• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Karakteristik subyek penelitian

Dari keseluruhan populasi pasien stroke iskemik akut yang dirawat inap di Bangsal RA.4 Neurologi, Stroke Corner dan Ruang Rawat lainnya di RSUP Haji Adam Malik Medan terdapat 56 orang subyek dengan stroke iskemik sirkulasi anterior dan stroke iskemik sirkulasi posterior yang memenuhi kriteria inklusi sehingga diikutkan dalam penelitian ini.

Subjek penelitian yang berjumlah 56 dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 30 subyek merupakan penderita stroke iskemik sirkulasi anterior dan 26 subyek merupakan penderita stroke iskemik sirkulasi posterior.

Karakteristik subjek penelitian dapat dilihat pada tabel 2.

Dari total 56 orang subjek penelitian yang dianalisa terdiri dari 36 orang laki-laki (64,2%) dan 20 orang perempuan (35,7%). Pada stroke iskemik sirkulasi anterior terdiri dari 22 orang laki-laki (39,3%) dan 8 orang perempuan (14,2%) dan pada stroke iskemik sirkulasi posterior terdapat 14 orang laki-laki (25,0%) dan 12 orang perempuan (21,4%). Usia subjek terbanyak pada kelompok kategori usia 61 - 70 tahun yang berjumlah 22 orang (39,3%). Subjek berasal dari suku yang berbeda dengan suku terbanyak adalah suku batak sebanyak 19 orang (33,9%). Pendidikan terbanyak yaitu pada kategori SMU sebanyak 33 orang(58,9%).

Tabel 2. Karakteristik subyek penelitian

Karakteristik N=56 Stroke Iskemik Sirkulasi Anterior (n= 30) Posterior (n= 26)

Pekerjaan yang terbanyak adalah ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 16 orang (28,6%). Faktor risiko stroke terbanyak adalah hipertensi sebanyak 50 orang (89,3%). Kemudian 10 orang (17,9%) juga memiliki faktor risiko diabetes mellitus dan 7 orang (12,5%) juga memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Pada tabel 3, dapat dilihat Berdasarkan tabel diperoleh bahwa persentase nilai Barthel index ringan pada Kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior sebanyak 20 orang (35,7%) dan kategori Barthel index Ringan pada kelompok stroke iskemik sirkulasi Posterior lebih sedikit yaitu 6 orang (10,7%), sedangkan Kategori nilai Barthel index sedang dan berat lebih tinggi pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior, dimana dengan nilai Barthel index kategori sedang sebanyak 14 orang (25%) dan kategori berat sejumlah 6 orang (10,7%).

Tabel.3 Perbandingan Outcome klinis pada stroke iskemik akut sirkulasi anterior dan stroke iskemik akut sirkulasi posterior pada hari ke-7 (Barthel Index)

Uji Chi-Square, p signifikan < 0,05

Dengan demikian berdasarkan uji Chi Square diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan nilai Bartel index yang signifikan pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior dengan Stroke iskemik sirkulasi Posterior

dengan nilai signifikansi p=0,004 (p<0,05), dimana skor nilai barthel index kategori sedang dan berat lebih tinggi pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior.

Berdasarkan tabel. 4, diperoleh bahwa persentase kategori Modified Ranking Scale (mRS) Baik pada Kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior ada sebanyak 25 orang (44,6%) dan kategori mRS Baik pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi posterior lebih sedikit yaitu 14 orang (25 %), dan Kategori mRS Buruk pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Anterior ada sebanyak 5 orang (8,9 %) dan lebih tinggi pada Stroke iskemik sirkulasi Posterior yaitu sebanyak 12 Orang (21,4%), dengan demikian berdasarkan uji Chi Square diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan mRS yang signifikan pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior dengan Stroke iskemik sirkulasi posterior dengan nilai signifikansi p=0,017 (p<0,05), dimana kategori mRS Buruk lebih banyak pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior.

