BIOGRAFI DAN SKETSA KARYA MUNIF CHATIB A.Biografi Munif Chatib
B. Karya-Karya Munif Chatib
Sampai saat ini Munif Chatib telah menulis sepuluh buku dan telah diterbitkaan dalam skala nasional. Buku-buku tersebut mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat, bahkan sebagian buku-bukunya dari sisi marketing telah memperoleh predikat best seller. Disamping itu, buku-buku tersebut mendapat apresiasi yang mendalam dari pakar dan tokoh pendidikan.
1. Sekolahnya Manusia
Buku ini terbit pada April 2009 dan telah mengalami beberapa kali cetak ulang sampai saat ini. Buku ini mengulas bagaimana membangun
23
sekolah yang pada hakikatnya adalah membangun keunggulan sumber daya manusia. Keunggulan tersebut menurutnya dapat dibangun apabila pembangunan sekolah didasarkan pada multiple intellegnces, yaitu sekolah yang menghargai berbagai kecerdasan siswa. Beberapa materi yang ditawarkan dalam buku tersebut anatara lain: penerapan multiple intellegences, penerimaan siswa baru tanpa tes tetapi melalui metode multiple intellegences research (MIR), bagaimana melejitkan siswa sesuai kecerdasan uniknya, bagaimana menjadikan pembelajaran yang menyenangkan, dan menarik. Membuat guru semakin kreatif dengan lesson plan, bagaimana mengubah orang tua semakin memahami anak-anaknya, bagaimana membuat sekolah benar-benar unggul, dan terdapat kisah-kisah nyata para siswa yang mengalami pencerahan dari multiple intellegences.
2. Gurunya Manusia
Pada Mei 2011 Munif Chatib menerbitkan buku lanjutan dari Sekolahnya Manusia, yaitu Gurunya Manusia. Menurutnya, jika buku Sekolahnya Manusia ibarat sebuah piring, maka isi piring tersebut adalah Gurunya Manusia. Buku ini mengungkapkan bagaimana profil guru yang sebenarnya. Gurunya Manusia adalah guru yang fokus kepada kondisi peserta didik. Semakin banyak data dan informasi tentang kondisi peserta didik, akan semakin memudahkan guru masuk ke dalam dunia siswa. Gurunya Manusia senantiasa memandang setiap peserta didik adalah juara, mengajar dengan hati, mengartikan
24
kemampuan peserta didik dalam arti yang luas, dan menjadi sosok yang menyenangkan bagi siswanya. Semuanya itu merupakan anak-anak tangga yang harus dilalui oleh seorang gurunya manusia.
3. Orangtuanya Manusia
Mei 2012 Munif menerbitkan buku yaitu Orangtuanya Manusia. Buku ini mendapat sambutan luar biasa dari para orang tua di seluruh Indonesia yang mengulas cara orang tua bersikap dalam proses pendidikan anaknya. Orangtuanya Manusia adalah semacam sekolahnya orang tua untuk mengetahui sosok anak-anak sejatinya. Kebanyakan orang tua mengharapkan anaknya menjadi sesuai harapaan mereka tanpa mempertimbangkan kondisi potensi dan karakter pada anaknya. Buku ini mampu menjadi guide bagi orang tua untuk memberikan stimulus dan lingkungan yang tepat sesuai bakat dan minat setiap anak.
4. Sekolah Anak-Anak Juara
Tahun 2012 bersama Alamsyah Said, Munif juga menerbitkan buku Sekolah Anak-Anak Juara. Buku ini menunjukkan bagaimana proses pengajaran berkualitas, yaitu bukan sebesar apa kecerdasan seseorang, melainkan bagaimana seseorang menjadi cerdas menjadi cerdas. Buku ini menjadi semacam kritik, dimana saat ini banyak sekolah yang berlomba-lomba mengadakan seleksi siswa baru dengan tujuan mendapatkan siswa yang cerdas dengan basis nilai-nilai mata pelajaran atau nilai ujian nasional. Seakan-akan sekolah yang demikian hanya
25
mau menerima siswa dengan patokan nilai tertinggi saja. Namun, semestinya sekolah harus menunjukkan bagaimana proses pembelajaran yang berkualitas. Sehingga sekolah tersebut dapat membawa siswanya dengan the best output.
