• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX DEWAN JURI

KASUS POSISI FINAL KOMPETISI PERADILAN SEMU

TINGKAT NASIONAL

PIALA KETUA MAHKAMAH KONSTITUSI 2016

KERJASAMA ANTARA MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TARUMANAGARA

Terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (selanjutnya disebut “UU ASN”) membawa angin perubahan bagi penyelenggaraan keaparaturan sipil negara. Pembentukan UU ASN didasari pertimbangan untuk melaksanakan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut “UUD NRI 1945”) yaitu pembangunan ASN yang memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik KKN, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945. Selain itu, pelaksanaan manajemen ASN yang belum berdasarkan pada perbandingan antara kompetensi dan kualifikasi yang diperlukan oleh jabatan dengan kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki calon dalam rekrutmen, pengangkatan, penempatan, dan promosi pada jabatan sejalan dengan tata kelola pemerintahan yang baik, menjadi urgensi pembentukan UU ASN.

Salah satu substansi pengaturan yang dinilai sangat reformis dalam UU ASN yaitu ikhwal pengisian jabatan pimpinan tinggi yang dilakukan secara terbuka dan kompetitif atau yang sering disebut dengan „lelang jabatan‟. Lelang jabatan diatur dalam Pasal 108 sampai dengan Pasal 118 UU ASN. Pada pokoknya, substansi lelang jabatan dalam dalam UU ASN, yaitu:

1. Pengisian jabatan pimpinan tinggi utama dan madya pada kementerian, kesekretariatan lembaga negara, lembaga nonstruktural, dan Instansi Daerah dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS;

3. Pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan pelatihan, rekam jejak jabatan, dan integritas;

4. Jabatan pimpinan tinggi utama dan madya tertentu dapat berasal dari kalangan non-PNS dengan persetujuan Presiden yang pengisiannya dilakukan secara terbuka dan kompetitif serta ditetapkan dalam Keputusan Presiden;

5. Jabatan Pimpinan Tinggi dapat diisi oleh prajurit Tentara Nasional Indonesia dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia setelah mengundurkan diri dari dinas aktif apabila dibutuhkan dan sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan melalui proses secara terbuka dan kompetitif;

6. Jabatan Pimpinan Tinggi di lingkungan Instansi Pemerintah tertentu dapat diisi oleh prajurit Tentara Nasional Indonesia dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia

7. Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dengan terlebih dahulu membentuk panitia seleksi Instansi Pemerintah dan berkoordinasi dengan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN);

8. Untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi utama dan/atau madya, panitia seleksi Instansi Pemerintah memilih 3 (tiga) nama calon untuk setiap 1 (satu) lowongan jabatan;

9. Presiden memilih 1 (satu) nama dari 3 (tiga) nama calon yang disampaikan untuk ditetapkan sebagai pejabat pimpinan tinggi utama dan/atau madya.

Dr. Ir. Ahmad Kelsen, MSc, 55 tahun, pegawai di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (selanjutnyan disingkat “KESDM”) telah bekerja selama 30 tahun di KESDM. Jabatan terakhir Dr. Ir. Ahmad Kelsen, MSc sebagai Diretur Teknik di Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, KESDM. Dr. Ir. Ahmad Kelsen, MSc, merupakan pegawai berprestasi dan gemilang di KESDM. Konsep-konsep pemikirannya memiliki andil yang besar dalam kemajuan KESDM, sehingga ia digadang-gadang menjadi kandidat kuat Direktur Jenderal Mineral dan Batubara yang akan menggantikan Direktur Jenderal saat ini yang akan memasuki usia pensiun 1 (satu) bulan yang akan datang.

Sebagai pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2015 tentang Percepatan Pengisian Jabatan Tinggi Pada Kementerian/Lembaga dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Secara Terbuka di Lingkungan Instansi Pemerintah, Menteri

ESDM melakukan pembentukan panitia seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi utama, yaitu untuk jabatan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, dan Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional. Pembentukan panitia seleksi pun telah dikoordinasikan dengan KASN.

Selanjutnya, melalui surat pengumuman nomor 01/PM/SJN/2016, Sekretaris Jenderal KESDM mengumumkan mengenai adanya seleksi terbuka. Berdasarkan pengumuman Sekretaris Jenderal tersebut, 50 (lima puluh) orang tercatat mendaftarkan diri untuk 3 (tiga) jabatan yang dibuka seleksi terbuka. Panitia Seleksi pun melakukan pelaksanaan seleksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dr. Ir. Ahmad Kelsen, MSc pun mendaftarkan diri sebagai pelamar seleksi terbuka untuk jabatan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara.

Setelah melakukan seleksi tiap-tiap Panitia Seleksi memilih 3 (tiga) orang pelamar untuk tiap jabatan pimpinan tinggi yang dibuka untuk dilakukan seleksi terbuka. Kemudian tiap-tiap 3 (tiga) nama tersebut diajukan ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk kemudian diusulkan kepada Presiden. Presiden pun menerbitkan Kepetusan Presiden mengenai penetapan nama-nama tertentu untuk menjadi masing-masing Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, dan Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Terhadap jabatan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara ditetapkanlah Prof. Dr. Adam Smith, S.E.,M.M.,MBA. Ia merupakan Guru Besar Ekonomi Sumber Daya Alam di Institut Pertanian Bogor. Selain Prof. Dr. Adam Smith, S.E.,M.M.,MBA, ditetapkan pula Dr. Ir. Agus Newton, M.Eng yang sebelumnya sebagai salah satu direktur perusahaan multinasional yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi; dan Dr. Jonny Diraja, S.H.,M.H yang sebelumnya bekerja sebagai auditor madya di Badan Pemeriksa Keuangan RI sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional.

Terpilihnya Prof. Dr. Adam Smith, S.E., M.M., MBA menjadi Direktur Jenderal Mineral dan Batubara membuat Dr. Ahmad Kelsen merasa diperlakukan tidak adil. Pengabdian dan pengembangan karier yang ia rintis dari paling bawah, yaitu pegawai golongan IIIa hingga sampai ke golongan IVc serta berbagai jabatan struktural di lingkungan KESDM yang telah menempah dirinya menjadi pegawai yang memahami sangat baik praktik lapangan tugas pokok dan fungsi KESDM, khususnya Ditjen Minerba terasa sia-sia. Ditambah lagi berbagai prestasi dan penghargaan yang diterima selama menjadi pegawai di KESDM. Merasa hak-hak

konstitusionalnya terampas, Dr. Ahmad Kelsen mengajukan permohonan uji materiil ke Mahkamah Konstitusi terhadap UU ASN. Menurut Dr. Ahmad Kelsen, Pasal 108 dan Pasal 109 UU ASN bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2); Pasal 28D ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUD 1945.

Permohonan teregistrasi dengan nomor perkara: 100/PUU-IV/2016

Permasalahan:

Apakah Pasal 108 dan Pasal 109UU ASN bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2); Pasal 28D ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUD 1945?

Note:

Nama-nama pihak serta kronologis kasus dibuat dalam rangka kompetisi peradilan konstitusi. Apabila ada kesamaan nama dan jalan cerita bukanlah merupakan hal yang disengaja.

Dokumen terkait