• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBERDAYA HLPT

4.1 Karakteristik Sumberdaya HLPT .1 Sejarah HLPT

Kawasan HLPT sebelum ditunjuk sebagai kawasan hutan lindung merupakan kawasan hutan produksi, yaitu areal Hak Pengusuhaan Hutan (HPH) PT. Aghatis. Selain itu, kawasan ini sebelumnya juga merupakan areal penambangan minyak bumi, dimana Pertamina sebagai pengelolanya. Namun, pada tanggal 13 Maret 1979 kawasan ini ditunjuk sebagai kawasan hutan lindung dengan nama Hutan Lindung Pulau Tarakan (HLPT).

Pada tahun 1980 dilakukan tata batas terhadap HLPT yang dilakukan oleh Badan Planologi Kehutanan III Banjar Baru. Pada tahun 1994 batas kawasan HLPT direkonstruksi secara temu gelang oleh Sub BIPHUT Tarakan dan pada tanggal 22 April tahun 2003 ditetapkan sebagai HLPT.

4.1.2 Letak dan Luas

Menurut BPS Kota Tarakan (2007) HLPT berada pada Pulau Tarakan yang secara geografis terletak pada 3019' - 3020' Lintang Utara dan 117034' - 117038' Bujur Timur dan menurut Dishutbun Kota Tarakan (2008) secara geografis terletak pada posisi 3019'00" - 3023'00" Lintang Utara dan 117034'00"- 117038'00" Bujur Timur. Selanjutnya, HLPT berada pada kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Tarakan yang menurut BPKH Wilayah IV Samarinda (2009) terletak pada 03019'55" - 03025'455" Lintang Utara dan 117033'15"- 117038'45" Bujur Timur.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 175/Kpts/Um/3/1979, dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 143/Kpts-II/2003 luasan HLPT adalah 2.400 ha. Hutan Lindung Pulau Tarakan dengan luasan tersebut berada di Kota Tarakan yang menurut BPS Kota Tarakan (2007) memiliki luas wilayah 657,33 km2, dimana 38,20%-nya atau 250,08 km2 berupa daratan dan sisanya sebanyak 61,80% atau 406,53 km2berupa lautan.

4.1.3 Iklim

Hutan Lindung Pulau Tarakan berada pada KPH Kota Tarakan yang termasuk pada wilayah dengan tipe iklim B (tropis) dengan curah hujan yang relatif tinggi dan menyebar secara merata sepanjang tahun (BPKH Wilayah IV Samarinda 2009). Rataan temperatur, kelembaban dan curah hujan di daerah ini adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 22. Berdasarkan Tabel 22 dapat dinyatakan bahwa HLPT berada pada wilayah dengan temperatur rata-rata berkisar antara 26,5 - 27,3 0C, kelembaban rata-rata berkisar 83,1 - 85,1% dan rata-rata curah hujan berkisar antara 274,5 - 346,2 mm.

Tabel 22 Rataan temperatur, kelembaban dan curah hujan

Tahun Rataan unsur iklim

Temperatur (0C) Kelembaban (%) Curah hujan (mm)

2003 26,7 85,1 278,2 2004 27,1 84,7 293,6 2005 27,3 84,1 274,5 2006 26,9 83,1 346,2 2007 26,8 83,3 329,5 2008 26,5 84,2 330,8

Sumber: BPS Kota Tarakan (2009). 4.1.4 Vegetasi

Menurut PPLH Unmul (2000) jenis tumbuhan pohon yang terdapat pada kawasan HLPT antara lain adalah Cengal (H❂ ❃❄❅ ❆❅ ❇ ❈❅ ❉ Korth), keruing (❊❋❃●❄❍❂■❅❍❃❏❆ sp), Meranti (❑ ▲❂❍❄❅ sp), Nyantoh (▼❅❉❅◆❏ ❋❏ ❖ P❅❆◗❃▲y❉❉❏ ❖ ), Bintangur (C❅ ❉❉❂py❉❉❖u ty❆❖❅❇❋❋ Z et. M), Rengas (❘❄ ❉❅❇❂❍ ▲❂❄❅ w❅❋❉❋■▲ ❋ King), Merawan (❙❂❄❅p ❚❄❄ru❈❄ ❇❋❅ Pariys), Mersawa (❯ ❇❋❆❂❄❍❅pt ❈❍❂ss❋❍❄ ❇❋■❅ V. SI), Aghatis (❯❈▲❅ts ❱❂❍❇❄❄ ❇ ❆❋s ), Pulai (❯❉st❂ ❇❋❅ ❅❇❈ust❋❉❂ ❱❅ Miq), Kempas (❲❂ ❂❖❅❆❋❅p ❖❅❉ ❅■■❄ ❇❆❋s) dan Terap (rt❂■❅rpus ❄ ❉❅st❋■us Reinw). Disamping itu, juga ditemui jenis tumbuhan yang dilindungi, seperti Ulin (u❆❋P❄❍❂❉❂xy

zw

❅❈❄❍ ❋ ), Ramin (❨❂ ❇❋styus ❱❅❇■❅❇us ), Bengeris (❲❂❖❅❆ ❆❋❅p ❄■❄ ❉❆❅x ) dan Jelutung (❊❄❍❅y ■❂stu❉❅❅t ). Menurut Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Tarakan (2005) jenis pohon, jumlah pohon, kerapatan seluruh jenis dan kerapatan relatif suatu jenis pada HLPT adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 23. Berdasarkan Tabel 23 dapat dinyatakan bahwa jenis pohon yang kerapatan relatifnya tinggi adalah Nyatoh (25,42%), Meranti (16,55%) dan Resak (16,34%).

Jenis lain yang kerapatan relatifnya cukup tinggi adalah Petaling (6,58%), Jambu-jambu (6,32%), Bintangur (4,50) dan Sarangan Batu (4,33%).

Tabel 23 Jenis pohon, jumlah pohon, kerapatan seluruh jenis, kerapatan suatu jenis dan kerapatan relatif suatu jenis pada HLPT

No Nama jenis pohon Jumlah

Pohon Kerapatan seluruh jenis (batang/ha) Kerapatan suatu jenis (batang/ha) Kerapatan relatif suatu jenis (%) 1 Adat 4 235,60 0,40 0,17 2 Aghatis (❩ ❬❭❪ ❫ ❴❵sp) 21 235,60 2,10 0,89 3 Arang 14 235,60 1,40 0,59 4 Bengkirai (❛❫❜ ❝❞❭sp) 49 235,60 4,90 2,08 5 Benuang (❡❢❪❜ ❣❞❤ ❞s su❣❭tr❭✐❭ Miq) 4 235,60 0,40 0,17 6 Bintangur (C❭❤❜p❫❥❤ ❤u sp) 106 235,60 10,60 4,50 7 Cemara 9 235,60 0,90 0,38 8 Dara-dara (❦❴yrst❴❢❭ sp) 33 235,60 3,30 1,40 9 Jambu-jambu (❛yz❥❬ ❴u sp) 149 235,6 14,90 6,32 10 Jelutung (❧❥❞r sp) 8 235,6 0,80 0,34 11 Keruing (❧❴pt❞❝❜❢❭rpus sp) 17 235,6 1,70 0,72 12 Kempas (♠❜❜❣pss❴ ❭ ❣❭❤❭❢❢❞✐ss Maing) 50 235,6 5,00 2,12 13 Laban 2 235,60 0,20 0,09 14 Lembasung 2 235,60 0,20 0,09 15 Meranti (❛❫❜r❞❭ sp) 390 235,60 39,00 16,55 16 Manggis 10 235,60 1,00 0,42 17 Nyatoh (♥ ❭❤❭❴quu sp) 599 235,60 59,90 25,42 18 Pasang (♦u❞❝❢ ♣s sp) 2 235,60 0,20 0,09 19 Plaju 46 235,60 4,60 1,95 20 Pelawan 32 235,60 3,20 1,36 21 Petaling 155 235,60 15,50 6,58 22 Pisang-pisang (❦❞qzt❴ ❭ prr❴s❤❜r Becc) 64 235,60 6,40 2,72 23 Perupuk (t❜p❫❜p❞❪ ❭❤u spp) 20 235,60 2,00 0,85 24 Resak (✉❭t❴❢❭ sp) 385 235,60 38,50 16,34 25 Rengas (✈ ❤ut❭❭pt❞❝❭ (King) Ding Hou)

27 235,60 2,70 1,15 26 S. Batu 102 235,60 10,20 4,33 27 Sepetir (❛❴✐✇❜r sp) 3 235,60 0,30 0,13 28 Senerai 14 235,60 1,40 0,59 29 Semangko 28 235,60 2,80 1,19 30 Simpur (❧❴❤ ❤❞ ✐❴ ❭sp) 7 235,60 0,70 0,29 31 Terentang (C❭❣p✐❜sp❞❝❣❭ sp) 3 235,60 0,30 0,13 32 Lainnya 1 235,6 0,10 0,04 Jumlah 2 356 - - 100,000

Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Tarakan (2005).

Menurut BPKH Wilayah IV Samarinda (2009) kondisi vegetasi di kawasan HLPT adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 24 berikut:

Tabel 24 Kondisi vegetasi pada kawasan HLPT berdasarkan koordinat dan lokasi pengamatan

Lokasi pengamatan Koordinat Kondisi vegetasi Kelurahan Kampung I

Skip (sekitar embung)

0020’18” LU – 117037’01” BT

Tanaman pertanian, semak dan belukar muda Kelurahan Juwata Laut

(hulu sungai Manggatal)

03023’27” LU – 117035’29,34” BT

Jenis vegetasi dominan adalah kelompok ①② ③④ ⑤⑥⑦ ⑧⑨⑥ ③⑨ ⑧⑤ ⑨⑤, jenis lainnya adalah ⑩⑨ ❶ ⑨ ❷❸② ❸ ❹sp,❺ ❻❼⑨④ ② ❽sp,①② ❶ ❶⑤ ❾② ⑨sp, ❿②yrst② ⑧⑨ sp,C⑨ ❾⑨ru sp,➀⑨❾②t② ⑨r sp,➁❾② ⑨ts sp➂❺⑦⑧⑨rt rpus sp,➃⑦❼⑦p p⑤④ ⑨❶u sp,➃ ②⑤ ⑨ts sp danC②❾ ❾⑨❹⑦ ❹❹u sp.

Kelurahan Juwata Laut (hulu sungai

Manggatal)

03023’34,52” LU – 117035’29,34” BT

Hutan sekunder yang didominasi oleh kelompok①②pt⑤⑦r⑧⑨⑨⑧⑤⑨ ⑤ ➂rp seperti Meranti (➀❼ ⑦⑤⑨r sp), Keruing (①②pt⑤⑥⑦⑧⑨rpus sp), Resak (➄⑨② ⑧⑨t sp), Merawan (➅⑦p⑤⑨ s⑨ ❾ ❻⑨❶ ) dan Tengkawang (➀❼ ⑦r⑤⑨ p② ❾⑨ ❾ ❻⑨ ). Terdapat pula jenis-jenis➃ ②⑤⑨ts sp,C⑨ ❾⑨ru sp, ➆❻⑤❾ ②⑨u sp, dan❺❻❼⑨ts sp

Juwata Kerikil (sekitar pos jaga Juwata Kerikil)

03023’10” LU – 117035’32” BT

Hutan sekunder dengan jenis vegetasi Meranti (➀❼ ⑦⑤⑨r sp), jelutung (①➇⑤⑨r⑧⑦❶ ⑨stut ), Keruing (①②pt⑤⑥⑦ ⑧⑨rpus sp), Keranji (①②⑨ ❶ ❶②u p ru ⑧⑤⑥❹u ), Tengkawang (➀❼ ⑦⑤⑨r p② ❾⑨ ❾ ❻⑨ ), Mendarahan (❿②yr② ⑧⑨st sp), Gaharu (❺qu❶ ⑨② ⑨r ➈⑤ ⑧ ⑧⑨② ⑨❾ ⑨r ) dan Resak (➄⑨② ⑧⑨t sp) Sumber: Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah IV Samarinda (2009).

Berdasarkan Tabel 24 dapat dinyatakan bahwa HLPT merupakan hutan sekunder yang didominasi oleh ➉➊pt➋➌ ➍➎➏➏ ➎ ➋➏ ➋rp , seperti Meranti (➐➑ ➍r➋➏ sp), Keruing (➉➊pt➋➌➍➎➏rpus sp), Resak (➒➏t➊➎➏ sp), Merawan (➓➍p➋➏ ➔➏→➣➏↔ ) dan Tengkawang (➐➑ ➍r➋➏ p➊→➏→➣➏ ). Namun demikian pada lokasi tertentu, seperti pada Kelurahan Kampung I Skip vegetasinya adalah tanaman pertanian, semak dan belukar muda.

Jenis pohon hutan sebagaimana diuraikan di atas merupakan jenis vegetasi hutan tropis Kalimantan. Dilaporkan Heriyanto dan Subiandono (2003) jenis tumbuhan yang mendominasi tegakan pada kelompok hutan Sungai Lekawai-Sungai Jengonoi Kabupaten Sintang Kalimanatan Barat adalah ➐➑➍r➋➏ prv➊↕➍↔➊➏ (meranti merah) ➛➋↔➏→➍➎➑↔➏y t➍➜➋→t➍➔➏ (medang) ➝➏↔➏quu ➍➞ ➍➏vtu (nyatoh) . ➜➏➎ ➌ ➍ptr (meranti kuning) ➟➔➊➠ ➋➌➍u ↔➍→xy zw➏➣➋➌➊ (ulin),

. p➊→➏→➣➏ (tengkawang) ➉➊pt➋➌ ➍➎➏rpus ➋↔➍→➣➏tus (keruing), dan . ↔➏➋➊vs

4.1.5 Lahan/Tanah

Menurut PPLH Universitas Mulawarman (2000) fisiografi HLPT terdiri dari formasi perbukitan dan gunung-gunung yang tidak terlalu tinggi dengan kisaran ketinggian 25 – 110 meter di atas permukaan laut. Keadaan lapangan tergolong bergelombang ringan sampai dengan berbukit, didominasi kelerengan agak curam (15 - 25%). Menurut Dishutbun Kota Tarakan (2008) kelerengan yang terdapat pada kawasan hutan Tarakan dapat dikelompokan mulai dari landai (8 - 15%) sampai dengan sangat curam (> 45%).

Menurut PPLH Universitas Mulawarman (2000) jenis tanah yang terdapat pada kawasan HLPT adalah alluvial dan kompleks podsolik, dengan jenis tanah yang dominan adalah podsolik. Menurut BPKH Wialayah IV Samarinda (2009) jenis tanah pada kawasan KPH Kota Tarakan merupakan orde Ultisol dengan jenis tanah Podsolik Merah Kuning dan Latosol.