Secara praktis dalam buku Sekolah Anak-Anak Juara dibahas beberapa hal penting tentang bagaimana menjadi sekolah the best output, proses belajar terbaik belajar efektif dan menyenangkan, mengenali dan melejitkan kecerdasan anak, serta bagaimana menemukan kondisi akhir terbaik.
5. Kelasnya Manusia
Pada April 2013 Munif berasama Irma Nurul Fatimah menerbitkan buku Kelasnya Manusia. Fokus bahasan dalam bukunya ini adalah tentang ruangan kelas yang seharusnya memilki daya dukung yang luar biasa terhadap tumbuh kembang anak jika didesain dan dikelola dengan baik. Hadirnya buku kelasnya manusia, bukan bermaksud menambah beban pekerjaan guru untuk menampilkan display kelas. Namun, hal demikian justru membantu guru agar mempunyai kemampuan dan keterampilan mendesain kelasnya, karena display kelas adalah bagian dari sebuah perencanaan mengajar. Dalam hal ini, guru tidak harus punya bakat seni. Dengan mengetahui dan memahami materi display, kemudian memasangnya di tempat yang tepat, itu sudah cukup. Pada akhirnya, bahkan banyak guru yang mulai menikmati pekerjaan mendesain kelas bersama siswanya.
26
6. Romantika Guardian Angel Membangun Sekolahnya Manusia
Kembali tahun 2013 Munif bersama 70 orang pengelola sekolah anak berkebutuhan khusus se-Indonesia menulis buku ini. Buku tersebut berisi tentang ide-ide kreatif yang bisa dijadikan sumber ide bagi para guru di sekolahnya masing-masing. Guardian angel di sini maksudnya sebuah perkuliahan unik yakni sebuah sistem pendidikan internal sekolah yang berbasis multiple intelligence, sekolah yang mengubah siswa bermasalah menjadi berpotensi. Berisi kumpulan cerita romantika sebuah perjalanan seseorang dalam membangun sebuah sekolahnya manusia, ide-ide kreatif peserta guardian angel di sekolah masing-masing, suka duka hubungan dengan orangtua/wali murid, murid, rekan guru, juga tantangan dan hambatan dari berbagai sisi, serta strategi para guardian angel dalam membangun sekolahnya manusia.
7. Bella, Sekolah Tak Perlu Air Mata
Buku ini terbit Juli 2015, yang merupakan novel pertama dari Munif, padahal beliau biasanya menulis tentang teori-teori pendidikan. Namun kali ini Munif mengemasnya dalam bentuk novel pendidikan agar pembaca tidak mudah bosan dalam membaca buku ini. Novel yang berkisah tentang sepasang suami istri yang mempunyai anak dengan memiliki hambatan disleksia dan diskalkulia.
Dalam buku ini juga selintas di ceritakan tentang seorang guru muda yang mempunyai pemikiran dan konsep sekolah yang berbeda dari kebanyakan, ide-idenya seringkali bersebarangan dengan kepala
27
sekolah yang hanya memikirkan keuntungan semata. Guru muda tersebut mempunyai pemikiran bahwa sekolah harusnya untuk semua anak tanpa terkecuali, apakah anaknya pinter, baik atau nakal bahkan yang mempunyai hambatan juga harus diterima. Jadi tidak ada serangkaian tes penerimaan saat masuk sekolah tetapi hanya observasi. 8. Parents Learn: Biarkan Anak Bertanya
Parents Learn; Biarkan Anak Bertanya, buku yang terbit Januari 2016 ini disajikan dengan sederhana dan istimewa. Buku ini bergambar dan sehingga mudah diserap otak, tidak butuh waktu lama membaca buku ini yaitu kurang lebih 30 menit bisa selesai membacanya.
Buku ini berisi lima sub bab yaitu: guru kehidupan, orang tuanya manusia, usia emas, masa remaja, dan belajarnya manusia. Untuk yang memiliki anak, mempunyai siswa atau murid analoginya bahwa seseorang harus mendaki gunung terjal, melakukan pendakian di abad ke-21. Dibutuhkan kaki yang kuat untuk mendaki dan sebagai orang tua tugasnya ialah membekali. Kalau di sekolah mereka memiliki guru, di rumah mereka memiliki ayah dan ibu. Saat orangtua dan guru sudah menjadi sahabat sejati, ketika dalam pendakian mereka memiliki masalah, misalnya jatuh, kakinya harus bertahan agar tegak berdiri hingga puncak. Orang tua dan guru harus menjadi figur yang benar-benar menjadi teladan, yang bisa menyejukkan, dimana mereka ingin diakui kemampuannya. Buku ini benar-benar mengajari pendidik
28
memperhatikan proses belajar anak, agar kebiasaan yang dilakukan bermanfaat untuk dirinya dan orang banyak.
9. Parents Learn 2: Menikah itu Ibadah
Buku yang terbit Januari 2017 ini menguraikan kalimat-kalimat pencerahan tentang konsep menikah muda yang dalam pemikiran mayor dianggap konsepsi yang salah. Munif menghidangkan sebuah pemikiran yang menurut beliau bersumber dari kegelisahan hati orang tua yang juga pernah mengalami masa muda. Kutipan-kutipan beliau dalam buku ini menyodorkan paradigma pemikiran yang justru bisa menjadi alternatif cara orang tua untuk menjaga buah hati mereka dari pengaruh zaman yang terkontaminasi pergaulan bebas.
Munif memulainya dengan penjelasan sederhana mengenai hakikat remaja, dan cinta hingga ajakan untuk para orang tua menikahkan putra-putri mereka justru ketika anak-anak remaja berada dipuncak gelora asmara sebagai jalur terbaik melampiaskan gelora perasaan mereka. Munif kemudian menutupnya dengan membuka berbagai kamuflase data tentang menikah muda yang selama ini menjadi momok serta diterima begitu saja sebagai sebuah kebenaran yang tidak dipertanyakan.
Harus diakui ini bukan buku pertama yang mengungkapkan tentang menikah muda, sudah ada beberapa buku lain yang bahkan membahas lebih detail faedah menikah muda. Namun bila dibandingkan dengan yang lainnya, karya Munif ini ditulis dengan rangkaian kalimat yang
29
lebih mudah dicerna, gaya bahasa yang lebih menarik dan tentu saja dengan design yang atraktif dengan penggunaan ilustrasi yang penuh warna. Meskipun buku ini ditujukan untuk para orang tua, buku ini juga sangat mungkin untuk dibaca kepada para remaja, sehingga menjadi bahan diskusi bagi orang tua dan anak remajanya.
10.Semua Anak Bintang
Juli 2017 Munif menerbitkan buku yang berjudul Semua Anak Bintang. Buku ini menawarkan suatu metode untuk mengetahui jenis kecerdasan anak dengan sebuah metode yang disebut Multiple Intelligencers Research (MIR). MIR merupakan hasil dari pengembangan teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner. Dijelaskan dalam buku ini bahwa MIR terdiri dari dua bagian besar, yaitu:
a. Melaporkan kondisi kecenderungan kecerdasan seseorang, mulai yang dominan sampai yang rendah. Laporan ini didesain dalam bentuk tabel dan grafik dengan poin skala 1 sampai 5.
b. Menunjukkan aktivitas yang disarankan, baik untuk siswa sendiri, guru, maupun orang tua.
Dua hal tersebut kemudian menunjukkan manfaat yang bisa didapatkan, baik oleh orang tua, guru, atau anak sendiri. Bagi guru, metode tersebut akan membantu untuk mengetahui gaya belajar siswa, melakukan pembagian kelas, juga mendesain metode mengajar dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kecenderungan
30
kecerdasan yang dipunyai oleh setiap anak akan menunjukkan bagaimana gaya belajar anak tersebut. Jika guru mengetahui gaya belajar siswa, maka guru akan mudah menyamakan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa tersebut. Jika keduanya sudah sesuai, tak ada pelajaran yang terasa sulit oleh siswa, sebab disampaikan sesuai dengan gaya belajar anak
Kemudian, hasil MIR juga dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan pembagian kelas, terutama pada sekolah yang memiliki pararel lebih dari satu kelas. Selama ini, kebanyakan pedoman pembagian kelas berdasarkan peringkat nilai kognitif atau bahkan urutan alfabet. Ini tentu pembagian yang kurang tepat karena tidak efektif sesuai dengan apa yang menjadi kecenderungan belajar siswa. Di sinilah, lewat hasil MIR, guru akan bisa mendapatkan gambaran untuk melakukan pembagian kelas berdasarkan gaya belajar siswa-siswanya, sehingga guru akan mudah memilih metode mengajar sesuai gaya belajar siswanya dalam sebuah kelas (Chatib: 2017, 13)
Di samping itu buku ini juga memaparkan berbagai gaya belajar yang dimiliki seorang anak berdasarkan teori atau model Multiple Intelligences Howard Gardner. Misalnya, untuk anak yang memiliki jenis kecerdasan linguistik (bahasa), maka gaya belajar yang cocok adalah belajar dengan cara mengenal huruf, kata, dan kalimat, membaca, menulis, bercerita, mendengar, menghafal, bertanya, dan
31
sebagainya. Sedangkan untuk anak yang memiliki jenis kecerdasan matematis-logis, gaya belajar yang cocok adalah dengan contoh, dengan menghitung angka-angka, dan sebagainya.
Selain buku-buku karyanya di atas, ada beberapa karya tulis Munif Chatib lainnya, yaitu:
1. Islamic Quantum Learning 2. Multiple Intelligence System
3. Riset Pendidikan dengan Multiple Intelligence 4. Reformasi Sekolah
5. KBK, masalah dan solusinya
6. Kritik sertifikasi pra kinerja pada UU Guru dan Dosen 7. Competence and Benefit System, solusi polemik UNAS 8. Character Building sebagai bidang studi
9. Doors Curriculum System C. Dasar Pemikiran Munif Chatib
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi disekitarnya, Munif Chatib berpendapat masalah pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Menurutnya ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu sistem dan kualitas sumber daya manusia. Banyak masalah yang terkait dengan sistem penididikan yang masih sentralistik, terutama dalam wilayah output yaitu standar kelulusan siswa ditentukan oleh alat tes yang dibuat pemerintah pusat, bukan dibuat oleh guru. Pada wilayah akhir yang salah inilah, yang akhirnya menjadi orientasi pendidikan mulai dari wilayah yang
32
pertama yaitu input, dan diikuti oleh prosesnya. Jika sistem di ouput ini diperbaiki, maka input dan prosesnya akan mengikuti. Betapa banyak guru yang terhenti akibat kondisi output yang academic minded.
Berdasarkan wawancara dengan Hernowo tentang buku Sekolahnya Manusia, Munif Chatib berpendapat tentang academic oriented inilah yang menjadikan anak didik kita seperti robot. Segalanya dirancang agar lulus tes akhir. Pengalamannya sebagai peneliti, kualitas soal ujian nasional yang menjadi standar kelulusan siswa termasuk dalam kualitas soal yang paling rendah. Dengan multiple choise murni peserta didik pemikirannya dibatasi. Artinya kalau siswa tidak tahu jawaban mana yang benar, maka mereka menggunakan insting keberuntungan, yang terpenting semua soal terlingkari. Menurut Taksonomi Bloom, jenis soal semacam ini mestinya tidak dapat menilai standar kelulusan dari sebuah materi atau bidang studi. Hilang sudah wilayah kemampuan pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi. Padahal ketika mereka terjun ke masyarakat untuk mengaplikasikan ilmunya, yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia yang cerdas.
Kualitas sumber daya manusia inilah yang juga menjadi pokok permasalahan. Terutama tenaga pengajar yang berperan penting dalam proses pemberian pengetahuan. Maka peningkatan kualitas dengan pelatihan dan pengembangan adalah hal yang terpenting dalam posting dana pendidikan. Negara yang maju pendidikannya mempunyai ciri-ciri yang hampir sama, yaitu posting dana yang cukup besar dan diprioritaskan untuk
33
pengembangan sumber daya manusianya. Jadi intinya memperbaiki sistem mulai dari input, proses, output. Sistem tersebut harus diisi oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
Munif Chatib memiliki ketertarikan dengan dunia pendidikan, meskipun beliau awalnya mendalami bidang hukum. Ketertarikannya di bidang pendidikan berawal dari ketika ia menjadi pengajar dan belajar tentang multiple intellegences. Beliau juga prihatin melihat kondisi pendidikan di Indonesia yang kecepatan majunya terkesan sangat rendah.
Melalui multiple intellegences inilah Munif Chatib mulai menggeluti dunia pendidikan. Di tangan beliau, pemahaman multiple intellegence yang diperkenalkan oleh Howard Gardner, berhasil ditransformasikan menjadi proses pembelajaran yang manusiawi dan aplikatif. Baginya Multiple Intellegences adalah sebuah teori yang sangat terbuka dan menghargai potensi individu sekecil apapun. Seseorang mempunyai multiple intellegences jika dalam aktivitasnya sudah memunculkan prestasi yang mempunyai benefit (daya manfaat) sekecil apapun itu. Baginya teori ini sangat menghargai manusia sebagai ciptaan Tuhan yang tidak pernah memproduksi produk-produk gagal. Dia mendapatkan banyak bukti di lapangan sebagai fakta, banyak anak yang mempunyai hambatan, ketika multiple intellegences dihargai dan terus digali, maka anak tersebut menjadi juara di bidangnya masing-masing.
Pada saat Munif belajar di Supercamp Oceanside California USA yang dipimpin Bobbi De Porter, ia menulis tesis tentang Islamic Quantum
34
Learning. Islamic Quantum Learning adalah strategi pembelajaran dengan menghadirkan tokoh. Materi-materi belajar yang terkait dengan character building diajarkan dengan menghadirkan tokoh yang terkait.
Bagi Munif Chatib, Character Building di dalam setiap sekolah harus disajikan dalam bentuk praktis dan menarik. Character building ini disajikan dalam bentuk mata pelajaran pendidikan akhlak atau pendidikan karakter. Isi materinya disusun dalam lesson plan yang penuh dengan aktivitas, games, riset sampai siswa merasakan mengapa seseorang harus berbuat baik, dan meninggalkan perbuatan buruk. Character building tidak disajikan dalam bentuk definitif, tetapi disajikan dalam perilaku sehari-hari. Dengan bidang studi Character building, karakter siswa yang nakal dapat berkurang.
Munif Chatib juga berpendapat bidang studi Character building, wajib ada pada setiap jenjang pendidikan yang menerapkan multiple intelligences, karena pada bulan pertama siswa sekolah kebanyakan siswa mengalami kebebasan belajar. Character building mampu mereduksi hal ini secara efektif dan mengembalikan tanggung jawab keberhasilan belajar pada diri siswa, bukan pada guru.
35 BAB III