BAB IV TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN
A. Kasus Posisi Dalam Putusan Pengadilan Niaga No
05/Pailit/2012/PN/NIAGA.SMG Dalam Perkara Perdata Permohonan Pernyataan Pailit antara Kreditur (Hendrianto Muliawan dan Agung Hariyono) Melawan PT. Indonesia Antique dan Wahyu Hanggono
Hendrianto Muliawan dan Agung Hariyono adalah para pemohon pailit yang telah memasukan surat pailitnya tertanggal 7 Mei 2012 terhadap para termohon pailit yaitu PT. Indonesia Antique sebagai Termohon I yaitu perusahaan dan atau perseroan yang didirikan berdasarkan hukum dan perundang-undangan yang bergerak di bidang produksi dan di bidang meuble, dimana dalam hal ini Termohon II yaitu Saudara Wahyu Hanggono menjabat selaku direktur di perusahaan PT. Indonesia Antique tersebut bertindak dalam jabatannya dan juga secara pribadi telah membuat dan menandatangani hutang piutang dengan pemohon I dengan nilai utang piutang sebesar Rp 55.000.000,- (lima puluh lima juta rupiah), sebagaimana dimaksud dalam perjanjian tertanggal 10 Januari 2010. Dalam perjanjian dimaksud telah disepakati pengembalian dan atau pembayaran hutang sebesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), akan dilakukan seketika pada tanggal 10 April 2010 dan oleh karenanya dalam hal ini telah disepakati tanggal jatuh tempo pada tanggal 10 April 2010.
Pada saat utang telah jatuh tempo pemohon I telah meminta para termohon untuk melakukan pembayaran atas utang dimaksud, namun demikian ternyata pada tanggal 1 jatuh tempo para termohon belum melakukan pembayaran. Pemohon I telah
111
mengirimkan dua surat peringatan (somatie) kepada para termohon yaitu pada tanggal 1 April 2010 (somatie I) namun tidak diindahkan oleh termohon, selanjutnya surat peringatan (somatie II) tanggal 2 Mei 2010 namun juga tidak diindahkan oleh para termohon. Pemohon I juga telah melakukan serangkaian upaya penagihan yang patut, namun para termohon tidak juga mengindahkan dan melaksanakan pembayaran.
Selain memiliki utang kepada pemohon I para termohon juga memiliki utang kepada pemohon II sebesar Rp 90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) sebagaimana terbukti dalam perjanjian utang piutang tertanggal 15 April 2011 yang telah disepakati pengambalian utang tersebut sebesar 90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2011 secara seketika. Namun pada saat jatuh tempo utang yang telah diperjanjikan yaitu 15 Oktober 2011 para termohon tidak melaksanakan pembayaran utangnya. Pemohon II telah melakukan penagihan kepada para termohon, namun pihak para termohon belum dapat melakukan pembayaran dengan alasan pembayaran terdapat kesulitan berbisnis. Pemohon II juga telah mengirimkan tiga kali surat peringatan (somatie) masing-masing tanggal 1 Nopember 2011, 7 Nopember 2011 dan 4 Nopember 2011. Meskipun para termohon telah melakukan somatie sebanyak tiga kali dari pemohon dua ternyata hingga didaftarkannya permohonan pernyataan pailit ini para termohon juga tidak melakukan pembayaran kepada pemohon II.
Berdasarkan uraian di atas maka terdapat fakta hukum bahwa para pemohon berjumlah 2 (dua) orang nyata dan terang bahwa para termohon mempunyai hutang kepada 2 (dua) orang pemohon yang mengajukan pernyataan pailit yang hutangnya
telah jatuh tempo. Selain itu bahwa para termohon juga memiliki hutang pula kepada kreditur lain yaitu kepada Aryo Hidayat Adiseno dan Hanafi. Rincian tagihan / piutang dari Aryo Hidayat Adiseno dan Hanafi dimaksud baru dapat diketahui secara pasti apabila yang bersangkutan dipanggil dan dimintai keterangannya dalam persidangan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas kuasa hukum pemohon dalam permohonan pernyataan pailitnya mewakili para termohon menyatakan bahwa permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh Pemohon I dan Pemohon II ini telah memenuhi syarat sesuai ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU yang menyatakan bahwa, debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak dan tidak membayar lunas sedikitnya 1 utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonanya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya.
Mengingat para pemohon pailit telah dapat membuktikan secara sederhana terpenuhinya syarat dalam Pasal 2 ayat (1) tersebut di atas, maka menurut hukum permohonan pernyataan pailit tersebut haruslah dikabulkan hal mana sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU yang menyatakan bahwa, “Permohonan pernyataan pailit haruslah dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah terpenuhi”.
Berdasarkan ketentuan Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, maka dengan ini para pemohon mengusulkan pula kepada Ketua Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang qq. Majelis Hakim yang memeriksa perkara aquo mengangkat seorang kurator yaitu Ibu Endang Srikarti Handayani, Kurator dan Pengurus yang telah terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. AHU.AH.04.03-35 tanggal 30 April 2008 yang beralamat di Jl. Pahlawan Revolusi No. 20 Pondok Bambu Jakarta Timur.
Berdasarkan pada fakta-fakta hukum sebagaimana diuraikan tersebut di atas, kuasa pemohon I dan pemohon II memohon kepada Ketua Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang qq. Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara aquo berkenan menjatuhkan putusan dalam perkara aquo sebagai berikut : 1. Menerima dan mengabulkan permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh
para pemohon untuk seluruhnya.
2. Menyatakan para pemohon yaitu PT. Indonesia Antique yang beralamat di Rt.2/Rw.5 Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dan Wahyu Hanggono secara pribadi yang beralamat Jl. Semeru IV No. 23 Tegalharjo, Surakarta, Jawa-Tengah Pailit dengan segala akibat hukumnya.
3. Menunjuk dan mengangkat Hakim Pengawas dalam perkara Kepailitan ini menurut pertimbangan Pengadilan.
4. Menunjuk dan mengangkat Endang Srikarti Handayani Kurator dan Pengurus yang terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Republik Indonesia No.
AHU.AH.04.03-35 tangagl 30 April 2008, beralamat di Pahlawan Revolusi No.
20 Pondok Bambu Jakarta Timur selaku Kurator dalam perkara Kepailitan ini.
5. Menghukum Para Termohon Pailit untuk membayar seluruh biaya perkara.
Jawaban kuasa hukum dari Tergugat I dan Tergugat II yaitu PT. Indonesia Antique dan Wahyu Hanggono sebagai direktur PT. Indonesia Antique dalam persidangan menyatakan bahwa :
1. Dalam menjalankan usahanya dibidang produksi dan jual beli meuble baik Termohon I maupun Termohon II melakukan tugas dan kewajibannya didasari dengan itikad baik untuk kemajuan bisnis perusahaan dengan tetap menjaga hubungan dan etika bisnis dengan pihak ketiga.
2. Dalam perjalanan perusahaan terdapat naik turun tingkat penjualan secara bisnis yang dipandang sebagai suatu hal wajar, dan sejak tahun 2010 perusahaan PT.
Indonesia Antique berjalan kurang baik sehingga memerlukan pinjaman modal terhadap pihak ketiga baik dari institusi perbankan maupun dari pribadi selaku relasi bisnis.
3. Dalam hal ini para termohon mengakui dan tidak menyangkal bahwa pada kurun waktu bulan Januari 2010 telah meminjam uang kepada Pemohon I sebesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dengan janji akan dikembalikan pada 10 April 2010, namun dikarenakan kesulitan bisnis maka para Termohon belum dapat mengambalikan pinjman dimaksud. Para termohon juga mengakui bahwa pada tanggal 15 April 2010 juga telah meminjam uang kepada Pemohon II sebesar Rp 90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) dengan janji akan
dikembalikan pada tanggal 15 Oktober 2012, namun dikarenakan terdapat kesulitan secara bisnis, maka para Termohon belum juga dapat mengembalikan pinjaman dimaksud.
4. Para Termohon sejak awal tidak pernah memiliki itikad yang tidak baik untu tidak membayar pinjmanan dimaksud. Belum dibayarkannya pinjaman dimaksud satu dan lain hal karena adanya kesulitan bisnis yang dialami oleh para termohon, serta saat ini terdapat tagihan para termohon kepada pihak yang belum terbayarkan dalam jumlah yang cukup besar di dalam ekspor meuble ke Spanyol.
5. Kesulitan bisnis yang dialami oleh para termohon merupakan hal yang nyata bahkan selain kepada para Pemohon terdapat pinjaman kepada pihak lain pribadi maupun kepada pihak bank, yaitu salah satunya PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk.
Oleh karena itu berkaitan dengan pemohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh para pemohon, maka dengan ini para termohon menyerahkan putusan yang terbaik dan yang paling adil dari Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang.