sensitif. Usia pasien dalam penelitian ini adalah kelompok umur (41-60) sebanyak 73,3%. Hal ini sejalan dengan pendapat Stuart and Sudden( dalam Afrina,2013) yang menyatakan bahwa usia tua lebih rentan mengalami kecemasan dibandingkan usia muda. Hal ini berkaitan dengan status kesehatan seseorang, dimana dengan menurunnya status kesehatan seseorang maka akan mengalami tingkat kecemasan yang lebih besar.

Kondisi fisik pasien yang mengalami gangguan kesehatan khususnya neurologis dapat berbentuk seperti kelemahan, gangguan menelan, dan kelemahan lainnya. pasien cenderung hanya memikirkan ancaman serta efeknegatif yang ditimbulkan penyakitnya. Hal ini memberikan dampak negatif terhadap psikologinya sehinngga menimbulkan kecemasan. Faktor lain yang mempengaruhi berupa menurunnya kesempatan pasien untuk melakukan aktifitas

sehari-hari dan hilangnya kemandirian yang diakibatkan oleh pikiran negative dan rasa pesimis. adanya ancaman terhadap konsep diri dan harga diri juga yang akan menyebabkan kecemasan ini terjadi.

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tingkat kecemasan pasien dalam kategori ringan. Untuk menurunkan tingkat kecemasan tersebut pasien memerlukan dukungan keluarga, perawat dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien.

2.2. Psikologis Berdasarkan Tingkat Depresi pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil penelitian yang didapatoleh peneliti menunjukkan bahwa gambaran tingkat depresi yang dialami pasien pada pasien gangguan sistem saraf di RSUP H.Adam Malik Medan adalahringan (56,7%)

Keltner (1999) gejala seseorang mengalami depresi adalah kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar dalam satu hari. Hal ini didukung oleh pernyataan kuesioner 20, responden sebanyak 46,7% kurang menikmati dengan kegiatan yang dikerjakannya. Ciri-ciri yang lain adalah kehilangan berat badan, hal ini seiring dengan pernyataan kuesioner nomor 7 bahwa 43,3,% responden mengalami perubahan berat badan namun tidak signifikan. Dan ciri lainnya juga pasien mengalami gangguan tidur. Hal ini sejalan dengan pendapat Basionny (2009) menjelaskan bahwa tanda-tanda pasien neurologis mengalami depresi adalah mengalami gangguan tidur, kelemahan , gangguan konsentrasi. Pada penelitian ini tanda dan gejala yang paling banyak dirasakan oleh pasien berdasarkan mean adalah adanya perasan

jantung berdenyut, perasaan ingin menangis dan penurunan harapan akan masa depan.

Salah satu diagnosa medis yang muncul pada penyakit neurologis pada penelitian ini adalah stroke. Penelitian yang dilakukan oleh Martutik dan Wigatiningsih (2010) juga menunjukkan bahwa tingkat depresi yang dialami pasien stroke adalah depresi ringan(45,6%). Pada penelitian ini juga pasien kedua terbanyak adalah pasien dengan penyakit SOL, dari hasil penelitian yang dilakukan Srivastava (dkk, 2012) menyatakan bahwa pasien SOLtidak hanya mengalami gejala-gejala neurologis tetapi juga mengalami gejal-gejala neurologis yaitu cemas dan depresi. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ponnudurai (dkk, 2010) yang menyatakan bahwa pasien dengan penyakit SOLakan mengalami gejala psikiatrik, dimana 25 dari 58 pasien mengalami gangguan mental yaitu depresi ringan.

Lyketsos (2007) mengatakan terjadinya peningkatan penyakit-penyakit neurologis seperti stroke, parkinson, alzheimer. Penyakit neurologis yang terkait dengan sistem saraf telah jelas bahwa akan ada gejala psikologis dari setiap penyakit neurologis. Gejala psikologis yang muncul mulai dari depresi hingga mania. Hal ini sejalan dengan pendapat Yasgur (2005), yang menyatakan bahwa penyakit-penyakit saraf memiliki resiko lebih tinggi depresi. Prevalensi tingkatan depresi untuk setiap jenis penyakitnya bervariasi.

