• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 Kerangka Teori

2.1.3 Karakteristik Soal Objektif

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif, dengan tujuan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan bentuk esai (Arikunto 2015: 179). Menurut Widoyoko (2014: 93), tes objektif adalah bentuk tes yang mengandung kemungkinan jawaban atau respon yang harus dipilih oleh peserta tes. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tes objektif adalah tes yang mengandung kemungkinan jawaban atau respon yang harus dipilih oleh peserta tes, yang pemeriksaannya adalah secara objektif, dan tujuan dari bentuk tes ini adalah mengatasi kelemahan-kelemahan pada tes bentuk esai. Tes objektif sendiri memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.

Menurut Arikunto (2015: 180), tes objektif memiliki beberapa kelebihan, yaitu: (1) lebih representatif mewakili isi dan luas bahan; (2) lebih cepat dan mudah cara memeriksannya; (3) pemeriksaan dapat diserahkan kepada orang lain; dan (4) dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang memengaruhi. Kelemahan tes objektif yaitu: (1) penyusunan soal lebih rumit karena soalnya banyak dan harus teliti; (2) kerjasama antarpeserta didik pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka; (3) banyak kesempatan untuk main untung-untungan; dan (4) soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan.

Ditinjau dari bentuknya, ada beberapa bentuk tes objektif. Menurut Widoyoko (2014: 94), secara umum, ada tiga tipe tes objektif, yaitu: benar-salah (true-false), menjodohkan (matching), dan pilihan ganda (multiple choice). Berkaitan dengan penelitin ini, peneliti hanya akan membahas mengenai tipe tes objektif bentuk pilihan ganda. Tes pilihan ganda merupakan salah satu bentuk tes objektif yang terdiri atas pertanyaan, atau pernyataan yang belum selesai, dan untuk menyelesaikannya harus dipilih salah satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan pada tiap-tiap butir soalnya (Sudijono 2015: 118). Jadi, tes pilihan ganda ini adalah tes yang di dalamnya terdiri dari pertanyaan atau penyataan yang belum selesai, dan untuk dapat menjawabnya, peserta tes harus memilih salah satu jawaban dari beberapa pilihan jawaban yang telah disediakan.

Tes pilihan ganda adalah tes yang biasa digunakan oleh guru atau sekolah untuk mengevaluasi, karena dapat mencakup banyak materi di dalamnya dan untuk pengoreksiannya cenderung lebih mudah dari bentuk soal lain. Menurut Widoyoko (2014: 94), tes pilihan ganda memiliki lima variasi, yaitu: tes pilihan ganda biasa, pilihan ganda analisis hubungan antarhal, pilihan ganda analisis

kasus, pilihan ganda asosiasi, dan pilihan ganda yang menggunakan diagram, tabel, gambar, atau grafik. Uraiannya sebagai berikut:

(1) Pilihan Ganda Biasa

Tes pilihan ganda biasa adalah tes yang setiap butir soalnya memiliki jumlah alternatif jawaban lebih dari dua. Pada umumnya alternatif jawaban berkisar antara tiga hingga lima.

Berikut contoh soal pilihan ganda biasa: Kelurahan dipimpin oleh ....

a. sekertaris desa b. lurah

c. bendahara desa d. kepala desa (kunci jawaban: b)

(2) Pilihan Ganda Analisis Hubungan Antarhal

Pilihan ganda analisis hubungan antarhal terdiri dari dua pernyataan. Kedua pernyataan tersebut dihubungkan oleh kata sebab. Jadi, ada dua kemungkinan hubungan antara kedua pernyataan tersebut, yaitu hubungan sebab akibat atau tidak ada hubungan sebab akibat (Widoyoko 2014: 102).

Berikut contoh soal pilihan ganda analisis hubungan antarhal:

Penduduk yang tinggal di daerah dataran tinggi mayoritas bekerja sebagai petani.

SEBAB

Dataran tinggi memiliki udara yang sejuk dan tanah yang subur. Pilihlah:

a. pernyataan benar, alasan benar, keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat.

b. pernyataan benar, alasan benar, keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat.

c. pernyataan benar, tetapi alasan salah. d. pernyataan salah, tetapi alasan benar e. pernyataan dan alasan salah

(kunci jawaban: a)

(3) Pilihan Ganda Analisis Kasus

Pada pilihan ganda analisis kasus, peserta tes dihadapkan pada suatu kasus. Kasus ini disajikan dalam bentuk cerita, peristiwa, dan sejenisnya. Kepada peserta tes, diajukan beberapa pertanyaan lewat kasus yang disajikan tersebut. Berikut contoh soal pilihan ganda analisis kasus:

Kepolisian di beberapa wilayah di Aceh menemukan puluhan selebaran yang berisi pernyataan kemerdekaan Aceh dari Republik Indonesia. Selebaran ditempel oleh kelompok tidak dikenal di berbagai lokasi keramaian umum di beberapa kota, termasuk Banda Aceh.

Berdasarkan kutipan berita tersebut, bentuk kasus tersebut termasuk .... a. ancaman dari dalam negeri

b. ancaman dari luar negeri c. tantangan dari kepolisian d. tantangan dari pemerintah (kunci jawaban: a)

(4) Pilihan Ganda Asosiasi

Pada bentuk pilihan ganda asosiasi, struktur soalnya sama dengan melengkapi pilihan. Perbedaannya, jika pada melengkapi pilihan, hanya ada satu jawaban yang benar, sedangkan pada pilihan ganda asosiasi ini, jawaban yang benar lebih dari satu. Jadi, pada pilihan ganda asosiasi diperbolehkan menuliskan empat alternatif pilihan sebagai jawaban yang benar, tanpa ada pengecoh. Berikut contoh soal pilihan ganda asosiasi:

Berikut merupakan hal yang berkaitan dengan lurah: (1)kepala kelurahan

(2)dipilih oleh bupati atau walikota (3)masa jabatan hanya 5 tahun

(4)termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pilihlah:

a. jika (1), (2), dan (3) benar b. jika (1) dan (3) benar c. jika (2) dan (4) benar d. jika semuanya benar

(kunci jawaban: d)

Dalam membuat tes objektif bentuk pilihan ganda, harus memerhatikan aspek-aspek penyusunan soal yang baik. Berikut tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes pilihan ganda menurut Depdiknas (2008: 5-6). Aspek materi, yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes pilihan ganda yaitu: (1) Soal harus sesuai dengan indikator; (2) Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan kompetensi; (3) Pilihan jawaban homogen dan logis; serta (4) Kunci jawaban hanya satu.

Aspek konstruksi, yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes pilihan ganda yaitu: (1) Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas; (2) Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja; (3) Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban; (4) Pokok soal bebas dan pernyataan yang bersifat negatif ganda; (5) Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi; (6) Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan berfungsi; (7) Panjang pilihan jawaban relatif sama; (8) Pilihan jawaban- jawaban tidak menggunakan pernyataan “semua jawaban di atas salah/benar” dan sejenisnya; (9) Pilihan jawaban yang terbentuk angka/waktu disusun berdasarkan besar kecilnya angka atau kronologisnya; serta (10) Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal yang sebelumnya.

Aspek bahasa/budaya, yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes pilihan ganda yaitu: (1) Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia; (2) Menggunakan bahasa yang komunikatif; (3) Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu, dan (4) Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan.

Berdasarkan kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap soal objektif memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga guru dalam menggunakan bentuk soal tes objektif harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Kemudian dalam membuat soal pilihan ganda harus memerhatikan aspek materi, kontruksi, dan bahasa/budaya, agar menghasilkan soal pilihan ganda yang baik.

Dokumen terkait