• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasih atau “kasih”

Dalam dokumen DARI MEJA REDAKSI. Redaksi 2 EUANGELION 189 (Halaman 99-102)

gaimana kita bisa merasa dikasihi, ta pi sebaliknya, kita akan mencoba un tuk melihat bagaimana seharusnya ki ta mengasihi.

Seorang hamba Tuhan pernah me-nga takan bahwa kalau kita memberi atau mengasihi, haruslah sampai kita me rasa sakit. Kalau di saat memberi me rasa nyaman-nyaman saja, itu arti-nya kita sebetularti-nya belum mem be ri.

Mungkin terdengar agak aneh, ta pi kalau kita hubungkan dengan ki-sah di depan tadi, ini menjadi sangat je las. Ketika kita mengasihi, nilai da ri kasih itu adalah sampai sejauh ma na ‘pengorbanan’ (yang tentunya meng akibatkan rasa sakit) yang kita la kukan. Pengorbanan di sini belum ten tu berbentuk materi. Mungkin wak tu. Mungkin perhatian. Mungkin ju ga telinga untuk mendengarkan.

Kita bisa mengambil contoh ka sih pada pasangan. Ada satu cerita pen-dek yang mungkin sebagian dari kita per nah mengetahuinya, yaitu tentang

“pa sangan yang baik, tapi menderita”, yang bisa menggambarkan hal ini.

Dalam kisah tersebut dikatakan ada seorang anak perempuan yang men ceritakan tentang kehidupan sua-mi-istri kedua orangtuanya yang tidak ba hagia, padahal kedua orangtuanya ada lah orang baik, rajin bekerja dan ti dak berselingkuh. Namun si anak men dapati bahwa ayahnya tidak per nah terlihat merasa bahagia di ru mah, bahkan kadang suka agak mu dah tersinggung. Demikian juga de ngan ibunya yang sering dia dapati me nangis diam-diam di kamar.

Ketika si anak perempuan ini te-lah dewasa dan menikah, dia men-dapati kehidupannya dengan sua-minya mirip dengan kehidupan ke dua orangtuanya. Sebagai seorang is tri yang baik, dia rajin bekerja di ru-mah. Rumah selalu bersih. Pakaian se lalu rapi. Makanan enak selalu ter sedia. Betul-betul tipe istri ideal.

Sua minya pun sangat baik dan rajin.

Ja rang marah-marah, pekerjaan baik dan sangat memperhatikan kebutuhan keluarga. Suaminya pun bi sa dikatakan suami ideal. Tapi me-ngapa mereka tidak bahagia? Apa yang kurang?

Pada Suatu hari, wanita ini sedang si buk membersihkan lantai rumah dan suaminya sedang menonton TV, tiba-tiba suaminya memanggil dia dan meminta dia untuk duduk di sebelahnya menemani dia me non-ton TV. Wanita ini langsung ingin menjawab kalau dia tidak bisa ka-rena sedang sibuk melakukan tu-gas (sebagai istri yang baik) mem-bersihkan rumah. Saat itulah dia ti ba-tiba menyadari bahwa jawaban itu persis seperti jawaban ibunya pa da saat ayahnya meminta ibunya me nemani dia menonton TV.

Ketika dia menyadari itu, wanita ini mencoba untuk melakukan hal yang berbeda. Dia menghentikan pe kerjaannya dan duduk di sebelah sua minya. Terus terang dia tidak m e nikmati itu, dia merasa sangat ber salah ka rena meninggalkan pe-kerjaannya dan berpikir bahwa dia akan harus ‘lem bur’ untuk me lan

jut-kan pekerjaan mem ber sihjut-kan ru mah ha ri itu. Tapi perkataan selanjutnya da ri sua minya sangat menghibur dan me nye jukkan hatinya. "Tidak apa-apa ru mah kotor sedikit, yang penting ki-ta bisa menikmati waktu berkualiki-tas ber sama".

Seringkali juga terjadi seorang sua mi yang sedang melakukan hobi atau kesenangannya, merasa sangat be rat dan tidak sabar kalau harus men dengarkan keluhan atau cerita pe ngalaman istrinya hari itu. Padahal itulah kasih yang sangat dibutuhkan si istri dari suaminya. Telinga yang mau mendengarkan. Seringkali bah-kan istrinya tidak memerlubah-kan so-lusi bagi masalahnya, hanya perlu di dengarkan. Itu saja. Pengorbanan yang sebetulnya sangat mudah di-lakukan, tapi akan menjadi berat ka rena banyak suami yang tidak rela melakukan pengorbanan ini.

Ti dak rela meninggalkan hobi dan ke senangannya.

Itulah kasih yang benar. Bukan

"ka sih" yang dilakukan karena ki ta tidak merasa terganggu pada sa at melakukannya. Makin besar pe-ngorbanan dan rasa sakit yang kita ra sakan pada saat kita mengasihi, se makin besar kasih yang kita berikan dan yang dirasakan oleh pihak yang me nerima kasih kita. Akan tetapi, ten tunya kasih itu juga harus pada sa saran yang tepat.

Seorang teman yang adalah se-orang hamba Tuhan, pernah bersaksi ka lau dia pernah memberikan uang yang dimilikinya untuk temannya yang dia tahu sangat membutuhkan,

ka rena saat itu temannya ini sudah me nunggak pembayaran listriknya be berapa bulan dan bulan itu ada-lah batas terakhir yang artinya ka-lau tidak dibayar, maka meteran lis triknya akan dicabut oleh pihak PLN. Padahal sebetulnya hamba Tu han ini sendiri membutuhkan uang itu untuk membayar rekening lis trik rumahnya sendiri. Tapi ham-ba Tuhan ini berpikir ham-bahwa pem-bayaran rekening listriknya masih bi sa mundur, karena buat dia ke-terlambatan pembayaran ini baru bu lan pertama. Itulah sebuah contoh lain dari memberi atau mengasihi sam pai merasa sakit. Sudahkah kita be lajar mengasihi sampai kita merasa sa kit?

Akan tetapi, tahukah kita akan ka sih dan pengorbanan yang paling me nyakitkan? Pengorbanan Tuhan Ye sus di atas kayu salib adalah kasih yang paling menyakitkan. Semua itu Dia lakukan karena Dia memiliki kasih yang luar biasa pada kita, umat-Nya yang berdosa. Oleh karena itu, tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih Al lah pada kita. Itulah kasih yang ter-besar. Sudahkah kita menerima kasih itu?

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak­Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang

percaya kepada­Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Yohanes 3:16 -TB Triple Tango 2022

Dalam dokumen DARI MEJA REDAKSI. Redaksi 2 EUANGELION 189 (Halaman 99-102)