Benedetti dan koleganya(2006), menyatakan bahwa adanya gangguan pada penyakit saraf ditemukan adanya depresi. Tingkatan depresi pada gangguan neurologis ini tergantung dari pasien tersebut. Kepekaan dari setiap pasien

berbeda tergantung dari gangguan neurologis yang dialami pasien. Hal ini sejalan dengan pendapat Chen dan Caller dalam (2014)yang menyebutkan bahwa depresi adalah salah satu gejala emosional yang muncul pada pasien neurologis. Insiden depresi tertinggi adalah pada pasien Multiple Sclerosis dan Alzheimer dan terendah pada pasien epilepsy.

Pada pasien dengan gangguan fisik khususnya yang berhubungan keotak akan mengalami gejala-gejala psikologis. Pasien dengan gangguan neurologis akan mengangalami lesi otak yang mempengaruhi sistem limbik (hipotalamus, amigdala dan cingulate gyrus) atau yang berhubungan ganglia basal yang menyebabkan pasien tersebut mengalami perubahan emosional( Butler, 2005).

Hasil penelitian ini yang menyebutkan bahwa pasien neurologis mengalami depresi sejalan dengan penelitian Yasgur (2013) yang mengatakan bahwa pasien-pasien gangguan neurologis mengalami depresi. Dibuktikan dengan ditemukannya pasien dengan penyakit Multiple Sclerosis mengalami depresi(34,7%), diikuti dengan penyakit Parkinson (33,4%), Alzheimer (31,5), dan epilepsy (22,4%).

Gambaran tingkat depresi pada pasien gangguan sistem saraf di RSUP H.Adam Malik Medan termasuk dalam tingkat ringan. Hal ini kemungkinan juga dapat dipengaruhi beberapa faktor yang ditemukan bahwa mayoritas responden adalah perempuan.Hal ini agak berbeda dengan keadaaan pada umumnya, kaum perempuan lebih berat aktivitas-sehari-hari dibanding laki-laki.Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yasgur(2013) bahwa prevalensi terjaadinya depresi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki setelah pasien tersebut menerima diagnosa penyakit neurologis. Faktor lainnya juga

dikarenakan umur dari responden masuk kedalam kategori kelompok usia (41-60) sebanyak (73,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Indari (2007, dalam Martutik,2010) bahwa golongan usia yang masih produktif lebih banyak terkena depresi, hal ini dimungkinkan karena usia yang lebih tua lebih bersifat pasrah terhadap keadaan dirinya.Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Yasgur (2013) bahwa pasien neurologis dengan usia dibawah 60 lebih sering mengalami depresi.

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tingkat depresi pasien paling banyak dalam kategori ringan namun masih ada pasien yang mengalami depresi berat. Hal ini perlu perhatian khusus dari keluarga dan perawat untuk mengurangi gejala-gejala depresi berat tersebut.

2.3. Kognitif pada Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil penelitian yang didapatolehpenelitimenunjukkanbahwa gambaran kognitif yang dialami pasien pada pasien gangguan sistem saraf di RSUP HAM Medan adalah normal, (53,3%). Hasil ini tidak sejalan dengan teori yang menjelaskan bahwa gangguan kognitif yang disebabkan gangguan neurologis akibat adanya kerusakan pada otak, kelainan neurologis yang dapat menyebabkan gangguan kognitif dipengaruhi oleh tiga dimensi yaitu tergantung kepada tingkat keparahan, penyebaran lesi, patofisiologi yang mendasari kerusakan otak ( Kemenkes, 2010). Proses kognitif erat berhubungan dengan lokasi kelainan bagian otak. Kognitifadalahkemampuanberpikirdanmemberikanrasional,termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsidanmemperhatikan(Ahmad, 2012).

Kemenkes (2010), aspekkognitifmeliputi orientasi, registrasi, atensi, memori, danbahasa.Padapenelitian ini dengan aspek bahasa merupakan aspek yang paling tinggi. Ditemukan bahwa pasien gangguan sistem saraf berdasarkan skor observasi item 9 yaitu pasien mampu membaca dan melakukan perintah

“angkatlah tangan kiri anda”. Kemenkes (2010) menjelaskan bahwaBahasa merupakan fungsi kognitif dasar bagikomunikasi pada manusia. Bila terdapa tgangguan pada bahasa, penilaian faktor kognitif yang lain agaksulituntuk diperiksa. Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa merupakan hal yang sangat penting. Bila terdapat gangguan, hal ini akan mengakibatkan hambatan yang berarti bagi seseorang.

Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa pasien yang mengalami gangguan normal sebanyak 11 orang (36,7%). Dan aspek yang paling terganggu sesuai dengan frekuensi terbanyak yang diobservasi peneliti adalah aspek pada bagian item observasi nomor 11 dimana pasien diminta meniru gambar poligon.

Penelitian ini didapatkan gambaran kognitif normal dengan mayoritas responden berusia berusia 41-60 tahun yaitusejumlah 22 orang (73,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dayamaes (2013) yang menunjukkan bahwa usia lanjut (>60 tahun) berhubungan dengan penurunan kognitif. Kategori usia yang paling memiliki risiko mengalami gangguan kognitif adalah kategori usia Very Old ( >90 tahun),Old( 75-90) diikuti dengan Elderly (60-74 tahun). Hal ini sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan Scanlan (2007 dalam Dayamaes 2013) yang menyatakan bahawa usia berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif.

Hasil yang diperoleh berdasarkan ganggusan sistem saraf, stroke merupakan gangguan sistem saraf paling banyak dalam kategori normal. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kandou (2013), tentang gangguan kognitif pada pasien stroke ditemukan bahwa lebih dari setengah jumlah responden mengalami gangguan kognitif ringan hingga berat.Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti mayoritas pasien merupakan pasien yang baru pertama kali terkena penyakit tersebut dan responden pada penelitian ini merupakan pasien sadar sesuai dengan kriteria inklusi.

3.Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini dalm penilaian kognitif menggunakan instrumen observasi yang lebih baik digunakan dengan kriteria pasien yang mengalami gangguan sistem saraf berulang agar mendapatkan hasil; yang lebih baik, sedangkan pada penelitian ini pasien yang pertama kali terdiagnosa termasuk dari responden yang akan diteliti.

1. Kesimpulan

Pasien gangguan sistem saraf di RSUP H.Adam Malik mengalami gangguan psikologis berdasarkan tingkat kecemasan adalah ringan yang ditandai dengan pasien mengalami kekhawatiran dan kegelisahandan berdasarkan tingkat depresi pada penelitian ini didapatkan hasil berada pada tingkat ringan. Ditandai dengan pasien mayoritas mengalami penurunan berat badan namun tidak signifikan dan pasien kurang menikmati apa yang dikerjakannya dan status kognitif pada pada penelitian ini adalah normal. Aspek yang paling tinggi adalah aspek bahasa yaitu

pasien mampu membaca dan melakukan perintah “angkatlah tangan kiri anda”

2. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

1) Bagi Perawat

Diharapkan bagi perawat meningkatkan pemberian informasi dalam berbagai program yang tepat dalam perawatan, pelayanan, bimbingan dan konseling mengenai kecemasan, depresi agar dapat menurunkan gangguan psikologis yang dialami pasien tersebut danmemberikan terapi atau latihan terkait dengan kognitif untuk meningkatkan status kognitif pada pasien dengan gangguan sistem saraf.

2) Bagi Penelitian Selanjutnya

Penelitian ini hanya menggambarkan psikologis dan kognitif pada pasien gangguan sistem saraf di RSUP H. Adam Malik Medan.Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya diharapkan untuk meneliti hubungan antara psikologis dengan kognitif pada pasien gangguan sistem saraf.

3) Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan

Melalui institusi pendidikan, mahasiswa mempersiapkan diri menjadi perawat yang mampu melakukan asuhan keperawatan kepada pasien. Khususnya pada pasien yang mengalami gangguan sistenm saraf terkait dengan psikologis dan kognitif pasien tersebut. Oleh karena itu penelitian ini dapt digunakan sebagai sumber pengetahuan.

Umum Zainul Abidin Banda Aceh tahun 2013.Diunduh tanggal 07 juli 2015 darietd.unsyiah.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2151.

Anwar, I.(2012).Dasar-dasar Statistika.Bandung: Alfabeta

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta:RinekaCipta.

