• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIOGRAFI NASKAH

5. Karya-karya Syaikh Nawawi

Sejak abad ke-16 M karya-karya para Ulama Nusantara, yang dikenal sebagai ulama Jawi, menghiasi dan meramaikan tradisi penulisan dalam disiplin Ilmu Agama Islam. Para ulama tersebut seakan berlomba-lomba untuk menulis kitab. Kebanyakan karya mereka ditulis dalam bahasa Arab Melayu yang dicetak di percetakan Timur Tengah. Banyak ulama Indonesia dikenal lantaran karya-karya mereka yang tersebar di berbagai wilayah dunia Islam. Sebelum masa Syaikh Nawawi, di antara ulama Indonesia yang terkenal sebagai pengarang adalah Syaikh Nuruddin ar-Raniri, Hamzah al-Fansuri, Abdurrauf

31

Singkel, dan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari. (Amin, 2009 :49-50).

Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani termasuk Ulama Jawa yang paling produktif menulis dan karyanya banyak dibaca oleh orang Indonesia. Sekitar 24 kitab karya Syaikh Nawawi yang telah terbit, tersebar, dan kini masih terus dijual di Indonesia. Mengenai jumlah buku karangan Syaikh Nawawi, para pengamat berbeda pendapat. Ada yang mengatakan berjumlah 115 kitab dan ada pula yang mengatakan berjumlah 99 kitab. Karya Syaikh Nawawi mencakup berbagai disiplin Ilmu, yakni tafsir, hadis, sejarah, fiqh, tauhid, akhlaq, tasawuf, dan Ilmu bahasa. Yousuf Alian Sarkis dalm Dictionary of Arabic Printed Books menyebutkan bahwa ada 38 buah karya Syaikh Nawawi yang telah diterbitkan oleh penerbit di Mesir dan Arab. (Ulum, 2015 :52).

Sementara itu menurut Ramli dalam jurnal Arwansyah, (2015 :81). Yayasan an-Nawawi, Tanara, Banten sebuah yayasan yang didirikan pada tahun 1980 oleh keturunan Syaikh Nawawi yang sekarang diketuai oleh Ma‟ruf Amin memiliki koleksi 41 judul kitab karya Syaikh Nawawi yang telah dicetak.

Syaikh Nawawi telah menulis paling tidak tentang 9 bidang disiplin pengetahuan, yaitu tafsir, fiqh, ushul al-Din, ilmu tauhid (teologi), tasawuf (mistisisme), kehidupan Nabi, tata bahasa Arab, hadits, dan akhlak (ajaran moral Islam).Jumlah karyanya, sebagaimana

32

dinyatakan oleh banyak penulis, lebih dari 100 buah, meskipun Martin van Bruinessen manyatakan hanya bisa mengoleksi 27 buah. Diantara karyanya tersebut yaitu sebagai berikut:

a. Tafsir

Salah satu karya Syaikh Nawawi yang sangat dikagumi oleh ulama di Makah dan Mesir adalah Tafsir al-Munir li Ma‟alim at -Tanzil atau Marah Labid Tafsir an- Nawawi. Kitab tafsir tersebut tersusun dari 985 halaman, terdiri dari 2 jilid, dan selesai dikarang pada 1888 (Rabiul Akhir 1305 H). Sebelum diluncurkan ke khalayak, Syaikh Nawawi memelihatkan manuskrip kitab tersebut kepada para ulama untuk diteliti dan dikomentari. Kitab ini diterbitkan di kairo pada akhir 1305 H.

Syaikh Nawawi termasuk orang non-Arab yang menulis karya dalam bahasa Arab dengan sangat indah. Syaikh Nawawi menampilkan tradisi tafsir klasik yang baru, tafsir yang tetap mempertimbangkan karya para ulama abad pertengahan, namun pada saat yang sama menunjukkan kondisi-kondisi kekinian. Dalam penafsirannya Syaikh Nawawi lebih berstandar pada Al-Qur‟an, hadits, kesepakatan para sahabat, dan perkataan ulama salaf ketimbang pada kekuatan analisis. aspek penting lain tafsir karya Syaikh Nawawi adalah penekanannya terhadap kesalehan, akidah, dan keyakinan kepada Tuhan dan petunjuk-Nya. Aksentuasi ini terlihat jelas khususnya dalam muqaddimah dan

33

khatimah kitab tafsir karyanya. Di banyak tempat dalam tafsirnya Syaikh Nawawi selalu menaruh perhatian pada kekuasaan Allah Swt dengan memuji sifat pengasih dan penyayang-Nya. Di samping itu, Nawawi tidak lupa menyampaikan pesan amar ma‟ruf nahiy munkar dengan menguatkan signifikasi janji-janji dan ancaman Tuhan.

