HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Karakteristik Substrat
Hasil analisis laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, tekstur substrat pada masing-masing stasiun terbagi atas 3 fraksi yaitu pasir, liat dan debu.
Tabel 4.6. Kualitas Substrat Habitat Kerang Lokan (Geloina erosa) pada setiap stasiun. Stasiun Fraksi Total % Tekstur Pasir % Debu % Liat %
1. Vegetasi N fruticants 44,56 31,28 24,16 100 Lempung 2. Vegetasi Heterogen 50,56 27,28 22,16 100 Lempung Liat
Berpasir
3. Vegetasi S caseolaris 32,56 33,28 34,16 100 Lempung Berliat
Data hasil pengukuran tekstur substrat kepadatan lokan (G. erosa) yang tertinggi pada tekstur lempung, tingginya kepadatan kerang lokan kemungkinan berhubungan dengan stasiun 1 merupakan daerah muara yang berdekatan dengan alur sungai dan arus relative lambat karena partikel-partikel akan mengendap didasar perairan. Menurut Bengen et al, (1995) Arus yang kuat tidak hanya menghanyutkan partikel sedimen yang kecil saja tetapi juga menghanyutkan nutrien. Sebaliknya pada substrat yang halus, biasanya nutrien tersedia dalam jumlah yang cukup besar. Dengan demikian jenis substrat yang diperkirakan disukai oleh bentos adalah kombinasi dari ketiga jenis substrat (pasir, lumpur dan liat).
Menurut Nasution dan Yurisma (2004) Kepadatan kerang lokan cenderung lebih tinggi sejalan dengan meningkatnya kandungan organik sedimen. Hal ini dapat dipahami karena kerang lokan merupakan organism benthos yang relative menetap dan menggantungkan diri pada transportasi bahan makanan melalui arus dan membawa ke komunitas dimana kerang tersebut hidup. Hasil analisis laboratorium pengelompokan substrat sedimen dapat dilihat pada gambar 4.2, Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 dengan sebaran segitiga Shepard (Shepard 1954 dalam Dyier 1986).
32
Gambar 4.2. Stasiun 1 Gambar 4.3. Stasiun 2 substrat lempung substrat Lempung liat berpasir
Gambar 4.4. Stasiun 3 Lempung Berliat
Dari ukuran partikel substrat yang merupakan habitat kerang diklasifikasi menurut skala Wenworth, yang menggolongkan partikel dari lempung (clay) sampai batu besar (boulder) dengan diameter 1/4096 mm sampai 2048 mm. Klasifikasi tersebut dapat dilihat Tabel 3.2.
33
4.6. Faktor Lingkungan
Hasil pengukuran faktor lingkungan perairan pada masing-masing stasiun penelitian pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Hasil Pengukuran Parameter Rata-rata Fisika, Kimia dan Sedimen
Parameter
Stasiun
1. ( N fruticants) 2. (Heterogen) 3. (S. casiolaris)
FISIKA Suhu ( oC) 27,8 28,5 28 KIMIA Salinitas (‰) 5 20 18 pH air 6,2 6,8 6,6 pH Sedimen 6 6,5 6,2 DO (mg/l) 3 3,4 3,2 Nitrat (ppm) 11 13,7 4 Posfat (ppm) 0,2 0,44 0,03 4.6.1. Suhu
Secara umum suhu pada lokasi penelitian berkisar antara 27,5 – 28,5 oC, berada dalam kondisi optimum dan cocok untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan kerang lokan (G. erosa). Kondisi ini sesuai dengan baku mutu kehidupan kerang mangrove yang memiliki suhu optimum berkisar 25 – 32,5 oC. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Widhowati et al, (2006) di Sagara Anakan Cilacap suhu berkisar 20-28 oC, Gimin et al, (2004) menemukan Geloina ada 2 species yaitu Geloina erosa dan Geloina expanca di perairan Australia Utara dengan kondisi suhu 22,10-28,50 oC. Suhu optimum bagi moluska bentik berkisar antara 25 dan 28oC (Razak 2002).
Menurut Budiman, (1991), Verween et al. (2007) bahwa parameter yang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bivalvia salah satunya adalah suhu. Kelarutan berbagai jenis gas di dalam air serta semua aktifitas biologis-fisiologis di dalam suatu ekosistem pengairan, sangat dipengaruhi suhu (Sudrajat, 2006).
34
4.6.2. Salinitas
Hasil pengukuran nilai salinitas perairan di ekosistem mangrove Belawan berkisar antara 5 – 20 ‰, kondisi salinitas yang ditemukan masih tergolong baik untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan kerang lokan (G. erosa). Hal ini sesuai dengan habitat kerang terutama kerang mangrove G. erosa, kawasan ekosistem mangrove memiliki salinitas perairan 10- 30 ‰ (Kusmna et al, 2005), 10-40 ‰ (Noor et al. 2006), 2-36 ‰ (Setiabudiandi, 1995) dan antara 0-30 ‰ (Bengen 2004). Terjadi fluktuasi salinitas di suatu perairan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor musim yang ada di tempat tersebut dan jumlah sungai yang mengalir di suatu kawasan ini. Menurut Nybakken (1992) bahwa pola gradien salinitas estuari bervariasi tergantung musim, topografi, pasut dan jumlah air tawar.
