BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7
2. Karakteristik Tempat Tinggal
Lingkungan mempengaruhi kemampuan dalam berkonsentrasi untuk belajar. Seseorang akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasi, jika mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasi. Jika seseorang dapat memaksimalkan konsentrasi, ia mampu menggunakan kemampuannya pada saat dan suasana yang tepat. Jika seseorang termasuk orang yang suka belajar di tempat yang sepi dan tenang, sementara temannya mengajak belajar di rumahnya sambil memasang musik dengan keras maka ia tidak dapat konsentrasi belajar.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar antara lain
(http://www.ut.ac.id/html/Strategi-bjj/gaya2.html):
a) Suara. Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap suara,
yaitu ada orang yang menyukai belajar sambil mendengarkan musik keras, musik lembut, ataupun nonton TV; suka belajar di tempat yang ramai, dan bersama teman; tidak dapat berkonsentrasi jika banyak orang ada di sekitarnya; bagi orang tertentu, musik atau suara apapun akan mengganggu konsentrasi belajar mereka; dan beberapa orang tertentu tidak merasa terganggu baik ada suara ataupun tidak. Mereka tetap dapat berkonsentrasi belajar dalam keadaan apapun.
b) Pencahayaan. Pencahayaan merupakan faktor yang pengaruhnya kurang
begitu dirasakan dibandingkan dengan pengaruh suara. Hal itu mungkin karena relatif mudah mengatur pencahayaan sesuai dengan yang dibutuhkan.
c) Temperatur. Pengaruh temperatur terhadap konsentrasi belajar pada
umumnya tidak terlalu dipermasalahkan orang. Namun, reaksi tiap orang terhadap temperatur berbeda. Ada yang memilih belajar di tempat dingin, atau sejuk; sedangkan orang yang lain memilih tempat yang hangat.
d) Desain belajar. Jika seseorang sedang membaca, menulis, atau
meringkas modul yang membutuhkan konsentrasi akan merasa lebih nyaman untuk melakukannya sambil duduk santai di kursi, sofa, tempat tidur, tikar, karpet atau duduk santai di lantai. Jika salah satu cara tersebut merupakan cara yang membuatnya lebih mudah berkonsentrasi untuk belajar, maka mungkin termasuk orang yang membutuhkan
desain informal atau cara belajar tidak formal yang santai. Jika
mungkin akan lebih mudah berkonsentrasi jika belajar dengan kursi dan meja belajar. Tempat belajar yang dilengkapi dengan kalimat-kalimat positif, foto, gambar, atau jadwal belajar dapat meningkatkan semangat belajar.
Malas belajar timbul dari beberapa sebab antara lain karena (Sixtus Tanje, 2008 dalam http://keluargabahagia. com/index.php?option=com_ content&task=view&id=52):
a). Sikap orang tua. Sikap orang tua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar ataupun sebaliknya orang tua terlalu berlebihan perhatiannya, membuat anak malas belajar. Banyak orang tua yang menuntut anak belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut, tidak sedikit anak yang stres sehingga nilai yang diperolehnya kurang memuaskan.
b). Suasana belajar di rumah bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Contohnya dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games),
seperti game boy, game watch maupun play stations. Kondisi seperti ini
berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik. c). Sarana belajar. Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat
mendukung minat belajar. Kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar. Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku-buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Tidak tersedianya buku-buku pelajaran, buku tulis, dan alat-alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.
Enam langkah mengatasi malas belajar anak yang dapat membantu orang tua dalam membimbing dan mendampingi anak yang bermasalah dalam belajar, antara lain (Sixtus Tanje, 2008 dalam http://keluargabahagia. com/index.php?option=com_ content&task=view&id=52):
a) Mencari informasi. Orang tua sebaiknya bertanya langsung kepada anak untuk memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Orang tua harus mencari situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Kemudian anak diajak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Setiap suasana yang santai dapat dimanfaatkan untukbertanya kepada anak seperti: saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
b) Membuat kesepakatan bersama antara orang tua dan anak. Kesepakatan
dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orang tua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.
c) Menciptakan disiplin. Menciptakan kedisiplinan kepada anak bukanlah
suatu hal yang mudah jika tidak dimulai dari orang tua. Orang tua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orang tua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan belajar, buku-buku pelajaran, mengingatkan tugas-tugas sekolah, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas kampus.
d) Menegakkan kedisiplinan. Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan
bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, mencubit, atau memukul). Cara untuk mengalihkannya menggunakan konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak belajar, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, menyulam, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.
e) Ketegasan sikap. Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orang tua
tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat maupun anak berlaku tidak jujur melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam belajar. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan
sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.
f) Menciptakan suasana belajar. Menciptakan suasana belajar yang baik
dan nyaman merupakan tanggung jawab orang tua. Setidaknya orang tua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orang tua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian. Ternyata malas belajar yang dialami oleh anak banyak disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu sebelum anak terlanjur mendapat nilai yang tidak memuaskan dan membuat malu orang tua, hendaknya orang tua segera menyelidiki dan memperhatikan minat belajar anak. Selain itu, menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang.
Penelitian yang dikutip oleh Zakiah Drajat dalam http:// www.mailarchive.com/[email protected]/msg05760.html, menyebutkan bahwa perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar dan 6% sisanya oleh gabungan dari berbagai stimulus. Dalam perspektif ini pengaruh lingkungan terhadap pembentukan kepribadian sangat besar. Suasana rumah tangga akan menjadi pemandangan setiap hari untuk anak-anak. Jika rumah tangga tidak kondusif, anak menjadi tidak betah di rumah, lari keluar rumah dan bergabung dengan teman sebaya. Jika teman-teman sebaya juga mereka yang tidak betah di rumah, mereka akan membentuk komunitas tersendiri yang pada umumnya rentan terhadap pengaruh negatif. Banyak orang menyediakan sarana fisik yang sangat lengkap untuk anak-anak dan keluarganya di dalam rumahnya, tetapi lupa menyediakan sarana psikologis.
Menurut peneliti, lingkungan tempat tinggal yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh mahasiswa terhadap
keadaan di tempat tinggal dan sekitarnya secara fisik maupun non fisik dalam jangka waktu tertentu.
D. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Slameto (1995:2), belajar adalah:
suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sementara menurut Winkel (1996:53), belajar adalah:
suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
(Ridwan, 2008 dalam http://ridwan202.wordpress.com/2008/05/03/ ketercapaian-prestasi-belajar/).
Prestasi belajar adalah istilah yang telah dicapai individu sebagai usaha yang dialami secara langsung serta merupakan aktifitas yang bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, kecerdasan, kecakapan, dalam kondisi serta situasi tertentu (Depdikbud, 1994:298). Sementara Winkel (1996:162) mengatakan bahwa:
prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.
Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17), prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga
kriteria tersebut (Ridwan, 2008 dalam http://ridwan202. wordpress. com/2008/05/03/ ketercapaian-prestasi-belajar/ [03-05-2008]).