• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Dinamika Masyarakat Pengerajin Perak Desa Pampang

3. Karya-karya Kerajinan Perak Dusun Kedungdowo Kulon

Gambar XXVI: Gelang motif bunga dengan teknik filigree isen padat Berbeda dari kebanyakan karya filigree yang ada dengan isian motif yang terkesan renggang, karya kerajinan perak ini menggunakan isian motif yang menutupi keseluruhan bagian. Karya kerajinan perak ini berjenis benda perhiasan berupa gelang motif flora bentuk bunga. Terdapat 5 buah filigree bunga dengan 1 buah filigree dibagian tengah atau urutan ketiga dengan ukuran yang berbeda.

Dengan perbedaan ukuran dibagian tengah menghasilkan persepsi bahwa karya ini mengan dung unsur keseimbangan simetris dengan ukuran paling bersar sebagai point of interest. Dari kelima filigree dirangkai menjadi suatu kesatuan menjadi gelang yang dihubungkan dengan rantai atau moto deruk atau jump ring berjumlah tiga ring setiap sambungan. Jump ring sendiri meruakan nama lain dari moto deruk yang berbentuk ring atau lingkaran yang berfungsi sebagai sambungan atau rantai pada perhiasan (Budiyanto, 2009: 35).

b. Pillbox Filigree

Gambar XXVII: Desain Pill Box Filigree (Dok. Desain milik Pagianto. 2018)

Pillbox atau dapat dikatakan sebagai kotak penyimpanan benda berupa perhiasan atau aksesoris. Kerajinan ini berbentuk wadah yang berfungsi sebagai penyimpanan. Sama seperti kebanyakan kerajinan perak yang ada di Kedungdowo Kulon, rata-rata pengerajin menguasai teknik pembuatan perak dengan teknik trap-trapan atau filigree. Namun, Bapak Pagianto selaku satu-satunya pengerajin di Dusun Kedungdowo Kulon yang dapat membuat kerajinan perak pillbox. Berdasarkan keterangan Pagianto (dalam wawancara 14 April 2018) ukuran

pillbox ini berukuran panjang 15 cm, tinggi 7 cm, dan lebar 15 cm. Berbentuk lingkaran pada tampak atas dan berbentuk lonjong yang terksan pada tampak depan. Pembuatan karya ini dengan teknik trap-trapan dengan bahan baku benang perak berbagai ukuran. Untuk kerangka menggunakan ukuran kawat 3 pada lubang drawplate dan dengan ukuran kawat 8 untuk isen-isen.

Isian pada karya ini juga menggunakan benang tamparan perak atau hasil pilinan 2 benang perak. Pada proses mengisi motif dengan pilinan perak dilakukan dengan cara merangkai dan membentuk benang-benang sesuai alur motif yang telah didesain. Alur repetisi atau pengulangan dapat dilihat pada pengulangan motif berputar mengelilingi bagian badan karya. Dari kedua karya memiliki kesamaan dalam hal pengulangan yang konsisten. Penambahan motif isian benang-benang perak yang dirangkai dengan perpaduan alur garis lurus dan garis lengkung yang memenuhi setiap bagian badan karya memberikan kesan kuat dan penuh. Pada krya ini tidak hanya menggunakan pilinan tamparan, ada bagian tertentu menggunakan benang berbentuk pipih. Benang ini digunakan sebagai isian yang biasanya terdapat pada pinggiran motif yang biasa disebut polos ceplok. Menurut Pagianto (dalam wawancara 14 April 2018) polos ceplok merupakan bahasa yang digunakan para pengerajin untuk menyebutkan suatu benang-benang perak yang dipipihkan.

Proses pemipihan benang-benang perak menggunakan alat gilas. Untuk mematri sambungan-sambungan pada karya ini, Pak Pagianto menggunakan bahan potongan-potongan kecil patri keras perak dengan perbandingan 80% perak dan 20% tembaga. Sedangkan Widagdo (2008: 89) berpendapat bahwa patri perak

pada golongan keras menggunakan perak 80% dan kuningan 20%. Terjadi perbedaan pendapat mengenai bahan baku pembuatan patri dengan tambahan tembaga atau kuningan. Dalam keseharian pengerajin di Pampang dan khususnya Pak Pagianto secara fakta memang menggunakan bahan tembaga sebagai bahan tambah. Namun pendapat dari teori yang udah ada tidak perlu diperdebatkan. Karena memang teori ada karena adanya penelitian ilmiah secara bertanggung jawab. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pengerajin di desa Pampang menggunakan bahan tambah tembaga kedalam bahan patri merupakan modifikasi dari hasil pengembangan ide agar lebih mempermudahkan dalam mematri perak dan patri dengan perbandingan tersebut tergolong dalam jenis patri keras. Mengandung unsur volume pada karya ini, membuat betambahnya kesulitan pada proses pengerjaan. Butuh ketekunan dan kesabaran dalam proses pengerjaan karya ini.

c. Cincin Unthuk Trap-trapan

Karya ini dibuat oleh pengerajin bernama Bapak Suratno. Beliau spesialis membuat kerajinan perak motif unthuk yang ada di Dusun Kedungdowo Kulon. Kerajinan yang dibuat oleh Pak Suratno tidak hanya mengunggunakan teknik unthuk semata. Namun, juga menggabungkan teknik pengerjaan dengan teknik unthuk dengan teknik trap-trapan atau filigree. Dapat dilihat pada gambar karya ini bahwa teknik traptrapan digunakan sebagai ring cincin dan unthuk sebagai motif utama. Dengan ring menggunakan trap-trapan membuat cincin ini fleksibel untuk dikenakan pada berbagai ukuran lingkar jari. Karena, pada bagian bawah tidak memakai sambungan permanen dan terdapat celah sehingga tidak membentuk ring lingkaran utuh. Fungsinya sebagai pengatur kelenturan ring agar setiap ukurn diameter jari dapat masuk. Dengan teknik filigree pada bagian ring terdapat kelemahan yaitu kurang kokohnya konstruksi. Dengan alasan tersebut, maka isian pada ring dibuat sedikit rapat agar meningkatkan kekokohan bagian konstruksi ring pada cincin.

Pematrian pada karya ini menggunakan jenis patri perak lunak. Dari penjelasan Suratno (dalam wawancara 10 April 2018) saat proses pematrian menggunakan patri dengan perbandingan persentase perak sebanyak 70% berbanding tembaga dengan kadar 30%, dengan perbandingan perak yang sudah dijelaskan maka jenis patrinya masuk pada jenis patri keras. Ditinjau dari bentuk karya yang kecil, pengerajin menggunakan patri keras dirasa bertolak belakang dengan teori yang ada. Namun, teori tidak selalu berlaku bagi pengerajin perak terutama karena mereka memiliki faktor pertimbangan dan faktor pengaalaman. Tahapan akhir proses pengerjaan karya ini ialah finishing menggunakan teknik

sangling, yang sebelumnya karya dibersihkan melalui proses pengikiran atau pengamplasan, dilanjutkan dengan proses pembersihan dengan cairan kimia yaitu swapel. Karya kerajinan ini termasuk kedalam bentuk kerajinan desain tradisional. Dengan ciri-ciri motif unthuk dan keteknikan yang digunakan merupakan filigree sederhana. Tidak ada pengembangan yang cukup berarti mulai dari desain dan teknikyang digunakan. Namun, jika dilihat dalam aspek ekonomi kerajinan perak tradisional masih memiliki pasar yang cukup luas.

Dari hasil pengamatan peneliti yang telah melakukan kegiatan penelitian dengan objek karya-karya yang dihasilkan oleh pengerajin-pengerajin di Dusun Kedungdowo Kulon dapat disimpulkan bahwa karya yang ada di Dusun Kedung Dowo kulon hampir sama dengan yang ada di Dusun Kedungdowo Wetan ditinjau dari jenis-jenis karya yang hampir serupa dan keteknikan yang sama. Setiap pengerajin dikategorikan berdasarkan kemampuan menguasai teknik tertentu. Ada beberapa pengerajin yang hanya dikhususkan membuat dengan teknik unthuk dan beberapa dengan teknik isen atau trap-trapan. Namun di Dusun Kedungdowo Kulon ada satu pengerajin yang dapat membuat kerajinan perak pillbox filigree atau kotak perhiasan.

Dokumen terkait