HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
a. Umur Responden
Umur merupakan ciri umum dari suatu penduduk yang perlu diketahui karena dari umur dapat dilihat produktivitasnya. Umur responden bervariasi mulai dari umur 30-50 tahun dan untuk lebih jelasnya karakteristik umur responden disajikan pada tabel berikut:
Tabel 5. Umur Responden
Umur (thn) Frekuensi Persentase
30 – 34 1 4 35 – 39 2 8 40 – 44 8 32 45 – 49 10 40 >49 4 16 Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa sebagian besar responden berusia 45-49 tahun sebanyak 10 responden atau 40%. Sedangkan responden yang berusia 30-34 tahun sebanyak 1 responden atau 4%. Usia 35-39 tahun sebanyak 2 responden atau 8%. Usia 40-44 tahun sebanyak 8 responden atau 32% dan usia lebih dari 49 tahun sebanyak 4 responden atau 16%.
b. Jenis Kelamin Responden
Di Desa Salamrejo tidak hanya perempuan yang berperan aktif dalam industri kerajinan serat agel, laki-laki juga ikut berperan. Mengenai karteristik jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 6. Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Perempuan 12 48
Laki-laki 13 52
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Dari tabel 6 dapat diketahui jenis kelamin yang berperan aktif dalam industri kerajinan serat agel laki-laki sebanyak 13 responden atau 52% dan perempuan sebanyak 12 responden atau 48%. Sebagian besar yang berperan aktif dalam industri kerajinan serat agel di Desa Salamrejo adalah laki-laki.
c. Tingkat Pendidikan Responden
Pendidikan merupakan salah satu indikator dari kualitas sumber daya manusia dari suatu daerah yang akan mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang dalam menentukan aktivitas di lingkungannya dan berpengaruh terhadap pembangunan. Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi jenis pekerjaan yang dikerjakan, tetapi untuk kegiatan kerajinan tidak membutuhkan pendidikan formal yang tinggi tetapi lebih dipengaruhi pendidikan keterampilan yang
diperoleh informal (turun-temurun). Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidkan sekolah yang telah diikuti responden yang terdiri dari SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Berikut ini disajikan karakteristik tingkat pendidikan responden:
Tabel 7. Kerakteristik Tingkat Pendidikan Responden
Pendidikan Frekuensi Persentase
SD 9 36
SMP 5 20
SMA 7 28
PT 4 16
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 7 dapat dijelaskan bahwa semua responden pendidikan responden sebagian besar adalah SD sebanyak 9 responden atau 36%, SMP sebanyak 5 responden atau 20%, SMA sebanyak 7 responden atau 28% dan PT sebanyak 4 responden atau 16%. Responden dalam penelitian ini telah memperoleh pendidikan formal akan tetapi pendidikan responden masih rendah. Hal ini menjukan bahwa untuk menjadi pengusaha industri kerajinan serat agel tidak dibutuhkan jenjang pendidikan yang tinggi. Pengusaha yang berpendidikan rendah adalah pengusaha yang sudah berusia tua.
d. Lama Usaha
Lama usaha dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat pengalaman pengusaha dalam melakukan pekerjaan sebagai pengusaha kerajinan serat agel. Semakin lama bekerja sebagai pengusaha kerajinan serat agel maka pengalaman dalam menjalankan usaha kerajinan akan semakin baik. Untuk mengetahui lama usaha responden dapat dilihat sebagaai brikut:
Tabel 8. Lama Usaha Responden
Lama Usaha (th) Frekuensi Persentase
3-8 5 20
9-14 10 40
15-22 10 40
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa pengusaha yang telah menjalankan usahanya dibidang industri kerajinan serat agel yang terendah adalah kurun waktu 3-8 tahun sabanyak 5 responden atau 20%, sedangkan pengusaha yang telah menjalankan usahanya dalam kurun waktu 9-22 sebanyak 20 responden atau 80%.
