BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP BUSHIDOU DAN
2.4. Karoushi
2.4.1 Pengertian Karoushi
Dilihat dari asal katanya, karoushi berasal dari tiga kata,yaitu, ka 過 yang artinya terlalu, rou 労 yang artinya bekerja dan shi 死 yang artinya mati. Jadi, karoushi dapat diartikan kematian yang disebabkan karena terlalu banyak bekerja. Istilah karoushi pun dapat disebut sebagai fenomena di mana terjadi kematian secara mendadak yang disebabkan oleh stress yang menumpuk, terlalu banyak bekerja baik fisik maupun mental. Penyakit yang diderita oleh korban karoushi biasanya berhubungan dengan penyakit otak, jantung dan pembuluh darah. Dimana memburuknya sirkulasi darah pada pendarahan otak, pecahnya selaput
darah, penyumbatan darah ke otak, penyumbatan darah ke jantung dan lain-lain karena beban kerja yang berlebihan.
Ada istilah yang dipakai untuk menggambarkan satu ciri khas orang Jepang dalam bekerja, yaitu bahwa orang Jepang itu hatarakisugi (terlalu banyak bekerja). Hal ini terbukti pada frekuensi jam kerja yang sangat tinggi yang bisa mencapai 16 jam dalam sehari yang berkesinambungan, yang merupakan tuntutan kerja dan bentuk loyalitas pribadi terhadap perusahaan yang telah mempekerjakannya.
2.4.2 Karoushi dalam Perusahaan Jepang
Tuntutan hidup yang tinggi membuat seseorang harus bekerja dengan keras untuk mencukupi kebutuhannya tersebut. Tetapi apakah semata-mata karena untuk memenuhi tuntutan hidup itukah, maka pekerja di Jepang dikenal dengan sebutan hatarakisugi, bahkan sampai menjadi korban karoushi? Bukankah masih banyak negara-negara lain yang tingkat kesejahteraannya jauh berada di bawah Jepang, dan mempunyai tuntutan hidup yang lebih keras, tetapi mengapa sebutan hatarakisugi tidak diidentikan dengan mereka, rekor korban karoushi pun hingga saat ini masih dipegang oleh Jepang dan bahkan menjadi pusat perhatian dunia.
Menurut Chie Nakane (1981:21), masyarakat Jepang adalah masyarakat yang menonjolkan kelompok kerja sama berdasarkan ba (wadah, tempat), maksudnya jika seseorang telah menjadi anggota suatu kelompok, termasuk di dalamnya kelompok bekerja (perusahaan) maka orang tersebut akan mendahulukan kepentingan kelompoknya itu. Chie Nakane juga menyatakan perusahaan bagi orang Jepang ibarat satu keluarga, pimpinan adalah kepala
keluarga dan bawahan sebagai anggota keluarga. Perusahaan adalah komunitas seorang pekerja, sedangkan rumah hanyalah sebagai tempat dimana ia tidur, perusahaan tidak dianggap semata-mata sebagai satu organisasi dimana seseorang terikat dengannya melalui kontrak, tapi dianggap sebagai tempat dimana seorang pekerja merupakan bagian darinya bahkan dianggap sebagai miliknya. Sebagai contoh, orang Jepang selalu memperkenalkan dirinya kepada orang lain dengan terlebih dahulu menyebutkan tempat dimana ia bekerja, bukan sebagai apa dia bekerja.
Sebagai satu keluarga, perusahaan tidak hanya memperhatikan pekerjanya saja, tetapi juga keluarga pekerja tersebut, perusahaan menjamin kesejahteraan pekerja dan keluarganya dengan menyediakan berbagai fasilitas, dan tentu saja hal ini menguntungkan bagi perusahaan itu sendiri. Dengan adanya jaminan ini pekerja akan mendahulukan kepentingan perusahaan, mereka rela untuk bekerja ekstra meskipun tidak sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati sebelum mulai bekerja. Mereka terbiasa untuk bekerja melebihi jam kerja yang telah diatur oleh undang-undang yang sah. Lagi pula pekerja yang pulang tepat pada waktunya tanpa lembur akan merasa malu karena seolah-olah itu menunjukkan kurangnya loyalitas mereka terhadap kelompok (perusahaan) dan ia pun akan terkucilkan. Kondisi inilah yang memungkinkan timbulnya saabisu zangyou, yaitu seseorang bekerja melebihi jam kerja yang telah disepakati melalui kontrak, tapi ia tidak memperoleh bayaran sesuai dengan lembur yang telah dilakukannya.
Adalah hal yang biasa bagi para pekerja di perusahaan-perusahaan di Jepang untuk bekerja minimal 12 jam sehari. Mereka bahkan lebih memilih tidur
di tempat yang telah disediakan oleh perusahaan daripada memilih pulang dan tidur di rumah, karena terlalu larut dan melelahkan untuk pulang ke rumah.