Sifat kimia tanah pada kawasan HLPT adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 25 berikut:

Tabel 25 Sifat kimia tanah HLPT Lokasi/ Sampel pH (1:2,5) Kapasitas Tukar Kation (KTK) C – N P-tersedia K-tersedia C N (0,1 N KCl) (0,1N KCl) H2O KCl meq/100 gr % % Ppm Ppm 1 0-30 4,33 3,23 15,29 2,42 0,10 1,45 34,72 30-60 4,55 3,38 11,27 1,36 0,05 1,12 36,46 2 0-30 4,45 3,29 4,51 1,86 0,04 4,68 29,51 30-60 4,63 3,47 7,37 1,14 0,05 1,72 52,93 3 0-30 3,90 2,34 2,56 4,70 0,09 39,86 61,21 30-60 5,01 3,28 1,50 0,89 0,03 5,89 27,34 4 0-30 4,56 3,16 3,56 2,58 0,05 18,81 33,74 30-60 4,58 3,22 6,43 1,06 0,04 1,05 25,39 5 0-30 4,19 3,34 15,62 3,14 0,09 0,71 39,96 30-60 4,32 3,27 15,07 1,61 0,05 1,05 29,44 6 0-30 5,24 3,74 2,31 1,14 0,05 11,54 36,67 30-60 5,23 3,78 1,82 0,38 0,03 3,34 26,82

Sumber: Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Borneo (2008) ➡➢ ➤➢ ➥ Dishutbun Kota Tarakan (2008a).

Berdasarkan Tabel 25 di atas dapat dinyatakan hal-hal sebagai berikut: 1) Nilai pH (H20) tanah di HLPT berkisar antara 3,90 - 5,24. Kisaran nilai pH

tersebut menunjukan bahwa tanah HLPT masuk dalam kategori sangat masam sampai masam.

2) Nilai pH (KCl) tanah di HLPT berkisar antara 3,16 - 3,78. Kisaran nilai pH tersebut menunjukan bahwa tanah HLPT masuk kategori masam.

3) Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah di HLPT tergolong rendah, yaitu berkisar antara 1,50 - 15,62 meq/100 gr, hal ini menunjukkan bahwa jenis tanah HLPT memiliki kemampuan memengang dan menukarkan kation yang rendah.

4) Kadar Nitrogen total tanah di HLPT tergolong sangat rendah sampai rendah (0,03 - 0,1%), dan bila dibandingkan dengan skala kualitas lingkungan untuk kesuburan tanah (nitrogen), menunjukkan sangat rendah.

5) Kandungan C-organik tanah di HLPT tergolong sangat rendah sampai tinggi (0,38 - 4,70%), dan bila dibandingkan dengan skala kualitas lingkungan untuk kesuburan tanah (C-organik) adalah rendah sampai tinggi pada lapisan atas dan sangat rendah pada lapisan bawah.

6) Kandungan Phospor (P) tersedia tergolong sangat rendah sampai sangat tinggi (0,71 - 39,86 ppm).

7) Kandungan Kalium (K) tersedia tanah di HLPT tergolong sedang sampai sangat tinggi (25,39 - 61,21 ppm).

Status kesuburan tanah dan tekstur tanah pada kawasan HLPT adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26 Status kesuburan dan tekstur tanah HLPT No Kedalaman (cm) KTKE P2O5 K2O C-Organik Status Kesuburan Tanah Teksur Tanah 1 0-30 R SR S S R C 30-60 R SR S R R C 2 0-30 SR SR S R SR LS 30-60 R SR ST R R SL 3 0-30 SR ST ST T SR LS 30-60 SR R S SR SR LS 4 0-30 SR T S S SR LS 30-60 R SR S R R SL 5 0-30 R SR S T R C 30-60 R SR S R R C 6 0-30 SR S S R SR SL 30-60 SR SR S SR SR SL

Sumber: Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Borneo (2008) ➦➧ ➨➧ ➩ Dishutbun Kota Tarakan (2008a).

Keterangan : SR = Sangat Rendah; S = Sedang; T = Tinggi; R = Rendah; ST = Sangat tinggi; C =C➨➧y; SL =➫➧➭➦y ➯ ➲➧ ➩ ; LS =➯ ➲➧ ➩y ➫➧➭➦

Berdasarkan Tabel 26 dapat dinyatakan bahwa status kesuburan tanah HLPT adalah sangat rendah sampai rendah. Tekstur tanah HLPT adalah ➵➸➺y,

➻➺➼ ➽y ➸➾➺➚ dan➸➾➺➚y ➻➺➼ ➽ . 4.1.6 Air

Debit air pada sungai-sungai yang ada di sekitar HLPT, seperti pada sungai Slipi, Bengawan, Pamusian dan Amal adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 27 berikut:

Tabel 27 Debit air pada beberapa sungai di sekitar HLPT

C➪➶➵➹ p➾ ➘➼t

Debit air (m3dt-1) Sungai Slipi Sungai

Bengawan Sungai Pamusian Sungai Amal 1 0,092 0,042 0,133 0,027 2 0,056 0,038 0,095 0,028 3 0,066 0,062 0,121 0,040 4 0,082 0,051 0,201 0,083 5 0,492 0,093 0,113 0,090 6 0,053 0,053 0,249 0,181 7 0,145 0,139 0,528 0,198 8 - 0,084 0,123 0,251 9 - 0,064 0,225 0,136 10 - 0,069 0,079 -11 - 0,168 0,123 -12 - 0,089 0,124 -13 - 0,068 0,106 -14 - 0,642 0,137 -15 - 0,671 -

-Sumber: Bappeda Kota Tarakan (2009) dan Program Studi Elektro Fakultas Teknik Universitas Borneo (2009).

