• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karateristik Komunitas Parasitoid Telur Penggerek Batang Pad

tesebut disajikan dalam Tabel 4.1. Ada 15 subak yang disurvei yang terdiri dari lima subak di setiap kabupaten. Di setiap lokasi itu dilakukan pengambilan kelompok telur setiap minggu secara periodik kemudian dibawa ke laboratorium untuk dibiakkan. Berdasarkan hasil biakan itu diketahui jenis dan jumlah parasitoid yang muncul dari telur penggerek batang padi kuning yang selanjutnya dijadikan dasar untuk menghitung persentase kelompok telur terparasit, tingkat parasitisasi, indeks keragaman jenis, indek kesamaan jenis, indeks dominansi dan kelimpahan populasi di setiap lokasi.

Tabel 4.1.

Jumlah kelompok telur yang dikoleksi dari setiap lokasi sesuai dengan umur tanaman

Lokasi Penelitian

Jumlah kelompok telur yang diperoleh sesuai umur tanaman padi (minggu/kelompk)

II III IV V VI VII VIIi IX KAB. BADUNG

Subak Ayung (Mengwi) 123 110 98 94 80 89 73 73 Subak Munggu

(Mengwi) 102 102 94 87 81 84 74 71

Subak Lip-lip (Kuta

Utara) 102 98 90 83 81 83 75 75

Subak Umedesa (Kuta 93 91 89 82 82 76 74 74 Subak Cemagi

(Mengwi) 87 93 86 81 72 74 71 71

KAB. TABANAN

Subak Seronggo (Krbt) 111 98 98 95 89 89 82 73 Subak Sakeh (Tabanan) 113 100 97 92 86 89 72 72 Subak Nyitdah

(Tabanan) 97 101 92 83 83 87 77 71

Subak Gadon (Kediri) 106 99 99 89 82 81 77 70

Subak Kediri 101 98 89 83 80 84 72 72

KAB. JEMBERANA

Subak Yeh Buah (Mdy) 97 98 86 84 80 83 80 78

Subak Yeh Embang 93 90 83 80 81 74 79 75

Subak Tegal Wani

(Ngr) 88 85 82 78 71 79 71 71

Subak Tegal Jati (Ngr) 85 85 80 78 75 78 74 74 Subak Berawan Tangi

25 4.1.1. Persentase kelompok telur terparasit,

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keberadaan parasitoid di lapangan telah mampu memarasit kelompok telur inang sebesar 90.14% di Tabanan, 83.06% di Badung dan 78.04% di Jemberana.. Gambar 4.1. menunjukkan bahwa rataan kelompok telur terparasit paling tinggi terjadi di kabupaten Tabanan dan disusul Badung dan Jemberana. Karakteristik Komunitas parasitoid telur yang berasosiasi dengan penggerek padi kuning terdiri atas tiga spesies yaitu

Tetratichus schonobii, Telenomus rowani dan Trichogramma japonicum, dengan indeks keragaman rendah, dan indeks kesamaan sama dengan 100, dan kelimpahan tinggi yang didominasi oleh salah satu spesies yaitu T. Schunobii

(Tabel 4.3; 4.4.; 4.5; Gambar 4.1.)

Gambar 4.1.

Persentase Kelompok telur Penggerek Batang padi Kuning Terparasit oleh Parasitoif Telur

4.1.2 Tingkat Parasitisasi

Kehadiran ketiga jenis parasitoid telur penggerek batang padi kuning di lokasi penelitian (Badung, Tabanan, dan Jembrana) menunjukkan variasi yang tercermin dari beberapa variabel yang diamati. Kehadiran patasitoid telur di setiap lokasi yang bervariasi di setiap lokasi dan setiap waktu sesuai dengn umur tanaman (Gambar 4.1). Jumlah telur terparasit teringgi terjadi di Kabupaten Tabanan kemudian disusul oleh Badung dan Jemberana (Tabel 4,2).

Tabel 4.2.

Rerata tingkat parasitisasi parasitoid telur penggerek batang padi kuning (%) di tiga kabupaten di Bali

Lokasi Tingkat parasitisasi parasitoid (%)

T. japonicum T. rowani T. schoenobii

Kabupaten Badung 8,31 a 23,69 b 59,28 B Kabupaten Tabanan 4,94 b 16,46 c 69,11 A Kabupaten Jembrana 6,01 a 27,77 a 45,10 C 70 75 80 85 90 95

Kabupaten. Badung Kabupaten Tabanan Kabupaten Jembrana

P er sent a se k elo m po k t elur ter pa ra sit ( %) Lokasi Penelitian

26

Keterangan : angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom sama menunjukkan perbedaan tidak nyata pada uji BNT taraf 5%

Kejadian itu berdampak pula terhadap kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi parasitoid telur terhadap inangnya. Diduga kuat bahwa kejadian itu mempunyai hubungan erat dengan factor lingkungan (factor ekstriksik parasitoid) selain sifat genetis (factor intriksik) setiap individu parasitoid yang berinteraksi dengan lingkungannya. Banyak faktor lingkungan yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kejadian itu seperti suhu, kelembaban, curah hujan termasuk juga perilaku petani dalam system budidaya mereka. Kisaran suhu dan kelembaban di lapang berkisar antara 22-30°C dan 78-88%, sementara suhu dan kelembaban optimal yang diperlukan oleh parasitoid adalah 25°C dan 85% (Widyarti, 2003). Perilaku petani setempat berkenaan dengan implementasi teknologi pergiliran tanaman dan penggunaan insektisida juga mempunyai pengaruh langsng maupun tidak langsung terhadap kehidupan parasitoid di lapang. Ada hubungan yang erat antara pergiliran tanamann dengan kelimpahan populasi parasitoid di lapangan (r = -0,938**) dan pestisida (r =-0,923** ) serta suhu (r = 0,974**) dan kelembaban (0,997**).

