3.6 DEFINISI OPERASIONAL
4.1.2 KARAKTERISTIK RESPONDEN SAMPEL PENELITIAN
Subjek penelitian adalah siswa-siswi SMA 2 Binjai dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X, XI, XII SMAN 2 Binjai yang berjumlah 99 orang, terdiri dari 39 responden laki-laki dan 60 responden perempuan yang memenuhi kriteria penelitian. Karakteristik sampel yang diteliti adalah jenis kelamin, usia, kesepian, depresi, kecemasan, stres dan gejala gangguan somatis.
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden ( n = 99)
Karakteristik Frekuensi
(n)
Persentase (%) Jenis Kelamin
Laki-laki 39 39,4
Perempuan 60 60,6
Usia (tahun)
14 17 17,2
15 33 33,3
16 24 24,2
17 23 23,2
18 2 2,0
Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
Sangat Berat 3 3,0
Kecemasan
Normal 26 26,2
Ringan 10 10,1
Sedang 24 24,3
Berat 21 21,2
Sangat Berat 18 18,2
Stres
Normal 43 43,4
Ringan 15 15,2
Sedang 27 27,3
Berat 10 10,1
Sangat Berat 4 4,0
Gejala Gangguan Somatis
Sangat Rendah 48 48,5
Rendah 42 42,4
Tinggi 9 9,1
Sangat Tinggi 0 0
Berdasarkan tabel 4.1 terdapat 17 orang berumur 14 tahun (17,2%), 33 orang umur 15 tahun (33,3%), 24 orang umur 16 (24,2%), 23 orang umur 17 tahun (23,2%), 18 orang umur 2 tahun (2%). Lebih dari setengah responden mengalami kesepian ringan sebanyak 64 orang (64,6%), kesepian sedang 25 orang (25,3%) dan 10 orang (10,1%) tidak mengalami kesepian. Responden yang mengalami depresi normal sebanyak 44 orang (44,4%), depresi ringan terdapat 16 orang (16,2%), depresi sedang 20 orang (20,2%), depresi berat 16 orang (16,2%) dan depresi sangat berat 3 orang (3%).
Responden yang mengalami kecemasan normal sebanyak26 orang (26,2%), kecemasan ringan 10 orang (10,1%), kecemasan sedang 24 orang (24,3%), kecemasan berat 21 orang (21,2%) dan kecemasan sangat berat 18 orang (18,2%). Sedangkan untuk stres terdapat 43 orang yang mengalami stres normal (43,4%), 15 orang stres ringan (15,2%), stres sedang 27 orang (27,3%), stres berat 10 orang (10,1%) dan stres sangat berat 4 orang (4%). Kebanyakan responden mempunyai gejala gangguan somatis yang sangat rendah yaitu sebanyak 48 orang (48,5%), 42 orang mengalami gangguan gejala somatis rendah (42,4%) dan 9 orang mengalami gejala gangguan somatis tinggi (9,1%).
4.2 PEMBAHASAN
Analisis hubungan kesepian dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis pada penelitian ini diawali dengan uji normalitas terlebih dahulu untuk menentukan uji korelasi yang digunakan. Setelah menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov didapatkan data tidak terdistribusi normal (nilai p = 0,001) sehingga uji korelasi yang dipakai adalah uji korelasi Spearman.
Tabel 4.2 Analisis Korelasi
Depresi Kecemasan Stres
Gejala Gangguan
Somatis
p r p r p r p r
Kesepian 0,001* 0, 548 0,001* 0, 515 0,001* 0, 472 0,001* 0, 528
*bermakna secara statistik
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari uji korelasi didapatkan nilai P sebesar 0,001 (<0,05) yang berarti ada hubungan antara kesepian dengan depresi pada remaja.
Koefisien korelasi (r) didapatkan sebesar 0,548. Koefisien korelasi tersebut menunjukkan terdapat korelasi lemah antara kesepian dengan depresi pada remaja.
Korelasi kuat (r>0,8), sedang (0,6-0,79), lemah (0,4-0,59), sangat lemah (<0,4).