Berdasarkan Tabel 27 di atas dapat dinyatakan bahwa debit air Sungai Slipi berkisar antara 0,56 - 0,492 m3 dt -1, Sungai Bengawan 0,38 - 0,671 m3 dt-1, Sungai Pamusian 0,79 - 0,528 m3 dt-1, dan Sungai Amal 0,27 - 0,251 m3 dt-1. Hal ini menunjukan bahwa sungai-sungai yang berada di sekitar HLPT berdebit air kecil. Kecilnya debit air pada sungai-sungai yang berada di sekitar HLPT dapat dimaklumi, karena rata-rata lebar sungai hanya berkisar antara 0,48 - 1,03 m, rata-rata kedalam sungai hanya berkisar antara 0,15 - 0,28 m dan rata-rata kecepatan aliran air hanya berkisar 0,32 - 0,75 m3dt-1 (Tabel 28).

Tabel 28 Rata-rata lebar sungai, kedalaman sungai dan kecepatan aliran air pada beberapa sungai di sekitar HLPT

Nama sungai Rata-rata

Lebar sungai (m) Kedalaman sungai (m) Kecepatan aliran air (m dt-1) Sungai Slipi 0,53 0,28 0,32 Sungai Bengawan 0,48 0,15 0,75 Sungai Pamusian 1,03 0,20 0,38 Sungai Amal 0,50 0,27 0,35

Sumber: Bappeda Kota Tarakan (2009) dan Program Studi Elektro Fakultas Teknik Universitas Borneo (2009).

4.2 Karakteristik Kelompok Pemanfaat Sumberdaya HLPT

Pemanfaat sumberdaya HLPT terdiri atas 2 (dua) kelompok. ➴ ➷➬➮➱ ✃➱, masyarakat yang bermukim di dalam kawasan HLPT dengan jumlah 115 kelompok (rumah tangga). ❐➷❒u , Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan sebagai badan usaha yang memanfaatkan dan mengelola sumberdaya air yang bersumber dari HLPT

Distribusi frekuensi kelompok masyarakat pemanfaat sumberdaya HLPT yang bermukim di dalam kawasan HLPT berdasarkan jumlah anggota rumah tangganya adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 29. Berdasarkan Tabel 29 dapat dinyatakan bahwa jumlah anggota rumah tangga masyarakat pemanfaat didominasi oleh yang berjumlah 2 - 4 orang, yakni 61 (53,04%). Selanjutnya secara berturut-turut diikuti oleh yang berjumlah 5 - 7 orang sebanyak 44 (38,26%) dan > 7 orang sebanyak 10 (8,70%).

Tabel 29 Distribusi frekuensi kelompok masyarakat pemanfaat berdasarkan jumlah anggota rumah tangga

Jumlah anggota rumah tangga Frekuensi Persentase (%)

2 - 4 orang 61 53,04

5 - 7 orang 44 38,26

> 7 orang 10 8,70

Jumlah 115 100,00

Distribusi frekuensi masyarakat pemanfaat (responden) sumberdaya HLPT berdasarkan pendidikan, asal daerah, pekerjaan dan pendapatan rumah tangga

adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 30. Tabel 30 menunjukan bahwa pendidikan responden didominasi oleh yang berpendidikan Sekolah Dasar/Madrasah Iftidaiyah (40,87%). Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan Sutrisno (2003) di kelurahan yang berbatasan langsung dengan HLPT terdapat banyak penduduk yang tidak tamat SD dan hanya tamat SD, yakni masing-masing 1.125 orang (32,77%) di Kelurahan Kampung Satu Skip dan 297 orang (13,79%) di Kelurahan Juata Kerikil. Menurut Dishutbun Kota Tarakan (2008) Tingkat pendidikan masyarakat di kelurahan yang berbatasan langsung dengan HLPT, yaitu Kelurahan Kampung Satu Skip diketahui sebagian besar tingkat pendidikannya hanya Sekolah Dasar (SD) dan ada yang tidak tamat SD. Tabel 30 Distribusi frekuensi masyarakat pemanfaat sumberdaya HLPT

(responden) berdasarkan pendidikan, asal daerah, pekerjaan dan pendapatan rumah tangga

Uraian Frekuensi Persentase (%)

1. Pendidikan

a) Tidak pernah sekolah atau tidak tamat sekolah dasar b) Tamat SD/MI c) Tamat SMP/MTs d) Tamat SMU/SMK/MAN e) Tamat Diploma (D-1) f) Tamat Sarjana (S-1) 1 0,87 47 40,87 25 21,74 40 34,78 1 0,87 1 0,87 2. Asal daerah a) Kalimantan b) Jawa c) Sulawesi d) NTT-NTB e) Madura 23 20,00 40 34,78 46 40,00 3 2,61 3 2,61 3. Pekerjaan

a) Bekerja sendiri di bidang pertanian b) Bekerja sendiri di luar bidang pertanian c) PNS-TNI-POLRI d) Pegawai swasta e) Buruh 40 34,78 46 40,00 4 3,48 15 13,04 10 8,70

4. Pendapatan rumah tangga a) < Rp 1.000.000 b) Rp 1.000.000 – 1.500.000 c) Rp 1.500.000 – 2.000.000 d) Rp 2.000.000 – 2.500.000 e) > Rp 2.500.000 36 31,30 39 33,91 10 8,70 7 6,09 23 20,00

Berdasarkan asal daerahnya lebih didominasi oleh yang berasal dari Sulawesi (40,00%) dan Jawa (34,78%). Selanjutnya, berdasarkan pekerjaan didominasi oleh yang bekerja sendiri di luar bidang pertanian (40,00%) dan diikuti oleh yang berkerja sendiri di bidang pertanian (34,78%). Sedangkan berdasarkan pendapatan rumah tangga lebih didominasi oleh yang berpendapatan Rp 1.000.000 – 1.500.000 (33,91%) dan diikuti oleh yang berpendapatan kurang dari Rp 1000.000 (31,30%).