Sisi menarik lain dari tafsir karya Syaikh Nawawi adalah penyisipan dia terhadap berbagai kisah memikat dan banyaknya informasi tentang asbabun nuzul. Semua itu didukung oleh kepandaian dan kelihaian gaya penulisannya. Ini dimaklumi lantaran Syaikh Nawawi memiliki kapasitas mumpuni dalam hal sastra dan tata bahasa Arab. (Amin, 2009 :51-53).

b. Tasawuf dan Akhlak

Syaikh Nawawi juga menulis bebrapa kitab tentang tasawuf dan akhlak, tema kajian yang banyak mendapat perhatian masa itu. Berkenaan dengan tema sufisme dalam karya Syaikh Nawawi, tentu tidak bisa lupa akan peran dan ajaran Syaikh Khatib Sambas sebagai gurunya. Keterkaitan intelektual dan spiritual antara guru dan murid dalam transmisi keilmuan menjadi sesuatu yang niscaya. Sebagaimana Syaikh Khatib Sambas, Syaikh Nawawi adalah penganut Tasawuf al-Ghazali. Syaikh Nawawi menyarankan masyarakat untuk mengikuti salah satu imam tasawuf, di antara adalah Imam Sa‟id bin Muhammad Abu al

-34

Qasim al-Junaidi. Karena menurutnya, dia adalah pangeran tasawuf dalam hal teori maupun praktek. Dalam hal ini, Syaikh Nawawi bisa disamakan dengan al-Ghazali. Meskipun al-Ghazali tidak masuk ke dalam sebuah kelompok tarekat, pemikirannya tentang tasawuf, khususnya dalam Ihya‟ Ulumuddin, sangat kental dan mudah diterapkan kitab-kitab Syaikh Nawawi yang membahas soal tasawuf dan akhlak di antaranya adalah: Sullam al-Taufiq, Syarh Maraqi al- „Ubudiyyah, Nashaih al-„Ibad, Misbah azh-Zhulam, Qami‟ ath-Thughya, dan Sullam al-Fudhala. (Ulum, 2015 :51).

c. Fiqh

Bagi Syaikh Nawawi, fiqh adalah jenis ilmu pengetahuan Islam yang sangat signifikan karena orang tidak bisa berkomunikasi dengan Tuhan dalam ibadah ritual tanpa mempelajari ilmu tersebut secara sungguh-sungguh. Dalam hal fiqh, Syaikh Nawawi adalah penganut madzab Syafi‟i. Dia merupakan tokoh penting penjaga ajaran Syafi‟i di kalangan kaum muslimin jawa. Harapan ayahnya bahwa kelak anaknya bisa menjadi ulama besar Syafi‟iyah dengan memberinya nama seorang ulama besar Syafi‟iyah, Abu Zakariya an-Nawawi ad-Dimasyqi, menjadi kenyataan.

Syaikh Nawawi memberi syarah atau komentar terhadap karya-karya para ulama besar Syafi‟iyyah, seperti Muhammad

35

Ramli dan Ahmad Ibnu Hajar, dua ulama besar yang disebut sebagai umdatan li al-muta‟akhirin minal-ulama as-Syafi‟i, tonggak ulama Syafi‟iyah mutakhir. Meskipun demikian, Syaikh Nawawi tetap bersahaja dalam memperkenalkan karya-karyanya dengan menyatakan bahwa karya-karyanya hanya merupakan kutipan dari beberapa penulis. Adapun kitab-kitab Syaikh Nawawi yang membahas tentang fiqh adalah Syarh „Uqud al-Lujain, Syarh Sullam al-Munajah, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-

Mubtadi‟in, Tausih „ala Fath al-Qarib, dan Sullam at-Taufiq. Kitab-kitab ini oleh Abdurrahman Mas‟ud disebut sebagai karya standar ulama Syafi‟i yang memuat soal-soal praktis dan perilaku keseharian, terutama yang berkaitan dengan ibadah. (Ulum, 2015 :51).

d. Teologi

Syaikh Nawawi adalah teolog Sunni yang mendukung sebagian besar pemikiran sunni dalam menentang kelompok Dahriyah (Materialism) dan Mu‟tazilah (Rasionalism). Bagi Syaikh Nawawi, kedua kelompok itu termasuk golongan filosof yang cenderung menggunakan pendekatan rasional ketimbang sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur‟an dan Hadits.

Dari karyanya Fath al-Majid orang dengan mudah mengerti bahwa Syaikh Nawawi adalah pegikut al-Asy‟ari. Syaikh Nawawi berkali-kali menyebut al-Asy‟ari dengan atribut

36

“asy-Syaikh”, yang berarti “Sang Guru”. Syaikh Nawawi mengidentifikasi dirinya sebagai pengikut Al-Asy‟ari dalam hal i‟tiqad (teologi dogmatik). Syaikh Nawawi selanjutnya menyatakan bahwa siapa pun yang bukan tergolong ahli, termasuk dirinya, diharuskan untuk bertaklid (mengikuti) kepada Imam Abu Hasan al-Asy‟ari maupun Imam Abu Mansur al -Maturidi.

Salah satu tema pokok kitab-kitab Syaikh Nawawi tentang teologi adalah kemutlakan Tuhan. Pada intinya Syaikh Nawawi tidak sependapat dengan ajaran Jabariyah yang mengingkari perbuatan individu, menolak tanggung jawab individu, dan mengasalkan semua perbuatan kepada Tuhan. (Amin, 2009 :59).

Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai literatur yang ada, karya tulis Syaikkh Nawawi yang telah terbit dan tersebar ada 41 buah. Karya-karya tersebut adalah:

1. As-Simar al-Yani‟at, Syarh „ala Riyadh al-Badi‟at. Kitab fiqh ini merupakan komentar terhdap karya Syaikh Muhammad Hasbullah.

2. Tanqih al-Qaul al-Hatsits, Syarh „ala Lubab al-Hadist. Kitab yang membahas empat puluh hadits tentang perilaku utama ini merupakan ulsan terhadap karya Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi. 3. At-Tausyih, Syarh „ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib. Kitab fiqh ini

37

4. Nur azh-Zhalam, Syarh „ala Manzhuumah bi „Aqidah al-Awwam. Kitab tauhid ini merupakan komentar terhadap karya Sayyid Ahmad Marzuqi al-Makki.

5. Tafsir al-Munir li Muallim at-Tanzil (Murah al-Labid li Kasyfi Ma‟na Qur‟an al-Majid). Kitab ini adalah tafsir Al-Qur‟an 30 juz yang terdiri dari 2 jilid besar. Jilid 1 terdiri dari 510 halaman, sedangkan jilid 2 terdiri dari 476 halaman. Kitab ini merupakan karya terbesar Syaikh Nawawi dan lantaran kitab ini pula beliau mendapat predikat Sayyid Ulama Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz). 6. Madariju ash-Shu‟ud, Syarh „ala Maulid an-Nabawi (Kitab Mulid

al-Barzanji). Kitab tentang sejarah kehidupan Nabi Saw ini merupakan ulasan terhadap karya Imam Sayyid Ja‟far al-Barzanji. 7. Fatkhu al-Majid, Syarh „ala Darul Farid fi at-Tauhid. Kitab tauhid ini merupakan ulasan terhadap karya Imam Ahmad an-Nahrawi, gurunya.

8. Fatkhu ash-Shamad, Syarh „ala Maulid an-Nabawi. Kitab tentang sejarah kehidupan Nabi Saw. Ini merupakan komentar terhadap karya Ahmad Qasim al-Maliki.

9. Nihayah az-Zain, Syarh „ala Qurratu al-„Ain bi Muhimmati ad -Din. Kitab fiqh dalam madzab Syafi‟i setebal 407 halaman ini merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Zainuddin al-Malibari, seorang ulama dari Malabar, Hindia.

38

10. Sullam al-Fudhala, Syarh „ala Manzhumat al-Adzkiya. Kitab tentang akhlak dan tasawuf ini merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Imam Fadhil Zainuddin.

11. Maraqi al-Ubudiyyah, Syarh „ala Bidayat al-Hidayah. Kitab tentang akhlak dan tasawuf ini merupakan komentar terhadap karya Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali.

12. Sullam al-Munajat, Syarh „ala Safinat ash-Shalat. Kitab tentang fiqh shalat ini merupakan ulasan terhadap karya Sayyid Abdullah bin Umar Al-Hadrami.

13. Nashaih al-Ibad, Syarh „ala al-Munbihat Istidad li Yaum al-Ma‟ad. Kitab berisi petuah kepada manusia terkait dengan hari kiamat ini merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Sihabuddin Ahmad bin Ahmad al-Asqalani.

14. Al-Aqdus Samin, Syarh „ala Manzhumat as-Sittin Masalatan al-Musamma bi al-Fatkhu al-Mubin. Kitab yang membahas enam puluh masalah yang berkaitan dengan tauhid dan fiqh ini merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Mustafa bin Usman al-Jawi al-Qaruti, seorang ulama dari Garut.

15. Bahjatu al-Wasail, Syarh „ala ar-Risalah al-Jami‟ah Baina al -Ushuluddin wa al-Fiqh wa at Tashawwuf. Kitab yang membahas masalah tauhid, fiqh, dan tasawuf ini merupakan komentar terhadap karya Syaikh Ahmad bin Zaini al-Habsyi.

39

16. Targhib al-Mustaqim, Syarh „ala Manzhumat Sayyid al-Barzanji Zaenal Abidin fi Maulid Sayyidi al-Awwalin. Kitab yang membahas sejarah kehidupan Nabi Saw merupakan ulasan terhadap karya al-Barzanji.

17. Tijan ad-Durari, Syarh „ala al-„Alim al-Allamah Syaikh Ibrahim al-Bajuri fi Tauhid. Kitab yang membahas masalah tauhid ini merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri. 18. Fatkhu al-Mujib, Syarh „ala asy-Syarbani fi „Ilmi al-Manasik.

Kitab yang membahas masalah manasik haji merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Syarbani.

19. Mirqatu Shu‟udi Tashdiq, Syarh „ala Sullam at-Taufiq. Kitab yang membahas masalah tauhid, fiqh, dan tasawuf merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Abdullah bin Husain Ba‟alawi. 20. Kasyifat as-Saja, Syarh „ala Safinat an-Naja. Kitab yang

membahas masalah keimanan dan peribadatan (fiqh) ini merupakan ulasan terhadap karya Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami.

21. Qami‟ ath-Thugyan, Syarh „ala Manzhumat Syu‟ab al-Iman. Kitab yang membahas masalah cabang-cabang iman ini merupakan penjelasan terhadap karya Syaikh Zainuddin al-Kusaini al-Malibari.

22. Al-Futuhatu al-Madaniyah, Syarh „ala Syu‟abu al-Imaniyah. Kitab yang di ambil dari karya Imam as-Suyuthi dan Syaikh

40

Muhammad Ibnu Arabi ini membahas masalah cabang-cabang iman.

23. Uqudu al-Lujain fi Huquqi Zaujain. Kitab ini membahas hak dan kewajiban suami-istri.

24. Fatkhu al-Ghafir al-Khatiyyah, Syarh „ala Nazham al -Jurumiyyah al-Musamma bi Kaukab al-Jaliyyah. Kitab yang membahas masalah Imu tata bahasa Arab (Nahwu) merupakan ulasan terhadap karya Imam Abdus Salam bin Mujahid an-Nawawi.

25. Qathru al-Ghais, Syarh „ala Masail Abu Laits. Kitab ini membahas masalah keagamaan Islam dan merupakan ulasan terhadap karya Imam Abu Laits.

26. Al-Fushuh al-Yaqutiyyah, Syarh „ala Raudhatul Bahiyyah fi Abwabi at-Tashrifiyya. Kitab ini membahas masalah ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab).

27. Ar-Riyadhul Fauliyyah.

28. Suluk Jaddah, Syarh „ala Risalah Muhimmah bi Lam‟ati al-Mafadah fi Bayani al-Jum‟ati wa al-Mu‟addah. Kitab ini membahas masalah fiqh madzab Syafi‟i. Dicetak oleh Mathba‟ah Wahabiyah, Makah, pada tahun 1300 H.

29. An-Nahjah al-Jayyidah li Halli Naqawati al‟Aqidah. Kitab ini merupakan ulasan terhadap kitab Manzhumah. Dicetak oleh Penerbit Abdurrazaq, Makah, pada tahun 1303 H.

41

30. Hilyatus Shibyan „ala Fatkhurrahman. Kitab yang membahas masalah tauhid ini merupakan ulasan terhadap kitab Fatkhurrahman.

31. Mishbahu Azh-Zhulam „ala al-Hikam. Sebuah komentar terhadap kitab al-Hikam karya Ali bin Hasanuddin al-Hindi. Kitab ini membahas masalah tasawuf. Diterbitkan di Makah pada tahun 1314 H.

32. Dzariatul Yaqin „ala Ummi al-Barahin. Sebuah komentar terhadap kitab Ummul Barahin. Kitab ini membahas masalah tasawuf. Terbit di Makah pada tahun 1314 H.

33. Al-Ibriz ad-Dani fi Maulidi Sayyidina Muhammad Sayyidi al-Adnani. Kitab ini membahas sejarah hidup Nabi Saw. Dicetak di Mesir pada tahun 1299 H.

34. Bughyatu al-Anam fi Syarhi Maulidi Sayyidi al-Anam. Komentar terhadap kitab Maulid Ibnu Jauzi. Dicetak di Mesir pada tahun 1297 H.

35. Ad-Duraru al-Bahiyyah fi Syarhi al-Khasaisi an-Nabawiyyah. Ulasan terhadap kitab Qishshatu al-Mi‟raj karya Imam al-Barzanji. Kitab ini membahas masalah Isra dan Mi‟raj Nabi Saw. 36. Kasyfu al-Maruthiyyah „an Sattari al-Jurumiyyah. Komentr

terhadap kitab al-Jurumiyyah. Kitab ini membahas masalah ilmu nahwu (tata bahasa Arab) dan diterbitkan oleh penerbit Sharaf pada tahun 1298 H.

42

37. Lubab al-Bayan. Komentar terhadap karya Syaikh Hussain al-Maliki. Kitab ini membahas ilmu balaghah dan sastra Arab. Diterbitkan oleh penerbit Muhammad Musthafa, Makah.

38. Qut al-Habib al-Gharib, Hasyiyah „ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib. Merupakan penjelasan terhadap at-Taqrib karya Abu Suja. Kitab ini membahas soal fiqh.

39. Syarah al-Allamah al-Kabir „ala Manzhumati al-„Alim al-„Amil wa Khabir al-Kamil asy-Syaikh Muhammad al-Masyhur bi

ad-Dimyathi al-Lati allafaha fi at-Tawassuli bi al-Asma‟i al-Husna wa bi Hadharati an-Nabi Shallallahu „Alaihi wa Sallama wa bi Ghairihi min Aimmati Akhbar wa fi Madhi ahli Baitihi

al-Abrar. Kitab ini merupakan komentar terhadap karya Syaikh ad-Dimyathi yang membahas masalah tawasul dan keimanan.

40. Fatkhul „Arifin.

41. Syarah al-Burdah. Merupakan komentar terhadap syair-syair al-Burdah karya al-Bushiri.

Karya-karya yang disebutkan di atas adalah karya Syaikh Nawawi yang sudah dicetak dan diterbitkan oleh berbagai penerbit. Kitab-kitab tersebut tersebar di hampir seluruh wilayah dunia Islam. Di Indonesia, karya-karya Syaikh Nawawi bisa di dapati di berbagai toko kitab di berbagai kota. Di samping itu, masih banyak karya Syaikh Nawawi yang belum sempat terbit dan masih berupa manuskrip yang tersimpan di Mesir maupun di Arab. (Amin, 2009 :59-66).

43

Syaikh Nawawi al-Bantani telah memberikan kontribusi kepada kekayaan intelektual Islam dunia seperti, pengarang tafsir Al-Qur‟an, Marah Labid; kitab tersebut mendapat pengakuan secukupnya pada taraf internasional. (Ensiklopedi Nurcholis Majid, 2006 :1250).

Dokumen terkait