Arikunto, S. (2006). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah Edisi 2. Jakarta: Salemba medika

Asmadi.(2008).Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:EGC

Bassiony,M,M.(2009). Depression and neurological disorders. Neuroscience;14(13):220-9.

Batticaca,Fransisca. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien Gangguan SistemPersarafan. Jakarta: Salemba Medika

Benedetti.,Bernasconni.,Pontiggia.(2006). Depression and Neurological Disorders.Current Opinion in Psychiatry,19(1):14-8.

Butler,C., Jemn, A,Z,J. (2005). Neurological syndromes which can be mistaken for psychiatric conditions.J Neurology Nursing psychiatry;76(suppl 1):i31-i38.

Chen,J,J., Caller,T,A.(2014). Comorbid depression in neurological disorders: a review of current treatments for depression in patients with post-stroke depression, parkinson disease, alzheimer disease, multiple sclerosis. epilepsy and migraine.

Craven,R,F., Hirnle,C,J. (2009). Fundamentals Of Nursing Sixth Edition.United States of America: Wolters Kluwer.

Davies,R,D., Gabbert,S,L.,Riggs,P,D.(2001). Anxiety disorders in neurologic illness.Current Treatment Options in Neurology,3.333-346.

Davis,S.(1999). Anxiety and neurological disorders. Seminars in Clinical Neurophsyciatry,98-102

Dayamaes, R.(2013). Gambaran Fungsi Kognitif Klien Usia Lanjut Di Posbindu Rosella Legoso Wilayah Kerja Ciputat Timur Tangerang Selatan.

Diunduh tanggal 15 Juli 2014 dari

repository.uinjkt.ac.id/dspace/.../rizhsky%20dayamaes.%20-%20fkik.pdf

Depkes RI. (2011). Profil kesehatan Indonesia 2000. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Farley A et al. (2014).Nervous system: part 1 vol 28 no 31. Diunduh 19 November 2014.

Fletcher, K. (2005).Immobility: Geriatric Self-Learning Module.Medsurg Nursing—February 2005—Vol. 14/No. 1

Furwanti,E.(2014). Gambaran Tingkat Kecemasan pasien di Instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Panembahan Senopati Bantul. Universitas Muhamadyah Yogyakarta.

Gunarso,S,D.,Gunarso,Y,D.(1995). Psikologi Perawatan.Jakarta:BPK Gunung Mulia

Hendrik,L,N. (2013).Thesis Depresi Berkorelasi dengan Rendahnya Kualitas Hidup Penyakit Parkinson.Denpasar: Universitas Udayana.

Idris, N., (2007). Depresi pada penderita stroke. Tanggal aksestanggal 24 November 20014 dari: http://hpstroke.wordpress.com/tag/psikologi-pasca-stroke.

Ingram,I,M et al.(1993).Catatan Kuliah Psikiatri. Jakarta:EGC

Kandou,L,F,J., Munayang,H., Hasra, I,W. (2013).Prevalensi Gangguan Fungsi Kognitif dan Depresi padaPasien Stroke di Irina F BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Universitas Sam Ratulangi Manado.

Karota, Bukit, E. (2003). Sleep Quality and Factor Interfering with Sleep AmongHospitalized Elderly in Medical Units Medan, Master of Nursing Science Thesis in Medical and Surgical NursingPrice of Songkla University.

Karren, T.; Jenni, A, O,: P.; Edward, M. (2010). Psychosocial Effects of Harboring an Untreated Unruptured Intracranial Aneurysm.Diunduh tanggal 15 November 2014.

Kemenkes.(2010). Pedoman rehabilitasi Kognitif. Diunduh tanggal 12 November2014.

Keltner., Schwecke., Bostrom.(1999). Psychiatric Nursing. Philippines: Mosb Inc Kozier, B,Erb,G., Berman, A., Synder, S.J.(2010). Buku Ajar Fundamental

Keperawatan;Konsep, Proses, & Praktik. Jakarta: Egc Lewis, D,W.Pediatric Migraine Neurology. Pediatric in Rev. 2007

Lyketsos,C,G.,Kozaver,N.,Rabins,R,V.2007. Psychiatric Manifestations of Neurologic Disease: Where are headed?.Dialogues Clin Neuroscience,9,111-124

Montalcini,R,L., Saraceno, B. (2006). Neurological Disorders Public Health Challenges.WHO: 1-232

Mulyatsih, E., (2003).Stroke; Petunjuk Praktik Bagi Pengasuh Dan Keluarga Pasien Pasca Stroke. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Murtutik, L., Wigatiningsih,H.(2010). Hubungan Aktivitas Dasar Sehari-hari dengan Tingkat Depresi pada Pasien Stroke di Ruang Anggrek I RSUD DR Moewardi Surakarta.Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia

Vol.1,No.1.

Notoatmodjo,S. (2012).Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan.Jakarta: Penerbit salemba Medika.

Ponnudurai, R., Victoria, C,C., Srinivasan, B.,Rani A, Vikraman, S, T.,Raman, K.

(2010). A case of “space occupying lesion–acute haemorrhage in left

tempero parietalregion” presenting as depressive disorder :. Sri Ramachandra Journal of MedicineVol. 3, Edisi 1 . Diunduh tanggal 05

Agustus 2015 dari

http://www.sriramachandra.edu.in/university/pdf/research/journals/jan_jun_ 2010/jan_jun_2010_book_8.pdf

Potter, Perry. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Proses Dan Praktik. Ed. 4. Jakarta: EGC

Potter,Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik, Ed,4. Jakarta : EGC

Rafknowledge. (2004). Insomnia dan Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta: Alex Media Komputindo.

Robbins, dkk. (2007).Buku Ajar Patologi.Edisi 7, Vol 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Sarigumilan,R. (2013). Hubungan Komponen Konsep Diri dengan KejadianDepresi pada Pasien Pasca Stroke di Poliklinik Saraf RSUP dr.m. Djamil Padang. Diunduh tanggal 20 07 Juli 2015 dari http://repository.unand.ac.id/18821/

Smeltzer, C,S.,Bare,G,B. (2002).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta: EGC.

Srivastava, S., Bhatia, M,S., Jhanjee, A., Gaur, A. (2010). Space occupying lesion presenting withpsychiatric manifestations.Delhi Psychiatry JurnalVol.15 No.2. Diunduh tanggal 03 Agustus 2015 dari http://medind.nic.in/daa/t12/i2/daat12i2p432.pdf

Sternberg,R,J. (2008).Psikologi Kognitif. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi Dengan Metode R &D.Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sunaryo.(2013).Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta:EGC

Syaifuddin,H.(2011).Anatomi Fisiologi:Kurikulum berbasais Kompetensi untuk Keperawatan dan Kebidanan.Edisi 4.Jakarta:EGC

Tarwoto. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan Edisi 2.Jakarta : Sagung Seto

Tarwoto., Wartonah., Suryati,E.S. (2007). Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Sagung Seto.

Tayor,S.E.(1995).Health Psychology, Third Edition. Los Angeles: University of California

Wallin, et al. (2014). Cognitive dysfunction in multiple sclerosis: assessment, imaging, and risk factors.Report Information from ProQuest19 November 2014 01:11

World Health Organitation. (2001).Fact Sheet: Mental and Neurological Disorders.

Yasgur,A.S.(2013). Depression in neurogical disorders.The Lancet Neurology,815.

Lampiran 2 SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

(INFORMED CONCENT)

Nama : Ayu Febrina Panjaitan

NIM : 111101047

Semester : 8 (Delapan)

JudulPenelitian : Gambaran Psikologis dan Kognitif Pasien Gangguan Sistem Saraf di RSUP H.Adam Malik

Saya adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang sedang melakukan penelitian. Penelitian yang saya lakukan merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran psiko-kognitif di RSUP HAM Medan. Penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan dan kemajuan ilmu keperawatan khususnya riset keperawatan.

Untuk keperluan tersebut, saya mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu/ Saudara/ Saudari untuk menjadi responden dalam penelitian saya dan bersedia, dengan jujur tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Data dan identitas Bapak/Ibu/Saudara/Saudari akan dirahasiakan dengan memberi kode dan menjadi tanggungjawab peneliti sepenuhnya. Partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dalam penelitian ini bersifat sukarela.Oleh karena itu, ada kebebasan menerima menjadi responden penelitian atau menolak tanpa adanya sanksi apapun. Jika bersedia,

Dokumen terkait