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan adalah satu-satunya badan usaha yang memanfaatkan sumberdaya HLPT yang dalam hal ini adalah sumberdaya air. Badan usaha ini memiliki jumlah tenaga kerja sesuai dengan status kepegawaian sebagaimana yang disajikan pada Tabel 31.

Tabel 31 Jumlah tenaga kerja PDAM Kota Tarakan berdasarkan status kepegawaian pada tahun 2007 – 2009

Status kepegawaian Tahun

2007 2008 2009

Direksi 3 1 1

Pegawai Tetap 52 47 54

Pegawai Negeri Sipil (PNS) 3 3 3

Honor Daerah 3 -

-Kontrak 42 36 33

Calon Pegawai Tetap 0 8 14

Jumlah 103 95 105

Sumber: PDAM Kota Tarakan (2010).

Berdasarkan Tabel 31 di atas dapat dinyatakan bahwa tenaga kerja PDAM Kota Tarakan sebagaian besar berstatus pegawai tetap, kemudian diikuti dengan yang berstatus kontrak, sedangkan yang paling sedikit adalah yang berstatus PNS. Diketahui pula bahwa jumlah tenaga kerja PDAM Kota Tarakan tahun 2008 lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja tahun sebelumnya (2007) dan jumlah tenaga kerja pada tahun 2009 lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya (2007 dan 2008).

4.3 Pemanfaatan Sumberdaya HLPT

Kota Tarakan memiliki luas hutan 4.894 ha (19,50% dari total daratan), dimana seluas 2.495 ha (51,00% dari total hutan) hutan produksi yang ada di

wilayah ini telah dieksploitasi sejak tahun 1970. Sementara, HLPT yang luasnya 2.400 ha diupayakan dipertahankan dan diharapkan dapat berfungsi sebagai pengatur tata air. Namun demikian, sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, terjadi pemanfaatan areal/lahan hutan (yang dipandang masih bebas). Pemanfaatan lahan hutan tersebut tentu saja guna memenuhi beragam kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan dasar (pokok) seperti pangan, pemukiman serta pendapatan (Dishutbun Kota Tarakan 2008).

Pemanfaatan lahan hutan tersebut tidak terbatas pada kawasan hutan produksi, tetapi juga pada kawasan hutan lindung. Berdasarkan observasi lapangan sebagian areal HLPT telah dikonversi ke berbagai penggunaan, seperti untuk pertanian tanaman semusin, kebun tanaman campuran dan peternakan ayam dan pemukiman. Menurut Dishutbun Kota Tarakan (2008) tidak kurang dari 30% areal hutan lindung telah dikuasai penduduk. Selain itu, lahan pada kawasan HLPT juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemukiman. Pemanfaatan lahan hutan lindung oleh masyarakat juga terjadi di daerah lain, seperti yang dilaporkan oleh Verbist dan Pasya (2004) Hutan Lindung Bukit Rigis seluas 8.265 ha menurut Bupati Lampung Barat hanya sekitar 25% yang masih berupa hutan asli, sisanya dihuni oleh hampir 2000 kepala keluarga yang berkebun kopi.

Tabel 32 Penggunaan lahan di dalam kawasan HLPT oleh kelompok masyarakat pemanfaat berdasarkan luas rata-rata, tertinggi dan terendah

Uraian Penggunaan lahan Rumah dan halaman Kebun dan ladang Kandang ayam Kolam ikan Luas rata-rata (m2) 280 16.679 304 412 Luas tertinggi (m2) 2.410 60.000 1.134 1.200 Luas terendah (m2) 24 2.500 90 24

Luas rata-rata, luas tertinggi dan luas terendah penggunaan lahan HLPT oleh masyarakat pemanfaat untuk rumah dan halaman, kebun dan ladang, kandang dan kolam ikan di dalam kawasan HLPT adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 32. Tabel 32 menunjukan bahwa rata-rata luas penggunaan lahan yang tertinggi adalah untuk kebun dan ladang, yakni 16.679 m2. Selanjutnya, luas tertinggi berdasarkan penggunaannya adalah 60.000 m2 (6 ha),

yakni untuk kebun dan ladang. Sedangkan luas lahan terendah berdasarkan penggunaannya adalah 24 m2, yakni untuk rumah dan kolam ikan.

Masyarakat yang menguasai lahan pada kawasan HLPT awalnya adalah karyawan PT. Aghatis dan Pertamina yang membuka lahan untuk kegiatan pertanian, karenanya terdapat masyarakat yang melakukan pembukaan lahan untuk kegiatan pertanian sebelum kawasan ini ditunjuk sebagai HLPT (sebelum tahun 1979). Setelah ditunjuk dan ditetapkannya sebagai HLPT bahkan hingga saat ini, aktivitas di dalam kawasan masih tetap berlangsung. Hal ini membuktikan bahwa hak-hak pihak ketiga belum terselesaikan hingga saat ini.