2. Karakteristik Industri Kerajinan Serat Agel
Suatu industri dapat tumbuh dan berkembang bila didukung oleh adanya karakteristik industri. Demikian juga dengan industri kerajinan serat agel di Desa
Salamrejo. Adapun karakteristik yang mempengaruhi industri kerajinan serat agel adalah status usaha, modal, bahan baku, sarana dan prasarana, lokasi industri.
a. Status Usaha Industri Responden
Berdasarkan hasil penelitian status usaha para pengusaha kerajinan serat agel di Desa Salamrejo dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 9. Status Usaha Industri Responden
Status Usaha Frekuensi Presentase
Usaha sendiri 19 76
Usaha keluarga 5 20
Kerjasama dengan orang lain 1 4
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui bahwa status usaha responden terbesar adalah usaha sendiri sebanyak 19 responden atau 76%, usaha keluarga sebanyak 5 responden atau 20% dan kerjasama dengan orang lain sebanyak 1 responden atau 4%. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar status usaha responden milik pribadi.
b. Modal
Suatu usaha yang berhubungan dengan barang yang bernilai ekonomis tidak akan lepas dari modal sebagai daya dukung kelancaran kegiatan dibidang yang diusahakannya. Modal dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu modal tetap dan modal lancar.
Pada industri kerajinan serat agel modal tetap yang digunakan berupa tanah yang dimiliki pengusaha, bangunan dan peralatan produksi. Sedangkan modal lancar yang dimiliki pengusaha pada industri kerajinan serat agel meliputi: uang, rekening bank, persediaan bahan baku.
1) Asal Mendapatkan Modal
Dalam menjalankan usaha industri kerajinan serat agel pengusaha memerlukan modal untuk kelancaran industri. Pengusaha mendapatkan modal dengan berbagai cara, modal tersebut berasal dari: modal pribadi, pinjaman kerabat, pinjaman koperasi dan pinjaman bank. Dari hasil penelitian dapat diketahui asal memperoleh modal para pengusaha kerajinan serat agel dalam mengelola industri kerajinan serat alam dalam tabel berikut:
Tabel 10. Asal Modal
Asal Mendapatkan Modal Frekuensi Persentase
Modal pribadi 18 72
Pinjaman kerabat 4 16
Pinjaman koperasi 2 8
Modal pribadi, pinjaman bank 1 4
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 10 dapat diketahui bahwa asal modal usaha industri kerajinan serat agel menggunakan modal pribadi dengan persentase 72% atau 18
responden, dari pinjaman kerabat sebesar 16% atau 4 responden, dari pinjaman koperasi sebesar 8% atau 2 responden, dari modal pribada dan pinjaman bank sebesar 4% atau 1 resonden. Hal diatas menjelaskan bahwa sebagian besar asal modal yang diperoleh para pengusaha dalam mengelola industri kerajinan serat agel didapat dari modal pribadi dan pinjaman kerabat. Banyak pengusaha yang kurang merespon adanya modal pinjaman dari bank karena khawatir tidak bisa mengembalikan, dan merasa ada beban yang harus ditanggung jika mereka meminjam uang ke bank.
2) Modal Awal Produksi
Modal merupakan faktor utama dalam keberlangsungan suatu industri. Dari hasil penelitian dapat diketahui besarnya modal yang digunakan pengusaha pada awal produksi. Besar modal yang dimiliki oleh pengusaha dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11. Modal Awal Produksi
Modal (Rp) Frekuensi Persentase
≤ 2.000.000 21 84 2.001.000 – 4.000.000 - -4.001.000 – 6.000.000 2 8 6.001.000 – 8.000.000 1 4 8.001.000 – 10.000.000 1 4 Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa modal pertama kali yang dimiliki pengusaha dalam usaha industri kerajinan serat agel sebesar ≤
Rp2.000.000 dengan persentase 84% atau 21 responden, sebesar Rp4.001.000−
6.000.000 dengan persentase 8% atau 2 responden, sebesar Rp6.001.000-8.000.000 dengan persentase 4% atau 1 responden, dan sebesar lebih dari Rp8.001.000−10.000.000 dengan persentase 4% atau 1 responden.