Kebiasaan kerja 12 jam sehari ini tentu saja telah melanggar ketentuan jam kerja yang telah ditentukan di dalam rodou kijunhou (UU Standar Perburuhan). Kebiasaan kerja 12 jam sehari ini terus berlangsung dan akhirnya secara tidak tertulis, kebiasaan ini dimaklumi dan diperbolehkan, sampai akhirnya mengganggu ritme kerja yang normal atau yang seharusnya. Kebiasaan kerja yang seperti ini mengakibatkan kelelahan yang akhirnya terjadi kerusakan fatal pada pekerja (pekerja menderita penyakit karena kelelahan bekerja, bahkan sampai menyebabkan kematian) (http://www.workhealth.org/whatsnew/lpkarosh.html).
2.4.3 Nilai Kesetiaan dalam Karoushi
Kesetiaan terhadap atasan merupakan sikap umum yang ada pada setiap orang Jepang, baik kesetiaan kepada kaisar ataupun kepada perusahaan. Kesetiaan yang dimiliki dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, menjadi satu ciri kepribadian masyarakat Jepang, mulai dari keluarga, perusahaan, sekolah sampai pada kelompok tingkat luas.
Para pekerja di Jepang memiliki kesetiaan yang tinggi pada perusahaan tempat ia bekerja. Mereka cenderung berpegang pada hubungan kelompok perusahaannya, hal ini merupakan sikap dalam mempertahankan kesetiaan dalam kelompok.
Di tempat-tempat kerja, para pemimpin bekerja untuk mempertahankan loyalitas anggo ta-anggota kelompok dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
mereka. Kepada anak buah diajarkan tentang nilai kerja sama untuk kepentingan perusahaan.
Pola kesempatan kerja seumur hidup yang diberikan oleh perusahaan, serta penentuan upah berdasarkan senioritas menciptakan hubungan loyalitas yang akrab antara para pemimpin dan anak buah, sehingga tercipta rasa kebanggaan terhadap perusahaan dan anak buah berusaha untuk memajukan perusahaan tempat mereka bekerja.
Kesetiaan karyawan atau manajer Jepang yang sangat besar kepada kelompoknya yang berdasarkan tingkat senioritas menyebabkan sulit baginya menjalin hubungan erat dengan orang luar, termasuk dengan mereka yang satu tingkatan kerja dengannya.
Para pekerja yang masuk ke dalam kelompok (perusahaan) untuk karir seumur hidup memiliki loyalitas yang kuat. Ikatan seumur hidup antara pimpinan dan para pegawai merupakan gejala sistem yang mengingatkan pada kebiasaan feodal Jepang, dimana adanya ikatan pengabdian seumur hidup anak buah (bushi) terhadap tuannya (daimyo).
Dalam mempertahankan rasa solidaritas dalam kelompok perusahaan, perusahaan Jepang sering mengadakan wisata perusahaan. Dalam hal ini tidak tampak hubungan antara atasan dan bawahan tetapi hanya hubungan antar anggota kelompok dengan yang lain. Sehingga menimbulkan solidaritas dan loyalitas anggota pada perusahaan. Hal ini merupakan cara untuk mempererat hubungan di tempat kerja.
Kesetiaan pada perusahaan ini merupakan keuntungan bagi perusahaan akan adanya angkatan kerja yang produktif, yang merasa bangga dan puas dalam
pekerjaanya. Bagi pekerja kasar maupun pegawai kantoran kerja lembur merupakan bentuk loyalitas mereka terhadap perusahaan. Banyak dari mereka terutama dikalangan para eksekutif dan pegawai kantoran, tidak menggunakan sepenuhnya masa libur yang diberikan perusahaan. Mereka semua adalah pekerja yang tekun dan bisa dipercaya akan menjaga mutu pekerjaan mereka sendiri.
Suatu pekerjaan bagi pekerja di Jepang tidak hanya merupakan persetujuan dalam kontrak untuk mendapat bayaran, mereka terkadang melakukan lembur yang tidak mendapat bayaran dari perusahaan (saabisu zangyo). Keadaan ini terjadi karena pekerja seringkali melaporkan jam lembur mereka lebih sedikit daripada yang sebenarnya, mereka seolah-olah menganggap tabu jika menyebutkan jam lembur yang sebenarnya, karena dengan begitu kredibilitas kerjanya akan dipertanyakan.
Bentuk loyalitas ini terwujud dalam etos kerja bangsa Jepang yang pekerja keras yang lebih mengutamakan kepentingan perusahaannya di atas kepentingan pribadinya. Frekuensi jam kerja yang sangat tinggi merupakan dampak dari rasa loyalitas terhadap perusahaan guna kemajuan perusahaannya, para pekerja bisa bekerja mencapai 16 jam dalam sehari yang terus berlangsung secara berkesinambungan, hal ini menimbulkan dampak negatif yaitu stres karena kelelahan atas kerja yang berlebihan sehingga menimbulkan penyakit yang berujung kepada kematian pekerja itu sendiri (karoushi).