• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1 Karaktersitik Pemulung

Komunitas pemulung bersifat heterogen yang terdiri dari multietnis, sebagian besar berasal dari etnis batak. Sebagian besar pemulung adalah masyarakat lokal di sekitar TPA. Sedangkan pemulung pendatang berasal berasal etnis jawa. Pada TPA Namo Bintang cukup banyak pemulung yang berjenis kelamin perempuan.

Biasanya mereka adalah ibu ibu yang tinggal sekitar TPA yang mencari nafkah dengan bekerja mengais sampah.

Tabel 7

Perbedaan Pemulung Pendatang dan Pemulung TPA

No Pemulung Lokal Pemulung Pendatang

1 Penduduk sekitar TPA berasal dari etnis batak

Sebangian berasal dari etnis jawa, etnis Nias dan sebangian kecil etnis Melayu Sumatera

2 Status kependudukan : kedudukannya jelas memiliki KTP, KK, rekening listrik, SPPT/PBB, dan lain lain

Rumah pemulung berada di luar pagar TPA Namo Bintang

Tidak memiliki status kependudukan : tanpa KTP dan KK. Kalaupun KTP dan KK dari asal wilayah.

Pemulung sebagian mengontrak di lokasi yang tidak jauh dari TPA atau mempunyai rumah gubuk di lokasi TPA.

3 Sebangian merupakan

pekerjaan utama atau sampingan.

Ada yang telah menetap, menikah dengan penduduk lokal, ada pula yang menyimpan aset harta di kamung halamannya.

Sebagian besar merupakan pekerjaan utamanya, tetapi ada sebagian sebangi pekerjaan sampingan, sambol menunggu masa panen tau tanam

4 Dalam rantai usaha, biasanya menepati posisi lapak tetapi ada juga yang hanya sebagai pemulung biasa

Dalam rantai usah, menepati posisi bandar, lapak/pengepul, sebagian besar sebagai pemulung biasa

Sumber : hasil survey lapangan 2012 4.1.1.1 Aktivitas Keseharian Pemulung

Di TPA Namo Bintang para pemulung biasanya membawa pulang sebagian bahan pulungan untuk dicuci oleh karena itu aktivitas di pagi hari yang mencakup membereskan bahan pulungan tersebut, yakni mencuci dan menjemur hasil pulungan. Waktu bekerja di TPA dimulai pukul 08.00 ketika truk pengangkut sampah tiba di TPA untuk membuang sampah. Sebelum truk membuang sampah, sebagian pemulung memilih, menyortir ataupun mengemas hasil pulungan yang telah dikumpulkan di hari sebelumnya.

Pengumpulan bahan/barang bekas dilakukan pemulung di area pembuangan sampah, mulai dari tibanya truk sampah hingga siang hari ( pukul 12.00 ). Suasana di TPA terlihat ramai ketika truk sampah membuang sampah. Sering dalam suasana ini ada yang mengalami kecelakaan dan juga bertengkar. Namun suatu sikap yang di pegang sebagai norma di TPA adalah “saling mengalah”. Bilamana seorang pemulung telah mengais suatu bahan, yang lainnya harus mengalah, oleh karena itu di TPA, meskipun terlihat pemulung saling berebutan, namun pertengkaran yang serius tidak pernah terjadi di antara mereka.

Selama pengumpulan berlangsung, pemulung terus bergerak/berpindah sambil mengais dan membawa hasil pulungannya. Jika hasil pulungannya sudah banyak dan berat, bahan tersebut ditampung pada tempat tertentu yang telah disediakan. Pada saat mereka sedang memulung, bila ditemukan bahan/sampah yang dapat dimakan, maka bahan tersebut langsung dimakan tanpa dicuci. Jika pemulung menemukan sampah sayur mayur atau bumbu masak seperti cabai, bawang, dan lain-lain maka bahan tersebut dibawa pulang untuk dikonsumsi. Seringkali juha pemulung mendapat keberuntugan menemukan uang dalam jumlah banyak, menemukan emas atau juga benda berharga lainnya.