c. Bahan Baku
Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan untuk keperluan industri dan lain sebagainya (Poerwadarminta, 1984:74). Bahan baku merupakan faktor yang penting dalam proses produksi. Tersedianya bahan baku dalam jumlah yang cukup akan memperlancar produksi dan dapat berpengaruh pada peningkatan jumlah produksi
1) Jenis Bahan Baku
Suatu industri memerlukan bahan baku untuk memproduksi suatu barang. Demikian juga dengan industri kerajinan serat agel, bahan baku yang digunakan dalam industri ini adalah pohon gebang dan ada sebagian pengusaha yang menggunakan bahan baku pandan, enceng gondok. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 12. Jenis Bahan Baku
Bahan Baku Frekuensi Persentase
Agel 11 44
Agel, pandan 6 24
Agel, pandan, enceng gondok 8 32
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 12 dapat diketahui bahwa jenis bahan baku yang digunakan oleh pengusaha adalah agel sebanyak 11 pengusaha atau 44%, agel dan pandan sebanyak 6 pengusaha atau 24%. Dan Jenis bahan baku agel, pandan, enceng gondok sebanyak 8 pengusaha atau 32%. Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bahan baku yang dominan digunakan oleh pengusaha dalam memproduksi kerajinan serat alam adalah agel.
2) Cara Memperoleh Bahan Baku
Industri kerajinan serat agel dikelola oleh perorangan, maka bahan baku diusahakan oleh perorangan. Pengusaha memperoleh bahan baku dengan cara membeli sendiri, membeli dari pedagang, diantar oleh distributor. Cara mendapatkan bahan baku dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 13. Cara Memperoleh Bahan Baku
Cara Memperoleh bahan baku Frekuensi Persentase
Membeli sendiri 4 16
Membeli dari pedagang 10 40
Diantar oleh distributor 7 28
Membeli dari pedagang/diantar oleh 1 4
Membeli sendiri/diantar oleh distributor 1 4
Membeli sendiri/membeli dari pedagang 2 8
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 13 dapat diketahui cara memperoleh bahan baku yang banyak dilakukan oleh responden adalah dengan membeli dari pedagang sebanyak 10 pengusaha (40%), diantar oleh distributor sebanyak 7 pengusaha (28%), membeli sendiri sebanyak 4 pengusaha (16%), membeli sendiri atau membeli dari pedagang sebanyak 2 pengusaha (8%), membeli sendiri atau diantar oleh distributor sebanyak 1 pengusaha (4%), dan membeli dari pedagang atau diantar oleh distibutor sebanyak 1 pengusaha ( 4%).
3) Jumlah Bahan Baku Perbulan
Tabel 14. Jumlah Bahan Baku Perbulan
Jumlah (kg) Frekuensi Persentase
≤ 300 14 56 301 – 600 8 32 601 – 900 - -901 – 1200 2 8 1201 – 1500 1 4 Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 14 diatas dapat diketahui bahwa jumlah bahan baku yang diperlukan pengusaha dalam setiap bulannya mencapai ≤ 300 kg sebesar 56% atau 14 responden, 301−600 kg sebesar 32% atau 8 responden, 901−1200 kg sebesar 8% atau 2 responden dan 1201−1500 kg sebesar 4% atau 1 responden.
4) Periode Mendapatkan Bahan Baku
Dari hasil penelitian periode mendapatkan bahan baku dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 15. Periode Mendapatkan Bahan Baku
Rentang waktu Frekuensi Persentase
Setiap hari 8 32
Seminggu sekali 9 36
Sebulan sekali 3 12
Sesuai kebutuhan 5 20
Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel 15 dapat diketahui bahwa dari 25 responden dapat diketahui bahwa periode mendapatkan bahan baku seminggu sekali sebanyak 9 responden atau 36%, setiap hari sebanyak 8 responden atau 32%, sesuai kebutuhan sebanyak 5 responden atau 20%, dan sebulan sekali sebanyak 3 responden atau 12%. Dapat disimpulkan bahwa periode mendapatkan bahan baku tebanyak adalah seminggu sekali.
5) Persebaran Daerah Asal Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan pengusaha dalam memproduksi kerajinan adalah pohon gebang (Agel), daun pandan, dan enceng gondok. Namun pengusaha saat ini mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku tersebut. Para pengusaha harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah.
