Tugas Di Lingkungan Perum Jasa Tirta II Jatiluhur, 4 – 7 April 2005
USAHA BIDANG AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI 1. Pendahuluan
2. Karakteristik Usaha Agribisnis Dan Agroindustri
Dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia akan selalu membutuhkan makanan kapan dan dimanapun dia berada, oleh karena itu bidang pertanian merupakan bidang strategis bagi kehidupan manusia. Dengan demikian mengembangkan usaha dalam bidang pertanian, baik berupa produk mentah, bahan setengah jadi maupun produk jadi pada dasarnya merupakan kegiatan yang memiliki prospek sangat baik dan orientasinya bisa seumur hidup apabila sistem tata niaga dan pengelolaannya baik.
Mengembangkan usaha dalam bidang agribisnis dan agroindustri, baik berupa produk mentah, bahan setengah jadi maupun produk jadi merupakan kegiatan yang memiliki prospek sangat baik. Hal ini disebabkan oleh karena selama manusia hidup akan selalu memerlukan sandang, pangan, pakan dan papan untuk kebutuhan hidupnya, yang notabene sumber bahan bakunya berasal dari kegiatan bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Jadi usaha dalam bidang ini orientasinya bisa seumur hidup.
Permasalahannya adalah dalam mengembangkan usaha bidang ini banyak kendala yang dihadapi, mulai dari ketersediaan bahan baku, aspek kesehatan, periode waktu atau umur konsumsi hingga cara penanganannya.
Karakteristik produk pertanian pada umumnya dipengaruhi oleh musim, mudah rusak (karena fisik, kimia atau bilologis) dan bentuknya beragam sehingga bagi kebanyakan orang awam
5
mengelola kegiatan agribisnis atau agroindustri dianggap beresiko tinggi disamping untuk dapat menghasilkan membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan usaha lainnya. Sebagai contoh misalnya : untuk dapat menghasilkan gabah tanaman padi membutuhkan waktu proses sekitar 3 – 4 bulan dari sejak tanam sehingga selama itu petani belum dapat menikmati dari hasil usahanya. Sedangkan mereka yang mengolah gabah menjadi nasi (usaha catering misalnya) dapat langsung mendapatkan hasilnya antara 1 – 2 hari.
Ada beberapa karakteristik umum yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan produk pertanian, antara lain yaitu :
1. Umur tanam hingga produksi
2. Lama konsumsi dari produk pertanian tersebut (umur simpan)
3. Variabilitas bahan untuk diolah dari satu produk ke produk yang
lain
4. Cara penanganan pasca panen, penyimpanan dan penyajian
5. Kesesuaian dengan standar yang ditetapkan
6. Penampakan produk dalam rangka menarik minat konsumen
7. Aspek lingkungan pemasaran
Semua faktor di atas akan berdampak pada keberhasilan dalam pemasaran produk kepada konsumen. Idealnya produk pertanian yang akan dipasarkan memiliki umur konsumsi yang lama, mudah diolah menjadi berbagai macam produk, mudah dalam mengolah dan menyajikannya, tidak sulit dalam menyajikan kemasannya, memenuhi standar yang berlaku umum untuk produk pangan terutama yang menyangkut kesehatan dan dapat dipasarkan di berbagai tempat. Untuk mendapatkan produk pertanian yang ideal tersebut tidak mudah, oleh karena tidak semua bahan memiliki karakteristik yang sama, yang pada akhirnya akan membawa konsekuensi kepada biaya produksi. Hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam kaitannya
6
dengan aspek pemasaran produk adalah strategi pemasaran yang bagaimana yang akan dipilih oleh perusahaan dalam kaitannya dengan produk yang dibuat. Porter (1985) mengemukakan bahwa pada dasarnya ada 3 strategi penting untuk mendapatkan kesuksesan dalam bidang pemasaran produk, yaitu :
1. Keunggulan dalam biaya / ongkos. Pemasaran produk dengan
mengandalkan keunggulan dalam biaya, misalnya menjual produk dengan harga yang murah namun dengan kualitas yang baik. Hal ini bisa dilakukan karena perusahaan mampu menghemat biaya produksi dalam proses produksi, baik pada pemilihan bahan baku, proses, kemasan maupun biaya untuk tenaga kerja.