Pada siang hari pemulung beristirahat untuk makan dan minum. Makanan dan minuman yang tersedia bagi pemulung di TPA tidaklah sama seperti makanan dan minuman masyarakat pada umumnya. Makanan dan minuman dapat berupa sebungkus kecil nasi ditambah lauk, nasi goreng, mie dan tahu, sarimie, atau secangkir kopi. Sebagian pemulung membawa bekal dari rumah. Jika pemulung ditawarkan makanan dan minuman, hampir seluruhnya berebutan dan berusaha

sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Indikasi ini menunjukkan bahwa pemulung tersebut tidak kenyang makan di TPA.

Setelah istirahat siang yaitu berteduh sejenak di tenda-tenda, pekerjaan dilanjutkan pada sore hari. Bila pemulung merasa jumlah jumlah bahan yang dikumpulkan sudah relatif banyak mereka memilih untuk berhenti mengais sampah dan mulai memilah-milah barang yang telah didapatkan. Intensitas kerja pada paruh kedua ( siang-sore) waktu kerjanya lebih rendah dibandingkan pada pagi hari. Aktivitas kerja pemulung anak-anak umumnya hampir sama dengan pemulung dewasa. Mereka mengais sampah, mengumpulkan, memindahkan dan juga mensortir bahan pulungan. Intensitas kerja mereka lebih rendah dari orang tua mereka.

Pada sore hari setelah memilah dan mengemas bahan pulungan, pemulung menimbang ke Tauke (Bos/Lapak) yang telah hadir disekitar TPA. Uang hasil penjualan bahan pulungan dapat diterima para pemulung pada saat itu juga. Terkadang uang hasil pulungan tersebut dapat juga di potong apabila sebelumnya mereka memiliki hutang pada Bos tadi. Khusus di TPA Namo Bintang, sebagian bahan pulungan dibawa pulang ke rumah untuk dicuci dan dijemur setelah itu baru dijual. Bahan pulungan yang dijual sering berkadar air tinggi terutama saat musim hujan, sehingga harga penjualan dipotong oleh Tauke sekitar 10-20%. Kegiatan sore hingga malam hari setelah menimbang barang pulungan adalah kembali ke gubuk, mandi,makan, dan lain-lain.

4.1.1.2Pekerja Pemulung

Hasil penelitian lapangan menunjukkan penduduk yang terjun bekerja sebagai “pemulung” di TPA Namo Bintang merupakan penduduk usia kerja 15-50

tahun (bahkan lebih dari 50 tahun), terdiri dari laki-laki dan perempuan, bahkan sering juga dilakukan oleh anak-anak berumur 6-14 tahun, baik itu yang sudah putus sekolah atau masih bersekolah.

Tabel 8

Komposisi Pekerja Pemulung TPA Namo Bintang Kelompok Umur

Pemulung

Jumlah (orang) Persen (%)

Anak-anak (6-14) tahun 44 8

Dewasa (15-50) tahun 445 81

Dewasa > 50 tahun 61 11

Jumlah 550 100

Sumber : hasil survey lapangan 2012

Para pemulung di TPA didominasi umur dewasa antara 15-50 tahun. Kelompok umur ini adalah kelompok pekerja produktif dengan fisik dan stamina yang kuat. Identifikasi lapangan menunjukkan pekerjaan pemulungan dominan membutuhkan tenaga dan daya tahan fisik yang relatif kuat di dalam prosesnya. Bagian proses pekerjaan pemulungan yang lebih banyak membutuhkan tenaga dan daya tahan yang kuat pada saat mengumpulkan atau mengais sambil memikul bahan/barang bekas di TPA dalam waktu 3-4 jam diselingi dengan memindahkan dan menampung pada tempat tertentu. Pada proses ini, kemampuan fisik sangat menentukan jumlah bahan yang dapat dikumpulkan oleh seorang pemulung. Dari hasil observasi di TPA Namo Bintang, untuk kondisi keadaan cukup berat yakni timbunan sampah yang tinggi sehingga sangat menyulitkan dan membatasi ruang gerak pemulung. Sesuai hasil idenntifikasi lapangan, sebagian pemulung

menyarankan agar timbunan sampah yang menggunung diratakan agar mereka dapat mengais sampah dalam ruang yang lebih luas.