Pemetaan persebaran daerah asal bahan baku bertujuan untuk melihat seberapa jauh daerah asal bahan baku serat alam. Kemudahan dalam memperoleh bahan baku merupakan faktor penting dalam kelangsungan proses produksi. Daerah asal bahan baku terbesar adalah berasal dari daerah Banyuwangi. Selain mendapat bahan baku dari daerah Banyuwangi para pengusaha memperoleh bahan baku dari daerah: Semarang, Pasuruan, Tuban, Banyuwangi, Klaten, Nanggulan/Tanjungharjo, Pasar Bringharjo dan Sentolo. Volume bahan baku yang diperlukan oleh pengusaha setiap bulannya rata-rata mencapai 349 kg. Untuk
mengetahui lebih jelas mengenai persebaran daerah asal bahan baku dan volume bahan baku dapat dilihat pada gambar peta dan tabel volume bahan baku berikut:
Tabel 16. Volume Bahan Baku
Daerah Asal Bahan Baku Jumlah bahan baku/bulan
Klaten 200
Nanggulan 300
Semarang 500
Desa Salamrejo 100
Semarang, Pasuruan, Banyuwangi 500
Banyuwangi 500
Semarang, Pasuruan, Banyuwangi 500
Tanjungharjo 15 Desa Salamrejo 20 Desa Salamrejo 70 Tanjungharjo 100 Tanjungharjo 1200 Pasar Bringharjo 10 Banyuwangi 10 Pasuruan 100 Desa Salamrejo 50 Banyuwangi 500 Pasar Bringharjo 400 Sentolo 500 Banyuwangi 30 Banyuwangi 10 Nangulan 100 Banyuwangi 1000 Pasuruan, Tuban 1500 Banyuwangi 500
d. Tenaga Kerja
Tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi yang besar sekali peranannya terhadap kelancaran produksi. Tenaga kerja pada industri kerajinan biasanya terdiri dari dua kategori, yaitu tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Status tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 17 berikut:
1) Status Tenaga Kerja
Tabel 17. Status Tenaga Kerja
Status tenaga kerja Frekuensi Persentase
Tenaga kerja keluarga; luar keluarga 23 92
Tenaga kerja keluarga 2 8
Jumlah 25 100
Berdasarkan tabel 17 dapat diketahui bahwa status tenaga kerja terbesar adalah tenaga kerja keluarga; luat keluarga dengan persentase 92% atau 23 responden, tenaga kerja keluarga sebesar 8% atau 2 responden.
2) Sistem Upah
Sistem upah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem penerimaan upah oleh pengrajin yang didapat dari pengerjaan pembuatan kerajinan serat agel. Sistem upah di Desa Salamrejo dilakukan dengan berbagai cara yaitu harian, mingguan, borongan. Sistem upah pengrajin serat alam disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 18. Sistem Upah Pengrajin
Sistem Upah Frekuensi Persentase
Harian 2 8 Mingguan 2 8 Borongan 18 72 Mingguan; borongan 2 8 Harian; borongan 1 2 Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 18 di atas dapat diketahui sistem upah borongan sebesar 72% atau 18 responden, sistem upah harian, mingguan, dan mingguan; borongan sebesar 24% atau 6 responden, sistem upah harian; borongan sebesar 2% atau 1 responden. Berdasarkan analisi di atas dapat disimpulkan bahwa sistem upah yang
dominan adalah sistem upah borongan. Hal tersebut dikarenakan pengusaha lebih banyak memberikan upah kepada pengrajin dengan sistem borongan. Pengrajin akan diberikan upah sesuai dengan banyaknya pekerjaan yang mereka dapatkan. Dengan menggunakan sistem upah harian atau mingguan pengusaha bisa mengalami kerugian karena upah yang diterima oleh pengrajin tidak sesuai dengan hasil yang dikerjaan oleh pengrajin.
3) Jumlah Tenaga Kerja Awal Berdiri
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan suatu industri. Pada awal berdirinya industri kerajinan serat agel tenaga kerja didominasi oleh keluarga dan kerabat. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah tenaga kerja pada awal berdiri dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 19. Jumlah Tenaga Kerja Awal Berdiri
Tenaga Kerja (orang) Frekuensi Persentase
2 – 11 20 80 12 – 21 1 4 22 – 31 3 12 32 – 41 - -42 – 50 1 4 Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 19 dapat diketahui bahwa jumlah tenaga kerja awal berdiri terbesar adalah 2-11 orang dengan persentase 80% atau 20 responden,
12-21 orang sebesar 4% atau 1 responden, 22-31 orang sebesar 12% atau 3 responden, 42-50 orang sebesar 4% atau 1 responden. Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah tenaga kerja pada awal berdiri yang dominan adalah 2-11 orang.