Pemilikan lahan di dalam kawasan HLPT oleh masyarakat dilengkapi dengan berbagai perizinan. Distribusi frekuensi kelompok masyarakat pemanfaat (responden) berdasarkan perizinan pemilikan lahan dan cara yang ditempuh masyarakat untuk memperoleh lahan/tanah disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33 Distribusi frekuensi kelompok masyarakat pemanfaat (responden) berdasarkan perizinan pemilikan lahan/tanah dan cara memperoleh lahan/tanah

Uraian Frekuensi Persentase (%)

1. Perizinan pemilikan lahan/tanah a) Serifikat b) Izin lurah/camat c) Izin pemilik d) Tanpa izin 11 9,57 81 70,43 13 11,30 10 8,70

2. Cara memperoleh lahan/tanah

a) Membuka sendiri 28 24,35

b) Membeli 55 47,83

c) Menyewa 16 13,91

d) Membeli dan membuka sendiri 7 6,09

e) Warisan 7 6,09

f) Pinjam pakai 2 1,73

Berdasarkan Tabel 33 di atas dapat diketahui bahwa perizinan pemilikan lahan didominasi oleh izin dari lurah/camat, yakni 81 (70,43%). Selain itu, diketahui terdapat lahan/tanah yang dikuasai masyarakat dengan bukti hak berupa sertifikat, yakni dengan frekuensi 11 (9,57%). Selanjutnya berdasarkan cara memperolehnya lebih didominasi dengan cara membeli (47,83%). Menurut Mac Pherson (1978) yang dikutip Peluso (2003) apabila kemampuan mendapatkan

manfaat dari sesuatu diperoleh melalui hak-hak berdasarkan hukum (peraturan), biasanya disebut “pemilikan”. Selanjutnya menurut Peluso (2003) akses ilegal diperoleh melalui hak yang bertentangan dengan yang disetujui oleh adat, kebiasaan atau hukum. Akses ilegal adalah menikmati manfaat dari sesuatu dengan cara yang tidak disetujui secara sosial oleh negara dan masyarakat.

Perusahaan Daerah Air Minum Kota Tarakan merupakan perusahaan yang mengelola air dengan sumber air atau bagian hulunya adalah HLPT, dimana kapasitas terpasang instalasi air, jumlah produksi air, jumlah distribusi air dan jumlah pelanggannya sebagaimana disajikan pada Tabel 34. Berdasarkan Tabel 34 di atas dapat disimpulkan bahwa kapasitas terpasang instalasi air PDAM Kota Tarakan sejak tahun 2007 hingga tahun 2009 secara keseluruhan cenderung tetap, yaitu 400 l dt-1. Jumlah produksi air pada tahun 2008 dan 2009 cenderung menurun jika dibandingkan dengan tahun 2007, namun jumlah distribusi air dari tahun 2007 hingga tahun 2009 cenderung meningkat. Sedangkan jumlah pelanggan PDAM semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Tabel 34 Kapasitas terpasang instalasi air, jumlah produksi air, jumlah distribusi air dan jumlah pelanggan PDAM Kota Tarakan tahun 2007 – 2009

Uraian Tahun

2007 2008 2009

Kapasitas terpasang instalasi air PDAM (l dt-1) a) Kampung Bugis (l dt-1) b) Persemaian (l dt-1) c) Juata Laut (l dt-1) d) Kampung Satu 400 120 155 35 90 400 120 15 35 90 400 120 155 35 90 Jumlah produksi air (m3th-1) 8.140.617 7.900.492 8.103.582 Jumlah distribusi air (m3th-1) 6.753.816 7.311.260 7.863.018

Jumlah pelanggan 11.873 12.561 13.108

Sumber: BPS Kota Tarakan (2009) dan PDAM Kota Tarakan (2010).

Guna menjamin pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat Kota Tarakan, maka di dalam kawasan HLPT dibangun embung (penampungan air) yang diharapkan dapat berfungsi sebagai sumber air baku pada saat musim kemarau. Hal ini cukup beralasan, karena menurut Riswanto (2007) sifat khas yang terkandung di dalam kawasan hutan lindung mencakup beberapa aspek antara lain sebagai kawasan resapan air dimana kawasan hutan lindung mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan yang akan mengisi air

bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air, mempunyai manfaat untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air, mampu mempertahankan kelestarian fungsi danau atau waduk, serta mampu mempertahankan kelestarian fungsi sungai.

Berkenaan dengan pembangunan embung di dalam kawasan HLPT yang dimaksudkan untuk penampungan air, perizinannya adalah dari Pemerintah Kota Tarakan. Perizinan tersebut berupa Surat Penunjukan Lokasi (SPL) yang dikeluarkan oleh Walikota Kota Tarakan.