2. Keunggulan karena adanya ciri pembeda atau keunikan dari
produk yang dibuat (diferensiasi). Strategi ini menekankan pada aspek keunikan pada produk yang dipasarkan, baik penekanan pada merk, bentuk, logo, kualitas atau image dari produknya itu sendiri. Untuk strategi ini biasanya diikuti dengan biaya yang tinggi.
3. Keunggulan karena memfokuskan pada target atau segmen pasar
tertentu. Strategi ini mengandalkan pada suatu fokus tertentu, misalnya hanya mengkhususkan pada segmen pasar “remaja” atau orang tua saja.
Ke tiga model strategi yang dapat ditempuh tersebut pada akhirnya akan menentukan karakteristik produk yang akan dibuat hingga perencanaan investasi dan produksinya. Selanjutnya Porter (1985) menyatakan bahwa hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menjalankan suatu usaha adalah beberapa elemen penting yang dinamakan dengan rantai nilai (value chain) dari suatu usaha (Gambar 1).
7 Pendukung Logistik Manajemen produksi Sistem distribusi Pemasaran Pelayanan pada pelanggan
Gambar 1. Rantai Nilai Kegiatan Usaha
Sebagai rantai awal yang sangat penting dan mendukung produksi suatu usaha, tidak terkecuali kegiatan pertanian adalah dukungan logistik atau supplier. Bagian ini merupakan unsur penunjang utama dalam kegiatan usaha yang terutama bergerak dalam bidang produksi komoditas pertanian. Keberhasilan suatu usaha yang memproduksi suatu komoditas sangat ditentukan oleh pengelolaan sistem produksi dan hubungannya dengan pemasok bahan baku atau logistik. Dengan demikian bagian inipun sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang tinggi bila dikembangkan dengan baik, jadi tidak hanya mengandalkan kepada kekuatan dalam memproduksi saja.
Manajemen produksi dalam hal ini merupakan faktor utama yang menentukan jalannya roda usaha produksi komoditas. Sedangkan sistem distribusi merupakan bagian penyalur komoditas yang telah dibuat pada tingkat penyaluran produk dalam jumlah yang banyak sebelum sampai kepada pelanggan atau pemakai. Untuk dapat menyampaikan produk yang telah diproduksi diperlukan adanya jaringan pemasaran pemasaran yang memadai sebagai kepanjangan tangan jaringan distribusi. Produk yang diproduksi dan dipasarkan tidak akan bertahan lama untuk tetap diminati oleh pemakai apabila aspek pelayanan kepada pelanggan (Service & maintenance) diabaikan.
Melihat keterkaitan diantara variabel yang satu dengan variabel lainnya dari rantai nilai kegiatan usaha tersebut, dapatlah dipahami bahwa kebanyakan perusahaan-perusahaan yang bertaraf
8
internasional berhasil dalam menjalankan usahanya karena mereka mampu menjalankan seluruh variabel yang ada pada rantai nilai tersebut. Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan perusahaan di Indonesia, dimana masih banyak diantara perusahaan tersebut yang belum dapat memadukan semua variabel rantai nilai menjadi satu kesatuan yang utuh dan terintegrasi sehingga menciptakan suatu usaha yang kuat. Sebagai contoh kasus misalnya pada bidang agribisnis.
Kebanyakan wirausaha agribisnis di Indonesia sudah mampu mengelola sistem produksi (manajemen produksi) dengan baik, namun ketergantungan produsen pada pemasok (supplier) baik itu pupuk, benih atau sarana produksi lainnya maupun kepada jaringan distribusi dan pemasarannya masih lemah. Kondisi ini seringkali menyebabkan produsen produk-produk pertanian (petani) menderita kerugian karena adanya permainan dari pemasok bahan baku, disamping itu masalah lain adalah spekulan yang bergerak di sektor distribusi, pemasaran dan pelayanan pelanggan yang turut mengatur sistem sedemikian rupa produsen berada pada posisi tawar menawar yang lemah.