4) Tenaga Kerja Sekarang
Semakin meningkatnya permintaan pasar pengusaha berusaha lebih meningkatkan kualitas dan lebih mempercepat proses produksi dengan cara meningkatkan jumlah tanaga kerja. Pengusaha meningkatkan jumlah tenaga kerja dengan memanfaatkan masyarakat sekitar Desa Salamrejo. Untuk lebih jelasnya mengenai tenaga kerja sekarang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 20. Tenaga Kerja Sekarang
Tenaga Kerja Frekuensi Persentase
1 – 30 19 76 31 – 60 2 8 61 – 90 2 8 91 – 120 1 4 121 – 150 1 4 Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 20 dapat diketahui bahwa jumlah tenaga kerja sekarang terbesar adalah 1-30 orang dengan persentase 76% atau 19 responden, 31-60 orang sebesar 8% atau 2 responden, 61-90 orang sebesar 8% atau 2 responden,
91-120 orang sebesar 4% atau 1 responden, 121-150 orang sebesar 4% atau 1 responden. Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah tenaga kerja sekarang yang dominan adalah 1-30 orang.
e. Lokasi Industri
Penempatan lokasi industri yang tepat, akan memperoleh berbagai keuntungan, misalnya persaingan, pengadaan bahan, kemampuan pelayanan terhadap konsumen. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri, antara lain lokasi sumber bahan baku, lokasi pasar, fasilitas transportasi, tersedianya tenaga kerja dan tersedianya pembangkit tenaga. Posisi lokasi industri dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 22. Posisi Lokasi Industri
Lokasi Industri Frekuensi Persentase
Dekat dengan bahan baku 9 36
Dekat dengan tenaga kerja 11 44
Dekat dengan pemasaran 1 4
Dekat dengan pusat pemerintahan 4 16
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 22 dapat diketahui bahwa posisi lokasi industri dekat dengan tenaga kerja sebesar 44% atau 11 responden. Lokasi industri yang dekat dengan bahan baku sebesar 36% atau 9 responden, dekat dengan pusat pemerintahan sebesar 16% atau 4 responden, dekat dengan pemasaran sebesar 4% atau 1 responden.
Berdasarkan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa posisi lokasi industri yang dominan adalah dekat dengan tenaga kerja. Kondisi tersebut disebabkan karena tenaga kerja pada industri kerajinan serat agel di Desa Salamrejo berasal dari daerah sekitar desa tersebut.
f. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasana merupakan alat yang penting dan paling utama untuk meningkatkan perkembangan kegiatan ekonomi dan sosial, tanpa prasarana yang baik perkembangan industri kerajinan serat alam di Desa Salamrejo tidak dapat berjalan dengan lancar. Sarana dan prasarana ini dapat berupa jaringan jalan, lalu lintas jalan, kendaraan sarana komunikasi, listrik, sumber air. Untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana dapat dilihar pada tabel berikut:
Tabel 21. Sarana dan Prasarana
Skor Klasifikasi Frekuensi Persentase
24 – 26 Sangat baik 7 28 21 – 23 Baik 5 20 18 – 20 Cukup baik 6 24 15 – 17 Jelek 4 16 12 – 14 Sangat Jelek 3 12 Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 21 dapat diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki skor mengenai sarana dan prasarana dengan klasifikasi sangat baik sebesar 28% atau 7
responden, klasifikasi baik sebesar 20% atau 5 responden, klasifikasi cukup baik sebesar 24% atau 6 responden, klasifikasi jelek sebesar 16% atau 4 responden, dan klasifikasi sangat jelek sebesar 12% atau 3 responden. Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana berada pada klasifikasi sangat baik.
3. Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu hal yang pokok dalam suatu usaha, karena tanpa adanya pemasaran barang yang dihasilkan tersebut tidak akan dapat terjual dan diketahui secara umum (dalam hal ini adalah konsumen). Pemasaran menurut Basu Swastha (1970) dalam Ummu Halimah (2005:27) adalah tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menyampaikan barang produksi dari tangan produsen ke tangan konsumen, baik secara langsung maupun tidak langsung.
a. Cara Menjual Hasil Produksi
Dari hasil penelitian para pengusaha kerajinan serat agel menjual produknya dengan berbagai cara. Berikut ini adalah tabel mengenai cara menjual hasil industri kerajinan serat agel yang dilakukan oleh pengusaha.