Tabel 4.3.

Karakteristik Komunitas Parasitoid Telur Penggerek Batang Padi Kuning Karakteristik Komunitas Umur Tanaman Minggu Setelah tanam (MST)

2 3 4 5 6 7 8

KABUPATEN BADUNG

Jumlah specimen 70 70 70 70 70 70 70

Jumlah spesies (jenis) 3 3 3 3 3 3 3

Indeks Keragaman (H') 0.38 0.366 0.412 0.412 0.443 0.33 0.336 Indeks Kesamaan (S) 100 100 100 100 100 100 100 KAB. TABANAN

Jumlah spesimen 70 70 70 70 70 70 70

Jumlah spesies (jenis) 3 3 3 3 3 3 3

Indeks Keragaman (H') 0.204 0.259 0.263 0.316 0.331 0.377 0.356

Indeks Kesamaan (S) 100 100 100 100 100 100 100

KAB. JEMBERANA

Jumlah specimen 70 70 70 70 70 70 70

Jumlah spesies (jenis) 3 3 3 3 3 3 3

Indeks Keragaman (H') 0.387 0.392 0.372 0.405 0.433 0.345 0.358

Indeks Kesamaan (S) 100 100 100 100 100 100 100

Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Supartha et al. (2003) sebelumnya bahwa kelimpahan populasi parasitoid sangat ditentukan oleh kemampuan adaptasi individu masing-masing parasitoid terhadap inang dan dukungan lingkungannya selama berinteraksi dengan inangnya seperti kualitas

27

nutrisi inang dan hambatan biofisik dari tanaman inang yang mempengaruhi perilaku pencarian dan peneluran parasitoid pada inang. Selain itu praktek bercocok tanam seperti intensitas penyemprotan dan penggunaan jenis pestisida yang berspektrum luas oleh petani juga memberi pengaruh yang besar terhadap kehidupan parasitoid di lapang.

Tabel 4.4.

Indeks kesamaan jenis parasitoid telur penggerek batang padi kuning di tiga kabupaten di Bali Lokasi Kabupaten Badung Kabupaten Tabanan Kabupaten Jembrana Kabupaten Badung - 100% 100% Kabupaten Tabanan 100% - 100% Kabupaten Jembrana 100% 100% -_

Hasil analisis kesamaan jenis (Tabel 4.3.; 4.4) di ketiga lokasi menunjukkan tidak ada perbedaan. Jumlah jenis parasitoid yang ditemukan di ketiga lokasi sama persis dengan lokasi lainnya. Peristiwa itu diduga kuat karena adanya kesamaan habitat antar lokasi (Table 4.3). Namun demikian ada perbedaan yang nyata antara jenis dan kelimpahan parasitoid yang dominan di masing- masing lokasi (kabupaten). T. schoenobii mendominasi di Kabupaten Tabanan dan Badung, sementara di Kabupaten Jemberana didominansi oleh T. rowani.

(Tabel 4.3; 4.5). Diduga kuat peristiwa tersebut disebabkan oleh sifat biologi parasitoid (faktor intrnksik), faktor lingkungan, dan teknologi budidaya yang diterapkan di masing-masing lokasi penelitian (factor ekstrinksik). Dugaan itu diperkuat oleh hasil analisis korelasi yang dilakukan terhadap hubungan antara dominansi dengan faktor-faktor yang berpengaruh. Faktor pergiliran tanaman dan intensitas perlakuan insektisida berkorelasi negatif (r = -0,818*;-0,985**) sementara suhu dan kelembaban nisbi udara sekitar berkorelasi positif (r = 0,883*; dan 0,947**) terhadap perkembangan populasi T. schoenobii. Sementara itu faktor intensitas perlakuan insektisida berkorelasi negatif (r = **;- 0,936**) sementara factor pergiliran tanaman, suhu dan kelembaban nisbi udara sekitar berkorelasi positif (r = 0,949; 0,981**; 0,999**) terhadap perkembangan populasi

T. rowani.

Tabel 4.5.

Rerata kelimpahan populasi parasitoid telur penggerek batang padi kuning (%) di tiga kabupaten di Bali

Lokasi Kelimpahan populasi parasitoid (%)

T. japonicum T. rowani T. schoenobii

Kabupaten Badung 23,86 A 32,65 B 43,49 B

Kabupaten Tabanan 14,53 C 27,61 B 57,86 A

28

Keterangan : angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom sama menunjukkan perbedaan tidak nyata pada uji BNT taraf 5%

Gambar 4.2.

Indeks dominansi jenis parasitoid

4.2. Pola suksesi Populasi antar Spesies Parasitoid Telur Penggerek Batang

Dokumen terkait