Dalam pemilihan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh calon wirausaha (UKMK) baru baik dalam bidang agribisnis maupun agroindustri terlebih dahulu harus dipahami masing-masing karakteristik kegiatan dalam ke dua bidang usaha tersebut. Hal ini penting mengingat untuk kegiatan agribisnis lebih menekankan pada kegiatan di lapangan (lahan usaha tani) sementara kegiatan agroindustri dilakukan dalam ruang usaha (pabrik atau bangunan unit produksi). Secara umum kegiatan agribisnis memiliki perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan kegiatan agroindustri. Beberapa perbedaan tersebut antara lain :
9
Tabel 1. Karakteristik Agribisnis dan Agroindustri
NO AGRIBISNIS AGROINDUSTRI
1 Kegiatan produksi pada lahan
dan dipengaruhi oleh kondisi topografi, iklim, karakteristik tanah dan tata air
Kegiatan produksi dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku yang dihasilkan dari kegiatan agribisnis
2 Produktivitas hasil dipengaruhi
oleh aplikasi teknis dilapangan Produktivitas hasil dipengaruhi oleh kreatifitas dan tingkat pemanfaatan teknologi proses
3 Pemeliharaan tanaman sebagai
penghasil produk perlu intensif Penanganan produk pasca panen menjadi titik kritis 4 Tingkat resiko keberhasilan
usaha tinggi karena tergantung pada alam
Resiko keberhasilan usaha relatif lebih kecil karena dapat diprediksi lebih baik dan tidak tergantung pada alam
5 Terfokus pada satu produk (dari
satu komoditas hanya dihasilkan satu produk)
Dari 1 input sumber bahan baku dapat dihasilkan produk yang bervariasi
6 Produk yang dihasilkan mudah
rusak, umur konsumsi pendek Produk yang dihasilkan lebih tahan lama, umur konsumsi lebih lama
7 Tidak ada nilai tambah karena
nilai jual terpaku pada satu produk akhir komoditasnya
Ada nilai tambah, karena dari satu sumber bahan baku dapat dihasilkan beragam produk olahan dengan berbagai variasi harga
8 Membutuhkan waktu cukup lama untuk menghasilkan
produk (± 3 bulan hingga
tahunan)
Waktu pengolahan produk relatif singkat (hitungan jam atau hari)
9 Kegiatan dilakukan di lahan
usaha tani Kegiatan di lakukan dalam ruang unit produksi
Sebagai bahan pertimbangan bagi pelaku usaha yang akan terjun dalam bidang agribisnis ataupun agroindustri, perlu kiranya diketahui terlebih dahulu tahapan-tahapan kegiatan yang harus dilakukan. Beberapa tahapan kegiatan yang biasa dilakukan dalam bidang agribisnis adalah sebagai berikut :
10 KO NDISI PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOMODITAS SEGMENTASI PASAR PERSIAPAN LAHAN ANALISIS KESESUAIAN LAHAN, TANAH, KETINGGIAN, IKLIM
PENYIAPAN BENIH, BIBIT
PENYIAPAN TANAM, PEMUPUKAN, IRIGASI, DRAINASE PEMELIHARAAN, PEMBERANTASAN HAMA & PENYAKIT PANEN
PENANG ANAN & PEMASARAN
11
Dari tahapan tersebut, maka faktor penentu keberhasil usaha agribisnis terletak pada uapaya pemenuhan :
- Benih, bibit
- Pupuk
- Pengolahan tanah
- Pestisida
- Irigasi & drainase
- Pemeliharaan
- Pemanenan
- Keputusan dalam memasarkan produk (cara ijon atau dengan
pemasaran sendiri )
Apabila diamati dari beberapa faktor tersebut, sebenarnya masing-masing elemen dapat pula dijadikan sebagai bagian dari unit usaha lain yang dapat dikembangkan, sebagai contoh misalnya :
- Usaha penyedia benih, bibit, pupuk, pestisida, peralatan dan
mesin
- Usaha jasa penyewaan peralatan dan mesin pertanian
- Usaha pemasaran dan transportasi produk
Pengamatan di lapangan menunjukkan beberapa kegiatan agribisnis yang banyak mendapat dukungan dari pemerintah khususnya melalui BUMN antara lain seperti yang disajikan pada gambar. Dari sekian banyak yang mendapatkan bantuan, dalam kurun waktu 2 – 4 tahun usaha yang dibina telah mampu berkembang dan meningkatkan kegiatan usahanya.
12
Sumber : CDC Telkom (2004)
Gambar 3. Sektor Pertanian yang Mendapat Dukungan Pendanaan Dari BUMN sebagai Dana Kemitraan bagi UKMK
Pengalaman yang diperoleh dari Mitra Pembina atau Mitra Pendamping Usaha Kecil Bidang Agribisnis menunjukkan bahwa tidak semua usaha bidang pertanian, peternakan dan perikanan dapat memberikan keuntungan yang signifikan bagi pelaku usahanya. Dengan demikian bagi wirausahawan pemula yang akan terjun dalam bidang ini, pemilihan komoditas agribisnis yang akan dilakukan menjadi penting. Sebagai gambaran umum misalnya dari sekian banyak tanaman hortikultura, ada beberapa komoditas yang dapat memberikan nilai pendapatan yang signifikan bagi pelaku usahanya. Dari contoh pada Tabel 2 diketahui bahwa tidak semua komoditas tanaman akan memberikan keuntungan (profit) yang signifikan bagi petani. Komoditas dengan tingkat produksi per satuan luas, profit per satuan produk dan tingkat utilisasi lahan produksi yang lebih tinggi, Kemungkinan diversifikasi olahan produk (untuk agroindustri) lebih banyak, titik pulang modal (break even point) periode kembali modal (pay back period) usaha tani yang sesingkat mungkin setidaknya harus menjadi acuan pemilihan komoditas yang akan diusahakan.
13
Tabel 2. Profit dan Titik Impas Usaha Budidaya Tanaman Menurut Prioritas Yang Diusahakan Petani Per Hektar *)
NO KOMODITAS BIAYA PRODUKSI (Rupiah) PENDAPATAN PRODUKSI (Rupiah) PROFIT PER MUSIM (Rupiah) PROFIT PER BULAN
(Rupiah) BEP (kg) BEP (ha) 1 Jagung 3122500 4400000 1.277.500 425833 3356 0.61 2 Cabe Merah 27041500 48000000 20.958.500 6986167 6724 0.42 3 Singkong 4092500 9000000 4.907.500 613438 11052 0.37 4 Tomat 11325000 45562500 34.237.500 8559375 2081 0.06 5 Kacang Tanah 3302500 4500000 1.197.500 399167 1251 0.63 6 Bawang Merah 11052000 8925000 -2.127.000 -709000 358630 30.14 7 Kacang Merah 4552500 9000000 4.447.500 1482500 1080 0.36
*) Menurut hasil studi kasus di Desa Palasari, Kec. Cibiru, Kota Bandung (2004).
Berbeda dengan kegiatan agribisnis, kegiatan agroindustri pada dasarnya merupakan kegiatan tindak lanjut dari usaha yang dilakukan dalam agribisnis dimana output dari agribisnis merupakan bahan baku bagi kegiatan agroindustri. Dengan demikian tahapan kegiatannya merupakan kelanjutan dari kegiatan agribisnis, yaitu sebagai berikut :
KONDISI PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOMODITAS SEGMENTASI PASAR PENGOLAHAN BAHAN BAKU PRODUK AGRIBISNIS PENGEMASAN & PEMASARAN
14
Pengolahan produk pertanian agribisnis menjadi produk agroindustri dapat dilakukan sesuai dengan jenis produk akhir yang diinginkan, sebagai contoh misalnya : apabila produk yang diinginkan dari buah pisang adalah tepung pisang, maka proses pengolahannya harus mengikuti tahapan pemilihan buah dengan kematangan 60% , pembersihan, pengupasan, perendaman buah, perlakuan bahan agar tidak berwarna pucat, perajangan, pengeringan, penepungan (pengecilan ukuran) dengan mesin, pengemasan. Sementara bila produk akhir yang diinginkan adalah sale pisang, maka pengolahannya adalah pemilihan buah dengan tingkat kematangan 90 – 95%, pengupasan, pengeringan, pemipihan dengan mesin atau alat pemipih (roller), pengemasan. Dari kedua jenis produk, proses pengolahan maupun mesin atau peralatan atau teknologi proses yang digunakan berbeda. Dengan kata lain makin banyak produk akhir yang ingin dibuat akan makin banyak pula teknologi proses yang dibutuhkan. Beberapa contoh kategori kegiatan agroindustri menurut tingkatan proses transformasi bahan bakunya adalah sebagai berikut. Tabel 3. Tahapan Aktivitas dan Ilustrasi Produk Agroindustri