Sedangkan arah hubungan adalah positif karena nilai r positif. Artinya semakin tinggi tingkat kesepian seseorang maka akan semakin tinggi tingkat kecenderungan depresinya, begitupun sebaliknya (Sastroasmoro dan Ismael, 2014).
Depresi merupakan gangguan emosional atau suasana hati yang buruk yang ditandai dengan kesedihan yang sangat lama, merasa tidak berarti, perasaan bersalah dan putus harapan minimal dalam kurun waktu dua minggu. Seluruh proses mental yang meliputi proses berpikir, berperasaan, dan berperilaku tersebut akhirnya akan mempengaruhi motivasi untuk seseorang melakukan aktivitasnya sehari-hari maupun pada hubungan intrapersonal (Dirgayunita, 2016).
Dari tabel 4.2 juga menunjukkan bahwa dari uji korelasi didapatkan hubungan antara kesepian dengan kecemasan pada remaja. Koefisien korelasi (r) didapatkan sebesar 0,515. Koefisien korelasi tersebut menunjukkan terdapat korelasi lemah antara kesepian dengan kecemasan pada remaja.
Kesepian bisa disebabkan karena individu tersebut kurang mampu membangun keterbukaan dengan orang lain sehingga dia tumbuh menjadi orang yang keterampilan sosialnya terganggu lalu menimbulkan perasaan takut dan cemas (Gainau, 2009). Penelitian lain didapatkan bahwa kecemasan atau ansietas merupakan bentuk gangguan psikologi yang cukup banyak ditemukan pada remaja di Pekanbaru (65,2%). Penelitian yang dilakukan pada pelajar salah satu SMA Negeri di Surakarta juga menunjukkan hasil yang sama yaitu sebanyak 60%
responden mengalami gangguan kecemasan atau ansietas (Masdar et al, 2016).
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari uji korelasi didapatkan Nilai P sebesar 0,001 (<0,05) yang berarti ada hubungan antara kesepian dengan stres pada remaja.
Koefisien korelasi (r) didapatkan sebesar 0,472. Koefisien korelasi tersebut menunjukkan terdapat korelasi lemah antara kesepian dengan stres pada remaja.
Penyebab stres pada remaja dapat dipicu dari kematian orang yang dicintai atau menyaksikan peristiwa yang traumatis, penyebab yang paling umum berhubungan dengan sekolah seperti intimidasi dari teman-teman, masalah dengan guru, dan kesulitan akademis dan hubungan interpersonal seperti konflik dengan orang tua, saudara, dan teman sebaya (Gembeck, 2010).
Setiap orang yang mengalami ataupun terpapar stresor yang cukup besar belum tentu merasakan efek stres dalam bentuk gangguan psikologis yang sama.
Hal tersebut dapat terjadi oleh karena berbedanya sumber-sumber penanggulangan stres setiap individu, seperti dukungan dari lingkungan sosial (dukungan keluarga, teman, masyarakat dan lingkungan komunitas) individu tersebut (Tirta et al, 2010).
Berdasarkan hasil kuisioner UCLA, terdapat hasil yang bervariasi pada tingkat kesepian pada remaja. Kesepian muncul karena ada kesenjangan antara apa yang diinginkan dan yang diperoleh dari suatu hubungan tertentu. Tingkat kesepian yang dirasakan seseorang dipengaruhi oleh jaringan sosial (misalnya kualitas hubungan dengan teman, keluarga ataupun tetangga), standar hubungan (tujuan
yang ingin dicapai dalam suatu hubungan), serta karakteristik pribadi (misalnya keterampilan sosial, percaya diri, kecemasan).
Kesepian merupakan hal yang bersifat pribadi dan akan ditanggapi berbeda oleh setiap orang, bagi sebagian orang kesepian merupakan yang bisa diterima secara normal namun bagi sebagian orang kesepian bisa menjadi sebuah kesedihan yang mendalam (Gierveld, 2006).
Hasil dari penelitian ini mengindikasikan adanya hubungan antara kesepian dengan masalah psikologis pada remaja, dimana semakin tinggi tingkat kesepian seseorang maka akan semakin tinggi masalah psikologisnya. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Croezen (2010) yang mana dalam banyak kasus kesepian menyebabkan kesehatan fisik dan mental mengalami penekanan karena mereka tidak mempunyai teman berbelanja dan makan bersama. Dimana pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa kuantitas dan kualitas kontak jaringan sosial berimbas pada kesehatan.
Kesepian telah diidentifikasi sebagai faktor penyebab individu mengalami depresi (Cacioppo et al, 2006). Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Angraini (2014) dengan respondennya mahasiswa semester VII Fakultas Kedokteran Universitas Lampung menyebutkan bahwa gejala depresi dialami responden ketika mengalami suatu masalah atau tekanan, seperti perasaan sendiri, tertekan, kesepian dan tanpa adanya dukungan dari sekitar.
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari uji korelasi didapatkan Nilai P sebesar 0,001 (<0,05) yang berarti ada hubungan antara kesepian dengan gejala gangguan somatis pada remaja. Koefisien korelasi (r) didapatkan sebesar 0,528. Koefisien korelasi tersebut menunjukkan terdapat korelasi lemah antara kesepian dengan gejala gangguan somatis pada remaja.
Mekanisme terjadinya psikosomatis dijelaskan bahwa, ketika ada suatu stimulus emosi datang pada diri individu kemudian akan ditangkap oleh panca indera, stimulus tersebut diteruskan ke sistem limbik yang merupakan pusat emosi.
Dari sistem limbik, emosi disadari dan kemudian diambil keputusan untuk
mengambil tindakan-tindakan, yang kemudian diekspresikan, lalu muncul perintah-perintah dari sistem limbik yang disalurkan melalui thalamus dan hipotalamus ke organ-organ yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk perangai emosi, seperti ekspresi yang senang atau cemberut, muka merah atau pucat dan menangis atau tertawa. Jika dirasa stimulus tersebut berbahaya bagi individu, maka akan menimbulkan reaksi psikis yang berwujud ketegangan emosi yang diikuti oleh aktivitas organ tubuh secara hiperaktif, misalnya detak jantung yang bertambah cepat, ketegangan otot atau meningkatnya tekanan darah. Apabila gangguan tersebut berlangsung terus menerus maka dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh, sehingga terjadilah psikosomatis (Muchlas dalam Aji, 2001).
Piko et al, (2016) melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa kelelahan merupakan gejala psikosomatik yang paling sering dialami oleh remaja di Hungaria, selain itu juga diikuti dengan masalah tidur dan sakit punggung (bagian bawah).
Selain itu terdapat masalah dengan hubungan sosial seperti kebutuhan interaksi sosial yang belum terpenuhi, daya saing antar individu dan rasa malu sehingga menyebabkan keluhan psikosomatis.
Peplau dan Perlman (1998) mengatakan bahwa, kesepian erat kaitannya dengan depresi dan kecemasan, konsumsi alkohol, serta dapat mengganggu kesehatan fisik yang mengakibatkan pola makan dan tidur seseorang cenderung menjadi kacau, sering sakit kepala dan sakit punggung.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Rachmaniya (2018) dengan respondennya remaja diketahui bahwa kebanyakan remaja sering merasa sakit kepala terutama saat padatnya jadwal sekolah dan tugas sekolah yang menumpuk.
Perlu diketahui bahwa pikiran dapat menyebabkan gejala fisik. Sebagai contoh, ketika seseorang takut atau cemas dapat memacu detak jantung yang cepat, jantung berdebar, merasa sakit, gemetar (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala dan bernafas cepat (Kartini dan Kartono, 2002).
Dari hasil penelitian ini walaupun terdapat korelasi yang bermakna antara kesepian dengan gejala gangguan somatis pada remaja namun hanya sedikit yang melaporkan mengalami gangguan somatis. Hal ini bisa dilihat pada tabel 4.5 bahwa lebih dari setengah responden hanya mengalami gejala gangguan somatis sangat rendah. Hal ini bisa saja terjadi karena ada faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi seseorang merasakan gangguan somatis atau tidak.
Stresor kehidupan merupakan pengalaman yang dialami dalam keseharian individu. Stres dapat menjadi konstruktif jika didukung oleh kualitas kepribadian yang optimal. Sebaliknya stresor kehidupan dapat memunculkan gangguan somatisasi jika individu memiliki kualitas kepribadian yang tidak optimal. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hadjim (2003) yang menyatakan bahwa kepribadian memang memengaruhi timbulnya gangguan somatis pada seseorang karena bisa berperan sebagai tameng atau pelindung terhadap gangguan somatis.
Beberapa aspek kepribadian yang dinilai adalah harga diri, kemandirian dan kepribadian tahan banting (hardness personality) yang mana berperan dalam menghadapi suatu stresor.
Jika kualitas dari aspek-aspek kepribadiannya kurang optimal maka individu tersebut akan rentan mengalami gangguan somatis dan begitu juga sebaliknya apabila individu tersebut mempunyai kualitas yang optimal dari aspek-aspek tersebut maka peristiwa-peristiwa yang menekan atau mendapati suatu stresor, meskipun sering muncul di kesehariannya dapat dimaknai sebagai sebuah tantangan atau sebuah hambatan yang bisa diyakini akan bisa diatasinya. Oleh karena itu stresor kehidupan tidak selalu memunculkan gejala patologis berupa gangguan somatisasi.
Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuisioner. Metode penelitian berupa kuesioner dilakukan dengan memberi beberapa daftar pertanyaan kepada responden. Oleh karena itu terdapat beberapa kelemahan dari metode ini yang dapat memengaruhi hasil penelitian diantaranya adalah adanya kemungkinan bahwa responden menandai begitu saja salah satu pilihan sekadar
memenuhi permintaan peneliti kepadanya untuk mengisi kuesioner tersebut tanpa memikirkan benar-benar apakah jawaban itu sesuai atau tidak dengan pendiriannya.
Kengganan siswa untuk meluangkan waktu yang banyak untuk mengisi kuesioner tersebut juga menjadi salah satu hal yang dapat memengaruhi kuesioner yang diisi olehnya (Nasution, 2003).
49 adalah sebagai berikut :
1. Persentase responden yang tidak mengalami kesepian sesuai dengan kuesioner UCLA sebesar 10,1%, kesepian ringan 64,6% sedangkan kesepian sedang 25,3%.
2. Persentase responden yang mengalami depresi ringan 16,2%, depresi sedang 20,2%, depresi berat 16,2% dan depresi sangat berat 3%.
3. Persentase responden yang mengalami kecemasan ringan 10,1%, kecemasan sedang 24,3%, kecemasan berat 21,2% dan kecemasan sangat berat 18,2%.
4. Persentase responden yang mengalami stres ringan 15,2%, stres sedang 27,3%, stres berat 10,1% dan stres sangat berat 4%.
5. Persentase responden yang mengalami gejala gangguan somatis sangat rendah sebanyak 48,5%, gejala gangguan somatis rendah 42,4%, dan gejala gangguan somatis tinggi 9,1%.
6. Terdapat korelasi lemah antara kesepian dengan masalah psikologis pada remaja.
7. Terdapat korelasi lemah antara kesepian dengan gejala gangguan somatis pada remaja.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat disampaikan adalah:
1. Peneliti menyarankan kepada para siswa terutama yang terdeteksi mengalami kesepian untuk memperhatikan kualitas dari kesehatan mental sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis terutama dalam aspek hubungan yang positif dengan orang lain dan aspek perkembangan pribadi.
2. Peneliti menyarankan kepada pihak sekolah untuk melengkapi sarana dan prasarana bimbingan konseling dan selalu memberikan motivasi kepada peserta didik.
3. Penelitian lebih lanjut dengan kuisioner yang lebih spesifik diperlukan untuk menghubungkan kesepian dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis.