• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Responden

Dalam dokumen M. NUR AMIN PO. 906206518 (Halaman 76-89)

BAB III METODE PENELITIAN METODE PENELITIAN

B. Karakteristik Responden

5. Fungsi

Dalam melaksanakan tugasnya kantor wilayah menyelenggarakan fungsi:

a. pengkordinasian, perencanaan, pengendalian program dan pengawasan

b. pembinaan di bidang hukum dan HAM

c. penegakan hukum di bidang Pemasyarakatan, keimigrasian, Administrasi Hukum Umum dan Hak Kekayan Intelektual.

d. Perlindungan, pemajuan, pemenuhan, penegakan dan penghormatan HAM

e. pelayanan hukum

f. pengembangan budaya hukum dan pemberin informasi hukum, penyuluhan hukum dan diseminasi HAM

g. pelaksanaan kebijakan dan pembinaan teknis di bidang administrasi di lingkungan kantor wilayah

diklasifikasikan pegawai golongan II sebanyak 25 orang, pegawai golongan III sebanyak 41 orang dan pegawai golongan IV sebanyak 12 orang.

2. Tingkat pendidikan formal pegawai SLTA sebanyak 33 orang, sarjana muda/D3 sebanyak 1 orang, sarjana/S1 sebanyak 32 orang dan pendidikan strata dua sebanyak 12 orang.

3. Menyangkut komposisi pejabat struktural dalam lingkup kantor wilayah Departemen Hukum dan HAM Sulawesi Tengah terdiri dari Eselon II - 5 orang, Eselon III- 9 orang, dan Eselon IV- 14 orang. Sehingga jumlah pejabat struktural pada Kantor Wilayah sebanyak 28 orang.

4. Pendidikan penjenjangan struktural yang pernah diikuti pegawai dalam lingkup Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah, telah diikuti 38 orang yang terdiri atas Diklatpim IV sebanyak 25 orang, Diklatpim III sebanyak 8 orang, dan Diklatpim II sebanyak 5 orang. Pendidikan tersebut merupakan persyaratan mutlak yang harus dipenuhi apabila seorang pegawai akan dipromosikan dalam suatu jabatan yang lebih tinggi.

C. Penerapan Prinsip Akuntabilitas dalam Meningkatkan Efektivitas Kepemimpinan.

Setiap warga negara tidak akan pernah bisa menghindar dari hubungan dengan birokrasi pemerintah. Pada saat yang sama, birokrasi pemerintah adalah satu-satunya organisasi yang memiliki legitimasi untuk memaksakan berbagai peraturan dan kebijakan menyangkut masyarakat dan setiap warga negara. Hal itulah yang menyebabkan perlunya tanggung jawab moral bagi birokrasi dalam pemberian Pelayanan.

Akuntabilitas kinerja dalam Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM adalah perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan ataupun kegagalan visi dan misi dalam pencapain tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

Dengan demikian untuk mengukur efektivitas kepemimpinan yaitu pejabat struktural pada Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah secara objektif perlu adanya indikator yang jelas, serta pengawasan yang ketat, hasil audit yang harus dipublikasikan, serta pemberian sanksi terhadap pejabat yang melakukan pelanggaran yang dapat merugikan instansi pemerintah ataupun kepentingan masyarakat.

Untuk mengukur tingkat penerapan prinsip akuntabilitas dalam kerangka Good Governance dalam Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah dapat diukur melalui sejumlah indikator yaitu:

meningkatnya kepercayaan serta kepuasaan masyarakat terhadap pelayanan

publik, tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif, berkurangnya kasus-kasus KKN dalam lingkungan Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah. Indikator minimal yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat akuntabilitas dalam pelaksanaan tugas di lingkungan Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah adalah tercapainya Misi sebagaimana yang telah ditetapkan.

Dengan tercapainya indikator minimal tersebut kepercayaan masyarakat akan pelaksanaan tugas Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah, yang menjadi ujung tombak dari keberhasilan dari Kantor Wilayah dalam penerapan prinsip good governance dalam meningkatkan efektivitas kepemimpinan terdiri dari tiga Divisi yaitu Divisi Pelayanan Hukum Dan HAM, Divisi Pemasyarakatan dan Divisi Keimigrasian yang terlibat langsung dengan pelayanan publik.

Adapun Visi dari Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah sebagaimana telah digambarkan di atas adalah:

Memantapkan sistem hukum, sistem pemasyarakatan, sistem keimigrasian dalam rangka menegakkan supremasi hukum dan perlindungan HAM untuk menunjang tercapainya kehidupan masyarakat yang aman, rukun, damai, adil dan sejahtera.

Dengan tercapainya indikator minimal tersebut, kepercayaan masyarakat akan keberadaan dan kinerja Kantor Wilayah Departemen

Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah sebagai pengayom hukum yang mempunyai tanggungjawab untuk memberikan penyuluhan hukum di wilayah Propinsi Sulawesi Tengah baik diperkotaan maupun di daerah –daerah yang terpencil sehingga kesadaran hukum di masyarakat akan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta masyarakat yang aman, adil, dan sejahtera.

Untuk mengetahui pencapaian visi dan misi pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah, sebagaimana hasil penelitian terhadap responden, ditemukan sebagaimana tergambar dalam tabel 1 di bawah ini:

Tabel : 1

Pencapaian Visi dan Misi di Lingkungan Kanwil Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah

No Jawaban Responden Frekuensi Persentase 1. Ada, berjalan sesuai yang

ditetapkan 26 57,7

2. Ada, berjalan tidak sesuai yang

ditetapkan 11 24,5

3. Ada, tetapi tidak berjalan 6 13,4

4. Tidak ada visi dan misi 2 4,4

Jumlah 45 100

Sumber : Data Primer September 2008

Dari tabel 1 tersebut di atas menunjukkan bahwa penilaian terhadap pelaksanaan visi dan misi yang telah ada, sesuai yang telah ditetapkan.

Artinya bahwa apabila pencapaian visi dan Misi tersebut menjadi salah satu patokan atau indikator dalam menentukan Penerapan Prinsip akuntabilitas

pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah maka indikator tersebut telah memenuhi unsur. Karena berdasarkan hasil penelitian dari tabel 1 tersebut diatas terlihat dari 45 Responden telah tercapai 57,7 % yang menjawab Ada, dan berjalan sesuai yang di tetapkan.

Namun jika memperhatikan sebagian responden sebagaimana tergambar dalam tabel tersebut ada 24,5 % yang menjawab ada berjalan namun tidak sesuai dengan yang ditetapkan,

Maka menurut peneliti dari pelaksanaan Tugas pokok dan fungsi Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah yang mengacu pada peraturan Menteri Hukum Dan HAM No M-01-PR.07.10 Tahun 2005 Tentang Organisasi Tata kerja bahwa dari ke 3 Divisi yang terlibat langsung dengan pelayanan publik yaitu Divisi Pelayanan Hukum dan HAM, Divisi Pemasyarakatan dan Divisi Keimigrasian terlihat masih ada beberapa misi dari tiap-tiap divisi yang belum berjalan secara optimal yaitu:

1. Pada Divisi Pelayanan Hukum dan HAM yaitu bantuan Hukum, Pelaksanaan penyuluhan Hukum.

2. Pada Divisi Pemasyarakatan yaitu pelaksanaan pembinaan terhadap warga binaan pemasyarakatan, Perawatan Tahanan, Fungsi Rumah Sitaan Negara yang belum sepenuhnya dilaksanakan, dan Fungsi Balai Pemasyarakatan yang belum sepenuhnya menjalankan tugasnya dalam proses lanjutan pembinanaan Narapidana.

3. Pada Divisi Keimigrasian pelaksanaan pengawasan, Penindakan dan Penegakan Hukum dibidang keimigrasian.

Maka pertanggungjawaban para pejabat pemerintahan yang dikontrol oleh publik dalam pelaksanaan visi dan misi dalam terminologi administrasi pemerintahan disebut sebagai konsep akuntabilitas, dengan adanya kontrol publik dalam penyelenggaraan pemerintahan yaitu terhadap pencapaian visi misi pada kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah dalam wujud akuntabilitas sangat sesuai dengan negara kita yang berdasarkan dengan Hukum. Jadi peneliti mengindikasikan bahwa pelaksanaan Tugas pokok dan fungsi visi pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah sudah dilaksanakan tetapi belum berjalan secara optimal. Disebabkan karena Prinsip pemerintahan yang baik belum efektif karena prinsip akuntabilitas ini tidak diterapkan pelaksanaannya dengan optimal.