Pekerjaan pemulungan tidak membutuhkan prasyarat yang berat seperi tingkat pendidikan, skil ataupun kemampuan lainnya. Pekerjaan pemulungan juga tidak membatasi tingkat pendidikan dan spesialisasi tertentu untuk melakukan pekerjaan itu. Satu-satunya kemampuan yang diperlukan pekerja pemulung hanyalah fisik yang kuat. Kemampuan fisik yang disertai dengan motivasi sangat diperlukan untuk mendapatkan bahan pulungan sebanyak mungkin. Identifikasi lapangan menunjukkan pemulung bekerja dengan penuh semangat dan motivasi yang tinggi dan juga berusaha sekuat tenaga untunk mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya demi menghidupi keluarga mereka.

Tabel 9

Tahapan Pekerjaan Pemulung Setiap Hari di TPA Namo Bintang

No Kegiatan Waktu Kerja

1 Pengumpulan bahan/barang bekas Pukul 08.00-12.00 2 Istirahat makan siang Pukul 12.00-13.00 3 Lanjutan kerja pengumpulan bahan/barang

bekas

Pukul 13.00-16.00 4 Pengelompokan atau sortir dan pengemasan

bahan/barang untuk penimbangan di sore hari

Pukul 16.00-17.00

5 Pencucian, penjemuran dan pengepakan di rumah pemulung (Khusus pemulung di TPA Namo Bintang)

Setiap pagi sebelum menuju TPA

Sumber : hasil survey lapangan 2012

4.1.1.2Kegiatan Pengumpulan, Volume Produk dan Pendapatan Pemulung Kegiatan usaha pemulung di TPA Namo Bintang secara umum mencakup pengumpulan berbagai bahan/barang bekas yang kemudian dijual kepada Tauke

50

atau Bos. Secara khusus di TPA Namo Bintang, proses pengolahan bahan juga mencakup pencucian. Jumlah bahan/barang bekas yang berhasil dikumpulkan pemulung disebut sebagai produk mereka. Harga per kilogram masing-masing produk cukup bervariasi tergantung jenis dan kualitas pasarnya. Pemulung menerima sejumlah uang sebagai pendapatan mereka dari penjualan produk yang mereka kumpulkan.

Gambar 1 Tahap Kegiatan Pemulung di TPA Namo Bintang

Pemulung Mengais bahan bekas Menampung ,mensortir mengepak Ditimbang oleh lapak Lokasi : dipusat pembuangan sampah oleh truk Lokasi: di

sekitar TPA Lokasi :

diarea TPA Lokasi : di area TPA Lokasi: gubuk pemulung

4.1.1.3Biaya pengumpulan Bahan bekas

Peralatan yang digunakan pemulung untuk mengumpulkan bahan/barang barang bekas gancu, karung/kerangjang dan sepatu boot. Nilai peralatan itu relatif kecil yaitu TPA Namo Bintang sebesar Rp 115.000 dengan depresiasi Rp. 167. Pengeluaran yang termasuk biaya produksi adalah biaya makan per hari. Pada area TPA, beroperasi warung warung kecil tau penjajal makanan yang menjual makanan dan minuman sesuai sekmen pasar pemulung. Harga makanan dan minimun relatif murah berkisar antara rp 2000- rp 3000. Total biaya makanan dan minuman setiap hari di TPSA rata rata hanya sebesar rp 10500.

Bagi para pemulung, biaya produksi bukan merupakan suatu kendala. Dengan jumlah biaya produksi yang kecil, usaha pemulung tetap berjalan dan akhirnya menghasilkan produk yang siap dijual. Sebenarnya bagi pemulung, tidak ada biaya produksi karna biaya makan dan minum merupakan biaya hiup yang tetap dikeluarkan tiap hari. Kondisi tampa biaya ini mendukung beroprasinya usaha pemulung secara berkesinambungan tampa harus mengalami kemacetan usaha.

Dokumen terkait