5.1 Kapasitas Organisasi Pengelola HLPT

ilai skala kapasitas inas Ïehutanan Ðertambangan dan Ñnergi (ishutamben) Ïota Òarakan didominasi oleh modus skala kapasitas Ó (tiga)Ô sedangkan nilai skala kapasitas Õnit Ðelaksana Òeknis Ïesatuan Ðengelolaan

Öutan ×indung (ÕÐÒØÏÐ Ö×) didominasi oleh modus skala kapasitas Ù (satu)Ú Ûengacu pada Üateson Ýt ÞßÚ (àáá â) dinilai berdasarkan indikatorØindikator kapasitas organisasi ishutamben memiliki kapasitas cukup tinggi atau memiliki kemampuan cukup tinggi untuk mencapai sasaran hasil ãang direncanakanÔ sedangkan ÕÐÒØÏÐ Ö× Ûodel Òarakan memiliki kapasitas rendah atau memiliki kemampuan rendah untuk mencapai sasaran hasil ãang direncanakan (Òabel ÓäÔ ×ampiran Ù dan à)Ú

Òabel Óä åkala kapasitas organisasi dan wilaãah prioritas perbaikan kapasitas organisasi pengelola Ö×ÐÒ

ækala kapasitas organisasi çilaèah prioritas perbaikan kapasitas organisasi érganisasi êilai

modus

deskripsi kapasitas

æub indikator prioritas perbaikan kapasitas

ëishutamben ì íapasitas

organisasi cukup tinggi (îï ðñòóñt ô õ ö÷õ)

ø) ëiversifikasi sumber pendanaan organisasiù ú) ûenilaian pencapaian misi organisasiù ì) ûroses pembuatan keputusanù

ü) ýubungan kerjasama dengan organisasi pemerintah non pemerintahù

þ) ÿvaluasi dampak dan relevansi programù û✁ ✂íû ý✄ ☎✆del ✁arakan ø íapasitas organisasi rendah (✝ ö✞ ô îï ðñòóñt )

ø) ûenilaian pencapaian misi organisasiù ú) ûroses pembuatan keputusanù ì) íebijakan dan prosedur (standar

operasional)ù

ü) ûroses rekruitmen✟ orientasi dan

pengembangan staf✟ supervisi dan evaluasiù þ) ✠encana strategis bidang keuangan dan

diversifikasi sumber pendanaan organisasiù ✡) ýubungan kerjasama dengan organisasi

pemerintah dan non pemerintahù ☛) ÿvaluasi dampak dan relevansi programù

Üerdasarkan Òabel Óä dapat dinãatakan bahwa baik pada ishutamben maupun pada ÕÐÒØÏÐ Ö× Ûodel Òarakan masih ditemukan indikator kapasitas organisasi ãang menjadi prioritas perbaikan kapasitas organisasiÚ Ðrioritas perbaikan kapasitas ishutamben meliputi penilaian pencapaian misi organisasiÔ

proses pembuatan keputusan diversifikasi sumber pendanaan organisasi hubungan kerjasama dengan organisasi pemerintah dan non pemerintah evaluasi dan relevansi program rioritas perbaikan kapasitas ✑✏✒✓ ✔✏ ✕✖✗odel arakan meliputi penilaian pencapaian misi organisasi proses pembuatan keputusan kebijakan dan prosedur (standar operasional) proses rekruitmen orientasi dan pengembangan stafsupervisi dan evaluasi stafrencana strategis bidang keuangan dan diversifikasi sumber pendanaan organisasi hubungan kerjasama dengan organisasi pemerintah dan non pemerintah serta evaluasi dampak dan relevansi program

erdasarkan pada berbagai prioritas perbaikan kapasitas ishutamben dan ✑✏✒ ✓ ✔✏ ✕✖ odel arakan dan merujuk pada ✚✛✜ ✢ ✣tu✤✜ ✥✦✜norvny (★ ✩ ✩✪) ateson t l (★✩✩ ☞) dan ✫✬n✜ ✭t ✮✣y o ✰✤✜✣tr ✚✱oronto✛✜t nt✣✤✬o✚✤ ✬llum

oun✭✣tonn t✛✜ ✴✣yt✤✜✜ oun✭✣ton (★✩✩✌) dapat dinatakan bahwa pada masingmasing indikator kapasitas organisasi masih terdapat kelemahan kelemahankelemahan tertentu elemahan tersebut adalah sebagai berikut () pada indikator visi dan strategi adalah dalam hal melakukan penilaian pencapaian misi organisasi () pada indikator kepemimpinan adalah dalam hal pendelegasian wewenang dalam proses pembuatanpengambilan keputusan () pada indikator manajemen organisasi adalah dalam hal keteraturanketaatan mengikuti standar kebijakan dan standar prosedur operasional () pada indikator sumberdaa manusia adalah dalam hal proses rekruitmen staf orientasi dan pengembangan staf supervisi dan evaluasi staf () pada indikator manajemen keuangan adalah dalam hal rencana strategis bidang keuangan dan diversifikasi sumber pendanaan () pada indikator kemitraankerjasama adalah dalam hal membangun kerjasama dengan organisasi pemerintah dan non pemerintah dan () pada indikator kapasitas program adalah dalam hal melakukan evaluasi dampak dan relevansi program

elemahankelemahan tersebut harus diperbaiki sebagai contoh diversifikasi sumber pendanaan organisasi menjadi prioritas perbaikan kapasitas organisasikarena diversifikasi sumber pendanaan penting bagi sebuah organisasi enurut atricia (★✩✩ ✪) idealna ✼✩% dari anggaran pendapatan lembaga diperoleh dari minimal lima sumber dana ang berbeda ila lembaga puna dua

Dokumen terkait