Selain indikator tersebut di atas, indikator lain untuk mengukur tingkat Penerapan Prinsip Good Governance dalam Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah adalah adanya pendelegasian kewenangan dalam pelaksanaan bidang tertentu. Dengan adanya pendelegasian kewenangan terhadap suatu Bidang adalah lebih dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa tanggungjawab terhadap suatu diskreasi sehingga menghindari adanya pejabat birokrasi memanfaatkan kedudukannya untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi, Sehingga Penerapan

Prinsip-Prinsip Good Governance dalam meningkatkan efektifitas kepemimpinan pada kantor Wilayah dapat tercapai .

Dari data penelitian ditemukan bahwa berkenaan dengan pendelegasian kewenangan dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini:

Tabel : 2

Pendelegasian Kewenangan di Lingkungan Kanwil

No Jawaban Responden Frekuensi Persentase 1. Ada, berjalan sesuai ketentuan 28 62,3

2. Ada, berjalan tidak sesuai

ketentuan 12 26,6

3. Ada, tetapi tidak berjalan 5 11,1

4. Tidak ada pendelegasian - -

Jumlah 45 100

Sumber : Data Primer September 2008

Dari tabel 2 tersebut terlihat bahwa pendelegasian kewenangan dalam suatu kegiatan dalam lingkungan Kantor Wilayah terlihat 28 responden atau 62,3 % yang menyatakan ada, dan berjalan sesuai dengan ketentuan, kemudian sebanyak 12 responden atau 26,6 % yang menyatakan ada, dan berjalan tetapi tidak sesuai dengan ketentuan, sedangkan sisanya yaitu 5 orang Responden atau 11,1 % yang menyatakan ada tetapi tidak berjalan.

Dengan demikian terlihat bahwa Pada Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Hukum dan HAM No M-01.PR.07.10 Tahun 2005 Tentang Organisasi Tata kerja Kantor Wilayah yaitu dengan dibentuknya 3 Divisi yaitu Pemasyarakatan, Pelayanan Hukum dan HAM, Keimigrasian maka dengan

adanya pendelegasian kewenangan terhadap suatu bidang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap diskreasi dan mencegah terjadinya penumpukan kewenangan sekaligus menciptakan kondisi saling mengawasi (Chek and balance system)

Sebagaimana yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang 28 tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan pemerintahan yang Bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Maka pada Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah sudah menerapkan prinsip Akuntabilitas berkenaan dengan pendelegasian kewenangan, karena berdasarkan tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa sebanyak 62,3 % yang menjawab Ada, dan berjalan sesuai yang di tetapkan. meskipun dalam tataran pelaksanan masih ditemukan adanya pengaruh kebijakan dari pejabat birokrasi dalam pelaksanaan pendelegasian kewenangan tersebut. Indikator lain yang dapat digunakan untuk melihat tingkat Penerapan prinsip Akuntabilitas di lingkungan Kantor Wilayah Hukum Dan HAM Sulawesi Tengah adalah menegakkan kriteria efektifitas dan efisiensi.

Bagi birokrasi pelayanan publik termasuk Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah, kriteria efektifitas dan efisiensi mutlak diutamakan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi.

Berdasarkan data responden bahwa tingkat efektifitas dan efisiensi dalam pelayanan pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah terlihat lebih mengedepankan dari salah satunya

tergantung dari situasi dan kondisi. hal tersebut dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini:

Tabel : 3

Tingkat Efisiensi dalam Pelayanan di Lingkungan Kanwil

No Jawaban Responden Frekuensi Persentase 1. Mengedepankan efektifitas dari

pada efisiensi 11 24,4

2. Mengedepankan efisiensi dari

pada efektifitas 6 13,4

3. Mengedepankan dari salah satunya tergantung situasi dan

kondisi. 24 53,4

4. Tidak memperhatikan

keduanya 4 8,8

Jumlah 45 100

Sumber : Data Primer September 2008

Dari Tabel 3 tersebut di atas menunjukkan bahwa sebagian besar yaitu 53,4% responden menjawab mengedepankan dari salah satunya tergantung dari situasi dan kondisi, sedangkan jawaban yang mengedepankan efisiensi hanya 6 responden atau hanya 13,4%. Artinya jika berpedoman pada tabel di atas maka pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah belum bisa menerapkan faktor efesiensi yaitu penghematan biaya, waktu dan tenaga dalam pelaksanaan tugas, sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahyudi Kumarotomo bahwa Akuntabiltas dapat ditingkatkan jika faktor efesiensi mendapat prioritas yang utama. Lebih lanjut dikemukakan bahwa jika efisiensi dalam pelayanan publik dapat tercapai, pengaruhnya bukan hanya terhadap satuan-satuan atau

instansi pemerintah yang bersangkutan saja, tetapi juga efesiensi masyarakat secara keseluruhan (Wahyudi Kumarotomo :2002) Tampak bahwa Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sulawesi Tengah belum sepenuhnya menerapkan prinsip Akuntabilitas dalam pelayanan Publik oleh pejabat yang terkait.

Untuk mengetahui tingkat penerapan prinsip Akuntabilitas dalam meningkatkan efektivitas kepemimpinan pada Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah dapat dihitung dengan menggunakan score untuk setiap pilihan jawaban pandangan responden.

Yaitu : Untuk responden yang menjawab pada nomor urut 1 mendapatkan score 3, untuk jawaban pada nomor urut 2 dan 3 mendapat score 2, dan jawaban nomor urut 4 mendapat score 1.

Jadi untuk mendapatkan score ideal adalah nilai score tertinggi pilihan responden atau jawaban nomor urut 1 dikalikan dengan jumlah keseluruhan responden, yaitu score 3 X 4 X 45 (responden) sama dengan 540. sedangkan score terendah pilihan responden yaitu score 1 X4 X 45 (responden) sama dengan 180. Maka untuk lebih jelasnya penerapan prinsip Akuntabilitas dalam meningkatkan efektivitas kepemimpinan pada Kantor Wilayah dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :

Tabel : 4

Score penerapan prinsip Akuntabilitas

No Tabel Score 3 Score 2 Score 1 Jumlah

1 Tabel 1 26 17 2 45

2 Tabel 2 28 17 - 45

3 Tabel 3 11 30 4 45

Jumlah 65 64 6 105

Total Score 195 128 6 329 Sumber : data primer september 2008

Secara interval penerapan prinsip Akuntabilitas pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sulawesi Tengah dapat dilihat sebagai berikut

Tabel : 5 Nilai interval

No Interval Nilai Kategori

1. 0-180 Tidak Baik

2. 180-360 Cukup Baik

3. 360-540 Baik

Sumber : data primer september 2008

Dari tabel 4 terlihat bahwa score penerapan prinsip Akuntabilitas pada Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Sulawesi Tengah berada pada titik 329. Apabila dihubungkan dengan nilai interval pada tabel 5 maka akan berada pada titik antara 180 sampai 360. Sehingga Score persentase dari prinsip akuntabilitas adalah 329 / 540 X 100% = 60,9 % Jadi penerapan prinsip akuntabilitas pada Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Sulawesi Tengah termasuk dalam kategori cukup baik.

Berdasarkan hasil wawancara pada Tanggal 21 Agustus 2008 dengan Kepala Divisi Administrasi Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Sulawesi Tengah, Nardiyono Wibowo,SH,M.Hum mengenai prinsip akuntabilitas didalam lingkup Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi tengah mengatakan bahwa ”pertanggung jawaban itu bukan semata-mata pertanggung jawaban kepada pemberi mandat atau atasan, tetapi juga seorang pemimpin harus mempertanggung jawabkan kepada masyarakat maupun lembaga-lembaga yang berkepentingan. Bentuk pertanggung jawaban itu berbeda-beda tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan dan itu telah kita laksanakan diKantor Wilayah ini”.

Maka apabila melihat jawaban responden dan hasil wawancara tadi serta melihat kenyataan atau penelitian ini yang ada di Kantor wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah maka dalam penelitian ini dapat di simpulkan bahwa penerapan prinsip Akuntabilitas pada Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM Propinsi Sulawesi Tengah dari penilaian ketiga indikator tersebut sudah dilaksanakan, sesuai dengan pendapat Prof Miriam Budiarjo yang mendefenisikan akuntabilitas adalah pertanggung jawaban pihak yang diberi mandat untuk memerintah kepada mereka yang memberi mandat itu, dan akuntabilitas bermakna pertanggungjawaban dengan menciptakan pengawasan melalui distribusi kekuasaan pada berbagai lembaga pemerintah sehingga mengurangi penumpukan kekuasaan sekaligus menciptakan kondisi saling mengawasi

(chek and balance system). Namun belum berjalan secara optimal, oleh karena itu efektivitas kepemimpinan yang berbasis Good governance masih perlu ditingkatkan lagi.

D. Penerapan Prinsip Transparansi Dalam Meningkatkan Efektivitas

Dalam dokumen M. NUR AMIN PO. 906206518 (Halaman 76-89)