Tabel 4. Perbandingan Outcome klinis stroke iskemik sirkulasi anterior dan stroke iskemik sirkulasi posterior pada hari ke 7 (mRS)

No mRS SI Anterior SI Posterior

p 1 Baik 25 (44,6%) 14 (25 %) 0,017 2 Buruk 5 (8,9%) 12 (21,4%)

Uji Chi-Square, p signifikan <0,05

Berdasarkan tabel 5, diperoleh bahwa persentase Barthel Index ringan pada Kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior ada sebanyak 22

orang (39,3%) dan kategori Barthel index ringan pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior lebih sedikit yaitu 6 subjek (10,7%), sedangkan Kategori Barthel index sedang dan berat lebih tinggi pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior dimana kategori sedang sebanyak 12 orang (21,4%) dan berat 8 orang (14,3%), dengan demikian berdasarkan uji Chi Square diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan Outcome klinis yang ditandai dengan nilai bartel index yang signifikan pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior dengan Stroke iskemik sirkulasi Posterior dengan nilai signifikansi p=0,001 (p<0,05), dimana kategori Barthel index sedang dan berat lebih tinggi pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior dibanding pada kelompok stroke iskemik sirkulasi anterior.

Tabel 5. Perbandingan Outcome klinis stroke sirkulasi anterior dan stroke iskemik sirkulasi posterior pada hari ke 14 (Barthel index)

No Bartel

Uji Chi-Square, p signifikan <0,05

Pada tabel 6, diperoleh bahwa persentase mRS dengan kategori Baik pada Kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior ada sebanyak 25 orang (44,6%) dan kategori mRS Baik pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior lebih sedikit yaitu 12 subjek (21,4 %), dan Kategori mRS Buruk pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Anterior ada sebanyak 5 orang (8,9

%) dan Stroke iskemik sirkulasi Posterior sebanyak 14 Orang (25%),

dengan demikian berdasarkan uji Chi Square diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan mRS yang signifikan pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi anterior dengan Stroke iskemik sirkulasiPosterior dengan nilai signifikansi p=0,003 (p<0,05), dimana kategori mRS Buruk lebih banyak pada kelompok Stroke iskemik sirkulasi Posterior.

Tabel 6. Perbandingan Outcome klinis pada stroke iskemik sirkulasi anterior dan stroke iskemik sirkulasi posterior pada hari ke-14(mRS)

No mRS SI Anterior SI Posterior

p 1 Baik 25 (44,6%) 12 (21,4%) 0,003

2 Buruk 5 (8,9%) 14 (25%)

Uji Chi-square, p signifikan <0,05 4.2 Pembahasan

4.2.1 Karakteristik subyek penelitian

Karakteristik jenis kelamin subjek penelitian secara keseluruhan penelitian ini terdiri dari laki-laki sebesar 64,2% dan perempuan sebesar 35,7%. Pada stroke iskemik sirkulasi anterior terdiri dari laki-laki sebesar 39,3% dan perempuan sebesar 14,2% dan pada stroke iskemik sirkulasi posterior terdiri dari laki-laki 25,0% dan perempuan sebanyak 21,4%. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Chakraborty dkk, 2013 di India Utara yang dalam penelitian nya terhadap 100 orang penderita stroke akut yang terdiri dari laki-laki 69 orang (69,0%) dan perempuan 31 orang (31,0%). Demikian juga hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Misbach dan Wendra pada tahun 2000 pada

suatu penelitian di Asean yang menyatakan dari 2065 sampel penelitian terdiri dari 1108 orang laki-laki ( 53,8 %) dan 944 orang wanita (46,2 %).

Pada penelitian ini didapatkan kelompok usia terbanyak pada penderita stroke iskemik akut yaitu 61-70 tahun yaitu 22 orang (39,3%).

Hal ini hampir sama dengan penelitian Misbach dan Wendra,2000 yang dalam penelitiannya didapatkan rentang usia pasien stroke tertinggi yaitu pada rentang usia 45-65 tahun yaitu 50,5% diikuti usia >65 tahun ( 35,8%).

Pada Penelitian ini didapati Faktor resiko Stroke tertinggi yaitu Hipertensi sebanyak 50 orang (89,3%). Hal ini sama dengan penelitian Mozzafarian dkk,2015 yang menyatakan bahwa terdapat faktor resiko stroke tertinggi yaitu Hipertensi sebanyak 44,9 % dan penelitian Anderson,dkk 2008 didapatkan faktor resiko Hipertensi sebanyak 149 orang (74%) demikian juga hal nya pada penelitian Misbach,2000 yang juga mendapatkan hasil Hipertensi adalah faktor resiko stroke tertinggi sebanyak 73,9%. Pasien dengan stroke sirkulasi anterior dan posterior tidak berbeda dalam hal karakteristik demografik, prevalensi faktor risiko vaskular, evaluasi diagnostik atau etiologi stroke. Skor rata-rata National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) pada awal masuk adalah 8 pada stroke sirkulasi anterior dan 14 pada stroke sirkulasi posterior (p = 0,004).

Efek kumulatif penuaan pada sistem kardiovaskular dan perkembangan secara progresif faktor risiko stroke selama jangka waktu tertentu meningkatkan risiko terjadinya stroke. Risiko stroke meningkat dua kali lipat setelah usia 55 tahun (Goldstein dkk, 2011). Usia sebagai salah

satu sifat karakteristik seseorang, dalam studi epidemiologi umur merupakan variabel yang cukup penting karena banyak penyakit yang ditemukan dengan berbagai variasi frekuensi yang disebabkan oleh umur.

Pada penelitian Noor,2008 dikatakan Peningkatan frekuensi stroke seiring dengan peningkatan umur berhubungan dengan proses penuaan, dimana semua organ tubuh mengalami kemunduran fungsi termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh darah menjadi tidak elastis terutama bagian endotel yang mengalami penebalan bagian intima, sehingga mengakibatkan lumen pembuluh darah semakin sempit dan berdampak pada penurunan aliran darah otak.

Pada penelitian ini, Suku terbanyak adalah suku batak sebanyak 19 orang (33,9%). Hasil ini sesuai dengan penelitian Rambek dkk (2013) pada kelompok stroke iskemik dijumpai sebanyak 40,7 % suku Batak. Hasil penelitian lain yang juga relevan dilakukan oleh El harizah (2016) pada 100 pasien stroke di poliklinik neurologi dan ruang rawat inap FK USU/RSUP.H.

Adam Malik Medan pada periode Desember 2015 sampai April 2016 didapatkan suku terbanyak menderita stroke adalah suku Batak 63 pasien (63 %), lalu diikuti suku Jawa 22 pasien (22 %), suku Aceh 8 pasien (8%), suku Melayu 5 pasien (5%), dan Cina 2 pasien (2%) (El-Harizah dkk, 2016).

Penyebab tingginya insidensi stroke pada suku Batak dibandingkan suku non-Batak mungkin disebabkan oleh faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yakni secara genetik dan faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi (Sjahrir, 2003). Suku Batak memiliki karakteristik lebih banyak

makan dibandingkan suku lainnya sehingga lebih cenderung obesitas (Nainggolan dkk, 2015). Makanan khas suku Batak juga mengandung banyak kadar kolesterol (Manurung dkk, 2015). Suku Batak lebih temperamental dan emosional dibandingkan suku lainnya (Nainggolan dkk, 2015) sehingga dapat menyebabkan tekanan darah lebih mudah meningkat. Suku Batak juga memiliki kebiasaan minum minuman khas beralkohol tradisional yakni tuak (nira) yang berfungsi sebagai minuman sehari-hari dan upacara adat (Sihombing, 2013).

Status ekonomi (pendidikan dan pendapatan) berhubungan dengan angka kejadian stroke. Hal ini disebabkan tingkat status ekonomi yang rendah berhubungan dengan pemanfaatan akses kesehatan dan biaya kesehatan yang rendah sehingga kualitas kesehatan juga rendah (Smith dkk, 2003). Menurut Liao dkk (2009), status sosioekonomi mempunyai hubungan terhadap kejadian stroke. Hal ini berhubungan dengan upaya pencegahan stroke yakni mengontrol faktor risiko stroke.

Pada penelitian ini kelompok pendidikan terbanyak pada kelompok SMA sebanyak 33 orang (58,9%). Hasil penelitian ini relevan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kusumawardani (2011) di RSUP dr.Kariadi Semarang yang mendapatkan pendidikan terbanyak penderita stroke adalah SMA sebesar 52,4%. Menurut Riskesdas pada tahun 2013 prevalensi stroke cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah berdasarkan diagnosis pelayanan kesehatan atau gejala sebanyak 32,8%.

4.2.2 Perbandingan Outcome klinis pada pasien stroke iskemik akut

Dokumen terkait