4.6.3. pH air
Nilai pH air yang ditemukan dalam penelitian ini relatif stabil berkisar antara 6,2 – 6,8, hal ini sesuai dengan pendapat Widhowati et al. (2006) pH air berkisar 6.20 – 6.50, Gimin et al, (2004) pH air meliputi 5,32 – 7,66, Dwiono (2003) dan Raharwarlin (2005) di ekosistem mangrove papua memiliki pH 5,66 – 7,66. Penelitian yang dilakukan Natan (2007) terhadap kerang Anodontia edentula yang hidup di ekosistem mangrove teluk Ambon yaitu 6,2 – 6,4. Berdasarkan hasil pengukuran diatas menunjukkan bahwa kondisi perairan tempat hidup dan berkembangbiak kerang G. erosa dalam kisaran pH asam dan basa.
4.6.4. pH sedimen
Hasil pengukuran pH sedimen di perairan Belawan selama penelitian berkisar 6 – 6,5. nilai pH tersebut masih berada dalam kisaran yang baik untuk kehidupan G. erosa. Hal ini selaras dengan pendapat Tamsar et al, (2013) nilai pH substrat berkisar 6 – 6,3.
35
Menurut Morton (1994), bahwa pada kawasan hutan mangrove di Karabia dimana terdapat di tepi laut, terdapat beberapa jenis tanaman seperti Nypa fruticans, Cocos mucifera dan di antara akar-akar tanaman tersebut terdapat aliran sungai kecil yang berupa genangan kolam, disini terdapat Polymesoda sp. atau Geloina jenis Geloina erosa dan G. ekspansa secara bersama-sama. Pada daerah ini pH tanah mangrove berkisar antara 5,35-6,28.
4.6.5. DO (Dissolved Oxygen)
Pengukuran oksigen terlarut yang dilakukan dalam 3 stasiun penelitian berkisar antara 3.0 – 3.4 mg/l, sedangkan menurut Romimohtarto dan Juwana (2007) menyatakan bahwa standar baku mutu air laut untuk konsentrasi oksigen terlarut adalah 4-6 mg/l, dengan batas minimal toleransi 4 ppm. Tetapi dari hasil penelitian Nasution dan Yurisma (2004) menyatakan Geloina expansa di perairan Dumai Riau dengan kisaran oksigen terlarut 2.6 – 2.9 mg/l. sedangkan penelitian Natan (2008) di Teluk Ambon Bagian Dalam nilai oksigen terlarut yang diperoleh berkisar 1.5 – 3.30 mg. KEPMENKLH (1988) mengisyaratkan bahwa kandungan oksigen terlarut sebesar > 4 mg/l baik untuk kehidupan organism di perairan laut.
4.6.6. Kadar Nitrat (NO3)
Kadar nitrat selama penelitian berkisar antara 4 – 13.4 mg/l, tergolong tinggi, hal ini dapat terjadi karena lokasi penelitian merupakan daerah muara dari alur sungai yang mempunyai nitrit yang tinggi dan oleh aktivitas mikroorganisme dioksidasi menjadi nitrat. Menurut Ulqodry et al (2013) Proses oksidasi nitrit menjadi nitrat terjadi oleh aktivitas bakteri dari kelompok nitrobacter dengan reaksi NO2 + O2 —> NO3. Proses oksidasi oleh mikroorganisme ini dikenal sebagai proses nitrifikasi.
36
Menurut Ranoemihardjo (1988), konsentrasi nitrat akan menurun pada musim panas akibat adanya aktivitas fotosintesa yang tinggi, tetapi pada saat yang sama akan terjadi peningkatan konsentrasi nitrat sebagai akibat proses membusuknya zat-zat organik. Di lautan terbuka, kadar nitrat akan semakin besar dengan besarnya kedalaman lautan, hal ini disebabkan tenggelamnya partikel- partikel yang mengandung nitrat serta terjadinya peruraian pertikel tersebut menjadi nitrogen anorganik, sehingga distribusi nitrat pada lautan terbuka dapat dikatakan hampir seragam baik secara horisontal maupun vertikal.
4.6.7. Kadar Fosfat (PO4)
Kadar nitrat selama penelitian berkisar antara 0.2 – 0.44 mg/l tergolong tinggi hal ini sesuai dengan pendapat Goldman dan Horne (1983) Fosfor merupakan unsur pembatas pertumbuhan yang umum pada fitoplankton, meskipun fosfor ini dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Pada umumnya fosfat di perairan alami tidak lebih dari 0.1 mg/1. Apabila kandungan fosfat cukup tinggi maka akan terjadi eutrofikasi. Ortofosfat (PO4-P) terlarut merupakan fosfor dalam bentuk anorganik yang dapat langsung dimanfaatkan dan mudah diserap oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya (Lind 1979).