Tebel 23. Cara Menjual Hasil Produksi Kerajinan Serat Agel
Cara menjual Frekuensi Persentase
Berdasarkan pesanan 4 16
Dijual sendiri ke daerah pasaran 11 44 Dibeli oleh pedagang perantara 7 28 Dijual sendiri ke daerah pasaran; berdasarkan 1 4 Dibeli oleh pedagang perantara; berdasarkan 2 8
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 23 dapat diketahui bahwa cara menjual hasil produksi terbesar adalah dengan dijual sendiri ke daerah pasaran sebanyak 11 responden atau 44%, dibeli oleh pedagang perantara sebanyak 7 responden atau 28%, berdasarkan pesanan sebanyak 4 responden atau 16%, dibeli oleh pedagang perantara dan berdasarkan pesanan sebanyak 2 responden atau 8%, dijual sendiri ke daerah pasaran dan berdasarkan pesanan sebanyak 1 responden atau 4%.
b. Periode Penjualan
Periode penjualan hasil produksi pada industri kerajinan serat agel di Desa Salamrejo dapat dilihat pada tebel berikut:
Tabel 24. Periode Penjualan Hasil Produksi
Periode Penjualan Frekuensi Persentase
Setiap hari 5 20
Seminggu sekali 7 28
Sebulan sekali 10 40
Jika ada pembeli 2 8
Sesuai pesanan 1 4
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Dari tabel 24 diatas dapat diketahui periode penjualan hasil produksi terbesar adalah sebulan sekali dengan persentase 40% atau 10 responden, seminggu sekali sebesar 28% atau 7 responden, setiap hari sebesar 20% atau 5 responden, jika ada pembeli sebesar 8% atau 2 responden, sesuai pesanan sebesar 4% atau 1 responden. c. Usaha Meningkatan Penjualan
Banyak penjualan produksi dari suatu industri ditentukan oleh permintaan pasar. Untuk itu perlu diupayakan berbagai cara untuk meningkatkan penjualan. Adapun usaha-usaha yang telah ditempuh oleh pengusaha dalam rangka meningkatkan penjualan hasil industri kerajinan serat agel dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 25. Usaha Meningkatkan Penjualan
Usaha Meningkatkan Penjualan Frekuensi Persentase
Meningkatkan mutu 8 32
Menjalin kerjasama 10 40
Mengadakan promosi 4 16
Menjalin kerjasama; meningkatkan mutu 1 4 Meningkatkan mutu; mengadakan promosi 2 8
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer, 2010
Dari tabel 25 diatas dapat dilihat usaha meningkatkan penjualan dengan menjalin kerjasama sebesar 40% atau 10 responden, meningkatkan mutu sebesar 32% atau 8 responden, mengadakan promosi sebesar 16% atau 4 responden, meningkatkan mutu dan mengadakan promosi sebesar 8% atau 2 responden, meningkatkan mutu dan menjalin kerjasama sebesar 4% atau 1 responden. Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa usaha yang dominan dilakukan oleh pengusaha dalam meningkatkan penjualan adalah dengan menjalin kerjasama.
d. Persebaran Daerah Pemasaran
Persebaran daerah pemasaran bertujuan untuk melihat seberapa jauh daerah pemasaran hasil produksi kerajinan serat agel. Kelancaran dalam penjualan kerajinan serat agel merupakan faktor penting dalam mendukung proses produksi. Tanpa adanya proses pemasaran maka hasil produksi akan menumpuk serta menyebabkan kemacetan dalam proses produksi.
Daerah pemasaran terbesar adalah Yogyakarta. Hal ini dikarenakan jarak dari Desa Salamrejo tidak begitu jauh, selain itu pengusaha kerajinan serat agel sudah mempunyai pelanggan tetap yang membeli hasil produksi. Untuk daerah pemasaran lainnya seperti Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya sistem pemesanannya dilakukan dengan cara konsumen datang langsung atau dengan cara memesan lewat telphone. Desa Salamrejo merupakan salah satu sentra kerajinan serat gel yang sudah cukup lama sehingga kualitas dan namanya sudah dikenal oleh masyarakat. Untuk mempromosikan hasil produksi dan kelebihan-kelebihan produk yang ditawarkan, pengusaha di Desa Salamrejo memasang informasi dan iklan pemasaran kerajinan serat agel melalui Internet. Untuk lebih jelasnya mengenai persebaran daerah pemasaran di Desa Salamrejo dapat dilihat pada peta berikut: