• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. EVALUASI DAMPAK KERAGAMAN IKLIM TERHADAP

3.3. Hasil dan Pembahasan

3.3.1. Karakteristik sistem usaha tani di Pacitan

Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan (2009) menyatakan bahwa dari 12 Kecamatan di Kabupaten Pacitan, semua kecamatan melakukan pertanian tanaman pangan dengan persentase terbesar di Kecamatan Nawangan (15%), Kebon Agung dan Tulakan (14%). Persentase tersebut didasarkan kepada luas sawah yang diusahakan pada setiap kecamatan (Gambar 3.3).

Opsi

teknologi Persamaan hasil

TEKNOLOGI REKOMENDASI berdasarkan Persamaan hasil terbaik

Pilihan teknologi Data iklim, sifat

genetis, tanah, dan alternatif teknologi

Hasil prediksi keluaran model

simulasi DSSAT

Data irigasi dan SST Nino 4 bulan

Agustus

Curah hujan fase1, 2 dan 3 (output DSSAT)

Gambar 3.3 Persentase luas sawah setiap kecamatan di Kabupaten Pacitan

Gambar 3.4 Hamparan lahan sawah dan lahan kering di Kabupaten Pacitan Secara umum Kabupaten Pacitan memiliki empat tipe irigasi, yaitu sawah dengan irigasi teknis seluas 264,17 Ha (0,19%), irigasi semi teknis sekitar 2.130,01 Ha (1,54%), irigasi sederhana sekitar 3.313,99 Ha (2,39%) dan sawah tadah hujan sekitar 6.707,09 Ha (4,85%). Irigasi teknis terluas dapat ditemukan di Kecamatan Ngadirojo, sedangkan irigasi semi teknis terluas di Kecamatan Bandar. Lahan tadah hujan terluas di Kecamatan Nawangan, yang merupakan sentra tanaman pangan terbesar di Pacitan. Di samping lahan tadah hujan yang cukup luas, Kabupaten Pacitan juga memiliki lahan kering (tegalan) yang cukup luas, yaitu sekitar 125.971,90 Ha (Anonimus 2006). Dari total luasan untuk lahan sawah dan lahan kering sekitar 44.230 ha, maka 21.931 ha merupakan lahan kering dengan hanya ditanami palawija satu kali setahun (sumber Dinas Pertanian

dan Peternakan Kabupaten Pacitan 2010). Gambaran pertanaman pada kedua tipe lahan tersebut disajikan pada Gambar 3.4.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya (Wahab et al. 2007), bahwa wilayah Pacitan yang cukup kritis terhadap bencana adalah wilayah sebelah barat meliputi Kecamatan Punung, Donorojo dan Pringkuku. Maka lokasi survai kemudian terpilih di Kecamatan Pringkuku, yang ditinjau dari segi pengairan maupun pola tanamnya relatif tidak jauh berbeda dengan Kecamatan Donorojo maupun Punung. Untuk Kecamatan Pringkuku sendiri, lokasi diutamakan di Desa Pringkuku, yang dianggap sudah mewakili dari beberapa tipe irigasi. Ada 4 tipe irigasi di Pacitan, yaitu; irigasi teknis, irigasi semi teknis, irigasi swadaya dan lahan kering. Ketiga sistem irigasi sudah terwakili di Desa Pringkuku, kecuali irigasi teknis, yang banyak dilakukan di Desa Candi. Sehingga pengambilan sampel berikutnya ke Desa Candi. Survai ke petani dilakukan melalui wawancara mendalam. Diambil 75 sampel dari Desa Pringkuku dan 25 sampel dari Desa Candi. Pengambilan sampel di wilayah ini dianggap sudah mewakili kondisi Pacitan secara keseluruhan.

Responden di Pacitan sebagian besar mengusahakan sendiri pertanaman tanaman pangannya, hanya sebagian kecil yang sewa atau maro. Luas lahan yang diupayakan Responden sebagian besar berada pada luas < 1 ha. Hanya sekitar 10% yang > 1 ha.

Gambar 3.5 Luas lahan yang diusahakan Responden

Pola budidaya pertanian dalam penelitian dimaksudkan sebagai kombinasi dari Varietas, Pengolahan tanah, dan jarak tanam, pemupukan dan awal penanaman. Pola tanam pada sawah dengan irigasi teknis secara umum

0 5 10 15 20 25 30 35 40 <= 0.25 ha 0.26 - 0.50 ha 0.51 - 0.75 ha 0.76 - 1.00 ha >1 ha ND Persentase Responden

mencakup padi-padi-padi yang dimulai umumnya pada bulan Oktober, November atau Desember dan berakhir pada bulan September. Pertanaman MT II, dominan dilakukan Responden pada bulan Maret. Sebagian Responden ada juga yang melakukan penanaman MT II pada bulan Februari dan April. Penanaman MT III semakin berkurang dan dilakukan Responden pada bulan Juni dan Juli.

Pertanaman padi musim tanam pertama (MT I) menggunakan varietas dengan umur sekitar 100-110 hari, sedangkan untuk MT II dan MT III menggunakan varietas yang lebih genjah. Varietas-varietas genjah (yang berumur pendek) tersebut diantaranya adalah : Situ Bagendit, Situ Patenggang, dan Batu Tegi. Namun demikian, pola tanam seperti ini hanya digunakan oleh sebagian kecil petani yaitu mencakup sekitar 434 ha. Selain pola tanam padi-padi-padi, pada lahan sawah irigasi teknis juga terdapat pola tanam padi-padi-palawija. Pola tanam ini cukup luas digunakan oleh Petani Pacitan yaitu sekitar 4.176 ha. Keserempakan waktu tanam, mempunyai toleransi lebih kurang 2 minggu. Jika hujan 3 kali berturut-turut dalam jumlah yang cukup, petani sudah melakukan penanaman. Tetapi jika hujan kurang lebat, petani ragu untuk mulai melakukan penanaman, sehingga waktu bertanam menjadi tidak seragam.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus

P er sen tase R esp o n d en MT1 MT2 MT3

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% MT-3 MT-2 MT-1

Gambar 3.7 Tanaman yang diusahakan Responden pada setiap musim tanam

Berdasarkan catatan dari Responden diketahui bahwa pada umumnya penanaman pada MT-1 adalah >90% padi monokultur, dan hanya sebagian kecil yang menanam padi ditumpangsarikan dengan palawija. Tanaman pada MT II, lebih bervariasi, karena pada umumnya petani sudah memahami kesulitan pengairan untuk pertanaman padi, meskipun untuk sebagian kecil wilayah ada yang mengusahakan padi bahkan hingga pertanaman ke 3, seperti di Desa Candi Kecamatan Pringkuku.

Varietas yang banyak digunakan di Pringkuku adalah Ciherang (110 hari) dengan produksi 4-6 ton/ha (di lahan sawah) dan 2-4 ton/ha (di lahan kering). Varietas lain yang cukup bagus di Pringkuku adalah Situ Bagendit, tetapi karena adanya serangan hama, petani kurang berminat untuk menanam kembali. Sedangkan di Kecamatan Ngadirojo, yaitu salah satu sentra padi di Pacitan, produksi padi sawah mencapai 5-8 ton/ha, dan kalau menggunakan Hibrida, produksi rata-rata 8-11 ton/ha. Varietas yang digunakan di Ngadirojo : Ciherang, IR 64, Cibogo, Situ Bagendit.

Terdapat variasi pola ketatalaksanaan usaha tani dikaitkan dengan kondisi iklim dan produktivitas lahan di wilayah kajian. Pola tanam existing petani di Kecamatan Pringkuku dan Ngadirojo disajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Pola tanam existing petani

Kecamatan Pola tanam Karakteristik wilayah Pringkuku Padi-padi-bera Dominasi lahan kering

Padi-padi-padi Padi-kedelai-bera Padi-kacang tanah-bera Padi-kedelai-sayuran Padi-kedelai-kacang hijau Padi-kacang tanah-sayuran

Padi gogo/jagung/ketela pohon-kacang tanah

Ngadirojo Padi-padi Dominasi lahan sawah

Padi-padi-padi

Padi-padi-palawija Padi-palawija-palawija

Palawija (kedelai, jagung, kacang tanah)

Pola tanam pada lahan sawah tadah hujan, umumnya adalah padi- palawija/sayuran dan padi-bera. Pola tanam padi-palawija mencakup 1691 ha, dengan penanaman dimulai bulan Desember atau Januari. Sedangkan pola tanam padi-bera, mencakup luasan sekitar 5.027 ha. Di lahan kering penanaman lebih cepat, umumnya sekitar pertengahan bulan November dengan pola tanamnya adalah 1. padi gogo+palawija – palawija, 2. padi gogo+palawija-bera, 3. palawija-palawija-bera dan 4. palawija saja. Luasan yang menanam palawija saja di lahan kering merupakan luasan terbesar. Lahan kering ditanami padi gogo, jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, ubi jalar dan sorgum. Untuk lahan kering selain padi gogo, ubi kayu mendominasi penanaman. Ubi kayu ditanam pada musim tanam kedua setelah padi. Ubi kayu dipanen pada saat menjelang musim hujan, dimana penanaman padi pada musim hujan akan dimulai. Produktivitas ubi kayu dari tahun 1990 hingga 2010 memperlihatkan tren kenaikan (Gambar 3.8). Tren produktivitas ubi kayu tersebut terlihat lebih dipengaruhi oleh penambahan luas tanam dibanding kondisi curah hujan. Hal ini dapat dilihat dari pola curah hujan dari tahun ke tahun sebagaimana yang disajikan pada gambar 3.8.

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 0 50 100 150 200 250 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 mm k u /h a

CH tahunan (mm) Produktivitas (ku/ha)

Gambar 3.8 Tren produktivitas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

Tata cara pengolahan tanah secara umum ada dua, yaitu pengolahan tanah dengan traktor dan pengolahan tanah dengan bajak. Pada umumnya, petani di wilayah kajian melakukan pemupukan dengan komposisi Urea (800 kg/ha) + TSP ( 400 kg/ha)+ pupuk kandang.

Dalam hal penanaman awal, terlihat bahwa petani melakukan penanaman secara normal pada kisaran bulan Oktober-November, yaitu dalam hal ini tanam setelah 3 kali hujan dengan intensitas cukup tinggi. Rata-rata petani masih menggunakan pranatamangsa, adanya tolu (Guntur) yang menggelegar sebagai tanda akan mulai musim hujan. Jika ada hujan awal den-gan hitungan satu pacul tanah basah, sekitar 20 cm, petani sudah berani memulai pertanaman.

Pada musim rendeng, pembenihan dilakukan dengan sistem “nyegat” (sebar benih pada saat belum ada hujan di lahan langsung, kira-kira 1 bulan sebelum hujan, pada saat hujan benih langsung tumbuh). Hal ini merupakan salah satu teknik adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim. Salah satu hal yang mungkin terjadi akibat terjadinya perubahan iklim adalah terjadinya pergeseran musim, yang menyebabkan musim menjadi tidak menentu. Salah satu kejadian yang mungkin terjadi di areal penanaman adalah adanya hujan tipuan atau ‘false rain’. Apabila terjadi hujan tipuan, biasanya benih akan rusak, sedangkan apabila tidak ada hujan selama 1 bulan dan untuk selanjutnya hujan turun dengan intensitas yang mencukupi untuk dilakukan penanaman, maka benih dapat berhasil tumbuh dengan baik. Menurut beberapa orang petani, lebih baik menanam segera, karena tanah masih ‘hangat’, hal ini dikaitkan dengan keaktifan

mikroorganisma di dalam tanah, yang dapat membantu kesuburan tanah, sehingga hasil panen lebih baik. Pengolahan tanah dilakukan dengan traktor dan pada sebagian petani dengan menggunakan bajak. Penanaman benih di lahan kering dilakukan dengan cara menugal.

Bencana iklim yang kerap terjadi di Pacitan adalah kekeringan, apalagi pada topografi pengunungan karst. Namun demikian, banjir juga terjadi karena adanya luapan Sungai Grindulu sebagai pusat pengairan pada irigasi usahatani dan kondisi saluran yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.

Produksi pertanaman ditentukan oleh banyak hal, diantaranya adanya OPT (organisma pengganggu tanaman). OPT utama yang berkembang pada tanaman padi dan palawija di Kabupaten Pacitan meliputi : belalang kumbara, tikus, wereng batang cokelat, penggerek batang, ulat grayak, keong mas, uret, Phyricularia oryzae, Xanthomonas oryzae dan cercosphora oryzae. Berdasarkan hasil survai pada petani megenai tingkat serangan OPT ternyata tingkat serangan OPT dirasakan petani lebih berat pada musim hujan.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 <=10 kg 11-20 kg 21-30 kg 31-40 kg 41-50 kg >50 kg ND Persentase Responden

Gambar 3.9 Pemakaian benih Responden pada MT-1

Pada usaha tani padi di Pacitan, petani rata-rata menggunakan benih 10- 20 kg/ha (Gambar 3.9). Harga benih di pasar sekitar Rp.7000 hingga Rp. 8000, untuk IR-64 dan Ciherang. Banyak Responden mengusahakan benih sendiri dari pertanamannya. Benih ditanam ke lapang, setelah 20-25 hari di persemaian. Jarak tanam yang digunakan Responden bervariasi antara 10x25 hingga 40x80 cm. Namun umumnya Responden menggunakan jarak tanam 15x30 cm (Gambar 3.10). Pengeluaran untuk tenaga kerja berkisar antara Rp. 20.000 hingga Rp. 1.100.000. Hal itu karena banyak Responden melaksanakan sendiri sebagian

penyelenggaraan bertaninya, sehingga biaya tenaga kerja tidak dihitung. Kebanyakan pekerjaan yang dilakukan bersama dengan yang lain adalah tanam, penyiangan dan panen. Untuk kegiatan panen dan tanam, mereka melakukan secara bergotong royong. Sedangkan untuk pengolahan tanah, sebagian memakai cangkul, dan sebagian lain menggunakan traktor dengan cara menyewa. Untuk penggunaan pupuk, Responden kebanyakan menggunakan urea, ponska, NPK, dan TSP. Sedangkan pemakaian KCl hanya ditemukan pada satu responden.

Gambar 3.10 Jarak tanam yang digunakan

Dokumen terkait